Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 40. Hampir Ketahuan


Hari ini, Arumi sibuk untuk mempercantik dirinya. Gadis itu sangat senang karena keputusan yang diambil oleh Fahri sesuai keinginannya. Persetan tentang Fahri yang tak akan mencintai Arumi, karena bagi gadis itu, cinta akan tumbuh karena kebersamaan. Jika ia terus bersama dengan Fahri, mustahil pria tersebut tidak akan jatuh hati padanya.


Arumi menghabiskan hari ini dengan mempercantik dirinya. Pergi ke salon dengan melakukan serangkaian perawatan mulai dari kulit, wajah, rambut, bahkan kuku-kuku cantiknya yang tak luput ia percantik juga.


Setelah keluar dari salon kecantikan, Arumi masuk ke dalam mobilnya. Gadis itu melajukan kendaraannya ke jalanan untuk menuju ke tempat selanjutnya yang akan ia kunjungi.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, Arumi menghentikan kendaraannya tepat di depan gedung yang bertuliskan 'Beauty Store' . Tempat tersebut adalah tempat dimana Sifa bekerja.


Arumi sengaja menuju ke tempat tersebut hanya untuk memastikan sesuatu. Apakah sang istri tampak sedih atas keputusan yang diambil oleh Fahri.


Atau ada kesedihan dari raut wajahnya, karena Fahri yang berucap sebentar lagi akan bercerai dari istrinya.


Cukup lama ia melihat-lihat, berjalan menuju ke stand dimana tempat Sifa berada. Dan benar saja, wanita tersebut datang menghampiri. Dengan menyunggingkan senyum ramahnya, ia menyapa Arumi dan memperkenalkan produk-produk yang ia jual.


"Aku memiliki kulit yang sensitif, tetapi aku ingin tampil cantik di depan seorang pria," celetuk Arumi.


"Pasti pria tersebut sangat tampan dan istimewa," ujar Sifa.


"Tentu saja. Aku sangat menyukai pria itu. Ya ... mungkin ke depannya aku dan dia akan menikah," ucap Arumi tertawa kecil sembari menutup mulutnya dengan anggun.


"Benarkah?" tanya Sifa dengan mata yang membola dan penuh antusias.


"Hmmm ...," ucap Arumi seraya menganggukkan kepalanya.


"Aku sangat berharap hubungan kalian sampai ke jenjang serius, Nona." Sifa berucap demikian, padahal ia tak tahu jika yang Arumi maksud adalah suaminya sendiri.


"Jika aku mengirimkan undangan padamu, apakah kamu akan hadir?" tanya Arumi sembari menaikkan alisnya sebelah.


"Wah, aku merasa sangat terhormat bisa diundang oleh Nona. Aku akan sangat mengusahakannya untuk hadir ke pesta pernikahan Nona," ujar Sifa dengan tersenyum ramah.


"Ku harap kamu menepati janjimu, ya ...," ucap Arumi seraya terkekeh.


"Tentu saja, Nona."


Sifa kembali menjelaskan beberapa produk yang cocok untuk kulit Arumi. Namun, pandangan Arumi hanya tertuju pada Sifa. Samar-samar gadis itu mengulas senyum penuh arti, karena Sifa yang tak tahu sama sekali jika suaminya lah yang dimaksud oleh Arumi.


Arumi juga tidak melihat adanya raut kesedihan di wajah Sifa. Yang ia lihat, malah sebaliknya. Sifa terlihat lebih semangat dari sebelumnya saat ia bertemu dengan wanita tersebut.


Setelah cukup lama meladeni Sifa, Arumi pun memutuskan untuk membeli beberapa produk yang ditawarkan oleh wanita tersebut. Ia melakukan transaksi pembayaran dan keluar dari toko kosmetik itu.


Arumi berjalan menuju ke parkiran. Tanpa sengaja, ia melihat Aldo yang juga berada di parkiran. Tak jauh dari mobil yang dibawa oleh Arumi tadi.


Arumi berjalan mendekati Aldo. Pria itu mendengar suara langkah yang menghampirinya, ia pun tersenyum , mengira bahwa pemilik suara sepatu itu adalah Sifa. Saat Aldo berbalik, yang ia lihat ternyata Arumi. Senyum Aldo pun luntur seketika.


"Ada apa? Mengapa tiba-tiba saja ekspresimu berubah menjadi sedikit tidak mengenakan dipandang mata?" tanya Arumi yang menyadari perubahan ekspresi dari Aldo.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Aldo malas.


