
Fahri dan Arumi menatap gundukan tanah yang ada di depannya, dengan nisan yang tertulis nama Dewi. Arumi memandangi makam ibu tirinya itu cukup lama. Tak terasa, setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Dengan cepat, ia menyekanya.
Sementara Fahri, pria tersebut masih menyirami makam mertuanya itu serta menaburinya dengan kelopak mawar.
Fahri melirik ke arah istrinya, ia tahu jika Arumi masih merasakan kesedihan walaupun itu sedikit. Karena dulu, wanita itu pernah menghabiskan waktunya dengan Dewi semasa dirinya kecil dulu.
"Ayo Mas, kita pulang!" ajak Arumi.
Fahri menganggukkan kepalanya, pria itu pun langsung beranjak dari posisinya, dan kemudian melangkah pergi menyusul Arumi yang telah lebih dulu berjalan meninggalkan makam tersebut.
Keduanya masuk ke dalam mobil, lalu kemudian kembali menuju ke rumah.
Saat di perjalanan, Arumi menatap keluar jendela. Wanita tersebut menurunkan kaca jendela mobilnya, lalu kemudian memejamkan mata, membiarkan angin menerpa wajahnya.
"Semuanya sudah benar-benar berakhir, Mas."
Fahri menoleh sekilas mendengar istrinya berucap demikian.
"Kita sudah tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Wanita itu, dia sudah menerima ganjaran atas perbuatannya sendiri," gumam Arumi yang sesaat kemudian mengulas senyum.
Fahri meraih tangan sang istri, lalu kemudian menggenggamnya dengan begitu erat. "Berbahagialah untuk saat ini, Istriku. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi," ujar Fahri.
"Tapi aku sangat membenci diriku, Mas. Bisa-bisanya aku merasakan sedih atas kematiannya, padahal dia sudah berbuat jahat pada keluarga kita. Bisa-bisanya aku menangisi wanita itu," ucap Arumi seraya menyeka kembali air matanya yang sempat tertumpah.
"Itu hal yang wajar, Sayang. Artinya kamu masih memanusiakan orang yang jahat terhadapmu sendiri," tutur Fahri yang kembali memfokuskan pandangannya menatap jalanan.
.....
Hari-hari begitu cepat berlalu. Tak terasa, saat ini perut Arumi semakin lama semakin membesar. Tidak hanya dia sendirian, melainkan bersama dengan wanita yang duduk di sampingnya, mengantri sembari mamanya terpanggil untuk melakukan pemeriksaan pada kandungannya.
"Aku semakin lama semakin sebal dengan tingkah Samuel. Dia selalu saja membuatku marah akan tingkahnya," gerutu Elena yang menceritakan kekesalannya terhadap sang suami.
"Biasanya, kalau kita kesal dengan suami, merasa risih atau pun ingin marah-marah terus saat melihatnya. Nanti anak kita akan sama persis dengan suami kita," ujar Arumi seraya terkekeh.
"Mama juga berkata seperti itu padaku," ucap Elena.
"Oh iya, bagaimana keadaan Pak Beni?" tanya Arumi.
"Kondisi papa sekarang sudah mulai membaik. Kami selalu memperhatikan pola makannya dan tidak menyuruhnya untuk memikirkan urusan kantor lagi. Selama ini, papa terlalu memaksakan diri demi bisnisnya, dan saat ini dia mulai berangsur membaik setelah bisnis itu dikelola oleh Samuel," papar Elena panjang lebar.
Kedua wanita itu mengarahkan pandangannya pada kedua suami mereka yang datang dari arah yang sama. Fahri langsung duduk di samping Arumi sementara Samuel duduk di samping Elena.
"Kalian belum dipanggil?" tanya Fahri.
"Mungkin sebentar lagi, Mas. Tunggu saja," ucap Arumi.
Tak lama kemudian, perawat pun memanggil Elena terlebih dahulu. Elena langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan itu.
Setelah Elena selesai diperiksa, tibalah Arumi yang dipanggil. Arumi dibantu oleh Fahri beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu sempat terkekeh karena sang suami membantu dirinya.
"Aku berat ya, Mas."
"Lumayan," timpal Fahri yang membuat keduanya langsung terkekeh geli.
Seperti biasa, dokter pun langsung memeriksa kondisi kandungan Arumi, dan dokter pun mengatakan bahwa anak yang ada di dalam kandungan Arumi tampak sehat.
.....
Setelah berselang dua bulan lamanya menjalani pemeriksaan, Elena pun kembali ke rumah sakit lagi. Namun, kali ini wanita tersebut bukan menjalani pemeriksaan yang seperti biasanya, melainkan untuk berjuang membawa sang buah hati untuk melihat dunia yang luas ini.
Samuel tak meninggalkan Elena sedetik pun. Meskipun mereka sering saling beradu mulut, akan tetapi kedua pasutri itu saling menguatkan.
"Ayo El, kamu pasti bisa, Sayang."
Meskipun saling mengungkap rasa sayang, kedua orang itu tak mengubah panggilannya sedikit pun. Panggilan mereka sama seperti saat keduanya belum menikah. Akan tetapi, kemungkinan setelah ini mereka akan mengubah panggilan itu setelah hadirnya sang buah hati berada di tengah-tengah mereka nanti.
Cukup lama Elena berjuang, mengorbankan antara hidup dan matinya demi melahirkan seorang anak untuk Samuel. Hingga akhirnya, terdengar suara jeritan bayi. Elena menghembuskan napasnya dengan lega.
Samuel tertegun, ia menangis melihat anaknya yang memiliki gender laki-laki itu lahir dengan selamat. Samuel pun tak henti-hentinya mengucapkan kata cinta untuk Elena serta berterima kasih atas perjuangan wanita tersebut.
