Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 89. Garis Keturunan


Aldo menatap nyalang istrinya. Pria itu tampak habis kesabarannya. Ia pun menarik Sifa, dengan sedikit memaksa istrinya itu untuk mengikuti langkahnya.


Setibanya di parkiran, Aldo membuka pintu. Lalu kemudian menghempaskan tubuh istrinya untuk masuk ke dalam kendaraan tersebut. Dan ia pun langsung menduduki kursi kemudi.


"Yang tadi, aku hanya berbinca ...."


"Diam!!" seru Aldo sembari memukul setirnya, Pria itu langsung menyela ucapan istrinya yang belum usai.


Sifa bergetar. Ia ketakutan melihat Aldo yang dipenuhi amarah saat ini. Pria tersebut membawa mobil dengan kecepatan tinggi, wajahnya memerah karena emosinya yang sudah meluap-luap.


"Sebaiknya kamu tutup mulutmu itu! Aku tidak butuh penjelasanmu!" ketus Aldo.


Pria tersebut menatap lurus ke depan, mengemudikan mobilnya dengan raut wajah yang masam. Sementara Sifa, wanita itu tak berani berkata apapun lagi setelah melihat kemarahan Aldo barusan.


Di waktu yang bersamaan, Arumi menatap ke sana dan kemari, mencari keberadaan Fahri yang juga tak kunjung terlihat. Sebelumnya, pria tersebut meminta izin untuk mengangkat panggilan telepon. Namun, sudah hampir lewat dari sepuluh menit, Fahri masih belum muncul juga.


"Kemana dia?" gumam Arumi.


Gadis itu pun mencari Fahri ke sana dan kemari. Ia mencoba menghubungi ponsel pria tersebut, akan tetapi tak ada jawaban dari suaminya.


Arumi turun menuju taman. Ia mengedarkan pandangannya. Matanya menangkap Fahri tengah melangkah gontai dengan wajah yang tertunduk.


Fahri menyadari adanya Arumi di tempat tersebut. Ia pun mempercepat derap langkahnya, lalu kemudian memilih untuk berlari menghampiri Arumi.


"Mas, kamu dari ma ...."


Kalimat yang dilontarkan oleh Arumi belum juga selesai. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sikap Fahri yang menghambur ke pelukannya. Arumi membeku, gadis itu tercengang saat Fahri datang dan langsung memeluknya.


"Biarkan seperti ini sejenak, ku mohon."


Mendengar penuturan dari Fahri, membuat Arumi mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh lagi. Dalam benak gadis itu memiliki cukup banyak pertanyaan untuk suaminya. Namun, ia tak ingin mengatakannya. Arumi mencoba diam dan memahami Fahri, mungkin saja pria itu baru menemui masanya yang sulit.


Tangan Arumi terulur, membalas pelukan suaminya itu. Ia menepuk punggung Fahri dengan pelan. Berusaha untuk menenangkan suaminya itu.


Perlahan Fahri pun melepaskan pelukannya. Ia membingkai wajah Arumi, menatap mata indah gadis itu dengan cukup dalam.


"Bisakah kita pulang sekarang?" tanya Fahri.


Arumi menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan. Fahri pun membuka tangan Arumi, meletakkan tangannya di sela-sela jari lentik milik istrinya itu. Lalu kemudian menggenggamnya dengan begitu erat.


Fahri membawa Arumi menuju ke parkiran mobil, memperlakukan gadis itu dengan begitu lembut. Sesekali Arumi mendapati Fahri yang tengah mengulas senyummya, saat menatap wajahnya. Dan Arumi pun membalasnya dengan tersenyum simpul.


....


Setelah menempuh perjalanan memakan waktu yang cukup lama, mobil yang dikendarai oleh Fahri pun tiba di rumah. Kedua orang yang ada di dalamnya langsung turun dan kemudian berjalan beriringan, masuk ke dalam rumah.


"Apakah kamu akan langsung tidur?" tanya Fahri.


Arumi berbalik, menatap suaminya yang saat ini berada di belakang. "Emm ... belum," sahut Arumi.


"Sebenarnya aku belum mengantuk," lanjut gadis tersebut.


"Maukah kamu menemaniku berbincang di tempat biasa? Kebetulan aku juga belum mengantuk. Sembari menunggu rasa kantuk menyerang, jadi alangkah lebih baiknya jika kita berbagi cerita sedikit," ujar Fahri sembari mengukurnya dengan sebuah jari.


"Ide yang bagus!" sahut Arumi dengan sangat antusias.


