Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 46. Selamat Atas Perceraianmu!


Hari demi hari pun telah berganti. Tak terasa, hari ini adalah hari dimana hasil dari sidang keputusan perceraian dari Fahri dan Sifa.


Mulai menit ini, dan detik ini Fahri dan Sifa dinyatakan telah resmi bercerai. Setelah keputusan hasil ketuk palu hakim, kedua orang tersebut pun keluar dari kantor pengadilan.


Sifa dan Fahri berpapasan di depan, saling menatap satu sama lain. Mata mereka bertemu, mata Fahri yang terpaku pada wajah cantik wanita yang ada di hadapannya, dan Sifa terpaku pada wajah tampan milik suaminya. Wajah tampan itu terlihat kaku dan dingin. Ia melihat suaminya yang sedikit kurus setelah hampir satu bulan lamanya tak bertemu.


Sifa hendak menyapa Fahri, akan tetapi pria itu memilih untuk pergi terlebih dahulu. Ia tak ingin mendoakan terlalu banyak tentang wanita itu. Karena sudah pasti Sifa lebih berbahagia dibandingkan dirinya. Sifa telah lepas dari lingkaran kemiskinan dan akan hidup bersama pria yang bisa memenuhi setiap kebutuhannya.


Sifa tertegun seketika. Fahri berlalu begitu saja dari hadapannya. Senyuman yang sering diperlihatkan oleh pria itu, senyum yang tulus, kini telah hilang seketika.


"Walaupun kita sudah berpisah, tidakkah seharusnya kita untuk tidak saling membenci? Setidaknya kita saling bertegur sapa dan saling mendoakan," seru Sifa melihat Fahri yang mengabaikannya.


Fahri berbalik, kembali menatap wajah wanita yang saat ini sudah menjadi mantan istrinya. "Aku tidak bisa melakukannya. Menyapamu, membuatku ingin kembali memperjuangkan mu dan aku tidak mau melakukan hal itu. Saling mendoakan? Ku rasa ... antara kamu dan aku, sudah sangat jelas sekali, siapa yang paking berbahagia atas perpisahan ini," ujar Fahri.


Pria itu kembali berbalik memunggungi Sifa. Ia melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda. Memilih untuk pergi meninggalkan cintanya.


Rasa sakit itu pasti ada. Mustahil jika Fahri tidak merasakannya karena di sini, rasa cinta Fahri lah yang lebih besar dari pada Sifa.


Sifa menatap punggung lebar suaminya. Mata wanita itu berkaca-kaca, keinginannya terkabulkan akan tetapi Sifa merasa ada yang kosong di hidupnya.


Tak lama kemudian, tepukan di bahu wanita itu menyandarkannya. Ia menoleh, melihat wanita yang telah melahirkannya menatapnya dengan wajah yang berbinar.


"Selamat atas perceraianmu!" ujar Kartika menatap anaknya sembari tersenyum.


Wanita paruh baya itu, melihat Fahri yang baru saja pergi meninggalkan anaknya. Lalu kemudian, ia menatap mata anaknya yang tampak berkaca-kaca.


"Kenapa kamu menangisinya? Tidak pantas kamu menangisi pria seperti itu. Ayo! Aldo sudah menunggu kita di parkiran. Lebih baik, sekarang kamu pikirkan tentang hubungan kamu dengan Aldo. Todak usah membuang-buang waktumu untuk menangisi pria yang tak bisa membahagiakan dirimu," ucap Kartika sembari menarik pergelangan anaknya.


Sifa pasrah mengikuti kemana ibunya akan membawanya. Wanita itu mencoba untuk menghapus air matanya yang sempat terjatuh.


Dari kejauhan, Aldo tersenyum. Ekspresi pria itu sama dengan Kartika. Keduanya sangat bahagia akan perceraian antara Sifa dan Fahri.


Sementara Sifa? Ia tak tahu apakah harus bahagia ataupun menangis. Di sisi lain, ia memang ingin bersama dengan Aldo. Namun, ia juga merasa sangat berat ketika hakim mengetukkan palunya. Memutuskan bahwa mereka sudah resmi bercerai.


"Ayo masuk!!" ujar Aldo seraya membukakan pintu.


Sifa mencoba tersenyum, lalu kemudian masuk ke dalam mobil tersebut. Aldo juga hendak membukakan pintu untuk calon mertuanya. Namun, Kartika lebih dulu membuka pintu tersebut dengan sendirinya.


"Tidak usah! Ibu bisa sendiri kok," ucap Kartika seraya mengulas senyum.


