Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 185. Anak Kembar


Malam pun tiba, matahari mulai menyembunyikan sinarnya yang digantikan oleh sinar rembulan pada malam itu. Arumi tengah melihat dirinya di pantulan cermin.


Ia dengan bangga melihat rambutnya yang sudah mulai panjang lagi. Fahri yang sedari tadi melihat sang istri sibuk bercermin langsung beranjak dari tempat tidurnya lalu kemudian memeluk wanita itu dari belakang.


Fahri menghirup dalam aroma rambut Arumi. Shampo yang sering digunakan oleh wanita itu menjadi wangi kesukaan Fahri. Hal yang baru bagi Fahri yaitu setiap hari ia wajib mencium aroma rambut istrinya, seperti yang tengah ia lakukan saat ini.


"Rambutmu yang sekarang terlihat lebih tebal dari pada yang sebelumnya," ujar Fahri.


"Kemarin rambutku sering rontok, Mas. Mungkin karena faktor stres berat," ucap Arumi sembari terkekeh kecil.


"Sekarang ... apakah kamu masih merasa stres?" tanya Fahri sembari menaikkan alisnya sebelah.


Arumi berbalik, lalu kemudian mengalungkan tangannya di leher Fahri. "Kalau sekarang, aku tidak merasa stres sama sekali, Mas. Aku sudah merasa aman dengan orang-orang di sekitarku, tanpa ada rasa was-was lagi," tutur Arumi.


"Ada satu orang lagi yang menaruh benci padamu," ucap Fahri.


"Dewi?" tanya Arumi yang tanpa memanggilnya dengan sebutan mama lagi.


"Hmmm ...."


"Untuk yang satu itu, dia bukanlah manusia. Bahkan saat aku tak ada di dekatnya, dia masih sempat mengira bahwa aku hendak membunuhnya, dan dia akan membalaskannya pada suatu hari nanti. Ku rasa, jalan untuk berdamai dengannya tak ada lagi. Awalnya aku mendatanginya sewaktu itu untuk berniat baik, meskipun dua nyawa yang melayang, aku tetap mencoba untuk memaafkan." Air mata Arumi mulai jatuh membasahi wajahnya.


"Aku masih mengingat hal-hal yang baik sewaktu dulu, dimana aku masih merasakan cinta darinya meskipun itu palsu. Semua niat baikku tertutupi oleh keserakahan yang ia miliki. Dia menganggap ku layaknya seorang musuh," ucap Arumi.


Fahri menyeka air mata yang sempat membasahi wajah sang istri. "Kalau begitu lebih baik untuk kita menjauh, karena orang yang hatinya sudah tertutupi rasa dendam dan serakah akan sangat sulit untuk menyadarkannya. Bu Dewi tak jera dengan hukum serta azab yang saat ini ia rasakan."


"Tolong untuk kali ini, Mas jangan memaksaku untuk memaafkannya. Karena aku sudah terlalu membenci wanita itu," tukas Arumi.


Fahri menganggukkan kepalanya, lalu kemudian membawa tubuh ramping istrinya itu masuk ke dalam dekapannya.


"Sudah, jangan menangis lagi. Mas tidak akan memaksamu untuk berbaikan dengannya."


.....


Indra tengah asyik bermain bersama anak laki-lakinya. Sesekali pria itu menggelindingkan bola yang ada di tangannya dengan pelan, lalu ditangkap oleh Tegar.


"Tegar, ayo sini berikan ke papa lagi," ujar Indra seraya menunjuk dirinya.


Tegar tertawa, mungkin bocah itu merasa lucu dengan apa yang tengah ia lakukan bersama sang ayah. Bocah kecil itu pun kembali menggelindingkan bola berukuran kecil yang ada di tangannya pada Indra.


"Pintar, anak papa memang sangat pintar!" ujar Indra setelah berhasil menangkap kembali bola tersebut.


Sementara Jessy, wanita itu saat ini tengah sibuk berkecimpung di dapur, menyiapkan makanan untuk anak dan suaminya. Jessy yang menggunakan apron berwarna maroon itu, tengah memotong-motong sayuran serta menyiapkan bahan-bahan yang lainnya untuk ia masak.


