Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 131. Korban Budak Cinta


Fahri berdiam diri di atap gedung perusahaan. Pria itu mengeluarkan sebungkus rokok yang dibelinya tadi sebelum menuju ke atap. Ia pun menghidupkan pemantik, lalu kemudian menghisap benda yang mengandung nikotin itu.


Uhuk ...


Belum lima menit ia menghisap puntung rokoknya, Fahri langsung terbatuk-batuk.


"Sialan!!" ujar Fahri sembari menepuk-nepuk sedikit dadanya.


Fahri menatap lurus ke depan. Keningnya membentuk beberapa lipatan kerutan. Pria tersebut kembali mengingat ucapan Aldo tadi. Sungguh! Ia merasa benar-benar kecewa dengan Arumi.


Awalnya, Fahri mengira Arumi adalah gadis yang baik. Namun, setelah mendapati fakta bahwa Arumi ikut andil dalam rusaknya pernikahan terdahulu, membuat Fahri merasa berkali-kali dikecewakan.


Fahri merogoh sakunya. Pria itu menghidupkan ponsel yang sempat ia nonaktifkan. Beberapa pesan singkat masuk di ponselnya. Banyak pesan dari Arumi, akan tetapi satu pesan yang membuat mata Fahri terbelalak.


Di mana kamu? Arumi sedang kesakitan!


Awalnya Fahri berpikir, kesakitan apa maksud pesan yang dikirimkan oleh Samuel. Namun, sesaat kemudian ia pun teringat ucapan dokter sebelumnya, bahwa kandungan Arumi lemah.


Fahri pun membuang puntung rokoknya, lalu kemudian menginjak puntung rokok tersebut untuk memadamkannya.


Fahri bergegas turun dan berlari menuju ke ruangannya. Karyawan yang sempat berpapasan dengan Fahri menatap heran sikap atasannya itu. Saat hendak menuju ke atap, Fahri berjalan begitu gontai seakan baru putus cinta.


Fahri menuju ke ruangannya. Doni baru saja hendak menyampaikan sesuatu pada Fahri, akan tetapi ...


Wushhh ...


Fahri berlalu bak angin. Padahal, mulut Doni baru saja menganga hendak mengatakan sesuatu pada atasannya itu.


"Sepertinya aku sedikit tertekan bekerja di tempat ini," gumam Doni.


Sesampainya di ruangan yang ia tuju, Fahri melihat Samuel yang tengah menatap Arumi. Sedangkan istrinya itu, sibuk memakan cake yang ada di hadapannya dengan rakus.


"Lihat saja, jika Mas Fahri tidak memaafkanku, maka aku tidak akan berhenti memakan cake ini," gumam Arumi. Tanpa ia sadari, orang yang dibicarakan ada dibelakangnya.


Samuel yang sadar akan kedatangan Fahri pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Orangnya ada di belakangmu," ucap Samuel.


Uhuukkk ...


Arumi langsung tersedak. Wanita tersebut mengusap-usap dadanya. Fahri yang melihat sang istri tersedak, dengan segera mengambil botol air minum yang hendak Samuel raih.


Dengan cepat, Fahri memberikan istrinya air minum. "Makanlah dengan pelan-pelan. Jangan ceroboh seperti ini!" ucap Fahri memarahi sang istri karena bertindak ceroboh.


Arumi menenggak botol air mineral tersebut. Lalu kemudian, wanita itu menatap sang suami dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mas Fahri, ..."


Fahri tak mengindahkan ucapan sang istri. Ia membantu menyeka mulut Arumi dengan tisu. "Sebaiknya jangan makan terlalu berlebihan. Jika lambungmu tidak kuat, kamu akan sakit perut," ujar Fahri.


"Mas, maafkan aku," lirih Arumi.


