Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 53. Pria 500 Juta


Fahri berjalan keluar untuk mengangkat telepon dari seseorang. Setelah mengusap layar, pria itu pun menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Apa sudah beres semuanya?" tanya Fahri pada seseorang dari balik telepon tersebut.


"Tolong usahakan tidak ada yang tahu tentang ini, atau dia akan membunuhku," lanjut pria tersebut.


Sejenak Fahri melihat ke arah Arumi dari balik dinding kaca. Tampaknya gadis tersebut tengah melamunkan sesuatu.


"Tidak. Sepertinya dia tidak mencurigaiku. Aku harap dia akan tetap seperti itu sampai tiba saatnya dia harus mengetahui semuanya," ujar Fahri lagi.


Setelah cukup lama berbincang pada seseorang yang ada di seberang telepon, Fahri pun segera menutup panggilannya, lalu kembali masuk ke dalam resto tersebut.


Sementara Arumi, gadis itu melamunkan tentang Fahri yang memang seakan berkaitan dengan kejadian tadi malam yang menimpanya.


Fahri kembali berjalan melewatinya. Aroma dari parfum tersebut tampak sangat jelas dan sama dengan aroma parfum yang dikenakan oleh pria bertopeng yang menyerangnya semalam.


"Apakah memang dia orangnya? Jika memang benar, apa alasannya datang ke rumah dan menyerangku seperti itu?" batin Arumi.


Fahri cukup lama memperhatikan Arumi. Pria tersebut menatap Arumi dengan seksama. "Apa yang ingin kita bahas? Mengapa kamu melamun?" tanya Fahri penuh selidik.


"Ah, tidak. Aku hanya sedikit memikirkan sesuatu," ucap Arumi.


Fahri mengangguk pelan. "Lalu apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Fahri.


Arumi semakin menaruh curiga pada Fahri. Apalagi pria tersebut bahkan tak merasa heran dengannya yang mengenakan penutup wajah seperti ini.


"Bisakah kita mulai?" tanya Fahri yang melihat Arumi sedari tadi tak mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan.


"Aku ingin bertanya padamu, kamu menyukai warna apa? Dekorasi dengan konsep yang bagaimana? Agar aku mudah untuk mencocokkannya," papar Arumi.


Fahri tampak berpikir sejenak sembari melipat kedua tangannya di depan. "Aku adalah pria 500 juta mu. Apapun yang kamu inginkan, aku akan menurutinya karena aku telah dibeli olehmu," tutur Fahri.


"Iya benar. Kamu adalah pria yang ku beli. Dan tidak seharusnya untuk kamu mengkhianatiku. Baik itu sekarang ataupun nanti," sindir Arumi. Ia benar-benar sangat mencurigai Fahri.


Mulai dari postur tubuh, aroma parfum, hingga kaki yang berjalan sedikit pincang. Semua kemiripan ada pada pria tersebut.


Mendengar penuturan dari Arumi membuat Fahri tertawa keras. "Entah mengapa kamu berpikir bahwa aku mengkhianatimu?" tanya Fahri sembari terkekeh geli.


"Bisa saja seperti itu. Bukankah sekarang banyak manusia yang layaknya kacang lupa kulit. Aku harap kamu hanya menuruti ucapanku. Bukan ucapan orang yang ada di luaran sana," tukas Arumi.


Mendengar hal tersebut, wajah Fahri berubah muram. Ia mengernyitkan keningnya, merasa sedikit tersinggung atas penyampaian gadis yang ada di hadapannya.


"Baiklah. Aku memang pria yang sudah kamu beli. Dan aku tidak memiliki harga diri akan hal itu. Namun, satu hal yang harus kamu ketahui. Meskipun aku seperti tak punya harga diri, tetapi aku juga bisa menolak apapun yang tidak aku sukai, jika itu memang bertolak belakang dengan prinsip ku," tegas Fahri. Pria itu mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Dan satu hal lagi. Bukankah pernikahan kita ini hanya sekedar pernikahan yang saling menguntungkan? Kamu mendapatkan posisimu dan aku mendapatkan bayaran. Ku harap, kamu tidak menginginkan sesuatu yang lebih dari itu," ujar Fahri yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Arumi.


