
Samuel memilih untuk menutup laman sebelumnya, lalu mencari salah satu kontak yang ada di ponselnya. Pria itu pun menempelkan benda pipih tersebut di daun telinganya. Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang dari seberang telepon.
"Halo Fahri, aku ingin menanyakan sesuatu," ujar Samuel.
"Tanya apa?" ucap Fahri dari seberang telepon.
Samuel mengedarkan pandangannya sejenak, lalu kemudian mengucapkan pertanyaannya itu dengan suara yang pelan.
"Apakah Bu Dewi pernah datang ke rumahmu lagi?" tanya Samuel.
"Tidak, memangnya ada apa?" Fahri balik bertanya.
"Sebaiknya kita tidak usah bicarakan hal ini di telepon. Apakah kamu ada waktu luang untuk bertemu hari ini?" ujar Samuel.
"Kebetulan Arumi tidak ikut ke kantor. Temui saja aku di kantor," ucap Fahri.
"Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan menemuimu di sana."
Samuel pun menutup panggilan teleponnya. Pria itu baru saja hendak beranjak dari tempat duduk, tiba-tiba matanya menangkap Elena yang sedang bersama keluarganya, tampak berbincang-bincang sembari mengulas senyum.
Tidak hanya Elena, ia juga menangkap sosok pria yang tengah bersama Elena saat itu juga. Kedua orang tua Elena tampaknya hendak berjalan keluar dari tempat tersebut, tinggalah Elena berdua dengan yang ada di sampingnya saja.
Elena mengarahkan pria tersebut untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Mata Elena sempat bertemu pandang dengan Samuel. Namun, gadis itu hanya mengulas senyumnya sekilas, lalu kemudian menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di hadapan pria tadi.
Samuel yang hendak pergi dari tempat itu pun langsung mengurungkan niatnya. Ia memilih untuk duduk kembali ke kursinya, sesekali ia melemparkan pandangannya pada Elena dan pria itu.
"Siapa pria yang saat ini bersama Elena?" gumam Samuel.
Samuel kembai mencuri pandang ke arah Elena. Ia melihat Elena yang sedari tadi mengembangkan senyumnya pada pria yang saat ini tengah bersama dengan gadis itu.
Entah mengapa, ada perasaan aneh yang menyelimuti Samuel saat itu juga. Ia merasa risih dengan Elena yang sedari tadi mengulas senyum untuk pria itu.
"Apakah pria itu seorang pelawak? Kenapa Elena sedari tadi tersenyum terus," gerutu Samuel.
Cukup lama Samuel melihat keduanya. Hingga akhirnya, pria itu pun berpamitan pulang. Elena mengantarkan pria tersebut keluar. Dan lagi-lagi hal tersebut kembali membuat Samuel menggerutu.
"Apakah pria itu tidak punya mata? Atau dia lupa kemana letak pintu keluar hingga harus meminta Elena untuk mengantarkannya?" gerutu Samuel.
Pria tersebut meraih gelas air minum yang ada di mejanya. Lalu kemudian menenggak air putih di dalam gelas tersebut hingga tandas tak tersisa. Samuel mengelap sudut bibirnya yang sedikit basah karena meminum air itu dengan tergesa-gesa.
Sesaat kemudian, Samuel mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Ia pun menolehkan kepalanya, melihat siapa yang saat itu tengah menghampirinya. Dan ternyata orang tersebut adalah Elena. Gadis itu pun langsung menarik salah satu kursi yang ada di hadapannya, lalu kemudian menatap Samuel dengan seksama.
"Ada apa kamu datang kemari?" tanya Elena.
Samuel tertegun sejenak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Elena. "Apakah aku harus memiliki alasan untuk datang ke sini? Bukankah setiap hari aku memang berada di sini," timpal Samuel.
Elena terkekeh, ia pun menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja, lalu kemudian meremas lututnya dengan kuat, mencoba untuk terlihat baik-baik saja di depan pria itu.
"Ah ... pria tadi. Namanya Tomi, dia ... calon suamiku," jawab Elena sembari tersenyum. Gadis itu meremas jemarinya yang ada di bawah meja setelah mengatakannya langsung pada Samuel bahwa pria tersebut adalah calon suaminya.
"Hah?!" Samuel terkejut.
"Kamu bercanda kan?" tanya Samuel diiringi dengan kekehan kecil. Pria itu seakan menganggap bahwa ucapan Elena hanya sekedar bualan belaka.
Tangan Elena tergerak meraih tasnya yang ada di atas meja, lalu kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya langsung pada Samuel.
"Apa ini?" tanya Samuel melihat Elena memberikan sebuah undangan pernikahan pada Elena.
"Pernikahan ku akan diadakan dua belas hari ke depan. Ku harap kamu bisa datang ke acara resepsi pernikahan ku nanti," ujar Elena menarik kedua sudut bibirnya.
Samuel terperangah, tangannya terulur mengambil surat undangan yang diberikan oleh Elena. Pria itu menjadi sedikit linglung, ia menatap surat undangan itu dengan tatapan kosongnya.
Seakan tak percaya dengan ucapan Elena, pria itu pun langsung membuka surat undangan tersebut. Dan benar saja, tertulis di dalam surat undangan itu bahwa Elena adalah mempelai wanitanya dan pria bernama Tomi adalah mempelai prianya.
Samuel tersenyum perih, entah mengapa ada sesuatu yang sedikit mengganggunya, seakan tak rela jika wanita itu harus menikah dengan pria lain secepat itu.
"Kalau begitu ... aku ucapkan selamat untukmu," ujar Samuel tersenyum.
"Terima kasih," ucap Elena sembari membalas senyuman Samuel.
Elena mulai merasa bahwa ia tak dapat lagi terlihat baik-baik saja. Dengan mencari alasan lain, Elena pun mencoba beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal. Pernikahan yang tak lama lagi digelar membuatku sedikit sibuk," ujar Elena.
Samuel hanya menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyum, tanpa menimpali perkataan Elena tadi.
Elena pun mulai membawa langkah kakinya untuk meninggalkan Samuel. Saat Elena berbalik, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Jangan menangis di depannya Elena, jika kamu tidak ingin melihatnya mengasihanimu terus menerus," batin Elena.
Elena langsung masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu pun melajukan kendaraannya menuju ke jalanan. Saat tengah berada di perjalanan, air mata yang Elena tahan sedari tadi pun langsung tertumpah ruah.
Elena memilih untuk menepikan kendaraannya, lalu kemudian menyandarkan kepalanya di setir mobil sembari menangis sesegukan.
Sekuat apapun ia berusaha untuk mengendalikan dirinya di depan Samuel, tetap saja Elena menjadi lemah. Mungkin karena wanita itu masih berharap akan cintanya yang tak pernah terbalaskan. Di tambah lagi, secara terang-terangan calon suaminya tadi mengatakan sesuatu yang membuat wanita itu merasa tersisihkan. Namun, Elena berusaha untuk mengulas senyumnya karena sadar akan mata Samuel yang terus memandang ke arahnya.
Di waktu yang bersamaan, Samuel sedikit meremas surat undangan yang diberikan oleh Elena tadi. Entah mengapa ia merasakan sesuatu yang tak bisa dijabarkan. Seolah merasa tak ikhlas jika Elena akan menikah dengan pria lain secepat itu.
"Ada apa denganku? Sepertinya aku sudah tidak waras lagi," ujar Samuel bermonolog.
Pria itu pun beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan surat undangan tadi di atas meja, berjalan keluar dari Cafe dengan perasaan yang sulit untuk dimengerti oleh akal sehatnya.
Bersambung ....