
Pagi itu, Fahri datang lebih awal ke tempat yang dijanjikan. Dengan mengenakan setelan kantornya, Fahri sudah menunggu sepagi ini. Bahkan restoran yang menjadi tempatnya bertemu dengan Arumi masih tutup.
Pria tersebut memilih untuk duduk di depan, sembari menunggu restoran itu buka. Dinginnya pagi itu tak terasa bagi Fahri. Sama seperti hatinya, yang sudah tak hangat lagi karena cintanya dikhianati oleh wanita yang paling berarti dalam hidupnya.
Malam itu, bahkan sekerjap pun ia tak tidur. Memikirkan tentang ucapan perpisahan yang menyakitkan baginya membuat Fahri seakan benar-benar hancur.
Cukup lama ia menunggu di depan resto, hingga tempat itu baru saja buka. Ia melihat beberapa pegawai di sana tampak bersih-bersih terlebih dahulu. Dan Fahri masih menunggu di luar, setelah pegawai yang ada di dalam sana sudah benar-benar siap untuk melayani pelanggan yang ada di sana.
Fahri kembali mengarahkan pandangannya ke dalam resto. Para pelayan yang ada di sana sudah siap untuk melayani pelanggan. Fahri pun memilih untuk masuk ke dalam resto tersebut.
Ia hanya memesan minuman saja, karena takut uang yang ada di sakunya tak cukup untuk membayar makanan mahal yang ada di tempat itu.
Segelas greentea di bawa oleh pelayan itu menuju ke meja Fahri. Pria tersebut tersenyum dan berucap terima kasih setelah pesanannya datang. Sang pelayan hanya membalasnya dengan sebuah anggukan, lalu kembali ke dapur untuk mengerjakan yang lainnya.
Di waktu yang bersamaan, Arumi datang ke restoran tersebut. Ia sengaja hanya memarkirkan mobilnya sedikit jauh, agar melihat Fahri yang datang sembari berjalan kaki masuk ke dalam resto tersebut. Namun, Arumi tercengang saat melihat ke arah resto, pria yang ia tunggu ternyata sudah datang lebih dulu memasuki restoran itu.
"Hah? Dia sudah datang lebih dulu? Sepagi ini?" gumam Arumi tertegun.
Wanita itu pun memilih untuk turun dari mobilnya. Dengan segera, ia menghampiri Fahri yang sudah lebih dulu berada di restoran tersebut.
Fahri melihat kedatangan Arumi. Pria itu langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut Arumi.
"Tidak usah berdiri seperti itu, silakan duduk!" ujar Arumi yang langsung menjatuhkan bokongnya ke kursi. Fahri pun melakukan hal yang serupa.
Entah kenapa tiba-tiba Arumi merasa gugup. Ia sedikit takut akan keputusan yang dibuat oleh Fahri. Bagaimana pun juga, Fahri sangat mencintai istrinya. Besar kemungkinan jika pria itu menolak tawaran Arumi kemarin.
"Aku sudah membuat keputusan akan tawaran yang kemarin," ujar Fahri membuka suara.
"Aku memutuskan untuk ...."
"Stopp!!" cegah Arumi. Gadis itu belum siap mendengarkan penolakan dari Fahri.
"Ada apa?" tanya Fahri tertegun.
"Sebaiknya bicarakan setelah makan saja. Aku sangat lapar. Tadi aku belum sempat sarapan," ucap Arumi beralasan.
"Baiklah kalau begitu," ujar Fahri pasrah.
Arumi memanggil pelayan yang ada di restoran tersebut. Gadis itu pun memilih menu yang ia kehendaki, dan memilihkan juga makanan untuk Fahri dengan menu yang serupa.
Setelah mencatat pesanan, pelayan pun langsung bergegas ke dapur untuk menyiapkan pesanan tersebut.
Arumi, gadis ini tak berhenti meremas tangannya di bawah meja. Ujung jarinya sudah terasa dingin. Dan yang lucunya, Fahri meminta bantuan sementara ia takut jika Fahri menolak bantuannya.
Cukup lama keduanya terjebak dalam kediaman itu. Fahri beberapa kali menyesap minumannya, ia juga tak sabar untuk mengutarakan maksud dan tujuan serta memberikan jawaban atas tawaran Arumi kemarin.
