
Setelah menyelesaikan acara resepsi pernikahan, kini Sifa dan Aldo sedang berada di kamar pengantin. Aldo sedari tadi melihat gerak-gerik wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya. Wanita itu terus menatap kosong dengan wajah yang murung.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Aldo menghampiri Sifa. Pria itu menyibak sedikit anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Tidak ada yang aku pikirkan," sahut Sifa berbohong.
"Benarkah?" tanya Aldo lagi. Ia meraih tangan Sifa, dan mulai mengecupi punggung tangan wanita itu.
"Sungguh! Aku tidak memikirkan apapun," kilah wanita itu.
Aldo beringsut mendekat tanpa celah jarak di antara keduanya. Pria itu mulai menciumi bahu Sifa. "Entah mengapa aku meragukanmu. Aku melihat tatapan matamu ke arah Fahri. Apakah kamu masih berharap pada pria itu," ujar Aldo yang masih sibuk sendiri melakukan aktivitas nakalnya.
Sifa diam tak menjawab ucapan dari suaminya itu. Aldo menatap wajah Sifa saat wanita tersebut tidak menjawab ucapannya.
"Kenapa? Kenapa sekarang?" bisik Aldo dengan penuh penekanan.
"Kita sudah menikah. Dan kamu sudah bercerai dari pria itu. Kenapa kamu sekarang harus memikirkannya lagi. Pria itu sudah mempunyai istri. Masih berniat untuk mengejarnya?" tukas Aldo.
Sifa melihat sorot mata sang suami menatapnya dengan tajam. Wanita itu memeluk Aldo, menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ujar Sifa memeluk erat tubuh kekar Aldo.
Aldo membuang muka. Entah mengapa yang tadi ia tampak bersemangat untuk menjalani malam pertamanya, kali ini pria itu tak bernapsu lagi.
"Tidurlah! Aku lelah!" tukas Aldo yang langsung melepaskan tangan Sifa dari tubuhnya.
Pria itu memilih berbaring langsung di tempat tidurnya dengan punggung membelakangi sang istri. Sifa hanya bisa memandangi punggung lebar milik Aldo. Wanita itu juga bingung akan hatinya sendiri yang menjadi gundah tak menentu. Melihat mantan suaminya berbahagia, membuat dirinya merasa sedikit tak rela jika Fahri bisa melupakannya secepat itu.
....
Malam itu, Fahri tengah duduk di pinggir kolam renang. Pria itu mencelupkan kakinya, membiarkan rasa dingin air kolam tersebut menyentuh permukaan kulitnya.
Kepalanya mendongak ke atas. Matanya terpejam, dan hidungnya, tampak mengembang lalu mengempis menghirup oksigen dengan rakusnya dan menghembuskannya secara perlahan.
Dari kejauhan, Arumi melihat Fahri yang tengah berada di kolam tersebut. Wanita itu berdiri sembari melipat kedua tangannya ke depan. Ia memperhatikan suaminya dari belakang.
"Bisakah aku menjadi obat dari segala luka yang terjadi di masa lalumu?" gumam Arumi.
Gadis itu berjalan menuju ke dapur. Ia tiba-tiba merasa lapar karena memang sedari tadi belum makan. Melihat suaminya tampak murung, membuat Arumi kehilangan napsu makannya.
Ia pun mengambil mie instan cup yang ada di dalam lemari. Lalu kemudian memanaskan air dan menuangkan air panas tersebut ke dalam wadah mie yang berbentuk cup itu.
Arumi memilih menyeduh dua cup mie instan. Satu cup lagi akan ia berikan pada Fahri, mengingat suaminya itu sedari tadi belum makan.
Setelah selesai menyiapkan semuanya, Arumi mengambil nampan. Salah satu pelayan yang baru saja masuk ke dapur melihat Arumi tampak repot. Ia langsung mengambil alih pekerjaan yang dilakukan oleh majikannya itu.
"Biar saya saja, Nyonya." pelayan tersebut menawarkan diri saat melihat Arumi yang sudah siap membawa nampan berisi dua cup mie instan, serta lengkap dengan dua botol air mineral kemasan.
