Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 116. Informasi


Arumi tengah berada di dekat kolam renang. Wanita itu sedang melakukan olahraga yoga, membantu untuk menghilangkan stresnya dari berbagai masalah yang menimpanya baru-baru ini.


Ia memejamkan matanya, menghirup napas sedalam-dalamnya, laku kemudian membuangnya secara perlahan.


Para ART bergantian untuk menjaga Arumi. Seperti yang dititipkan oleh Fahri tadi, bahwa tidak ada yang boleh lengah dalam menjaga istrinya itu.


Salah satu ART lainnya membawa nampan yang berisikan jus jeruk, seperti biasa jika Arumi meminta untuk dibuatkan jus jeruk .


"Nyonya, ini ... saya buatkan jus jeruk untuk Nyonya," ujar ART tersebut.


Arumi yang awalnya memejamkan mata, langsung membuka matanya saat mendengar ucapan ART-nya itu .


"Aku sedang tidak ingin minum jus jeruk, Bi." Arumi menimpali. Arumi kembali memejamkan matanya, dengan mengubah posisi duduknya.


ART yang tengah menunggui Arumi pun menyarankan teman kerjanya itu membawa jus tersebut kembali atau meminumnya sendiri.


....


Siang ini, Arumi tengah bersantai di ruang tengah. Menatap ke layar televisi sembari di temani camilan buah mangga yang di potong kecil-kecil berbentuk dadu.


Arumi tampak asyik menonton siaran televisi yang sedang menayangkan siaran memasak. Arumi menatap layar televisi tanpa berkedip. Ia pun meletakkan garpu yang baru saja ia gunakan untuk memakan mangga nya. Tak lama kemudian ...


Glekkk ...


Arumi meneguk liur, melihat hidangan yang tengah di tayangkan saat itu juga. Seorang koki tengah memasak makanan khas Palembang yaitu pempek. Tekstur pempek yang kenyal, lalu disiram dengan kuah cuko yang kental, membuat Arumi beberapa kali meneguk liurnya.


"Duh ... aku jadi ingin makan itu," gumam Arumi sembari mengusap perutnya yang rata.


Tak lama kemudian, ponsel Arumi berdering. Ia tak menghiraukan ponselnya berbunyi. Wanita itu masih sibuk memperhatikan siaran yang menampilkan makanan tersebut sembari sesekali meneguk liurnya.


Di waktu yang bersamaan, Fahri mengernyitkan keningnya karena panggilannya tak kunjung diterima oleh sang istri.


"Tidak diangkat?" gumam Fahri.


Fahri kembali menelepon Arumi, akan tetapi lagi-lagi Arumi tak kunjung menjawab panggilannya. Hal itu tentu saja membuat Fahri menjadi panik.


Dengan cepat, ia langsung menghubungi kepala pelayan yang bekerja di rumah. Ia beranjak dari kursinya, mondar-mandir tak jelas karena khawatir sang istri yang tak kunjung mengangkat panggilannya.


"Halo, Tuan."


"Bi, ... ada apa? Apakah istriku baik-baik saja? Kenapa dia tidak mengangkat telepon dariku?" tanya Fahri yang langsung melontarkan beberapa pertanyaan kepada pelayan tersebut.


"Nyonya baik-baik saja, Tuan. Beliau sedang menonton televisi di ruang tengah," jelas kepala pelayan tersebut.


"Menonton televisi? Apakah dia meninggalkan ponselnya di kamar?" gumam Fahri.


"Tolong berikan ponsel bibi pada Arumi, saya ingin berbicara pada istri saya," ucap Fahri.


"Baik, Tuan."


Terdengar suara langkah kaki dari seberang telepon. Kepala pelayan tersebut sedang menghampiri istrinya dan memberikan ponsel itu kepada Arumi.


"Ada apa, Mas? Kamu mengganggu halusinasi ku saja," gerutu Arumi dari seberang telepon.


DEGGG ...


Fahri terkejut mendengar ucapan Arumi barusan.


"Kamu berhalusinasi tentang apa?" tanya Fahri merasa penasaran.


