Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 100. Keracunan?


Pagi itu, Sifa tengah menikmati sarapannya bersama dengan Aldo. Suaminya itu terkadang bersikap manis, bahkan terkadang bersikap sangat kasar dan dingin. Tentu saja hal tersebut membuat Sifa takut dan menjadi istri yang penurut.


Namun, untuk mencari tahu tentang gudang rahasia itu, Sifa tak gentar. Ia menggunakan berbagai cara untuk bisa mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Aldo dan apa yang ada di dalam gudang tersebut.


"Sayang, bolehkah hari ini aku bertemu dengan ibu?" tanya Sifa.


"Ada apa?" tanya Aldo.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merindukan ibu saja. Sudah lama aku tidak bertemu dengan ibu," ujar wanita tersebut.


"Ya sudah. Nanti aku antar kamu bertemu dengan ibu. Sekalian aku juga hendak menuju ke suatu tempat," ucap Aldo yang langsung menyetujui permintaan istrinya. Ia tidak mempermasalahkan jika memang Sifa hendak menemui ibunya. Lagi pula, mertuanya itu tidak akan menyuruh putrinya itu untuk menemui mantan suaminya.


"Memangnya kamu mau kemana, Sayang?" tanya Sifa mencoba untuk mencari tahu dari mulut suaminya.


"Ada ... pokoknya urusan bisnis. Kamu tidak perlu tahu soal itu. Yang penting, kebutuhanmu tercukupi saja," ketus Aldo yang langsung terbawa emosi saat Sifa bertanya tentang hal yang sedikit sensitif baginya.


Sifa hanya terdiam. Ia tak menjawab apapun setelah melihat ekspresi wajah Aldo yang berubah drastis. Wanita itu memilih untuk mencari aman saja, melanjutkan makannya dengan tenang.


....


Di lain tempat, Arumi sedari pagi tadi bolak-balik ke kamar mandi. Wanita itu memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya, hingga ia pun menjadi pucat dan lemas.


Fahri yang mengetahui hal tersebut dengan sigap memijat leher Arumi, saat sang istri masih berjongkok memuntahkan semuanya di dalam closet.


"Sudah?" tanya Fahri pada istrinya yang sudah berhenti muntah. Arumi hanya menimpali ucapan suaminya dengan sebuah anggukan pelan. Tubuhnya benar-benar lemas, keringat dingin pun mengucur di keningnya karena memuntahkan semua yang ia makan semalam.


Fahri langsung menggendong sang istri, lalu kemudian membawanya ke kasur mereka yang berukuran king size tersebut. Pria itu dengan perlahan merebahkan tubuh sang istri.


Fahri mengambil minyak kayu putih, mengusapkannya di kening dan perut Arumi yang terasa sakit. "Tunggu sebentar ya, Sayang. Aku sudah memanggil dokter kemari," ujar Fahri sembari memijat kening sang istri.


Arumi hanya memejamkan matanya sembari menikmati pijatan sang suami. Aroma minyak kayu putih yang terasa sedikit hangat, mampu mengurangi rasa mual Arumi.


Tak lama kemudian, dokter yang dipanggil oleh Fahri pun tiba. Salah seorang ART mengantarkan dokter tersebut untuk menuju ke kamar Arumi.


"Tolong periksa istri saya, Dok. Sedari tadi dia muntah-muntah. Saya takut dia keracunan nasi goreng yang saya buat semalam," ujar Fahri berusaha untuk menjelaskannya pada dokter.


"Baiklah, kalau begitu saya periksa dulu ya, Pak." Dokter itu memeriksa kondisi Arumi menggunakan stetoskop. Setelahnya, ia pun tersenyum simpul.


"Bu Arumi bukan keracunan makanan, Pak."


Fahri tertegun mendengar ucapan dokter tersebut. "Kalau bukan keracunan, lalu apa Dok?" tanya Fahri semakin penasaran.


"Saya ucapkan selamat kepada kalian, karena Bu Arumi saat ini tengah mengandung," timpal dokter tersebut menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Seperti tak percaya, bak dibawa terbang ke langit saat mendengar bahwa telah tumbuh di dalam rahim sang istri calon penerusnya. Mata Fahri berbinar dan berkaca-kaca. Ia benar-benar bahagia dan tak bisa berkata apa-apa lagi.


Do'anya selama ini yang menginginkan seorang anak pun akhirnya di dengar oleh Yang Maha Kuasa. Fahri menatap istrinya yang juga tersenyum bahagia, menatap ke arahnya. Air mata Arumi menetes tanpa permisi, ia merasa sangat teramat senang, karena sebentar lagi dirinya dan Fahri akan menjadi orang tua, seperti keinginan suaminya itu.


