
Setelah bernegosiasi dengan Indra, Arumi pun langsung keluar dari gedung tersebut. Wanita itu masuk ke dalam mobilnya, ia meraba tas jinjingnya, mencari keberadaan ponselnya.
Namun, sesaat kemudian Arumi pun menepuk keningnya. "Kenapa aku bodoh sekali! Bukankah ponsel tadi aku tinggal di kamar," gumam wanita tersebut seraya merutuki kebodohannya.
Arumi menghidupkan mobilnya, lalu kemudian membawa kendaraan roda empat tersebut melaju ke jalanan untuk kembali ke rumahnya.
.....
Elena sedang bersantai di salah satu kursi yang ada di Cafe. Wanita tersebut menatap layar ponselnya sembari menyesap lemon tea yang ada di hadapannya.
Namun, tiba-tiba ia mendengar suara kursi yang ada di hadapannya. Awalnya Elena hendak pergi meninggalkan tempat itu, membiarkan pengunjung Cafenya menempati meja tersebut.
Akan tetapi, setelah ia melihat siapa yang ada di hadapannya, Elena langsung membuang muka. Wajah ramah yang hendak ia tunjukkan tadi seakan hilang seketika.
"Aku ingin bicara sebentar," ujar Tomi menahan tangan Elena.
Elena langsung menepiskan tangan Tomi. Wanita itu pun kembali duduk di kursinya, menatap Tomi dengan sangat malas.
"Ku dengar ... pernikahan yang kemarin tetap berjalan," ucap Tomi yang mulai membuka suara.
"Ya, tentu saja. Ada pria baik yang ingin menggantikan posisimu," balas Elena seraya melipat kedua tangannya di depan.
"Bukankah pria itu adalah pria yang kamu sukai?" Tomi menjengit.
Elena memutar bola matanya, " Setidaknya dia adalah pria yang berani mengutarakan tujuannya pada ayahku secara langsung."
"Lagi pula ... kita impas bukan. Aku tidak marah padamu karena kamu tak hadir di pernikahan kita demi mengejar wanita yang kamu cintai," papar Elena.
"Ya ... anggap saja kita impas. Namun, bisakah kamu membujuk ayahmu untuk tidak menarik kembali semua dana yang hendak diinvestasikan kepada kami?" tanya Tomi.
Ucapan Tomi terdengar seperti lawakan bagi Elena, hingga wanita itu terkekeh sembari memegangi perutnya.
"Aku membujuk papa? Kenapa tidak kamu lakukan sendiri!" tukas Elena.
"Kamu juga mendapat keuntungan dari gagalnya pernikahan kita. Setidaknya kamu membalasnya dengan cara membujuk Pak Beni," ujar Tomi.
"Bersyukur aku tidak berjodoh dengan pria yang tak tahu malu ini," batin Elena.
"Keuntungan? Lucu sekali!" Elena terkekeh geli.
"Aku baru menemukan pria yang memang sangat bertingkah sepertimu!" cecar Elena.
"Jika kamu ingin membahas masalah perusahaan, silakan temui papa dan SUAMIKU!" tukas Elena yang sedikit menekankan pada kata suami.
Tomi mengusap wajahnya dengan kasar. Pria langsung menggebrak meja, membuat beberapa Maya yang ada di sana menatap ke arahnya.
Tomi menyadari tatapan mereka yang tampak mencerca itu. Tomi pun langsung pergi dari tempat tersebut tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Elena mengendikkan bahunya sembari menatap Tomi yang langsung pergi dari Cafenya. "Ku harap, untuk selanjutnya aku memilih untuk tidak dipertemukan dengan orang seperti dia dalam hidupku," ucap Elena bermonolog.
....
Samuel dan Pak Beni tengah berada di ruang rapat. Kali ini, Pak Beni meminta Samuel untuk melakukan presentasi, serta menjelaskan misi dan visi perusahaan untuk kedepannya.
Dengan lantang dan jelas, Samuel pun melakukan presentasi tersebut. Diam-diam Pak Beni memperhatikan Samuel, dan ia pun tersenyum samar karena bangga dengan kemampuan menantunya berbicara bak layaknya seorang pemimpin di depan banyak orang.
"Ternyata aku tidak salah dalam memilih menantu. Dia benar-benar cocok untuk Elena. Selain rasa tanggung jawabnya yang membuatku cukup kagum, dia juga mampu menarik perhatian banyak orang dan itu menjadi salah satu nilai plus dalam bidang bisnis seperti ini," batin Pak Beni.