Fahri menyuruh Arumi untuk terlebih dahulu pergi ke kolam renang tersebut. Sementara pria itu, melangkah ke dapur. Berinisiatif untuk membuat dua cangkir coklat panas untuk menemaninya berbincang nanti.


Selang beberapa menit kemudian, coklat panas buatan Fahri pun telah siap. Ia membawa minumannya itu dengan nampan, lalu kemudian melangkah menuju ke tempat yang dijanjikan sebelumnya.


Arumi mendengar suara langkah menghampiri. Gadis itu berbalik, lalu kemudian melihat Fahri membawa dua buah nampan berisi dua gelas coklat hangat.


"Seharusnya aku saja yang melakukannya, atau Mas Fahri panggil bibi," ujar Arumi yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, lagi pula ini bukanlah pekerjaan yang berat. Menyuruhmu melakukan ini lagi, aku takut jika nanti tanganmu kembali terkena air panas," ucap Fahri.


Arumi tersenyum tipis. Lalu kemudian mengambil mug yang ada di hadapannya, meniup-niup nya perlahan dan kemudian menyesap minumannya itu.


Keduanya terdiam, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing sembari menikmati coklat yang ada di hadapannya.


Fahri kembali mengingat beberapa jam yang lalu, setelah ia bertemu dengan Sifa, tiba-tiba ia tak sengaja bertemu juga dengan Indra.


Pria tersebut tampak mendecih setelah berpapasan dengan Fahri. "Apakah kamu sudah merasa menang sekarang karena telah berhasil mengalahkan ku?" tanya Indra.


Mendengar hal tersebut, Fahri pun spontan berbalik, menunggu apa yang akan diucapkan oleh pria yang tak lain mantan atasannya dulu.


"Sepertinya tujuan Arumi menikah denganmu hanya karena ingin merebut perusahaan saja. Namun, aku lihat jika pancaran di matamu itu seolah menandakan bahwa kamu telah jatuh cinta padanya," lanjut Indra.


"Bukankah tujuan menikah adalah saling mencintai. Kekalahanmu terjadi karena dirimu sendiri, tidak ada urusannya denganku," cecar Fahri.


"Hahaha ... ternyata kamu sudah merasa sedikit meninggi setelah berhasil menikahi wanita itu. Kita lihat saja, seberapa lama pernikahan kalian akan bertahan. Ku rasa, setelah ia mendapatkan apa yang dia inginkan, kamu akan segera dicampakkan olehnya. Kita lihat saja!" tukas Indra panjang lebar. Pria itu pun langsung berlalu dari hadapan Fahri.


Saat ini, Arumi tengah memperhatikan suaminya yang sedari tadi hanya melamun saja. "Apa yang kamu pikirkan, Mas?" tanya Arumi dengan lembut.


Seketika, lamunan Fahri akan kejadian beberapa jam yang lalu langsung buyar seketika. Pria itu pun melemparkan pandangannya pada Arumi, lalu mengulas senyumnya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa terganggu dengan satu hal," ujar Fahri sembari menyesap minumannya.


"Apa yang mengganggumu? Ceritakan padaku, mungkin aku dapat menemukan solusinya," tawar Arumi.


Fahri kembali menyunggingkan senyumnya. "Dalam suatu pernikahan, apakah menurutmu kedudukan itu lebih penting dari pada garis keturunan?" tanya Fahri.


"Eh ... maaf, ini hanya perumpamaan saja," lanjut pria itu. Ia sengaja melayangkan pertanyaan seperti itu, karena mengingat kejadian yang lalu, dimana Sifa lebih memilih untuk tidak hamil sebelum kondisi ekonominya stabil. Padahal, wanita itu lah yang menjadi sumber permasalahannya. Tak bisa mengatur keuangan dalam rumah tangga.


"Kalau menurutku, garis keturunan lebih penting dari pada kedudukan. Aku pernah mengalaminya, saat mendatangi sebuah reuni, pasti yang mereka tanyakan terlebih dahulu adalah 'anaknya sudah berapa?' Mereka jarang sekali menanyakan berapa banyak uang yang kamu miliki? Seberapa tinggi kedudukan mu saat ini," papar Arumi.


Fahri terkekeh saat melihat Arumi yang menjabarkan ucapannya itu disertai dengan ekspresi yang sedikit menggemaskan.


"Lantas bagaimana dengan kita, apakah kamu menginginkan keturunan hasil dari pernikahan yang terkait hutang piutang ini?" tanya Fahri.


Mendengar ucapan Fahri, seketika Arumi pun membeku.


Bersambung ....


Yang minta MP nya mana nih😌 vote dulu atau kasih gift biar dikasih MP. Kalo nggak, kita skip🤣


Wkwkwk sesekali malak kalian 🤭