Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 172. Satu Garis Buram


Pagi ini Fahri bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Pria tersebut melihat tampilan dirinya di pantulan cermin. Ia sedikit membenarkan posisi dasinya. Setelah dirasa cukup, ia pun bersiap untuk menemui istrinya di bawah.


Sementara Arumi, wanita itu disibukkan dengan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Bukan dirinya yang memasak, melainkan koki yang memang khusus berada di dapur. Arumi hanya menata makanan tersebut ke piring, lalu kemudian meletakkannya di atas meja.


Beberapa hari telah terlewati, lebam yang ada di wajahnya pun sudah menghilang. Namun, rambutnya masih sama, belum langsung memunculkan perkembangan walaupun ia sudah memakai penumbuh rambut. Ya ... mau bagaimana lagi, memang tidak ada hal yang instan di dunia ini, dan Arumi pun harus sabar menunggu hingga rambutnya kembali memanjang lagi.


Fahri baru saja menuruni anak tangga. Pria itu sama dengan Arumi, menggunakan wig untuk menutupi rambutnya yang botak. Bahkan teman-teman mereka saat berkunjung pun tak menyadari bahwa Fahri sudah mencukur habis rambutnya saat itu.


"Ayo sarapan Mas!" ajak Arumi yang langsung menghampiri suaminya. Wanita itu memeluk lengan Fahri, lalu kemudian membawa pria tersebut untuk menuju ke meja makan.


"Aromanya benar-benar menggugah selera. Kamu yang masak?" tanya Fahri.


Arumi menggeleng pelan," Bukan. Tapi koki yang bekerja di dapur. Lagi pula aku takut, jika kamu terlalu banyak makan masakan ku bisa-bisa langsung darah tinggi," ujar Arumi sembari bibir yang dimajukan dua centi.


Fahri menatap gemas istrinya itu, laku kemudian menyentuh puncak hidung yang menjulang tinggi milik Arumi.


"Tidak apa-apa, lagi pula dengan seperti itu, kamu tidak akan terlalu capek untuk memasak," ucap Fahri.


"Apakah hari ini kamu akan ke kantor?" Fahri mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Entahlah, Mas. Aku pergi ke kantornya mungkin agak siang," ujar Arumi.


"Sudah, sekarang nikmatilah sarapannya,"lanjut Arumi.


Fahri tersenyum, lalu kemudian meraih alat makan yang ada di depannya. Menu sarapan kali ini adalah roti panggang sosis telur. Dimana telur yang buat setengah matang berbentuk mata sapi, serta sosis dan roti yang dibakar, diberi saus serta mayonaise yang menjadi pelengkapnya. Fahri menganggukkan kepalanya sembari menikmati sarapannya pagi ini. Kedua pasutri itu pun menikmati sarapannya dengan tenang.


Setelah sarapan, seperti biasa, Arumi akan mengantarkan Fahri ke depan. Diiringi dengan memberikan kecupan di kening Arumi, sedangkan Arumi mencium punggung tangan Fahri.


Arumi melambaikan tangannya saat Fahri mulai melakukan mobilnya. Wanita itu bersedekap, sembari memikirkan apa yang akan ia lakukan hari ini.


Wanita itu masuk ke dalam rumah, ia melihat-lihat pelayan yang sibuk berkecimpung di dapur. Arumi pun memilih untuk pergi ke ruang tengah, mengambil ponselnya, lalu kemudian membuka jejaring sosial media.


Saat asyik menggeser layar tersebut, Arumi pun menemukan sebuah postingan makanan yang tampak begitu lezat. Saat Arumi mengklik profil dari akun tersebut, ia melihat beberapa foto yang memperlihatkan selfie dari Sifa bersama dengan wanita paruh baya, yang tak lain adalah ibunya.


Sifa tampak tersenyum menatap kamera, perutnya terlihat sudah semakin membuncit, dengan beberapa noda tepung yang ada di wajahnya.


Arumi tersenyum getir, tanpa sadar wanita itu memegangi perutnya. Kehilangan bayinya sewaktu itu, membuat hidup Arumi hancur seketika. Dan saat ini, ia masih berjuang untuk memberikan suaminya itu calon penerus.


"Semoga aku juga cepat diberikan momongan lagi. Kehilangannya kemarin, sungguh membuatku sangat hancur," gumam Arumi yang masih mencoba untuk mengulas senyum walaupun mengingat kejadian yang lalu sempat membuat dirinya sakit.


Arumi menggelengkan kepalanya, mencoba untuk bangkit dari kesedihannya dan menjalani hidup yang saat ini Tuhan berikan.


Wanita itu pun langsung mengirimkan chat berupa pesanan pada Sifa. Ia pun tersenyum saat Sifa dengan cepat meresponnya.