Arumi mengangkat paper bag belanjaannya. "Kamu bisa lihat! Aku sedang berbelanja. Kamu sendiri sedang apa di sini? Menjadi tukang parkir?" Arumi bertanya balik dengan wajah yang sedikit mengejek.


"Apakah kamu senang? Sepertinya misimu berhasil," ucap Aldo sembari melipat kedua tangannya di depan.


"Sepertinya kamu lah yang lebih senang dari pada aku. Sangat terlihat jelas, pengorbananmu untuknya," ujar Arumi yang tak mau kalah.


Terdengar suara langkah mendekat. Membuat Aldo dan Arumi memilih untuk tidak membahas hal itu lagi.


"Maaf, tapi bisakah untuk memundurkan kendaraanmu sedikit? mobilku sedikit kesusahan untuk keluar nantinya," ujar Arumi yang mencoba untuk membahas topik lain agar tidak diketahui oleh Sifa.


"Baiklah," timpal Aldo yang langsung masuk ke dalam mobilnya. Pria tersebut menggeser kendaraan agar mobil Arumi bisa keluar.


Di dalam mobil, Aldo menghembuskan napasnya dengan kasar sembari mengusap dadanya. Ia sangat terkejut kedatangan Sifa yang tiba-tiba.


"Kalau seperti ini terus, bisa mati muda aku??" gerutu Aldo.


Pria itu kembali meletakkan mobilnya di posisi awal setelah melihat mobil Arumi yang telah berhasil keluar.


Aldo turun dari mobil, tiba-tiba Sifa datang dan langsung menghambur ke dalam pelukan kekasihnya itu.


"Aku kira kalian berdua saling mengenal," ucap Sifa.


"Aku tidak mengenalnya!" tegas Aldo seraya menggelengkan kepalanya.


"Iya. Aku percaya, Sayang. Jangan sampai jatuh cinta padanya ya, meskipun dia lebih cantik dariku," ujar Sifa memberikan peringatan pada Aldo.


"Aku hanya mencintaimu," ucap Aldo membingkai wajah Sifa.


"Hanya kamu saja, Sifa. Tidak ada wanita lain selain dirimu," lanjut Aldo sembari mencubit kedua pipi Sifa dengan gemas.


"Dasar gombal!!" cecar Sofa seraya terkekeh geli.


.....


Arumi tengah berada di perjalanan. Ia menghela napasnya, merasa lega karena dapat lolos dari rasa paniknya pada Sifa.


Awalnya ia takut, jika Sifa menyadari tentang mereka berdua. Namun, setelah dilihat-lihat, Sofa sepertinya tak menaruh curiga atas kejadian tadi. Lagi pula, otak cantik Arumi langsung bisa mencari bahan pembicaraan yang lain, seakan memang keduanya tidak saling mengenal.


Drrrttt ...


Ponsel Arumi bergetar. Ia melihat di layar tersebut bahwa ibunya yang tengah menelepon. Arumi pun menanggalkan earphone pada telinganya. Cara aman mengangkat panggilan tanpa harus bersusah payah memegang ponsel. Dengan begitu, ia tetap bisa berbicara dengan leluasa sembari memegang kemudi menggunakan dia tangannya.


"Kamu dimana?" tanya ibunya dari seberang telepon.


"Di jalan," timpal Arumi dengan nada malas.


"Aku akan menunggumu di rumah. Lekaslah kemari karena ada sesuatu yang harus kita bicarakan," ujar ibu Arumi.


Arumi langsung mematikan sambungan teleponnya. Melepaskan earphone dari telinganya. "Ada apa dia mencariku? Apakah membutuhkan sesuatu?" gerutu Arumi tampak kesal.


Gadis itu menginjak pedal gas mobilnya, menambah kecepatan agar segera tiba di rumah. Setelah cukup lama menempuh perjalanan yang lumayan berliku, Arumi tiba di kediamannya. Gadis itu segera turun dari mobil untuk menemui ibunya yang telah menunggu kedatangannya di rumah.


Setibanya di sana, beberapa pelayan menyambut kedatangan Arumi. "Di mana mama?" tanya Arumi pada salah satu pelayan tersebut.


"Nyonya sudah menunggu di ruang tengah, Nona."


Setelah mendapatkan jawaban dari pelayannya itu, Arumi segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang dikatakan oleh pelayan tadi.


Bersambung ....