
Fahri tiba di kantor. Beberapa rekan kerja menanyainya karena kemarin tidak masuk bekerja. Di tambah lagi dengan kondisi wajah Fahri yang sedikit mengenaskan. Lingkar hitam di area matanya terlihat begitu jelas.
"Apakah kamu tidak masuk kemarin karena sakit?" tanya salah satu rekan kerja Fahri saat berada di lift.
Fahri hanya menggelengkan kepalanya menimpali pertanyaan, yang entah berapa kali orang tanyakan pada dirinya.
"Kamu memiliki lingkar hitam di sekitar matamu. Ku kira kamu sakit," ujar pria tersebut. Fahri hanya tersenyum sembari memegangi sekitaran matanya.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Fahri pun melangkah lebih dulu untuk keluar dari ruangan sempit itu.
"Sepertinya, menanyai dia adalah kesalahan besar bagiku. Dia seperti orang yang bisu, tak menjawab sepatah kata pun atas pertanyaanku tadi," geram pria tersebut. Ia pun keluar dari lift itu, menuju ke meja kerjanya.
Fahri berjalan menuju meja kerjanya. Ia mendapati setumpuk dokumen yang ada di atas meja itu. Bahkan saat dirinya tidak masuk bekerja, tidak ada satu pun temannya yang mengerjakan tugasnya walaupun itu hanya sedikit saja.
Adakalanya, Fahri lah yang mengerjakan tugas yang seharusnya di berikan pada orang lain. Fahri mencoba mengambil napasnya, lalu kemudian menghembuskannya secara perlahan.
Fahri mendudukan dirinya di kursi. Memindai setumpuk dokumen tersebut dengan matanya. Bahkan Fahri bingung, harus memulai semuanya dari mana terlebih dahulu, karena terlalu banyak dokumen yang ada di atas mejanya.
"Sialan!!" gumam Fahri pelan.
Teman kerja yang berada di sampingnya, hanya berbataskan sekat itu, bisa mendengar Fahri yang mengumpat. Wanita itu cukup terkejut, karena ini adalah pertama kalinya ia mendengar Fahri berucap kasar. Selama ini Fahri hanya bisa patuh dan menuruti apapun tugas yang dilimpahkan kepadanya.
Tak lama kemudian, phone table yang ada di atas meja Fahri berbunyi. Pria itu pun mengangkat panggilan tersebut.
"Belum, Pak. Untuk dokumen yang itu, saya akan mengerjakannya dengan segera," ujar Fahri berbicara pada seseorang dari seberang telepon.
"Ta-tapi, saya baru datang hari ini, Pak."
"Baiklah."
Sambungan telepon terputus. Fahri dengan malas bangkit dari duduknya, lalu kemudian mencari dokumen yang diminta oleh atasannya.
Namun, sialnya dokumen tersebut ada di antara beberapa tumpukan dokumen yang lainnya. Ia harus terpaksa membongkar dokumen yang berada di atasnya, untuk mendapatkan dokumen yang dicari oleh pria itu.
Belum selesai Fahri mencari dokumen tersebut, hingga beberapa yang lainnya terjatuh berserakan begitu saja. Lagi-lagi ia mendapat telepon. Fahri mencoba meredakan emosinya,.lalu kemudian mengangkat panggilan itu.
"Mana? Apakah kerjamu selalu lamban seperti ini?!"
Fahri memejamkan matanya, mencoba untuk menahan amarahnya. "Akan segera saya antarkan ke ruangan Bapak," timpalnya.
"Cepatlah!! Aku membutuhkannya dengan segera. Lagi pula, pekerjaan sangat lamban hingga membuat aku merasa muak melihatmu," cecar Indra dari seberang telepon.
Setelah berucap demikian, sambungan telepon kembali terputus. Fahri mencoba memejamkan matanya seraya menyunggingkan senyum.
Ia terpaku pada tumpukan dokumen yang tadinya menjulang tinggi, kini berserakan di lantai karena tumpukan tersebut tanpa sengaja disenggol oleh Fahri.
Di sana, tak ada satu pun yang sekedar basa-basi ingin membantu memunguti dokumen tersebut. Semua orang seakan buta, rasa perikemanusiaan bahkan sampai saat ini seakan sudah musnah.
Fahri memilih membiarkannya terlebih dahulu. Jika dia sibuk memunguti dokumen yang berserakan, maka bisa dipastikan jika atasannya itu akan kembali menelepon lagi.
Pria tersebut berjalan menuju ruangan Indra. Ia mengetuk pintu sejenak, lalu kemudian membuka pintu tersebut.
Baru saja ia memunculkan wajahnya, tiba-tiba satu buah bolpoin dilempar begitu saja, mengenai wajahnya.