Sesekali terdengar suara gelak tawa dari Tegar, jagoan kecil mereka yang saat ini tengah bermain dengan papanya.


Jessy tersenyum dengan sesekali melihat ke arah anak dan suaminya yang sedang asyik bermain itu.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, menu makan malam pun siap dihidangkan. Ayam goreng, udang tempura, tumis kangkung, lengkap dengan sambal. Sementara untuk si kecil, Jessy menyiapkan Nasi dan kacang polong tumbuk dengan cukini yang dipotong memanjang, ditambahkan juga dengan suwiran daging ayam di atasnya.


"Makan malam sudah siap!" seru Jessy memanggil suaminya.


Indra pun langsung menggendong anaknya menuju ke meja makan. Lalu mendudukkan Tegar di kursi khusus yang dirancang untuk jagoan kecilnya.


Jessy mengambil salah satu piring yang ada di hadapannya. Lalu kemudian mengambil dua centong nasi untuk sang suami. Setelah itu ia meletakkan piring tersebut di hadapan Indra, membiarkan pria tersebut mengambil lauk pauk serta sayuran sesuai seleranya.


Lalu kemudian Jessy beralih mengambil mangkuk khusus untuk si kecil. Wanita itu belum langsung menikmati makan malamnya. Ia menyuapi anaknya terlebih dahulu.


Sejak menikah, Indra membawa Jessy dan anaknya keluar dari rumah Abang iparnya dan tinggal di apartemennya. Jika semula apartemen itu begitu dingin dan sepi, kini suasana di hunian tersebut sudah jauh berbeda. Apartemen Indra lebih hangat dan sedikit berisik karena setiap hari mereka mendengar suara tangis maupun tertawa dari buah hati mereka.


.....


Sejak hamil, Arumi tidak merasakan mual-mual sedikit pun seperti yang dirasakan oleh ibu hamil lainnya. Wanita itu bahkan sempat berkonsultasi pada dokter dan bertanya-tanya, takut saja jika saat ini kehamilannya terbilang tidak normal.


Namun, setelah berkonsultasi dengan dokter, Arumi merasa lega, karena dokter menjelaskan memang beberapa persen ibu hamil tidak mengalami morning sickness. Dokter juga mengatakan bahwa Arumi termasuk dalam kelompok ibu hamil yang tubuhnya kuat dalam menghadapi perubahan kehamilan karena tubuh Arumi mampu beradaptasi dengan cepat dengan kenaikan hormon kehamilan.


Dan sekarang, usia kehamilan Arumi sudah memasuki lima bulan. Napsu makannya semakin meningkat pesat. Dan perutnya terlihat membuncit.


Pasalnya, malam ini di saat Fahri tengah tertidur pulas, Arumi membangunkan suaminya. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa lapar, ingin memakan nasi goreng yang dibuatkan oleh Fahri sewaktu itu.


Alhasil, dengan kondisi setengah mengantuk Fahri memasak nasi goreng untuk istrinya. Pria itu membubuhkan nasi yang cukup banyak di awal. Dan dia langsung terkejut saat Arumi kembali meminta untuk diisi lagi piringnya. Untung saja, Fahri saat itu memasak nasi goreng yang agak banyak, karena pria itu tahu porsi Arumi saat ini bukan main-main.


"Belum kenyang?" tanya Fahri memastikan.


Arumi tersenyum lalu kemudian menggelengkan kepalanya. "Masakan Mas Fahri emang the best, maka dari itu isilah lagi piringku ini," ucap Arumi yang sedikit merayu suaminya.


Fahri pun kembali meletakkan nasi goreng di atas piring kosong milik Arumi tersebut. Saat Fahri hendak mencuci wajan bekas menggoreng nasi tadi, Arumi pun langsung menegur suaminya.


"Id wajan sudah habis ya, Mas." Arumi langsung melemparkan pertanyaan pada tersebut pada Fahri.


