
Arumi dan Fahri pun pulang hanya dengan membawa pakaian pria itu saja. Selebihnya, barang-barang yang ada di kontrakan itu mereka bagikan pada tetangga.
Saat ini keduanya tengah menyusuri jalanan sore. Arumi menghentikan mobilnya di sebuah restoran, untuk memberi makan cacing di perutnya yang sedari tadi berdemo untuk minta diisi.
"Ayo kita makan dulu sebelum pulang. Aku sangat lapar," ujar Arumi seraya melepaskan sabuk pengamannya.
"Baiklah." Fahri juga melakukan hal yang serupa. Keduanya langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran tersebut.
Fahri dan Arumi memilih duduk di sudut dekat dinding kaca. Arumi tak hentinya tersenyum sembari memandangi cincin pemberian Fahri di jari manisnya.
Melihat Arumi yang tak hentinya memandangi cincin tersebut, membuat Fahri terkekeh. "Maaf, tapi aku belum bisa membelikan cincin dengan harga yang mahal untukmu. Itu juga aku menggunakannya dengan memakai uangmu," papar Fahri.
"Uangku? Tidak! Itu sudah menjadi uangmu. Aku membelikan barang-barang itu untukmu dan kamu menjualnya kembali. Berarti itu murni berasal dari uangmu," ujar Arumi yang menolak pernyataan yang diberikan oleh Fahri.
Arumi sangat senang mendapatkan hadiah dari Fahri. Bahkan, wanita itu rela melepaskan cincin berlian yang awalnya tersemat di jarinya, dan digantikan dengan cincin yang harganya tak seberapa. Namun, rasa senang Arumi luar biasa. Dalam bentuk apapun itu, bagi Arumi pemberian dari Fahri tetap mahal harganya.
Salah seorang pelayan menghampiri keduanya. Pelayan tersebut menyerahkan buku menu kepada Fahri.
"Kamu mau makan apa?" tanya Fahri.
"Apapun yang kamu pesan, pasti akan ku makan," timpal Arumi yang sedikit mengabaikan pertanyaan dari Fahri.
"Lihatlah! Cincin ini sangat cocok di jemariku, bukan?" tanya Arumi pada pelayan resto.
"Jemari Anda terlihat semakin cantik saat mengenakannya, Nyonya." Pelayan tersebut menimpali sembari mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Tentu saja. Ini hadiah pertama dari suamiku," ujar Arumi.
Mendengar Arumi yang berucap demikian, membuat hati Fahri yang semula terasa dingin dan beku perlahan menghangat dan mencair. Ia mengulas senyumnya, melihat Arumi yang begitu menghargai pemberiannya.
Jika mengingat masa lalu Fahri bersama dengan Sifa. Wanita itu pasti sangat tidak terima jika Fahri memberikan barang untuknya dengan harga yang tak seberapa. Kini Fahri dapat menilai, bahwa hal sesederhana apapun akan bernilai mahal di mata mereka yang bisa menghargai pemberian orang lain.
Fahri kembali menatap buku menu yang ada di tangannya. Ia pun memutuskan untuk memilih salah satu menu yang ada di sana, akan tetapi ia meminta izin dulu kepada Arumi. Takut jika istrinya tidak menyukai pilihannya.
"Aku memilih yang ini. Apa kamu mau?" tanya Fahri seraya menunjuk menu yang dimaksud.
"Iya. Aku mau. Bukankah sudah ku katakan, apapun yang kamu pesan pasti akan aku makan," timpal gadis tersebut.
Setelah mencatat pesanan keduanya, pelayan tersebut langsung berjalan menuju ke dapur untuk menyiapkan menu yang dipilih oleh kedua pasangan suami istri itu.
Arumi tak henti-hentinya menatap cincin pemberian dari Fahri. Sementara Fahri, ia memperhatikan wajah cantik Arumi dengan begitu lekat.
"Haruskah aku melupakan semua tentang Sifa dan belajar mencintai wanita ini? Meskipun pernikahan kami tidak berlandaskan rasa cinta dan hanya sebatas perjanjian belaka. Akan tetapi bersamanya, aku merasa lebih dihargai,"batin Fahri.
...****************...
Di lain tempat, Sifa baru saja pulang dari bekerja. Hari ini, wanita tersebut tidak singgah ke rumah kekasihnya karena ia sangat malas untuk pergi ke tempat itu.