"Ya ... intinya aku sedang berhalusinasi, Mas. Saat ini aku menonton acara memasak. Yang memasak makanannya tampan, dan makanannya pun kelihatannya sangat lezat," ujar Arumi.


"Kamu membayangkan kokinya yang tampan?" tanya Fahri.


"Bukan, Mas. Aku membayangkan masakannya. Dia sedang memasak pempek. Aku tiba-tiba ingin memakan makanan itu," gerutu Arumi.


Fahri menghela napasnya. Setidaknya sang istri tidak melirik chef-nya yang tampan. Dan ketampanan Fahri masih berguna untuk membutakan mata istrinya dari pria lain.


"Ya sudah, kalau begitu apa kamu mau Mas belikan pempek? Biar nanti pas jam makan siang, Mas pulang sebentar untuk mengantarkan makanannya," ujar Fahri.


"Nanti Mas Fahri sibuk. Aku tidak mau mengganggu waktu Mas Fahri bekerja."


"Tidak sibuk, istriku. Sekalian Mas juga mau melihatmu sebentar," tutur Fahri.


"Baiklah."


Tak lama kemudian, panggilan pun terputus. Fahri menghela napasnya dengan lega karena perhatian Arumi teralihkan hanya karena mengidamkan untuk makan pempek.


....


Di lain tempat, Samuel saat itu tengah berada di sebuah cafe yang menjadi tempat pertemuannya dengan pria misterius tersebut.


"Apa dia sedang menipuku?" gumam Samuel.


Sudah cukup lama ia menunggu di cafe tersebut, akan tetapi pria misterius itu belum juga menampakkan batang hidungnya.


Samuel mencoba menghubungi nomor yang kemarin. Namun, panggilannya tak kunjung di angkat. Samuel kesal, karena merasa di permainkan oleh pria yang tak jelas itu.


"Baiklah, aku akan menunggu sekitar tiga puluh menit lagi. Jika tiga puluh menit dia tidak datang juga, jangan harap dia akan mendapatkan uangnya dariku," gerutu Samuel kesal.


Pria mengenakan topi, berada tepat di belakang Samuel pun menyunggingkan senyumnya. Pria itu tak lain adalah Sugeng, yang sudah datang lebih awal dari Samuel.


Ia hanya ingin melihat, siapa lawan bicaranya di dalam telepon kemarin. Serta, memastikan apakah ia benar-benar akan memberikan yang kepadanya.


Samuel sudah kehilangan kesabaran, ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya. "Bodoh sekali aku menunggu seseorang yang tak jelas," gumam pria tersebut.


Saat Samuel baru saja hendak melewati seseorang yang ada di belakangnya, tiba-tiba ia mendengar orang tersebut berucap.


"Apakah kamu tidak menyadari keberadaan ku sedari tadi?"


Mendengar hal tersebut, Samuel langsung berbalik. Pria menggunakan topi hitam sedari tadi duduk di belakangnya. Samuel tertegun sejenak.


"Kamu, ..."


"Ya, aku orang yang kamu hubungi kemarin. Apakah kamu masih penasaran dengan informasi yang kamu minta kemarin?" tanya pria itu menyunggingkan senyum liciknya.


Samuel langsung mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu. Ia melangkah menghampiri pria bertopi tersebut, lalu kemudian menarik salah satu kursi yang ada di hadapannya, menjatuhkan bokongnya di kursi tersebut.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa tujuanmu mengirimkan foto itu kepada Arumi?" tanya Samuel merasa penasaran.


Pria tersebut terkekeh. Lalu kemudian meraih minuman yang ada di hadapannya dan menyesap minuman itu beberapa tegukan.


"Aku berniat untuk memberitahukan kejadian yang sebenarnya. Ada yang kalian tidak ketahui dibalik kematian Tuan Fian," ujar pria tersebut tersenyum miring.


"Memangnya apa? Katakan dengan jelas!"geram Samuel karena pria yang ada di hadapannya ini terlalu lama mengulur waktu.


