
Keesokan harinya, Fahri dan Arumi tengah berada di meja makan untuk menikmati sarapan pagi. Tak lama kemudian, Samuel datang dari luar dan ikut bergabung bersama pasangan suami istri itu.
"Numpang makan ya, kebetulan aku lagi malas makan di rumah," ujar Samuel.
"Kamu kan bisa beli di luar," celetuk Arumi.
"Yang gratisan lebih enak dari pada yang harus mengeluarkan uang," timpal Samuel.
Fahri terkekeh mendengar ucapan Samuel, sedangkan Arumi mencebikkan bibirnya. Ia paham betul jika pria tersebut memang selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Oh ya. Kalian tidak berniat untuk berbulan madu? Mengunjungi pulau-pulau yang indah sembari menghasilkan garis keturunan?" celetuk Samuel.
Arumi dan Fahri langsung terbatuk-batuk saat mendengar ucapan pria itu. Keduanya meraih gelas bersamaan, lalu menenggaknya hingga kandas.
"Ada apa? Bukankah itu adalah kunci utama dalam pernikahan? Menghasilkan garis keturunan," ucap Samuel dengan ekspresi wajah yang tak berdosa.
Arumi langsung memberikan kode pada pria yang saat ini berseberangan dengannya. Arumi mendelik menatap Samuel yang memang sedari tadi sengaja untuk menggodanya dan Fahri.
Sementara Fahri, wajah pria itu tampak memerah karena menahan malu. Untuk keturunan, Fahri sangat menginginkannya. Namun, mengingat pernikahan mereka yang tidak berlandaskan cinta, membuat Fahri tidak terlalu memikirkan hal tersebut.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Samuel pun langsung berpamitan untuk berangkat ke kantor. Baik Fahri, ataupun Arumi mengantarkan kepergian pria tersebut.
"Apa yang akan kalian lakukan hari ini?" tanya Samuel seraya memasang sarung tangannya.
"Aku berencana untuk mengajarinya mengemudi. Ada apa?" tanya Arumi.
"Tidak. Aku harap Fahri bisa cepat terjun ke perusahaan. Jika posisi ini dibiarkan terlalu lama kosong, takutnya Indra lagi-lagi mencari sisi kelemahanmu," bisik Samuel tepat di telinga Arumi.
Sebelumnya, Arumi memang telah memberikan peringatan pada Samuel agar tak membahas orang-orang yang membahayakan di depan Fahri.
"Baiklah. Aku berharap kamu juga bisa membantunya nanti," ujar Arumi.
"Kamu tenang saja."
Samuel pun mengenakan helmnya. Lalu kemudian menunggangi kendaraan roda duanya itu. Ia mengerlingkan matanya menatap Arumi, membuat Arumi merasa jijik akan sikapnya.
Setelah melakukan hal itu, Samuel mengarahkan pandangannya pada Fahri. Pria itu hanya mengulas senyum memperhatikan interaksi keduanya.
"Aku titip Arumi. Dia seperti anak kecil yang jika tidak di jaga dengan baik, akan menghilang begitu saja," ujar Samuel.
Mendengar Samuel berkata demikian, membuat Arumi menghampiri pria tersebut. "Berangkatlah atau kamu mau aku hajar?" bisik Arumi dengan nada ancaman.
Ucapan Samuel sebenarnya mengandung makna lain. Pria itu seakan memperingatkan pada Fahri bahwa ia harus terus menjaga Arumi. Jika tidak, maka Arumi dalam bahaya.
Fahri mengangguk menimpali ucapan Samuel. "Tenang saja. Aku pasti akan menjaganya dengan baik," ujar Fahri.
"Apakah kamu senang dengan jawabannya?" tanya Samuel yang berbisik pada Arumi, melihat gadis tersebut dengan mulut yang sedikit menganga saat mendengar ucapan dari Fahri.
"Aku sangat menyukainya. Lebih baik kamu goda saja terus dia, supaya aku senang mendengarkan kalimat manisnya," ucap Arumi dengan antusias.
Samuel menirukan gaya bicara Arumi dengan sedikit mengejek. Pria itu pun melajukan kendaraannya menuju ke jalanan.
....
Di lain tempat, Kartika hari ini berencana untuk mengunjungi putrinya. Wanita tampak membawa kantong plastik di tangannya yang berisi sarapan untuk Sifa.
Kartika beberapa kali menekan bel apartemen sang anak. Namun, beberapa kali ia menekan bel tersebut, Sifa tak kunjung keluar untuk membukakan pintu.
Kartika pun memilih untuk masuk dengan langsung menekan kode akses pada pintu tersebut. Wanita itu berhasil membuka pintunya, akan tetapi tak lama kemudian, ia pun langsung membelalakan matanya melihat rumah yang sudah berantakan.
"Astaga, ini rumah atau kapal pecah?" keluh Kartika melihat isi rumah tersebut.
Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar Sifa. Matanya menangkap sang anak tengah tertidur lelap dengan berselimut tebal.
Kartika langsung berjalan menghampiri sisi ranjang. Wanita itu menyibak selimut yang menutupi tubuh Sifa.
"Ya ampun, ini anak. Sifa ayo bangun!" ujar Kartika seraya mengguncang tubuh putrinya.
"Ayo bangun! Apa kamu tidak bekerja?" tanya Kartika yang tak berhenti mengguncang tubuh Sifa.
