
Dewi tengah berada di sebuah lorong yang cukup sepi. Tepat dimana menjadi pertemuan antara ia dan Sugeng.
Sebelumnya wanita itu juga mendapatkan pesan yang sama, akan tetapi di sertai dengan sebuah ancaman yang mengatakan bahwa foto yang diterimanya sama persis dengan foto yang ia kirimkan pada Arumi.
Dewi langsung panik, ia pun mencoba untuk menghubungi Sugeng. Namun, pria itu seperti mempermainkannya. Sugeng tak mengangkat panggilan dari Dewi.
Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering, ia menatap nama yang tertera di layar ponsel tersebut yang tak lain adalah dari menantunya. Dewi pun langsung menerima panggilan dari Fahri dan mengatakan bahwa saat ini Arumi berada di rumah sakit. Fahri menjelaskan semua kejadian tersebut.
Dewi kembali panik. Ia bergegas pulang untuk memeriksa ponsel yang dikatakan oleh Fahri tadi. Setibanya di rumah utama, Dewi tampak tergesa-gesa lalu kemudian mencari ponsel di setiap sudut kamar. Dewi berulang kali mencoba kode akses tersebut, akan tetapi beberapa kali juga ia gagal.
Dan akhirnya, Dewi mencoba memakai tanggal lahir Arumi. Beruntunglah ia pun bisa membuka layar ponsel itu. Dewi langsung menghapus pesan gambar tersebut dan memblokir nomor si pengirim pesan agar nomor itu tak dapat menghubunginya lagi.
Sesaat kemudian, ia pun mendapat pesan lagi dari Sugeng, yang mengatakan untuk bertemu di suatu tempat. Dan Sugeng pun mengirimkan lokasi yang akan menjadi tempat pertemuannya itu.
Dewi langsung keluar kamar. Hingga ia berpapasan dengan Samuel dengan kondisi wajah yang pucat pasi karena panik. Dan menyerahkan ponsel tersebut kepada Samuel.
....
Dewi masih menunggu Sugeng di tempat itu. Beberapa kali Dewi mengumpat kesal karena sudah lebih dari setengah jam ia menunggu, akan tetapi pria tersebut tak menampakkan batang hidungnya juga.
"Dimana dia? Awas saja jika dia sampai mempermainkan ku, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri," tukas Dewi sembari melirik jam tangannya.
Tak lama kemudian, ia melihat Sugeng yang tampak dengan santai berjalan menghampiri Dewi. Sementara Dewi, yang sedari tadi menunggunya bak orang yang kebakaran jenggot.
"Kamu sengaja mempermainkan ku?" geram Dewi.
Sugeng terkekeh mendengarkan ocehan Dewi. "Aku senang melihat Nyonya kesal seperti ini," ujar Sugeng sembari tertawa mengejek.
"Tutup mulutmu!! Kenapa kamu mengirimkan foto itu pada Arumi? Apakah kamu bosan hidup?" ancam Dewi.
"Ya ... Anggap saja seperti itu. Aku bahkan tidak segan-segan membongkar semua kejahatan yang telah kamu lakukan pada Pak Fian. Dimana kecelakaan itu bukanlah murni kecelakaan. Sebelumnya Pak Fian tidak langsung meninggal karena kecelakaan itu. Namun, kamu lah yang menusuk dadanya menggunakan serpihan kaca hingga Pak Fian meregang nyawa," tukas Sugeng.
"Beruntung aku hanya mengirimkan foto Pak Fian saja. Bagaimana jika video ini yang ku kirimkan kepadanya," ancam Sugeng memperlihatkan ponselnya, dimana saat itu Dewi tengah menghujam dada Fian berkali-kali di tempat terjadinya kecelakaan tersebut.
Ujung jemari Dewi menjadi dingin seketika. Matanya membulat karena sadar saat itu Sugeng sempat merekam perbuatannya.
"A-apa yang kamu inginkan?!" Seru Dewi dengan nada yang tampak bergetar. Wanita itu benar-benar ketakutan kejahatannya di bongkar oleh Sugeng saat itu juga.
"Seperti biasa ... Nyonya pasti mengerti keinginanku," ujar Sugeng.
Dewi mengambil ponselnya. Ia membuka m-banking dari ponselnya, lalu kemudian mengirimkan sejumlah uang ke rekening yang sebelumnya.
Dewi memperlihatkan ponselnya pada Sugeng. "Aku telah mentransfer uang sebesar satu tiga ratus juta untukmu. Ku rasa itu sudah lebih dari cukup!" geram Dewi.