....


Di lain tempat, Elena sedang berada di Cafe. Sedari tadi, ia merasa sedikit pusing dan mual. Namun, wanita itu mencoba untuk menahannya. Karena jika ia mengadukan hal ini pada suaminya, bisa-bisa seisi rumah langsung gempar karena kepanikan Samuel serta mulutnya yang tentu tak berhenti mengoceh, layaknya emak-emak yang tengah menawar harga di pasar.


Elena mengecek penanggalan yang ada di ponselnya. "Seharusnya aku sudah telat dua minggu. Seharusnya aku sudah datang bulan," gumam Elena.


Karena dirinya merasakan pusing dengan sedikit berputar-putar, Elena pun memilih untuk memanggil salah satu pelayan resto ke ruangannya.


Terdengar suara ketukan pintu. Elena pun mempersilahkan agar pelayan yang ada di luar sana untuk masuk.


"Bisakah kamu membelikan saya test pack ke apotik sebrang sana? Saya tidak bisa berjalan, penglihatan saya sedikit berputar," ujar Elena.


"Saya minta tolong," sambung Elena lagi.


"Tentu saja, Bu."


Elena pun tersenyum, ia memberikan uang kepada pelayan tersebut. Pelayan itu langsung unsur diri dari hadapan Elena untuk membelikan permintaan atasannya itu.


Elena menunggu datangnya pelayan tersebut. Wanita itu mengetuk-ngetukkan jemarinya ke atas meja, menunggu sesuatu yang membuatnya sedikit berdebar.


Tak lama kemudian, pelayan itu pun kembali sembari membawa test pack yang ada di tangannya. Ia juga menyerahkan sisa uang yang diberikan oleh Elena karena berlebih cukup banyak.


"Ambil saja, saya memberikan uang lebih itu untuk kamu," ucap Elena.


"Terima kasih, Bu."


"Iya, sama-sama."


Setelah pelayan tersebut kembali melanjutkan pekerjaannya, Elena bergegas ke kamar mandi untuk mengeluarkan urine-nya untuk di tes.


Saat Elena keluar dari kamar mandi, lalu kemudian memperhatikan hasil dari test pack tersebut, wanita itu langsung menggeram kesal. Pasalnya, alat test pack itu hanya menunjukkan satu garis saja. Sementara satu garisnya lagi tak terlihat begitu jelas.


"Apa ini? Kenapa buram seperti ini? Apakah aku hamil atau tidak," gumam Arumi dengan kening yang berkerut.


Wanita itu kembali meraih phone table yang ada di atas mejanya. Ia memanggil pelayan tersebut kembali. Hingga akhirnya, pelayan itu pun datang ke ruangan Elena.


Elena kembali menyerahkan uang pada pelayan tersebut. " Tolong belikan lagi test pack. Bila perlu beli lima sekalian," ucap Elena sembari memberikan yang tunai pada pelayan tersebut.


"Memangnya yang tadi kenapa, Nyonya?" tanya pelayan resto itu.


"Entahlah! Test pack-nya mungkin sudah rusak. Hanya ada satu garis dan garis yang lainnya itu sangat buram," jelas Elena.


"Akan lebih baik jika mengetesnya di pagi hari, Bu Tepatnya pada kencing pertama. Biasanya itu lebih akurat lagi," papar pelayan resto tersebut.


"Benarkah? Kalau begitu aku harus menyimpannya dahulu. Untuk kencing pertama nanti,"gumam Elena.


"Iya, Bu. Saat bangun dari tidur, cobalah langsung dites."


"Baiklah, nanti aku akan mencobanya. Kalau begitu pergilah untuk membelikan benda itu. Dan maaf karena merepotkanmu akan hal ini," tutur Arumi.


"Tidak apa-apa, Bu. Tidak usah sungkan," ucap pelayan tersebut, ia pun langsung melangkah pergi dari ruangan tersebut.


Elena memilih untuk menyenderkan kepalanya di atas meja. Lalu kemudian memberikan sedikit pijatan serta baluran minyak angin agar rasa pusingnya sedikit hilang.


Selang beberapa menit kemudian, pelayan yang tadi kembali menemui Elena. Setibanya ia di ruangan Elena, pelayan tersebut melihat Elena yang tengah memejamkan matanya tertidur pulas.


Dengan pelan, pelayan itu meletakkan test pack yang dibawanya ke atas meja. Lalu kemudian ia pun berjalan menuju ke pintu keluar.


"Semoga hasilnya memang positif,Bu." Pelayan tersebut menyunggingkan senyumnya, kamu kemudian menutup pintu yang ada di ruangan tersebut.


Bersambung ....