
"Akhhh ..."
Fahri yang saat itu sedang berada di dapur, membuatkan sarapan untuk sang istri. Ia terkejut saat mendengar suara teriakan dari atas. Saat menyadari suara itu dari kamarnya, Fahri pun langsung mematikan kompor dan segera berlari menemui istrinya.
"Arumi!!" seru Fahri.
Semua pelayan yang mendengar teriakan Arumi pun menjadi panik. Di tambah lagi saat Fahri berlari menaiki anak tangga, bergegas untuk menemui istrinya.
Fahri membuka pintu kamarnya dengan segera. Ia melihat Arumi yang saat itu menangis dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Arumi, ..." Fahri langsung menghampiri Arumi.
Arumi yang sadar kedatangan suaminya pun langsung segera memeluk tubuh suaminya. Arumi menangis sejadi-jadinya di pelukan Fahri. Lalu sesaat kemudian, tubuhnya tumbang. Wanita itu pingsan di dalam pelukan suaminya.
"Arumi, ... bangun Arumi!"
Fahri beberapa kali mengguncang tubuh Arumi. Namun, Arumi tak sadar juga. Pria itu pun langsung menggendong Arumi, dan membawa sang istri menuju ke rumah sakit. Takut jika nanti sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Mengingat saat ini Arumi tengah hamil muda.
Pria itu bergegas membawa Arumi masuk ke dalam mobil. Fahri terlihat sangat panik, pria tersebut dengan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Arumi langsung ditangani oleh dokter. Tak bisa dipungkiri, guratan kekhawatiran Fahri nampak tercetak jelas di wajahnya. Bahkan keningnya berkeringat, karena terlalu panik serta takut jika nanti terjadi apa-apa pada istrinya.
Fahri mengeluarkan ponselnya di saku, lalu kemudian ia pun segera menghubungi Samuel.
....
Samuel yang saat itu masih tertidur pulas. Pria itu menggeliat kecil, saat mendengar ponselnya berdering. Awalnya Samuel mencoba untuk tidak mengangkat panggilan tersebut, akan tetapi lama kelamaan, pria itu pun terpaksa bangun dan mengangkat panggilan itu.
"Ada apa kamu membangunkanku pagi-pagi sekali," tanya Samuel.
"Arumi pingsan, Sam. Saat ini kami sedang berada di rumah sakit," ujar Fahri dari seberang telepon.
Mata yang tadinya masih memicing, langsung terbuka lebar saat mendengar ucapan Fahri.
"Kalian berada di rumah sakit mana? Aku akan segera ke sana," ucap Samuel yang juga tak kalah panik.
"Kamu tidak perlu menyusul, Sam. Lebih baik kamu pergi ke rumah saja dan tolong periksa ponsel Arumi yang jatuh tak jauh dari tempat tidur," papar Fahri.
"Ponsel? Memangnya ada apa?" tanya Samuel yang seakan tak mengerti ucapan dari lawan bicaranya itu.
"Arumi berteriak di kamar. Aku tak sengaja melihat ke layar ponselnya yang masih menyala . Tampaknya ia tengah melihat sebuah foto seseorang yang dipenuhi luka. Coba kamu cek, siapa tahu kamu bisa mengenali orang itu," jelas Fahri.
Saat ia menghampiri Arumi, pandangan Fahri tertuju pada ponsel Arumi yang masih menyala. Pria itu tak sempat melihatnya dengan jelas karena terlalu panik istrinya yang tiba-tiba pingsan.
"Baiklah, aku akan segera ke sana," ucap Samuel.
Panggilan pun terputus. Samuel segera turun dari tempat tidurnya dan bergegas menuju ke kamar mandi terlebih dahulu. Pria itu membasuh mukanya saja, karena akan memakan waktu yang sangat lama jika ia mandi juga.
Setelah berselang dua puluh menit, Samuel pun tiba di rumah Arumi. Pria itu langsung memasuki rumah tersebut, menyapa beberapa pelayan yang sedang berjaga di depan.
"Pak Samuel," sapa salah satu pelayan.
Samuel mengulas senyum membalas sapaan itu.
"Nyonya Arumi dibawa ke rumah sakit, Pak. Tadi dia berteriak lalu pingsan," jelas ART tersebut.
"Iya, saya tahu Bi. Fahri menyuruh saya mengambil sesuatu lalu pergi ke rumah sakit. Apakah saya boleh masuk ke kamar Arumi?" tanya Samuel.
Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya. Samuel pun langsung menuju kamar Arumi. Saat tiba di tangga, ia berpapasan dengan Dewi.
"Bu Dewi, ...."
"Ah iya ...," wanita itu tampak pucat pasi. Hal tersebut tentu membuat Samuel bertanya-tanya, ia melirik ke arah kamar Arumi.
"Kamu mencari Arumi? Saat ini dia sedang berada di rumah sakit," ujar Dewi.
"Saya di perintahkan oleh Fahri untuk mengambil ponsel Arumi yang tertinggal. Di rumah sakit, Arumi menanyakan ponselnya," ucap Samuel berbohong.
