Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 174. Naik Level


"Aku membelinya dengan Sifa, mantan istrimu."


Uhukkk ...


Mata Fahri membelalak, dan pria itu pun langsung terbatuk-batuk mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Arumi.


"Ada apa, Mas?" tanya Arumi sembari mengulum senyumnya.


"Ti-tidak apa-apa." Fahri langsung terbata-bata menimpali pertanyaan suaminya.


Saat Arumi hendak kembali menyuapi Fahri, tiba-tiba Fahri menolaknya sembari menggelengkan kepala. "Sudah, Sayang. Mas sudah kenyang," ujar Fahri yang langsung meraih botol air mineral yang ada di atas meja.


Arumi menyunggingkan senyumnya melihat suaminya yang tiba-tiba salah tingkah seperti itu. Ia pun menyuapkan makanan yang sempat di tolak suaminya tadi ke dalam mulutnya.


"Ini enak loh, Mas. Yakin kamu tidak akan menyesal jika ku habiskan semuanya," goda Arumi yang mencoba untuk menarik perhatian suaminya.


Fahri sempat melirik ke arah Arumi. Seakan tak rela jika Arumi menghabiskan semua makanan tersebut.


"Benarkah kamu akan menghabiskan semuanya?" tanya Fahri.


"Hmmm ... tentu saja," ujar Arumi sembari mengunyah makanannya.


"Coba Mas cicip sedikit lagi," ujar Arumi dengan setengah berbisik.


Arumi mendengar jelas apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Ia pun langsung terkekeh geli sembari menutup mulutnya, takut jika makanan yang sudah ada di dalam mulutnya itu keluar.


"Kalau Mas Fahri mau, silakan makan saja. Lagi pula aku tidak melarangnya," tutur Arumi.


"Benarkah? Apakah kamu tidak merasa cemburu?" tanya Fahri.


"Cemburu? Untuk apa, Mas. Kamu dam Sifa kan sudah menjadi masa lalu, yang lalu biarlah berlalu," ujar Arumi.


"Kalau begitu, bolehkah Mas menghabiskan makanan itu?"


"Bukankah tadi Mas bilang sudah kenyang?" Arumi bertanya kembali pada suaminya.


"Sebenarnya ... Mas takut jika kamu merasa cemburu nantinya. Maka dari itu, Mas mencoba untuk menghindari apapun yang akan membuatmu sakit hati. Mas tidak ingin kamu merasa dikecewakan," papar Fahri mencoba menjelaskan alasan yang sebenarnya.


"Tidak, Mas. Lagi pula aku dan Sifa juga sudah mulai menjalin pertemanan saat ini. Aku merasa kasihan padanya, disaat hamil seperti itu, Aldo tidak bisa menemaninya," ujar Arumi.


Fahri sempat tertegun mendengar bahwa kabar kehamilan dari Sifa. Sebelumnya, wanita itu terus saja mengkonsumsi obat pencegah kehamilan saat bersama dengan dirinya dulu.


"Ada apa, Mas? Kenapa kamu melamun?" tanya Arumi.


"Tidak apa-apa, Mas habiskan ya makanannya," ujar Fahri.


Arumi pun menganggukkan kepalanya. Wanita itu tersenyum melihat sang suami makan dengan begitu lahapnya. Ia tersentuh dengan alasan Fahri yang tak ingin membuatnya sakit hati karena memakan makanan dari mantan istrinya itu.


Setelah menghabiskan makan siangnya, Arumi pun menemani Fahri sejenak, melihat pria tersebut kembali mengerjakan pekerjaan kantor, serta ikut mengecek laporan keuangan kantor.


"Mas, aku berencana kembali mempekerjakan Indra. Apakah Mas setuju dengan usulanku yang satu ini?" tanya Arumi.


Fahri pun berpikir sejenak, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. "Tidak ada salahnya kita mempekerjakan Indra kembali. Lagi pula ia juga sudah banyak berubah. Mungkin belajar dari pengalamannya," jawab Fahri.


"Seperti yang kamu katakan sebelumnya, tidak ada salahnya kita untuk memaafkan kesalahan seseorang," tutur Fahri.


Arumi mendekati suaminya yang tengah duduk di kursi kebesarannya itu. Wanita itu memeluk Fahri dari belakang.


"Suamiku memang pria terbaik yang pernah ku kenal," ujar Arumi sembari mengusap kepala suaminya.


"Jangan terlalu keras mengusap kepalaku, Sayang. Nanti wig-nya lepas. Semua orang pasti akan terkejut melihat kepalaku botak," ucap Fahri.


Gelak tawa pun terdengar dari ruangan itu. Fahri dan juga Arumi lebih terlihat bahagia dari sebelumnya. Doni yang baru saja ingin masuk ke ruangan Fahri, langsung mengurungkan niatnya.