Wanita itu pun mendengkus kesal karena ibunya yang terus saja mengganggu. "Ada apa sih, Bu?" tanya Sifa.
"Lekas bangun atau ibu siram kamu?" ujar Kartika memberikan peringatan pada Sifa.
Dengan malas, wanita itu bangun dari tidurnya dengan wajah yang masam.
"Rumah berantakan, bangun kesiangan, bagaimana bisa dapat suami yang baik kalau kamu seperti ini?" ucap Kartika.
Sifa merasa tersinggung dengan ucapan ibunya. "Aku tidak akan mencari suami yang baik, tapi aku akan mencari suami yang kaya. Ibu paham?!" setelah mengucapkan kalimat tersebut, Sifa langsung berlalu dari hadapan ibunya.
Kartika cukup tercengang dengan sikap Sifa yang sudah berani membalas ucapannya. "Setan apa yang merasuki mu, hah?!" seru Kartika.
Brakkk ...
Sifa menutup pintu kamar mandinya dengan keras. Membuat Kartika berulang kali dikejutkan oleh Sifa. "Dasar anak kurang ajar!" gerutu Kartika mengatai Sifa.
"Aku kemari karena ingin menengokmu, asal kamu tahu itu! Tapi setelah melihat tingkahmu yang menyebalkan, membuatku enggan untuk datang ke sini lagi," ketus Kartika.
Wanita tersebut langsung keluar dari apartemen tersebut. Namun, sebelumnya ia meletakkan makanan yang telah dibeli ke dalam tong sampah. Kartika merasa sakit hati pada sikap Sifa yang selalu saja egois.
Setelah berhasil keluar dari apartemen tersebut, Kartika langsung mengeluarkan ponselnya, mencari salah satu kontak yang ada di dalam ponsel pintarnya. Ia pun menekan tombol dial dan menempelkannya pada salah satu telinganya.
"Aldo, apa kalian bertengkar? Kenapa Sifa menjadi sekacau itu?" tanya Kartika.
"Bertengkar? Kami tidak bertengkar."
"Pagi ini dia sudah membuat tensi darah ibu menjadi naik. Tolong kamu nasihati Sifa dan tanya apa masalahnya," ujar Kartika.
"Baik, Bu. Ibu tidak usah khawatir, aku akan menanyakannya baik-baik padanya."
"Ibu sangat bersyukur karena kamu adalah calon menantu yang terbaik. Ibu menjadi tidak sabar, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan. Ya sudah, kalau begitu ibu tutup ya teleponnya."
Kartika pun menutup panggilan tersebut. Ia berjalan menuju ke jalanan untuk menghadang taksi yang lewat.
"Baik, pengertian, kaya pula. Bagaimana aku tidak tertarik pada menantu seperti Aldo," gumam Kartika seraya mengembangkan senyumnya.
....
Arumi dan Fahri saat ini tengah berada di sebuah lapangan luas. Seperti janjinya kemarin, ia ingin mengajari suaminya untuk mengemudi.
Arumi memulainya dari pengenalan dasar terlebih dahulu, dan Fahri pun mampu menangkapnya dengan cepat. Bahkan sampai saat ini, Arumi sudah mengajari sang suami di tahap memarkirkan mobil. Dengan cepat, Fahri juga menguasainya.
Setelah di rasa cukup, keduanya pun keluar dari mobil. Fahri berjalan menuju sebuah warung yang tak jauh dari sana. Pria itu pun membeli dua botol minuman dingin dan langsung memberikannya pada sang istri.
"Apakah kamu benar-benar tidak bisa mengemudi? Aku jadi agak meragukan hal itu," ujar Arumi menatap suaminya dengan lekat.
Arumi tampak kesusahan membuka tutup botol minumannya. Fahri pun tersenyum melihat gadis yang ada di sampingnya terlihat sedikit menggemaskan karena tak bisa membuka penutup botol itu.
Fahri langsung membuka tutup botol yang ada ditangannya, lalu kemudian ia berikan kepada Arumi. "Ambilah ini," ujar Fahri seraya menyodorkan botol yang satunya lagi.
Sejenak Arumi terpana akan wajah tampan suaminya di bawah sinar mentari yang mulai berwarna jingga. Namun, tak lama kemudian ia pun langsung tersadar dari lamunannya saat Fahri menggenggam tangannya, lalu kemudian memberikan botol tersebut di tangan Arumi. Dan Fahri mengambil botol yang belum terbuka di tangan Arumi yang satu lagi.
"Dulu, saat aku masih berkuliah, aku mengambil kerja sampingan menjadi seorang supir pengangkut barang di desaku," ujar Fahri mengarahkan pandangannya ke depan.
"Berarti kamu bisa menyetir," ucap Arumi mendengkus kesal.
"Bukan tidak bisa, aku hanya takut membawa mobil milikmu yang harganya cukup fantastis," tandas Fahri.
"Harga mobil ini tidak seberapa. Kamu jangan terlalu berlebihan!" tukas Arumi.
Keduanya pun saling melempar senyum dan sesekali tertawa bersama. Di bawah langit yang mulai berwarna jingga itu, mereka menghabiskan waktu berdua. Saling berbagi cerita diiringi dengan sedikit gurauan yang menjadikan keduanya semakin dekat.
Bersambung ...