Sementara Arumi hanya mendengkus saat mendengar rentetan kalimat yang diucapkan oleh Fahri. Gadis itu meraih gelas air putih yang ada di hadapannya lalu meminumnya beberapa tegukan.


"Jika seperti itu, lalu bagaimana dengan aku? Aku bahkan mengharapkan hati seseorang yang ingin mencelakaiku," gumam gadis tersebut dengan nada yang bergetar.


...----------------...


Sifa masih memakai seragam kerjanya. Gadis itu menghadang taksi, tak pulang ke apartemennya, melainkan langsung menuju ke rumah Aldo. Saat mendengar Aldo sakit, Sifa menjadi sangat merasa khawatir.


"Halo..." terdengar suara berat dari seberang telepon.


"Sayang, aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumahmu," ujar Sifa.


"Nanti kamu masuk saja. Sudah tahu kan password-nya."


"Iya. Apakah kamu ingin makan sesuatu?" tanya Sifa.


"Belikan aku apa saja. Pasti akan ku makan," ujar Aldo dari seberang telepon.


Setelah mendengarkan jawaban dari Aldo, Sifa pun mematikan sambungan teleponnya. "Pak, tolong stop di sana, saya ingin membeli sesuatu," ujar Sifa kepada supir taksi tersebut.


"Baik, Bu."


Supir taksi itu pun berhenti. Sifa langsung membayar tagihan taksinya, dan kemudian langsung berjalan masuk menuju ke kedai yang menjual soto ayam. Karena kedai inilah yang pertama kali ia temukan.


Sifa memesan soto ayam tersebut. Sembari menunggu pesanannya, wanita itu membuka ponselnya. Ia mencoba mengecek laman media sosialnya.


Namun, entah kenapa jarinya tergerak untuk mengetikkan username akun yang biasa dipakai oleh mantan suaminya. Di sana terlihat beberapa foto Fahri yang lama, bahkan pria tersebut tidak memperbarui foto lagi setelah beberapa bulan sebelum bercerai dengan Sifa.


Tersisa hanya beberapa foto pemandangan ataupun benda yang pernah dipotret oleh suaminya. Sifa menggulir layar ponselnya. Tak ada satu pun foto Fahri ataupun foto Sifa. Fahri sudah menghapus semua yang berkaitan tentang kenangan ataupun cinta mereka.


Mendapati kenyataan tersebut, entah kenapa membuat Sifa sedikit merasa kecewa. Fahri tampaknya sudah benar-benar melupakan dirinya.


"Apakah secepat itu? Bahkan perceraian kita belum sampai satu bulan. Apakah kamu melupakanku secepat itu?" gumam Sifa.


Matanya mengabur menatap layar ponsel miliknya. Tak lama kemudian, setetes air mata pun jatuh. Dengan cepat Sifa menyeka air matanya.


Soto ayam yang ia pesan sudah siap. Sifa pun langsung membayarnya, lalu kemudian kembali menghadang taksi.


Cukup lama ia berdiri di pinggir jalan untuk menghadang taksi yang lewat, akan tetapi tak satu pun taksi yang berhenti.


"Duh, kenapa susah sekali," gumam Sifa.


Di waktu yang bersamaan, Arumi tengah mengemudikan mobilnya. Dari kejauhan, ia melihat Sifa yang tengah berdiri di pinggir jalan. Gadis itu pun langsung memberhentikan mobilnya.


"Sedang apa di sini?" tanya Arumi setelah menurunkan kaca mobilnya.


"Menunggu taksi," timpal Sifa seraya tersenyum ramah. Ia menunjukkan sisi ramah-tamah tersebut karena dirinya yang sering bertemu Arumi. Dan Arumi adalah salah satu konsumennya.


"Naiklah! Aku akan mengantarkanmu," tawar Arumi.


"Tidak usah, Nyonya. Saya tidak ingin merepotkan," ujar Sifa yang mencoba menolak ajakan Arumi.


"Ayolah! Aku tidak menerima penolakan. Lagi pula kebetulan aku butuh teman untuk mengobrol saat mengemudi. Dan kamu bisa menemaniku walaupun itu sejenak," ucap Arumi.


"Baiklah."


Sifa pun langsung masuk ke dalam mobil. Ia memakai sabuk pengamannya, lalu kemudian Arumi pun mulai melajukan kendaraan roda empat tersebut.


Bersambung ....