Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 80. Aku Cemburu!


Arumi baru saja bangun dari tidurnya. Saat pertama ia membuka mata, gadis itu langsung mengulas senyum di wajahnya.


Seketika ingatannya kembali pada waktu malam hari, dimana saat itu ia mendapatkan ciuman pertamanya. Dan yang memberikan ciuman itu adalah pria yang ia dambakan selama ini.


Mengingat kejadian itu, membuat jantung Arumi kembali berdegup kencang. Fahri menyentuhkan bibirnya ke bibir milik wanita itu. Arumi pun beranjak dari tempat tidurnya. Memilih untuk bercermin sembari memegangi bibirnya.


"Bahkan sampai sekarang, masih terasa." Arumi tersenyum dan tangannya masih memegangi bibirnya.


Tak lama kemudian, ia pun melompat-lompat kegirangan. "Berarti usahaku selama ini sudah berhasil," ucap gadis itu.


"Bibirku menjadi lebih cantik setelah menyentuh bibirnya Mas Fahri," gumam Arumi.


Arumi menghentikan aksi gilanya saat mendengar pintu kamarnya di ketuk. Tak lama kemudian, pintu itu pun terbuka. Memperlihatkan seorang pria yang selalu mengganggu ketenangannya datang dan masuk ke dalam kamar Arumi.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Arumi menatap Samuel dengan penuh selidik.


Samuel langsung menempelkan jari telunjuknya menyentuh bibir. Mengisyaratkan pada Arumi untuk tidak terlalu keras berbicara.


Pria itu menutup pintu kamar Arumi. Lalu kemudian menghampiri gadis tersebut dengan memperlihatkan sesuatu dari ponselnya.


"Ada apa?" tanya Arumi yang juga ikut berbicara pelan.


"Lihatlah ini!" ucap Samuel memperlihatkan sebuah potongan video yang ada di dalam ponselnya.


"Bukankah ini ...."


"Iya. Indra sepertinya mengenal pria yang sekarang telah menjadi suami dari mantan istri suamimu," ujar Samuel.


"Entahlah kamu mengerti atau tidak ucapanku yang sedikit rumit untuk diartikan tadi," lanjut Samuel.


"Berarti kemungkinan besar yang masuk ke ruang kerja pada malam itu adalah Aldo?" tanya Arumi.


"Bravo! Tapi ada kemungkinan jika itu bukan dia, melainkan orang-orang terdekat kita. Intinya kamu harus berhati-hati, banyak orang jahat yang berharap kamu segera tumbang," ujar Samuel memperingati.


"Tunggu sebentar! Tanganmu kenapa?" tanya Samuel yang baru saja sadar akan kondisi tangan Arumi.


"Hanya kecelakaan kecil. Sudah, bukalah pintu kamarnya. Aku tidak ingin suamiku curiga nantinya karena kamu diam-diam masuk ke sini dan mengunci rapat pintu kamar itu," ucap Arumi sembari menunjuk pintu yang tertutup rapat.


Samuel menghela napasnya. Pria itu beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu tersebut. "Ya ... ya ... ya ... ku rasa suamimu tidak akan bangun sepagi i ...." Samuel belum sempat menuntaskan ucapannya karena saat pintu itu terbuka, pria tersebut melihat Fahri yang sudah berdiri di balik pintu itu.


"Oww ... aku menarik kembali ucapanku," ujar pria itu selanjutnya sembari mengangkat kedua tangannya seakan mengakui bahwa dirinya sudah salah dalam menilai Fahri.


Arumi bangkit dari tempat duduknya. Gadis itu menatap Fahri dengan mata yang membulat sempurna. Ia kemudian melihat ke arah Samuel, pria itu seperti tak berdosa, ia terlihat sangat biasa saja.


"M-Mas, to-tolong jangan salah paham dulu," ucap Arumi yang langsung menghampiri suaminya.


Arumi kembali melihat Samuel yang mengendikkan bahunya. Membuat gadis itu menjadi geram dan menghampiri Samuel.


"Minta maaflah padanya! Dan jelaskan bahwa kita tidak melakukan apa-apa tadi," ucap Arumi.


"Bukankah kita melakukannya?" bisik Samuel.


Mata Arumi kembali membola, gadis itu langsung mencubit lengan Samuel hingga pria tersebut meringis kesakitan.


"Aww ...," ringis Samuel.


"Apa yang kamu lakukan!" lanjut pria itu.


"Cepatlah katakan padanya! Jangan membuat dia salah paham!" balas Arumi yang juga tak mau kalah.