"Hanya tiga ratus juta?" ujar Sugeng dengan nada yang mengejek.
"Baiklah. Aku anggap ini sebagai awalnya saja. Aku akan menagih sisanya nanti," ucap pria itu terkekeh kecil. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Lalu kemudian pergi dari hadapan Dewi.
Ia mengambil ponselnya, mencoba untuk menghubungi salah satu dari daftar kontak yang ada di ponsel pintarnya itu.
"Indra, bisakah kamu membantuku untuk membunuh seseorang?" ujar Dewi penuh dengan penekanan. Terlihat kilatan penuh amarah di manik matanya, mengikuti arah pandang Sugeng yang baru saja pergi meninggalkannya.
"Membunuh?" Tanya Indra dari seberang telepon.
"Iya. Apakah kamu bisa membantuku?"
Terdengar suara gelak tawa dari seberang telepon. "Maafkan aku, Tante. Untuk kali ini, aku tidak bisa membantumu. Jika kamu berhasil memberikan perusahaan kepadaku, mungkin aku bisa membantu. Tapi ... Untuk kali ini, aku belum ingin terlibat apapun padamu. Apalagi sekarang, Arumi sudah mulai curiga padamu karena ketahuan masuk ke dalam ruang kerja itu," ujar Indra.
Dewi mendengkus kesal. Ia langsung mematikan sambungan teleponnya. "Sialan! Rupanya kalian semua hanya memperalatku saja. Lihat saja, aku tidak akan biarkan semua orang meremehkanku!" geram Dewi.
Di waktu yang bersamaan, Indra tengah bersantai di ruang tengah. Kali ini pria itu tidak sendirian, melainkan sedang bersama dengan Roy, kekasih Dewi.
"Sepertinya tanteku sedang sangat pusing. Dia bahkan tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri," ujar Indra seraya menyesap kopi yang ada di hadapannya.
"Memangnya kali ini siapa lagi yang hendak ia bunuh?" tanya Roy.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Mungkin seseorang yang juga memegang rahasia besarnya," timpal Indra sembari mengendikkan bahunya.
"Bagaimana? Apakah begitu sangat menyenangkan menjadi teman ranjang tanteku?" tanya Indra sembari tersenyum penuh arti.
"Apakah Tuan menginginkan jawaban yang jujur atau yang tidak menyinggung sama sekali?" Roy balik bertanya.
Indra pun terkekeh mendengar ucapan Roy. "Tanpa kamu menjawabnya, aku juga sudah tahu kemana arah ucapanmu itu. Kamu tidak perlu merasa tidak enak kelak aku akan tersinggung, karena memang aku memberikanmu padanya hanya sebagai umpan saja," tutur Indra.
"Sepertinya kakimu akan benar-benar cacat," ujar Indra lagi sembari melirik ke arah kaki Roy.
"Ya ... ini semua demi memenuhi keinginannya," keluh Roy.
"Jika memang dia berhasil mendapatkan dokumen penting perusahaan, segera rebut dari tangannya. Terserah kamu merebutnya dengan cara apapun bahkan membunuhnya sekali pun," tukas Indra.
Roy mengernyitkan keningnya. Ia tidak menyangka dengan ucapan yang baru saja Indra lontarkan. "Bukankah Dewi adalah tante Tuan? Mengapa Tuan ingin menghabisinya?" tanya Roy yang tampak penasaran.
"Tidak ada istilah saudara dalam bisnis. Lagi pula, dia juga menjalankan aksi licik juga. Berpura-pura baik dan mengasuh anak yang bukan anak kandungnya, hanya untuk melancarkan tujuannya untuk memiliki harta mantan suaminya. Namun, sayangnya ... dia hanya kebagian separuhnya saja. Karena sebagian besar bahkan perusahaan di wariskan pada Arumi," tutur Indra panjang lebar.
"Bahkan Dewi lah yang menyebabkan Arumi sakit-sakitan. Ia sengaja memasukkan obat-obat yang di dalamnya terkandung zat karsinogen ke dalam makanan Arumi. Kamu tahu zat ini sangat berbahaya dan dapat memicu pertumbuhan kanker," lanjut Indra sembari terkekeh.
"Lihatlah kelakuan tanteku? Bukankah ia benar-benar biadab?" Indra kembali tertawa kencang.
"Musuh sesungguhnya seorang penjahat ialah penjahat yang lainnya. Tanteku ... dia memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan namanya yang indah itu," Indra menyeringai, menyunggingkan senyum iblisnya.
Bersambung ...