Sifa menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia melihat ke dapur, ke arah kamar, tak ada satu pun suara yang menyambut kedatangannya. Saat bersama Fahri, ia benar-benar dimanjakan oleh pria itu. Bahkan terkadang, Fahri dalam keadaan lelah, menyempatkan diri untuk menyiapkan makanan untuk Sifa karena memang Sifa tidak bisa memasak.
Istriku, ayo mandi dulu. Jangan langsung rebahan!
Sayang, aku sudah siapkan makanan untukmu. Ayo kita makan!
Istriku, nanti kalau aku sudah punya banyak uang, aku akan memberikan apapun yang kamu mau. Aku akan membuatmu layaknya seperti seorang ratu. Untuk saat ini, bersabar dulu ya. Aku akan berusaha untuk memenuhi kebutuhanmu.
Ini uang senilai dua ratus sembilan puluh lima juta. Seperti yang pernah kamu sarankan padaku. Aku menjual diriku seharga lima ratus juta. Dua ratus juta aku berikan pada Elena untuk melunasi hutangmu. Dan sisanya, aku ambil untuk kebutuhanku untuk ke depan.
Bukankah kamu mencintai pria yang bisa memberikanmu uang yang banyak? Kalau begitu, cintailah aku! Cintailah hingga aku merasa penuh. Agar kamu tahu, bagaimana yang kurasakan sebelumnya.
Jalani hidupmu, dan nikmati karmamu!
Kata-kata selanjutnya, Sifa sangat mengingatnya. Dimana mata yang menatapnya dengan lembut dan penuh cinta berubah menjadi kebencian semata. Ucapan yang tak lagi sama seperti sebelumnya.
Seketika mengingat semua itu, membuat Sifa langsung berteriak histeris. Ia menitikkan air matanya sembari menutup kedua telinganya.
"Arghhh ...."
"Aku pasti bisa lebih bahagia darimu. Karma? Apa itu? Seharusnya kamu lah yang menerima karmanya bukan aku!" tukas Sifa bermonolog.
.....
Fahri dan Arumi baru saja tiba di rumahnya. Keduanya turun dari mobil, lalu kemudian menaiki anak tangga bersamaan untuk menuju ke kamar masing-masing.
"Besok apa yang akan kamu lakukan?" tanya Arumi.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu apa yang aku lakukan besok," timpal Fahri.
"Bagaimana jika aku mengajakmu untuk belajar mengemudi? Apakah kamu setuju?" tanya Arumi lagi.
"Untuk apa?"
Keduanya sudah tiba di tingkat terakhir paling atas tangga yang dinaiki. Mendengar ucapan Fahri, membuat Arumi berbalik menatap pria itu dengan malas.
"Kamu bilang untuk apa? Ya supaya kamu bisa mengemudilah! Tujuan belajar mengemudi kan itu," tukas Arumi seraya mencebikkan bibirnya.
"Apakah kamu akan menyuruhku terus untuk menyetir kendaraan sedangkan kamu, hanya duduk di bangku penumpang," gerutu Arumi.
"Baiklah. Aku akan belajar darimu," ucap Fahri sembari terkekeh kecil.
Tak terasa, keduanya pun sudah tiba di depan pintu kamar masing-masing. Arumi masih setia menatap Fahri, sampai pria itu membuka pintu kamarnya.
Fahri menyadari akan tatapan Arumi yang tertuju padanya. Pria itu tersenyum sembari berucap "Tidurlah! Kamu pasti lelah karena telah menjadi supir seharian," ujar Fahri disertai dengan gurauan.
"Ya ... cukup melelahkan. Hari ini selain menjadi istrimu, aku juga menjadi supir untukmu. Belajarlah dengan giat untuk mengemudi karena setelah itu kamu juga akan mempelajari beberapa hal untuk terjun langsung ke perusahaan," tutur Arumi.
"Tapi aku merasa tidak pantas."
Arumi langsung menggelengkan kepalanya. "Selagi kamu bersamaku, tidak ada yang tidak pantas untuk kamu lakukan. Mulai saat ini, tidak akan ada yang menganggapmu sebelah mata. Tegakkan pandangan dan bersikaplah dengan tegas."
Fahri tertegun sejenak memikirkan apa yang diucapkan oleh wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Ya sudah, aku mau istirahat dulu," ujar Arumi memutar handle pintunya.
"Beristirahat! Dan selamat malam," ucap Fahri.
Arumi membalasnya dengan senyuman. Gadis itu pun langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa berucap apapun lagi.
Bersambung ...