"Tidak usah dibahas lagi. Asalkan, kamu tidak mengulangi perbuatan mu yang tercela itu. Jika kejadian tersebut ada di posisimu, jika ada seseorang yang mencoba merebut suamimu seperti yang kamu lakukan, pastinya kamu akan merasa dikecewakan bukan, begitu pula dengan orang tersebut," tutur Fahri dengan sangat bijak.


Arumi mengangguk, lalu kemudian memeluk tubuh suaminya. Fahri mengusap belakang sang istri, sembari memberikan kecupan singkat di kening Arumi .


Sementara Samuel, pria tersebut hanya bisa tersenyum getir. Namun, inilah namanya cinta. Samuel membuktikan pada dunia, bahwa cinta yang ia miliki untuk Arumi begitu besar. Ia bahkan mengesampingkan rasa sakitnya hanya demi wanita yang ia cintai berbahagia dengan pria pilihannya.


.....


Saat ini, Fahri dan Samuel tengah berada di atap. Setelah menghabiskan cukup banyak cake, Arumi langsung mengantuk. Kini wanita itu pun tertidur pulas di tempat tidur yang ada di ruangannya. Sehingga, Fahri dan Samuel pun memilih berbincang di atap gedung.


"Masalah tentang yang dikatakan oleh Aldo, aku juga ikut serta. Jika kamu ingin marah, silakan marah denganku saja, jangan dengan Arumi," tutur Samuel sembari menyesap secangkir kopi yang ada di tangannya.


"Awalnya ... Arumi sangat senang karena kembali bertemu denganmu setelah satu tahun yang lalu ia tak melihatmu lagi," papar Samuel.


"Apakah kamu lupa? Wanita yang hendak melakukan percobaan bunuh diri, saat di jembatan. Kamu lah yang menghentikannya. Karena kamu, dia bertahan hingga sekarang. Saat itu, Arumi baru saja kehilangan ayahnya. Dan setelah itu, ia didiagnosa memiliki kanker kelenjar getah bening. Wanita itu sempat menyerah dengan hidupnya. Aku berterima kasih padamu, karena saat itu kamu menghentikannya. Jika tidak ada kamu, bisa saja Arumi sudah terjun dari jembatan karena aku datang terlambat," beber Samuel menceritakan semuanya pada Fahri.


"Berarti ... dia adalah wanita itu?" batin Fahri.


"Arumi pernah mengidap kanker?" tanya Fahri.


"Hmmm ... dia dinyatakan sembuh total baru-baru ini. Maka dari itu, selama Arumi menjalani kemoterapi, Indra lah yang menghandle perusahaan," jelas Samuel.


"Saat melihatmu pertama kali, ia begitu bahagia. Ia berniat untuk mengejarmu dan menyatakan cinta padamu. Namun, saat itu istrimu datang, membuat Arumi pun memilih untuk mengalah," ujar Samuel.


"Akan tetapi, saat kami tengah berada di sebua resto, kami tak sengaja bertemu dengan istrimu. Wanita itu saling menautkan tangan bersama dengan pria lain, dari situlah Arumi kembali bertekad untuk merebutmu apapun caranya," ungkap Samuel.


"Ia merasa tidak senang melihatmu dipermainkan. Maka dari itu, kamu jangan membenci Arumi. Dia membantumu untuk tidak terus diperdaya oleh istrimu terdahulu, meskipun cara yang ia lakukan adalah cara yang salah."Samuel memberikan nasihat pada Fahri.


Fahri mencerna setiap ucapan Samuel. Pria itu pun menganggukkan kepalanya. "Aku tidak akan membencinya. Semarah apapun aku, itu tidak akan bertahan lama saat melihat wajah Arumi," ujar Fahri.


"Karena aku tahu, bahwa hatiku telah sepenuhnya milik istriku," sambung Fahri.


Samuel tersenyum, lalu kemudian menepuk bahu Fahri. "Aku percaya, kamu adalah pria yang baik dan tentu saja akan memperlakukan Arumi dengan begitu baik. Kalau begitu, aku pamit dulu. Ada hal yang harus ku urus setelah ini," ujar Samuel.