"Silakan dimakan," ujar Arumi yang terlihat gugup. Fahri juga tak kalah canggung, pria itu mengangguk lalu kemudian meraih sendok dan garpunya untuk menyantap hidangan tersebut.
Keduanya menikmati makanan tersebut dengan tenang tanpa berucap apapun. Setelah selesai, Arumi meletakkan alat makannya, menyeka bibirnya dengan tissu, lalu kemudian mencoba untuk tenang dan mendengarkan keputusan yang dibuat oleh Fahri.
"Silakan katakan apa yang ingin kamu katakan," ucap Arumi.
"Tentang tawaran yang kemarin, aku memutuskan untuk menyetujuinya," ujar Fahri dengan mantap.
Arumi mengerjapkan matanya beberapa kali. Sungguh, ini serasa tak nyata baginya. Ia tak menyangka jika Fahri akan menyetujui tawarannya itu.
"Tapi aku juga ingin mengajukan beberapa syarat," lanjut Fahri.
"Apa itu?" tanya Arumi yang mencoba untuk tetap stay cool padahal saat ini ia ingin melompat kegirangan.
"Aku menyetujuinya karena suatu alasan. Tentunya hatiku tetap pada istriku. Kita hanya menikah saja, tanpa bersentuhan ataupun berharap untuk saling mencintai. Bukankah ini adalah pernikahan yang saling menguntungkan?" tanya Fahri.
Arumi terdiam sejenak. Ia mencoba mencerna ucapan Fahri. Pria itu bersedia untuk menikah dengannya, akan tetapi tidak ada kontak fisik ataupun berharap bahwa pria tersebut akan membalas cintanya nanti.
Fahri menantikan jawaban dari Arumi. Gadis yang ada di hadapannya itu terdiam dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Nona, apakah kamu mendengarkan tadi?" tanya Fahri.
Seketika lamunan Arumi menjadi buyar. Ia pun tersenyum sembari menatap ke arah Fahri. "Baiklah. Lagi pula, anggap saja bahwa ini adalah pernikahan bisnis, yang berarti pernikahan saling menguntungkan dalam segi materi," ujar Arumi.
"Seharusnya aku sudah bersyukur dia menerima tawaranku. Kenapa aku menjadi serakah untuk meminta hatinya juga? Lagi pula mustahil baginya untuk melupakan istrinya dengan begitu mudah. Apalagi dia memang adalah tipe pria yang bodoh. Sekali pun terluka, ia akan tetap mencintainya," batin Arumi.
"Baiklah. Kalau begitu, tak ada lagi yang perlu kita bahas. Selanjutnya, aku akan mengabarimu lagi tentang pernikahan kita. Dan aku akan menyiapkan uangnya besok," papar Arumi.
"Bisakah untuk sementara mengulur waktu pernikahan? Aku baru saja mengurus perceraian ku. Mustahil jika aku bisa menikah secepat itu. Setidaknya ada rentang waktu pernikahan setelah bercerai," jelas Fahri.
"Apa? Bercerai? Jadi mereka hendak bercerai?" batin Arumi.
"Baiklah. Kita akan menikah setelah kamu benar-benar siap," ujar Arumi.
"Kalau begitu, kita sudah sepakat mulai sekarang." Arumi mengulurkan tangannya, untuk mengajak Fahri bersalaman sebagai tanda kesepakatan mereka.
Tangan Fahri pun tergerak untuk menjabat tangan Arumi. Kini, perceraian sebentar lagi akan di depan mata. Ia akan melepaskan Sifa dan membangun kembali pernikahan bersama dengan Arumi.
Seperti yang dikatakan oleh Arumi, pernikahan dari kesepakatan itu adalah pernikahan bisnis. Yang pastinya keduanya saling menguntungkan dalam segi materi saja. Tanpa harus di tuntut untuk saling mencintai satu sama lain.
Setelah sepakat, Fahri pun permisi pamit undur diri. Hari ini ia akan kembali bekerja seperti biasanya, sementara Arumi, masuk ke dalam mobilnya menuju ke rumah.
Bersambung