"Tapi itu berat Nyonya," ujar si pelayan yang merasa khawatir. Karena sebelumnya gadis itu tidak pernah melakukan hal ini.
"Aku sungguh tidak apa-apa, Bi. Lagi pula aku ingin memberikan ini pada suamiku. Sudah sepantasnya untuk seorang istri melayani suaminya bukan?" ucap Arumi. Bibirnya mengembangkan sebuah senyuman sangat manis, matanya juga berbinar saat membawa dua cup mie instan buatannya yang di beri bumbu cinta dan rasa sayang sepenuh hati.
Perlahan gadis itu menuju ke area kolam renang. Ia berjalan sembari mengulas senyumnya menghampiri sang suami tercinta yang masih asyik menikmati kesendiriannya.
Arumi mulai meletakkan nampan tersebut sembari memanggil suaminya. "Mas Fahri, aku buatkan kamu ...." belum sempat Arumi menuntaskannya, tiba-tiba tanpa sengaja tangannya menyenggol salah satu mie instan yang ia letakkan di atas meja tersebut. Hingga kuah panas dari mie instan itu pun mengenai tangannya
"Awww ...," ringis gadis itu sembari memegangi tangannya yang tampak memerah.
Fahri baru saja mengarahkan pandangannya pada Arumi saat sang istri memanggilnya. Namun, ia dikejutkan dengan kejadian selanjutnya, dimana Arumi menyenggol salah satu cup mie instan yang ia bawa.
Fahri panik melihat hal tersebut. Ia pun langsung beranjak bangun dan setengah berlari untuk menghampiri Arumi. Akan tetapi, saat ia berada di tengah perjalanan menuju istrinya itu, tiba-tiba ...
Srrrtt ...
Brughhh ...
Kaki Fahri yang basah, lalu dibawa untuk berlari. Membuat pria itu jatuh terpeleset. Fahri memegangi pinggangnya yang terasa nyeri, sementara Arumi, gadis itu berusaha menahan tawa saat melihat kejadian tersebut.
Arumi beranjak dari duduknya. Meskipun tangannya sakit, ia tetap ingin membantu suaminya yang secara tak langsung menyajikan bahan lawakan untuk Arumi.
"Tetaplah di tempatmu!" titah Fahri.
Arumi yang tadinya sudah dalam posisi berdiri, ia pun langsung duduk kembali ketika Fahri menyuruhnya untuk tetap di tempatnya.
Pria tersebut berusaha untuk berdiri dari posisinya. Fahri pun berjalan perlahan menuju Arumi sembari memegangi pinggangnya. Ia langsung duduk di samping Arumi, lalu kemudian meraih tangan sang istri yang terkena tumpahan air panas tersebut.
"Seharusnya kamu tidak perlu menyiapkan semua ini, karena terlalu berbahaya bagimu. Kenapa tidak suruh bibi saja," ujar Fahri seraya meniup tangan Arumi yang sudah tampak memerah.
"Aku ingin melakukannya sendiri. Bukankah melayani seorang suami sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri? " ucap Arumi.
"Tetap saja. Kamu belum terbiasa melakukan hal ini." Fahri langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia membersihkan mie instan yang tertumpah tadi, lalu kemudian membuang mie yang sudah tumpah itu ke kotak sampah.
"Tunggulah di sini sebentar. Aku akan ke kamar terlebih dahulu untuk mengambilkanmu obat," ujar Fahri.
Arumi tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia pun menatap kepergian suaminya yang melangkah masuk menuju ke kamar. Di tempat itu, Arumi sendirian. Ia meniup-niup tangannya yang terasa sangat perih dan terbakar. Semakin lama tangan Arumi semakin merah.
"Kenapa aku benar-benar payah melakukan hal yang semudah ini. Bahkan anak kecil saja bisa, kenapa aku tidak?" gerutu Arumi sembari mengerucutkan bibirnya.
Ia benar-benar kesal. Melakukan hal sepele, hanya menyiapkan mie instan untuk Fahri saja dia sudah seperti ini. Apalagi jika memasakkan sesuatu untuk pria itu nantinya.
Bersambung ....