"Aku senang jika mereka akur seperti ini," gumam Doni yang memilih untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.


.....


"Sejak kapan kamu ada di sana?" tanya Elena.


"Sejak tadi," timpal Samuel singkat.


"Kenapa tidak menunggu di dalam saja?" tanya Elena lagi.


"Aku lebih senang memperhatikanmu dari jauh, sama seperti yang kamu lakukan padaku sewaktu itu."


Elena mencebikkan bibirnya, lalu kemudian menghampiri Samuel. "Kamu memang sok tahu! Kapan aku memperhatikanmu dari jauh?" Elena bersedekap, memasang wajah angkuhnya.


"Kamu sepertinya malu untuk mengakuinya, sudah mengakulah! Bukankah pesonaku ini mampu mengalahkan ketampanan dari ketua OSIS terdahulu?" ujar Samuel yang semakin meninggi.


"Terserah kamu saja," balas Elena yang mencoba menggeser sedikit tubuh suaminya yang menempel di bagian pintu mobil.


"Minggir! Aku mau masuk," ketus Elena.


Samuel tersenyum, lalu kemudian pria itu pun memeluk tubuh sang istri dari belakang. "Kenapa harus malu? Seharusnya aku yang malu karena mengabaikan mu, padahal aku sendiri tak menyadari akan perasaan ku terhadapmu," tutur Samuel.


Elena pun mengulas senyumnya, akan tetapi ia mencoba tetap menahannya dan berpura-pura merajuk pada suaminya itu.


"Bukankah kamu sangat bangga karena aku yang selalu mengejarmu?" tanya Elena dengan nada yang dibuat seakan sedang marah.


"Kalau begitu, mulai sekarang beristirahatlah untuk mengejarku. Saatnya untuk aku yang mengejarmu," ucap Samuel terdengar begitu tulus.


Elena berbalik, ia mengalungkan lengannya di leher suaminya itu. "Tidak adil rasanya jika kamu saja yang berjuang, mari kita berjuang bersama-sama," ujar Elena.


Samuel tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Pria itu memajukan bibirnya, bersiap untuk mencium Elena saat itu juga. Namun, dengan cepat Elena langsung menutup bibirnya dengan menggunakan satu tangan.


"Hei! Ingat tempat, sekarang kita berada di luar," sergah Elena.


"Ya sudah, kalau begitu lakukan di mobil saja," goda Samuel.


"Tidak mau!"


"Sebentar saja," bujuk Samuel.


"Jangan gila, Sam."


"Hanya sebuah ciuman tipis-tipis saja, tidak sampai kebablasan. Tapi aku tidak dapat menjaminnya, El."


Kedua manusia yang selama ini menjalin ikatan pertemanan yang tidak pernah menyangka akan berakhir di atas pelaminannya. Tidak ada berubah dari kedua orang tersebut.


Rasa nyaman itu hadir seiring dengan waktu. Hingga saat ini, mereka pun masih sering beradu argumen, hanya saja yang membedakan adalah ikatan diantara mereka. Dari pertemanan naik level menjadi sebuah pernikahan. Dengan kedua cincin yang melingkar di jari manis, tanda sebuah ikatan suci diantara mereka berdua.


.....


Di lain tempat, Sifa baru saja merebahkan tubuhnya. Ia sedikit memukul-mukul bagian bahunya yang terasa pegal. Wanita itu menyiapkan bahan-bahan yang akan diolah besok agar tidak keteteran, karena Arumi kembali memesan makanan kepadanya dan jumlahnya lebih banyak dari kemarin.


Sifa mengusap perutnya yang sudah semakin membuncit. Rasa lelahnya hilang seketika saat merasakan ada satu nyawa yang hidup dalam rahimnya saat ini.


"Lahirlah dengan sehat ya, Nak. Kita berjuang bersama-sama karena papa tidak bisa bersama kita. Tapi papa juga sedang berjuang di sana. Mama harap suatu hari nanti kamu bisa memaklumi kondisi keluarga kita, keadaan papamu yang saat ini sedang di penjara."


"Yakinlah, papa sedang merubah dirinya menjadi manusia yang lebih baik lagi. Nanti saat papa keluar, kamu sudah menginjak usia remaja. Mama harap kamu berjiwa besar dan akan tetap kuat meskipun nanti akan banyak orang yang mencibir bahwa kamu adalah anak dari seorang narapidana," tutur Sifa panjang lebar.


Sifa selalu bermonolog sembari mengelus perutnya. Seakan ia memberitahukan tentang kondisinya sejak dini pada sang anak. Berbagi cerita, dan berkeluh kesah pada buah hatinya yang masih bersemayam di dalam rahimnya.


Bersambung ...


Yang udah kasih vote sama gift, makasih banyak ya 😘😘