Fahri mendekat sembari tertunduk. Pria tersebut menyerahkan dokumen yang diminta boleh atasannya itu. Indra mengambil dokumen yang ada di tangan Fahri, menariknya dengan sangat kasar.
Pria itu membuka dokumen tersebut, membacanya perlembar dari dokumen itu. "Kamu belum menyelesaikannya?" ujarnya menatap dengan nanar.
"Sudah saya jelaskan sebelumnya, Pak. Saya baru datang, dan saya sama sekali belum mengerjakan dokumen itu," jelas Fahri.
Spontan dokumen tersebut di lempar dan lagi-lagi mengenai wajah Fahri.
"Kamu ... saya pecat!!" tegas Indra. Pria itu berulang kali mengatakan hal tersebut, akan tetapi Fahri selalu saja memohon dan berlutut untuk tidak memecatnya. Pada Akhirnya, Fahri kembali bekerja walaupun di bawah seribu tekanan.
Namun, kali ini keadaannya sedikit berbeda. Setelah melayangkan kata 'pecat' pada Fahri, pria itu tak lagi berlutut seperti biasanya. Justru Fahri tersenyum miring sembari menatap Indra.
"Apa?! Kamu menantang saya dengan tertawa seperti itu?!" seru Indra.
Pria tersebut hendak menampar wajah Fahri, akan tetapi dengan cepat Fahri menangkisnya. "Apakah CCTV di ruangan ini mati?" tanya Fahri sembari melirik ke arah berbagai sudut, dimana letak CCTV tersebut.
"Ku rasa memang benar, makanya anda bersikap semena-mena," lanjut Fahri.
"Kurang ajar sekali kamu!! Apakah kamu sudah berani melawanku?" tanya Indra.
"Tentu saja. Aku bukanlah pegawaimu lagi, dan aku bisa saja menghajarmu saat ini juga!!" ketus Fahri.
"Oh, tunggu! Apakah kamu berpikir bahwa aku akan kembali berlutut dan meminta agar tetap di terima di sini? Jawabannya tidak! Aku sudah muak dengan peraturan kantor yang terlalu mendewakan atasan seakan dia adalah raja. Dan menginjak-injak harga diri bawahannya," papar Fahri.
Pria itu sedikit menghempaskan tangan Fahri dari cekalannya. "Terima kasih, karena telah memecatku hari ini. Semoga, ada seseorang yang bisa menjadi pengganti ku, dimanfaatkan sesuka hati olehmu."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Fahri pun keluar dari ruangan itu. Bahkan pria tersebut sedikit membanting pintu ruangan atasannya. Membuat Indra menggeram kesal melihat tingkah Fahri kali ini.
Fahri berjalan menuju meja kerjanya. Ia berencana hendak mengambil tas kerja yang masih tergeletak di sana. Dan beberapa peralatan lain yang ada di meja kerjanya.
Saat Fahri datang, dokumen itu masih berserakan di lantai. Fahri tersenyum miring, dan kemudian menendang berkas-berkas tersebut hingga semakin berserakan.
Semua orang menatap ke arah Fahri. Menyadari tatapan dari mereka, Fahri hanya berdecih, lalu kemudian menginjak berkas-berkas tersebut seolah tak terlihat.
"Hei!! Apa yang kamu lakukan!! Itu semua dokumen penting!" seru salah satu rekan kerja yang melihat tingkah Fahri.
"Maaf, aku tidak melihatnya," sindir Fahri.
"Sebaiknya lekas pungutilah berkas-berkas itu sebelum atasan kita melihatnya," ucap pria bertubuh gempal tersebut.
"Atasan kita? Tidak, dia bukan atasanku. Melainkan atasan kalian. Kalau begitu, silakan kamu saja yang memungutinya," ujar Fahri tersenyum penuh arti.
Pria itu mengambil barang-barang yang ada di meja kerjanya, lalu kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Selama ini, Fahri menahan semua emosinya, bekerja di bawah tekanan yang membuat dirinya tampak stres. Namun, sebisa mungkin ia tahan demi untuk menghidupi sang istri. Tak peduli dengan harga dirinya, asalkan wanita yang dicintainya itu bisa senang dan tertawa, seakan beban yang ada di pundaknya menguap begitu saja.
Kali ini, Fahri tidak ingin berusaha keras lagi untuk mempertahankan pekerjaan itu. Lagi pula sebentar lagi ia akan bercerai dari Sifa. Bekerja di toserba sudah cukup untuk menghidupinya seorang diri.
Hanya saja, kini yang ia pikirkan adalah satu hal. Mengerjakan misi dari Arumi, yaitu menjadi suami dari wanita yang kaya raya tersebut.
Bersambung ...