Aldo hanya menganggukkan kepalanya, sembari mengusap tengkuknya karena merasa canggung. Pria itu pun masuk, menempati kursi kemudi. Lalu kemudian melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.


Fahri saat itu tengah melangkah gontai, melihat mobil yang baru saja lewat. Fahri sangat mengetahui siapa yang ada di dalam mobil tersebut. Karena beberapa hari terakhir, sebelum ia pergi ke rumah, Fahri selalu menemukan Sifa turun dari kendaraan itu.


Fahri tersenyum miring melihat mobil yang melaju itu. Ia pun merasa kesal dan melempar batu pada mobil yang sudah berjalan cukup jauh itu.


"Saling mendoakan? Akulah yang paling tersakiti di sini! Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu," tukas Fahri dengan wajah yang penuh emosi.


Suara mobil yang mengerem mendadak terdengar jelas di telinga Fahri. Pria itu mengarahkan pandangannya ke samping. Melihat pengendara mobil tersebut yang tengah tersenyum padanya.


"Jika kamu merasa kesal karena istrimu lebih berbahagia, naiklah! Ayo kita balas dengan perlakuan yang sama!" seru Arumi tersenyum penuh arti.


Kali ini, Arumi tampaknya tak terlalu sulit untuk membujuk pria tersebut agar ikut bersamanya. Hanya mendengar kalimat itu saja, Fahri langsung berjalan dan kemudian masuk ke dalam mobil gadis tersebut.


"Apakah rasa cintamu telah hilang? Aku melihat matamu sangat dipenuhi oleh amarah," goda Arumi.


"Seperti yang kamu katakan. Aku harus terlihat lebih bahagia dari dia. Meskipun sulit, aku harus tetap melakukannya," geram Fahri.


"Tidak perlu khawatir akan hal itu. Sebentar lagi, kamu akan berada jauh di atasnya. Dan dikemudian hari, istrimu akan menyesali perbuatannya," ujar Arumi sembari melajukan mobilnya.


Arumi semakin menginjak pedal gas mobil tersebut. Menambah laju kecepatan kendaraan yang ia bawa. Kini mobil yang dikendarai oleh gadis itu berada di belakang mobil yang dikendarai oleh Aldo.


Ia pun menekan klakson dengan cukup lama sembari melintasi mobilnya yang dikendarai oleh Aldo. Arumi tersenyum saat mobil miliknya kini berada di depan mobil tersebut.


"Beginilah prosesnya nanti. Suatu saat, kamulah yang berada di depan. Dan setelah itu, akan lebih baik jika kamu tidak mengarahkan pandanganmu ke belakang lagi," ucap Arumi.


Fahri hanya terdiam sembari menelaah ucapan dari gadis yang ada di sampingnya. Ia melihat ke arah spion, menatap mobil yang baru saja mereka susul.


"Mungkin karena ini aku selalu saja berada di belakang mereka. Aku seolah tak ingin meninggalkan apa yang sudah ku lewati," batin Fahri.


Di waktu yang bersamaan, Aldo melihat Arumi yang baru saja melintasinya. "Dasar wanita gila," gumam Aldo sembari tersenyum miring.


"Kamu mengenalnya?" tanya Sifa.


"Iya. Dia partner bisnis ku," timpal Aldo tersenyum penuh arti. Sifa hanya mengangguk paham akan jawaban yang diberikan oleh Aldo.


"Mulai sekarang, kalian harus mempersiapkan diri untuk segera menikah," ujar Kartika yang menimbrung pembicaraan kedua orang itu.


"Tunggu sampai masa Iddah habis dulu, Bu." Sifa menimpali ucapan ibunya.


"Iya. Setidaknya kalian harus mempersiapkannya mulai dari sekarang," ujar Kartika.


"Apakah ibu merestui kami?" tanya Aldo seraya menatap ke arah jalanan.


"Tentu saja! Ibu sangat senang jika kalian menikah. Ibu sempat sedih saat mengetahui kabar bahwa kalian memilih untuk putus. Akan tetapi, sekarang rasa sedih itu berganti sebuah kebahagiaan karena kalian sudah bersama lagi," ucap Kartika dengan binar di matanya.


Aldo tersenyum sembari menatap ke arah Sifa sekilas. Sementara Sifa, ia juga memaksakan dirinya untuk tersenyum demi kekasih hatinya itu.


Bersambung ....


Yang mau liat visual mereka, bisa langsung cek di IG ku ya🥰