"Semenjak berhenti bekerja, tampaknya kamu menjadi orang yang lebih sibuk," celetuk Fahri.


Samuel hanya mengulas senyum, lalu kemudian melangkah pergi dari tempat tersebut.


Sepeninggal Samuel, Fahri menatap langit yang cerah. Fahri mengulas senyumnya sembari mendongakkan wajahnya.


"Aku tidak pernah menyangka, jika dia adalah gadis yang pernah ku selamatkan dulu," gumam Fahri.


Sekitar setahun yang lalu, Fahri baru saja pulang dari bekerja. Pria tersebut menyusuri jalanan malam itu. Saat melewati jembatan, samar-samar Fahri melihat seorang wanita yang baru saja hendak menaiki besi jembatan.


Mata Fahri pun terbelalak, ia segera berlari menuju gadis tersebut. Tak lama kemudian, Fahri langsung memegang tangan gadis itu, hingga keduanya pun terjatuh.


Saat itu, Arumi terjatuh tepat di atas tubuh Fahri. Fahri terpesona, melihat wajah Arumi. Meskipun dengan tatapan yang kosong, Arumi terlihat begitu cantik.


"Astaga, ada apa denganku. Aku adalah pria beristri, tidak seharusnya berpikir seperti ini," batin Fahri.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Fahri menatap gadis yang ada diatasnya dengan sorot mata kekhawatiran.


"Jangan pernah berpikir sempit dengan memilih untuk bunuh diri. Dunia akan tetap berjalan, sedangkan orang-orang yang menangisimu hanya beberapa setelah itu mereka akan melupakanmu. Aku tidak tahu seberat apa masalah yang kamu hadapi. Namun, cobalah untuk tidak memilih jalan yang salah. Jika orang-orang tak mampu menghargai mu, setidaknya kamu yang harus menghargai hidupmu sendiri," ujar Fahri mencoba menasihati Arumi kala itu.


Tak ada jawaban dari Arumi. Wanita itu hanya diam tanpa berucap apapun. Hingga Fahri pun meminta agar Arumi bangun dari atas tubuhnya.


Tak lama kemudian, datang seorang pria, dengan guratan penuh ke khawatiran, ia pun menyelimuti wanita itu dengan jaket yang dipakainya. Lalu kemudian pergi meninggalkan Fahri di sana.


Fahri melihat mobil yang melaju, pria itu pun memukul-mukul kepalanya, merutuki dirinya karena telah menyukai gadis lain sedangkan ia telah memiliki sifa sebagai istrinya.


"Ini tidak boleh terjadi. Aku harus melupakan kejadian ini, menganggapnya bahwa malam ini tidak terjadi apapun," gumam Fahri.


Setelah itu, Fahri pun lupa akan sosok wanita yang ia selamatkan. Ia tidak ingin mengingatnya kembali karena sadar bahwa dia adalah pria yang telah beristri.


.....


Fahri turun dari atap, segera menuju ke ruangannya. Ia tak sabar ingin melihat sang istri. Menyadari bahwa wanita yang sempat ia kagumi adalah wanita yang saat ini telah menjadi ibu dari calon anaknya yang kini masih bersemayam dalam rahim wanita tersebut.


Fahri menghampiri Arumi. Ia pun mengecup kening Arumi dengan begitu lembut. "Kita bertemu lagi setelah sekian lama. Dan ternyata, kamu adalah jodoh yang tak terduga, dikirimkan Tuhan untukku," gumam pria itu.


Fahri merasa benar-benar sangat bahagia. Ia tak lelah memandang wajah cantik istrinya itu dan melupakan sejenak tugas kantornya. Untunglah hari itu, tidak banyak yang harus di kerjakan. Jika tidak, Doni lah yang akan menjadi repot karena korban budak cinta sang atasannya itu.


Bersambung ...