Samuel kembali melangkahkan kakinya, akan tetapi tiba-tiba saja Dewi mencegatnya.
"Tunggu!!" sergah Dewi.
"Ini ponsel Arumi. Aku mendapatkannya tergeletak di lantai," lanjut Dewi.
Kening Samuel kembali mengernyit. Ia pun mengambil ponsel yang disodorkan oleh Dewi.
"Terima kasih," ujar Samuel.
Dewi tak membalas ucapan dari Samuel, wanita itu memilih untuk meninggalkan Samuel tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Samuel menjengit, ia menatap punggung Dewi yabg semakin jauh meninggalkannya. Lalu kemudian, Samuel membuka ponsel Arumi. Ia tahu password dari ponsel Arumi yang terbilang mudah. Yaitu sesuai dengan tanggal lahirnya .
Setelah berhasil membuka kunci layar, Samuel langsung memeriksa beberapa pesan yang masuk. Dan tak ada satu pun pesan seperti yang dikatakan oleh Fahri tadi.
"Tidak ada apapun," gumam Samuel.
Ia kembali menatap ke arah perginya Dewi tadi. Dan hal itu semakin menambah kuat dugaan Samuel sebelumnya, bahwa ada sesuatu yang coba Dewi tutupi.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan Bu Dewi. Aku akan menyelidikinya secara diam-diam," gumam Samuel.
Pria itu pun memilih pergi dari sana, menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi Arumi.
.....
Arumi baru saja bangun dari pingsannya. Ia melihat Fahri yang berada di sampingnya. Menatapnya dengan penuh rasa khawatir sembari menggenggam tangannya.
"Kamu sudah sadar, Sayang."
"Kita di mana, Mas?" tanya Arumi mengedarkan pandangannya.
"Kita sedang berada di rumah sakit, Sayang. Tadi kamu pingsan," jawab Fahri dengan lembut.
Arumi kembali mengingat kejadian yang mengerikan tadi. Ia menghela napasnya panjang. "Dimana ponselku, Mas? Apakah Mas Fahri membawanya?" tanya Arumi.
"Mas tidak sempat membawanya. Tapi tadi mas menelepon Samuel, meminta Samuel untuk mengambil ponselmu. Mas juga memberitahukan kabar pingsannya kamu kepada mama," tutur Fahri.
Arumi hanya memejamkan matanya saat mendengar ucapan Fahri. Wanita itu memang tidak mengatakan apa yang diperbuat oleh Dewi sebenarnya. Dan Dewi bukanlah orang yang baik seperti dugaannya.
Tak lama kemudian, Samuel pun tiba di rumah sakit. Pria itu tampak khawatir, melihat Arumi yang masih terlihat pucat.
"Apakah kamu tidak apa-apa?" tanya Samuel.
"Aku tidak apa-apa, Sam." Arumi mencoba menarik segaris senyum dengan bibir pucatnya itu.
Samuel mengarahkan pandangannya pada Fahri. Pria itu pun seolah mengerti dengan kode yang diberikan oleh Samuel.
"Sayang, kamu di sini sebentar. Mas ingin keluar dulu bersama Samuel," ujar Fahri.
Arumi menimpali ucapan suaminya dengan anggukan kepala. Kedua pria tampan itu pun keluar dari ruangan tersebut dan duduk di kursi tunggu.
"Apakah kamu sudah melihat fotonya?" tanya Fahri.
Samuel menggelengkan kepalanya. "Aku terlambat. Bu Dewi mengambil ponselnya lebih dulu, dan aku tidak menemukan pesan apapun di dalamnya," ucap Samuel sembari menyodorkan benda pipih tersebut pada Fahri.
"Mama?"
"Iya, mertuamu."
"Aku memang memberitahukan tentang kejadian tadi pada mama. Ku kira dia akan segera menuju kemari. Kenapa dia harus ke rumah? Bukan datang ke sini untuk melihat kondisi Arumi?" ujar Fahri.
Samuel menghembuskan napasnya dengan kasar."Lain kali, jika ada apa-apa segera hubungi aku. Jangan hubungi Bu Dewi. Aku bukannya ingin menyudutkan mertuamu, akan tetapi aku merasa curiga dengan Bu Dewi. Saat aku tiba di sana, Bu Dewi yang memberikan ponselnya padaku. Aku cek, sudah tidak ada lagi foto yang seperti kamu katakan," jelas Samuel.
"Berarti ...." Fahri tertegun dengan penjelasan dari Samuel.
"Iya. Kemungkinan besar, mertuamu lah yang menghapus foto itu. Tapi, kamu tenang saja. Aku akan menyelidikinya. Tujuanku berhenti bekerja hanya karena ini," tutur Samuel.
Samuel menepuk bahu Fahri pelan. "Sebaiknya kamu jangan terlalu percaya pada orang lain. Bahkan orang tak terduga pun bisa menjadi penjahatnya," lanjut Samuel.
Bersambung ....