"Ini ... saya resepkan vitamin dan juga obat mengurangi rasa mual. Nanti Bapak bisa menebusnya di apotik terdekat," ujar dokter tersebut memberikan resep yang baru saja ia tulis.


"Terima kasih, Dok." Fahri mengambil resep yang diberikan oleh dokter tadi.


Dokter itu pun menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak ... Bu ...," ujar dokter tersebut pamit undur diri.


"Sama-sama, Pak."


Dokter itu kembali diantar oleh ART yang setia menunggunya di ambang pintu. Mereka pun langsung melangkahkan kaki untuk pergi dari tempat tersebut.


Kali ini, tinggal lah Arumi dan Fahri yang berada di dalam kamar. Fahri langsung menghampiri sang istri, lalu kemudian mencium area wajah istrinya itu bertubi-tubi. Tak peduli dengan panasnya minyak kayu putih yang menempel di bibirnya. Sungguh, ia sangat merasa beruntung mendapatkan wanita seperti Arumi.


"Terima kasih, Istriku. Terima kasih ...." Fahri tak henti-hentinya mengucapkan rasa terima kasih pada Arumi. Karena wanita ini, Fahri bisa membanggakan dirinya pada dunia, bahwa ia sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


Dengan wajah yang masih pucat, Arumi pun menganggukkan kepalanya. Dengan hadirnya sang buah hati yang masih bersemayam di dalam rahimnya, Arumi dapat memastikan bahwa ia telah mendapatkan Fahri seutuhnya.


"Kalau begitu, Mas mau ke apotik dulu untuk menebus obat dan vitamin yang diresepkan oleh dokter tadi,"


ujar Fahri yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Suruh bibi saja, Mas."


Fahri berbalik menatap sang istri. "Tidak, Istriku. Obat ini untuk kamu dan untuk anak kita. Aku sebagai suami sekaligus seorang ayah harus bertanggung jawab atas kesehatan kalian," ujar Fahri dengan antusias. Gurat kebahagiaan terpatri jelas di wajahnya.


"Ya sudah, kalau begitu. Hati-hati di jalan, Mas."


"Iya, Istriku."


Fahri pun mengambil dompetnya, lalu kemudian berjalan keluar untuk pergi ke apotik.


....


Di waktu yang bersamaan, Sifa tengah berada di dalam mobil bersama dengan Aldo. Keduanya menuju ke apartemen Sifa yang kini ditinggali oleh ibunya.


Setibanya di sana, Aldo pun memberhentikan mobilnya tepat di parkiran. Sifa turun dari mobil. Ia mengernyitkan keningnya saat melihat sang suami yang ikut turun dari kendaraan tersebut.


"Sayang, kamu bilang ingin pergi ke suatu te ...."


"Aku akan mengantarmu sampai benar-benar bertemu dengan ibu," ujar Aldo yang langsung memotong ucapan istrinya itu.


Sifa hanya menekuk bibirnya ke dalam. Dulu, ia sangat senang dengan pria yang posesif terhadap pasangannya. Namun, kali ini Sifa menyesalinya. Ia mendapatkan suami yang benar-benar posesif. Bahkan membuat dirinya kesusahan menghirup udara segar sekali pun.


Selang beberapa saat kemudian, Sifa dan Aldo pun berada tepat di depan pintu apartemen yang ditinggali oleh Kartika. Sifa memencet bel beberapa kali, hingga wanita paruh baya itu pun membukakan pintu untuk keduanya.


"Aaa ... putriku ... menantuku ...," ucap Kartika dengan berbinar. Ia merasa senang karena kedua orang tersebut datang menemuinya.


"Ayo masuk, jangan hanya di depan pintu saja," ajak Kartika.


Sifa melangkah masuk, sementara Aldo, pria itu tetap berdiri di tempatnya. "Bu, aku ada urusan mendadak. Tidak apa-apa kan Sifa aku tinggal di sini?" tanya Aldo.


"Tidak apa-apa, menantuku. Ya sudah, kalau begitu lekaslah pergi dan selesaikan urusanmu. Biar ibu yang menjaga Sifa di sini," ujar Kartika.


Aldo pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut. Setelah kepergian Aldo, Sifa langsung menghirup napasnya dalam-dalam, laku mengeluarkannya secara perlahan.


"Akhirnya, aku bisa bernapas dengan lega," gumam wanita tersebut.


Bersambung ....