Riuh tepuk tangan pun terdengar begitu lantang saat Samuel selesai menjelaskan presentasinya. Mata Samuel menatap hampir semua orang yang bertepuk tangan untuknya. Namun, ada satu orang yang tampaknya biasa saja dengan penampilan Samuel tadi, yaitu ayah mertuanya.
Namun, tanpa Samuel sadari, Pak Beni sudah bertepuk tangan sedari tadi. Ia melakukannya dengan menggunakan kakinya, sehingga tak ada satu pun yang menyadari apa yang dilakukan oleh Pak Beni.
"Susah sekali untuk mencuri hati mertuaku," keluh Samuel dalam hati.
"Pa, apakah penampilan ku tadi sudah lumayan menarik?" tanya Samuel.
"Mudah sekali kamu merasa bangga," jawab Samuel.
Hati Samuel bak dilempari oleh bom saat itu juga. Pria itu terdiam sembari memandangi sepatu yany dikenakannya.
"Bahkan aku hanya mengajukan pertanyaan, tapi jawabannya sangat pedas sekali," batin Samuel.
Tinggg ....
Pintu lift terbuka, Pak Beni lebih dulu keluar dari dalam ruangan sempit itu, pria tua sedikit menolehkan kepalanya.
"Apakah aku terlalu kasar? Tapi setidaknya ini untuk dirinya sendiri agar lebih maju," batin Pak Beni yang kembali melanjutkan langkahnya.
.....
Malam harinya, Fahri baru saja pulang dari kantor langsung menemui istri tercintanya. Pria tersebut melihat istrinya tengah duduk tak jauh dari jendela, sembari memegang alat sulam serta benang wol.
"Sedang apa, Istriku?" tanya Fahri yang langsung memeluk sang istri dari belakang.
"Tadi siang aku menonton cara menyulam, Mas. Dan aku mempraktikkannya sendiri. Lihatlah! Aku berhasil," ujar Arumi dengan sangat bangga.
"Kamu benar-benar hebat, Istriku." Fahri menatap Arumi dengan tatapan penuh kekaguman. Lalu kemudian memberikan kecupan singkat di pipi kiri istrinya itu.
Fahri pun menjauh dari istrinya. Pria itu melonggarkan dasi, lalu kemudian berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Arumi menatap suaminya yang sudah menutup rapat pintu kamar mandi tersebut. Ia mengambil ponsel Fahri, mengecek video kemarin siapa tahu disimpan olehnya di dalam ponsel tersebut.
Arumi menemukannya, wanita itu langsung mengirimkan video kejahatan Dewi ke ponselnya. Setelahnya, ia meletakkan kembali ponsel Fahri di tempat semula.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak sabar jika hanya terus menunggu tanpa kepastian seperti ini. Seekor ikan tidak akan ditangkap dengan sukarela jika kita tida memasang umpan terlebih dahulu," gumam Arumi.
Selang beberapa saat kemudian, Fahri keluar dari kamar mandi. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar karena tak menemukan keberadaan istrinya.
"Kemana dia pergi?" gumam Fahri seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Saat itu Arumi berada di teras, wanita tersebut tengah berjalan ke sana dan kemari dengan ponsel yang ditempelkan di salah satu daun telinganya.
"Halo, selamat malam." terdengar suara pria dari seberang telepon.
"Pak Rama, Saya Arumi. Saya ingin meminta bapak untuk menjadi pengacara untuk teman saya. Apakah bapak mempunyai waktu untuk bertemu?" tanya Arumi.
"Baiklah, temui saya langsung di kantor tepatnya sekitar pukul sepuluh pagi," ujar pria tersebut.
"Baik, Pak. Terima kasih atas perhatiannya," ucap Arumi yang kemudian langsung menutup panggilannya.
"Tenangkan dirimu, Arumi. Keputusan yang kamu ambil adalah jalan yang benar. Tidak ada salahnya memberikan peluang untuk Indra. Ku harap, pria itu memegang janjinya dan tidak berkhianat kepadaku," gumam Arumi.
"Siapa yang kamu telepon? Dan siapa yang berkhianat?"
Arumi menegang saat mendengar suara yang sangat dikenalnya dari arah belakang.
"Mas Fahri, ..." suara Arumi tercekat, ia pun perlahan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah sang suami.
"Aku tanya siapa yang tidak akan berkhianat?" Fahri kembali mengulang pertanyaannya tadi.
"Itu , Mas ...."
"Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Arumi?" tanya Fahri sembari menyipitkan matanya.
Bersambung ...