"Sudah habis, Sayang. Setelah ini tidur ya ... aku takut perutmu tiba-tiba meledak nantinya karena memang porsi makanmu yang langsung meningkat pesat," timpal Fahri.


Arumi hanya terkekeh, lalu kemudian menyuapkan nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya. Saat Fahri menoleh ke arahnya, Arumi mengacungkan dua ibu jari, memberikan kode bahwa nasi goreng buatan Fahri itu sangat nikmat meskipun yang memasaknya berwajah masam karena mendadak dibangunkan oleh istrinya.


Keesokan harinya, Arumi dan Fahri bersiap untuk pergi ke rumah sakit, melakukan pemeriksaan pada anak yang ada di dalam perut Arumi.


Mobil yang dikendarai Fahri terjebak macet saat itu karena terdapat kecelakaan lalu lintas di depan mereka. Fahri melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sudah hampir lima belas menit lamanya mereka terjebak macet.


"Mas, setelah mengantarkanku, sebaiknya kamu langsung ke kantor saja. Biar aku pulang naik taksi saja," ucap Arumi.


"Tidak, Sayang. Aku tetap akan mengantarmu pulang," bantah Fahri.


"Tapi bagaimana dengan pertemuan penting yang kamu katakan tadi?" tanya Arumi.


"Aku bisa mengatasinya," ucap pria itu. Ia langsung mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya, mencoba mencari kontak Indra, lalu kemudian menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.


"Ndra, aku mungkin tidak bisa hadir ke acara penting itu karena harus mengantarkan Arumi untuk pemeriksaan. Dan sekarang, kami sedang terjebak macet panjang saat menuju ke rumah sakit. Bisakah kamu menggantikan ku untuk datang ke acara tersebut?" tanya Fahri.


"Baiklah. Serahkan padaku untuk urusan yang satu itu. Sekarang, kamu lebih baik urus saja terlebih dahulu istrimu," ujar Indra dari seberang telepon.


"Terima kasih ya, Ndra. Kalau begitu aku tutup teleponnya."


Fahri pun langsung memutuskan panggilan tersebut. Lalu kemudian ia mengarahkan pandangannya pada sang istri yang sedari tadi menatapnya.


"Indra yang akan menggantikan ku, jadi kamu tidak perlu khawatir masalah keterlambatan ku," ucap Fahri.


"Syukurlah kalau begitu." Arumi langsung menghembuskan napas dengan lega.


Tak lama kemudian, perlahan mobil pun mulai melaju. Fahri pun kembali memacu kendaraannya untuk menuju ke rumah sakit.


Berselang sekitar dua puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Fahri tiba di rumah sakit. Kedua orang tersebut langsung turun dari kendaraannya, lalu berjalan ke ruangan dokter obgyn.


Dokter yang ada di dalam ruangan tersebut menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Dokter itu menyuruh Arumi berbaring, untuk melakukan USG pada kandungan wanita tersebut.


Dokter mengoleskan cairan yang berbentuk gel pada bagian perut Arumi. Lalu kemudian ia pun menempelkan alat pada perut wanita tersebut hingga terlihat dengan jelas bentuk bayi yang ada di dalam kandungan Arumi.


"Wah selamat, kalian memiliki anak kembar," ujar dokter tersebut.


Arumi dan Fahri tertegun seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


"Lihatlah! bayi ini memilki kantung ketuban dan plasenta secara terpisah," ucap dokter.


Fahri dan Arumi melihat secara seksama ke layar monitor. Dan benar saja, terdapat seperti dua kantong secara terpisah.


Air mata Arumi langsung jatuh seketika saat melihat ke layar monitor. Tuhan berbesar hati, memberikan seorang buah hati untuknya dua sekaligus, mengingat kemarin Arumi sempat mengalami keguguran.


Arumi melirik ke arah suaminya. Fahri tersenyum sembari menyeka air matanya yang juga ikut tertumpah.


"Mas, mereka kembar mas. Anak kita kembar," ujar Arumi dengan mata yang berbinar.


"Iya, Sayang." Fahri mengulas senyum sembari mengusap puncak kepala istrinya.


Bersambung ....