.....
Setelah Elena melahirkan, tak lama kemudian Arumi juga menyusul. Namun, bedanya jika yang lain melahirkan dengan normal, Arumi terpaksa harus melahirkan caesar.
Fahri berdoa agar anak dan istrinya baik-baik saja. Saat melihat Arumi disuntik, Fahri merasakan nyilunya. Seakan suntikan itu juga menembus ke kulitnya.
Fahri menunggu di luar dengan rasa khawatir yang tinggi. Bahkan pria itu sempat melihat video proses melahirkan caesar, yang langsung membuat air matanya tumpah seketika melihat perjuangan wanita yang ada di dalam video tersebut. Sama halnya dengan yang Arumi alami saat ini.
Fahri berdiri, lalu kembali duduk. Mencoba mengintip, namun semuanya tertutup. Ia begitu gelisah sebelum mendapatkan kabar dari dokter.
Tak lama kemudian, terdengar suara bayi dari dalam ruangan tersebut. Air mata Fahri kembali tumpah, pria itu menangis bak anak kecil, menyeka air matanya kembali akan tetapi air mata itu lagi-lagi jatuh membasahi pipinya.
Setelah selesai proses operasi, dokter langsung keluar. Fahri pun mengucapkan terima kasih pada dokter sembari menanyai kondisi sang istri.
"Alhamdulillah, semuanya sehat. Anaknya kembar yang satu wanita dan yang satu laki-laki," ucap Dokter tersebut.
"Apakah saya sudah boleh melihat anak dan istri saya, Dok?" tanya Fahri.
"Silahkan."
Fahri langsung masuk ke dalam. Ia menemui istrinya dulu, memastikan bahwa Arumi baik-baik saja. "Kamu tidak apa-apa, Sayang. Apakah terasa sangat sakit?" tanya Fahri yang langsung menghujani Arumi dengan beberapa pertanyaan.
"Lumayan sakit, Mas. Tapi semuanya terbayar setelah mereka lahir ke dunia ini. Anak kita sepasang, Mas." Arumi mengulas senyumnya.
Fahri langsung mencium kening istrinya itu. Perawat telah selesai membersihkan bayi mereka. Fahri mengambil bayi laki-lakinya, sedangkan yang wanita diletakkan di sebelah Arumi.
"Sayang, apakah kita menamainya dengan nama yang kemarin?" tanya Fahri.
"Iya, Mas."
"Alvaro Demian Aryaduta dan Alvira Danissa Aryaduta," ujar mereka serentak.
.......
3 tahun kemudian ....
Di kediaman Arumi hari ini sedikit ramai. Fahri dan Arumi mengundang teman-temannya untuk datang merayakan ulang tahun putra dan putri mereka.
Fahri, Samuel, Aldo, dan Indra tengah berbincang di teras. Obrolan mereka tentang seputar bisnis yang mereka jalani saat ini.
Sejak lahirnya sang buah hati, jualan Sifa dan Aldo lumayan ramai pesanan. Hingga mereka pun mendirikan sebuah rumah makan. Sementara yang lainnya, masih menjalani pekerjaan yang mereka geluti.
Arumi, Elena, Sifa, dan Jessy saat itu sedang mendekor ruang tengah. Para ibu-ibu itu sedikit heboh sembari berbincang-bincang mengenai keluarga mereka masing-masing. Sementara anak-anak mereka tengah bermain. Tegar, anak Indra yang sudah berusia lima tahun pun menjaga yang lainnya layaknya seorang adik.
Cukup lama para wanita-wanita itu berbincang-bincang, hingga mereka menyadari bahwa keberadaan anak-anak mereka tak lagi terlihat.
Mereka pun berpencar, ada yang menanyakan pada para pria yang ada di luar sana tentang keberadaan anak mereka, akan tetapi mereka pun menjawabnya dengan mengendikkan bahu.
Alhasil, semua orang mencari keberadaan bocah-bocah tersebut. Hingga akhirnya terdengar suara cekikikan dari arah dapur. Para orang tua langsung berjalan menuju ke dapur, melihat anak-anak mereka yang tengah asyik mengacak-acak cake ulang tahun yang ada di dapur itu.
Semua bocah-bocah tersebut berlumur krim dari cake tersebut. Semua orang tertawa, lalu kemudian para wanita menghampiri anaknya mencoba membersihkan wajah anak-anak mereka masing-masing.
"Tidak bisa, ini terlalu manis! Kita harus mengabadikan momen ini," ujar Samuel.
Samuel yang memang sudah mengalungkan kamera sedari tadi langsung mengambil foto-foto tersebut. Para pria juga ikut jahil, mengoleskan krim cake pada wajah para istri.
"Ayo kita mengambil gambar beramai-ramai. Jadikan ini momen berharga!" seru Fahri.
Samuel menyiapkan kameranya, mengatur timer di kamera tersebut, lalu kemudian bergegas ikut bergabung dengan yang lainnya, yang telah lebih dulu berpose.
Cekrekkk ...
Cekrekkk ...
Beberapa gambar pun telah berhasil diabadikan melalui kamera tersebut. Mereka saling menertawai wajah masing-masing yang telah berlumuran krim cake.
Tak ada kesalahan yang terlihat indah. Namun, dari kesalahan kita mampu membuat semuanya menjadi indah.
Ikhlas memang mudah di ucapkan, akan tetapi sulit untuk diterapkan. Orang yang mengikhlaskan sesuatu dan mencoba melangkah maju dan saling memaafkan akan membentuk sebuah ikatan kekeluargaan yang kuat.
Keluarga bukan berarti harus sedarah. Kita bisa saja membentuk sebuah kekeluargaan itu, tanpa harus adanya ikatan darah.
-Tamat-