Sementara Fahri, pria itu sedikit bingung memperhatikan keduanya yang sibuk sendiri untuk menjelaskan sesuatu padanya. Pria itu pun memilih untuk melipat kedua tangannya ke depan sembari menyender di bibir pintu.


Samuel menghadap Fahri. Sesekali ia mencebikkan bibirnya saat menatap ke arah Arumi. "Kamu jangan salah paham. Kami tidak melakukan apapun. Aku mengunci pintu kamar hanya karena menyampaikan sesuatu pada Arumi, tidak lebih!" jelas Samuel.


Fahri rasanya ingin tertawa saat itu juga melihat keduanya seperti kucing dan anjing, yang sangat jarang akur.


Tak lama kemudian, Fahri melangkahkan kakinya menghampiri sang istri. Ia menatap Arumi dengan begitu lekat, lalu meraih tangan Arumi yang terkena air panas kemarin.


"Sebaiknya kita ke dokter untuk memeriksakan lukamu. Aku takut jika nanti luka ini akan bertambah parah," ujar Fahri.


Arumi mengerjapkan matanya beberapa kali, seakan tak percaya dengan sikap yang diperlihatkan oleh Fahri. "Mas tidak marah?" tanya Arumi.


Fahri menggelengkan kepalanya pelan. "Bersiaplah! Mas tunggu kamu di ruang tengah," ujar Fahri.


Pria itu pun langsung pergi dari hadapan Arumi. Gadis tersebut menatap punggung Fahri yang lebar, semakin lama semakin hilang dari pandangannya.


"Dia tidak marah padaku? Ya ... setidaknya cemburu." Arumi menggerutu seraya mencebikkan bibirnya.


Samuel yang melihat tingkah Arumi merasa geli sendiri. Pria itu menirukan ucapan Arumi dengan sebuah nada ejekan.


"Diam kamu, Sam!" tukas Arumi menatap Samuel dengan mendelik.


"Suamimu tidak cemburu mungkin karena dia sudah paham dengan kita. Atau memang mungkin dia tidak memiliki rasa apapun," tukas Samuel.


"Benarkah? Pria yang tidak memiliki rasa pada seorang wanita sudah pasti tidak merasa cemburu?"


"Tentu saja!" timpal Samuel. Pria itu berjalan mendekati nakas, lalu kemudian meraih segelas air yang ada di atas nakas tersebut. Menenggak air itu untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sedikit kering.


"Jika dia memang tidak memiliki rasa padaku, kenapa kemarin dia menciumku?" gumam Arumi.


Prfttttt ...


Air yang singgah di mulut Samuel seketika langsung tersembur keluar saat mendengar ucapan Arumi selanjutnya.


"Kamu ini ... Ih! Menjijikan sekali!" cecar Arumi menatap Samuel dengan tatapan tajamnya.


"Di-dia menciummu?" tanya Samuel mencoba untuk memastikan.


"Entahlah! Bereskan semuanya jangan sampai ada yang tertinggal!" tukas Arumi yang kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandinya. Gadis itu menghentakkan kakinya kesal karena Samuel yang tanpa sengaja menyembur wajahnya dengan air yang ada di mulutnya.


Sepeninggal Arumi, Samuel pun langsung mengelap air semburan tadi dengan tissue yang ada di kamar tersebut. "Memanglah sangat susah untuk ku mengerti kedua pasangan ini," gumam Samuel.


Sementara Arumi, wanita tersebut menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia membasuh mukanya berulang kali dengan sabun wajah, lalu kemudian membilasnya.


"Ingin sekali rasanya aku mencekikmu, Samuel!" geram Arumi.


Samuel berjalan keluar dari kamar Arumi. Ia melihat Fahri yang saat itu tengah duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tengah untuk menunggu istrinya bersiap.


Samuel pun menghampiri Fahri, ia duduk di salah satu sofa yang letaknya berseberangan dengan pria itu. "Mengapa wajahmu seperti itu?" tanya Samuel yang melihat Fahri seperti tak menyukai keberadaannya.


"Apakah kamu benar-benar tidak marah ataupun cemburu atas kejadian tadi?" pancing Samuel, mencoba memberikan pertanyaan pada pria tersebut.


Fahri pun mengarahkan pandangannya pada Samuel. Ia melipat kedua tangannya ke depan dengan sedikit mengangkat wajahnya.


"Tidak. Aku sangat cemburu akan hal itu!" tegas Fahri.


bersambung ....


Sementara aku belum up, kali aja ada yang mau mampir ke novelku yang lainnya.