"Memberitahukan suatu informasi tidak semudah itu. Setidaknya aku butuh sesuatu yang setimpal dari informasi yang aku dapatkan," pancing Sugeng.


"Baik. Aku akan memberikan uang seperti yang kamu minta kemarin. Namun, bisakah kamu memberitahukan padaku semuanya dengan jelas tanpa ada yang tertinggal sedikit pun. Aku telah membayar mahal ludah mu itu!" ketus Samuel.


"Baiklah. Aku akan memberikan semua informasi yang ku ketahui padamu tanpa ada yang tertinggal."


"Kalau begitu ... apa informasinya? Aku akan membayarmu setelah aku mendapatkannya," ujar Samuel.


Pria itu menjengit mendengarkan ucapan Samuel yang sedikit membuatnya ragu karena takut Samuel tidak menepati ucapannya.


"Kamu tenang saja. Aku bisa memegang ucapanku. Jadi kamu tidak perlu curiga aku akan menipumu," jelas Samuel.


Sugeng mengeluarkan ponsel di dalam sakunya. Ia pun mengotak-atik benda pipih tersebut. Tak lama kemudian, terdengar suara notifikasi pesan di ponsel Samuel.


Samuel melirik ponselnya sejenak, lalu kemudian melemparkan pandangannya pada Sugeng.


"Lihatlah pesan yang ku kirim. Semoga saja bisa menghilangkan rasa penasaranmu. Karena sesuatu yang ku kirimkan padamu, mampu menjawab semuanya," papar Sugeng.


Samuel meraih ponselnya, membuka pesan yang dikirimkan oleh Sugeng. Pesan tersebut berupa video, Samuel pun memutar video yang dikirimkan oleh pria yang ada di hadapannya.


Di sebuah jalanan sepi, satu unit mobil yang telah memiliki kerusakan yang cukup parah. Dengan serpihan kaca yang berhamburan dimana-mana.


Mobil tersebut merupakan mobil milik Fian, yang tak lain adalah ayahnya Arumi. Samuel tertegun saat melihat seorang wanita melangkah mendekati ke arah mobil yang hancur itu.


Wanita itu adalah Dewi. Tidak ada kepanikan yang diperlihatkan oleh wanita yang tengah melenggang berjalan ke arah mobil itu.


Dewi terlihat memastikan seseorang yang ada di dalam sana. Lalu ia pun mencari serpihan dari kerusakan mobil tersebut, dan menusuknya tepat di dada Fian.


Samuel memejamkan matanya. Ia langsung bergidik ngeri menyaksikan betapa biadabnya perbuatan Dewi. Ia terkejut seakan tak percaya. Wajah polos Dewi ternyata mampu menipu semua orang yang ada di hadapannya.


"Berati ...." Samuel tercekat, ia tak sanggup berkata-kata lagi. Bagaimana jika Arumi yang menonton video ini, pastinya ia akan merasa sangat hancur.


"Ya. Kematian Tuan Fian adalah perbuatan dari Nyonya Dewi. Baiklah, aku akan mengakui satu hal padamu. Aku lah orang yang menyabotase mobil Tuan Fian," tutur pria tersebut.


"Kamu ..." Samuel mengepalkan tangannya dengan erat. Pria itu pun bangkit dari tempat duduknya, lalu kemudian langsung meraih kerah baju yang dikenakan oleh Sugeng.


"Apakah kamu yakin akan memukulku? Jika kamu bertindak gegabah seperti ini, maka aku tidak akan membeberkan semua yang ku ketahui," ujar Sugeng dengan nada yang sedikit meledek.


Tak lama kemudian, Samuel pun memilih untuk melepaskan cengkramannya. Ia harus mengesampingkan egonya terlebih dahulu demi mengungkap semuanya.


Perlahan, Samuel meredakan amarahnya. Ia menghela napas, mencoba untuk tidak meledak saat ini juga.


"Baiklah, sekarang ceritakan semuanya. Semua yang kamu ketahui tanpa ada satu pun yang kamu sembunyikan," ujar Samuel kembali menjatuhkan bokongnya ke kursi.


Bersambung ....