
"Syukurlah jika kamu merasa baik. Kalau begitu, datang ya nanti ke acara pernikahanku. Bukankah aku juga datang waktu itu ke acara pernikahanmu," ujar Sifa.
"Mas, nanti kita datang ya. Lagi pula, tidak ada salahnya datang ke acara pernikahannya mantan," tutur Arumi.
Sifa tertegun dengan panggilan Arumi pada Fahri. Ada rasa tidak ikhlas saat melihat keduanya yang tampak baik-baik saja. Dan itu sangat membuat Sifa merasa dongkol. Tujuannya datang kemari agar Fahri merasa tersakiti akan kabar pernikahan ini. Namun, kenyataannya pria itu seakan tak peduli sedikit pun.
"Apakah ada hal lain lagi yang ingin kamu sampaikan? Jika tidak, kamu harus melanjutkan pekerjaan kami yang tertunda. Bukan bermaksud untuk mengusir ya ...," ucap Arumi. Gadis itu tersenyum samar seraya menatap Sifa.
Sifa mendengkus kesal saat menyadari bahwa Arumi yang saat ini tengah mengejek dirinya. "Baiklah. Kebetulan aku juga sangat sibuk karena mempersiapkan untuk menjelang acara nanti," ujar Sifa yang mulai berdiri dari tempat duduknya.
"Ku harap kalian benar-benar datang ke acara ku nanti," lanjutnya.
Sifa pun melenggang pergi meninggalkan tempat tersebut. Arumi yang melihat gaya Sifa selangit membuat gadis itu hendak muntah. "Gaya selangit tetapi ekonomi sulit," ujar Arumi dalam hatinya memperhatikan Sifa yang berjalan meninggalkan ruangannya.
"Bahkan setelan dari atas hingga ke bawah, aku dapat menebaknya jika semua itu adalah barang tiruan," ucap Arumi lagi di dalam hati.
Arumi mengarahkan pandangannya pada Fahri yang tampaknya tengah memikirkan sesuatu. "Ada apa?" tanya Arumi menatap Fahri penuh selidik.
"Tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan pekerjaan yang tertunda," ujar pria itu yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Fahri dan Arumi membereskan bekas bungkus makanan yang ada di meja tersebut. Setelah itu, keduanya pun langsung melanjutkan tugas yang sempat tertunda oleh makan siang tadi.
Sifa menggeram kesal. Beberapa kali ia menghentakkan kakinya, melihat Arumi yang selalu saja menyindirnya di depan Fahri. Sedangkan Fahri, pria itu hanya diam saja. Seakan membenarkan sikap yang diperlihatkan Arumi tadi kepadanya.
Wanita itu menghadang taksi yang lewat, lalu kemudian masuk ke dalam taksi itu untuk pulang ke rumah.
Cukup lama Sifa berada di perjalanan, akhirnya ia pun tiba di rumahnya. Sifa berjalan masuk ke dalam huniannya, melihat Kartika yang berada di dalam rumah. Kartika sadar akan kedatangan anak gadisnya itu. Ia menatap Sifa dengan lekat.
"Dari mana saja kamu?" tanya Kartika.
"Memberikan undangan pernikahan kepada temanku," ucap wanita tersebut.
"Sifa, sebentar lagi adalah hari pernikahanmu. Kalau bisa, tidak usah keluar rumah dulu. Takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," ujar Kartika memberikan nasihat pada putrinya itu.
"Baik, Ma." Sifa menimpali ucapan ibunya.
...****************...
Hari pernikahan Sifa pun tiba. Wanita itu akan melangsungkan resepsi pernikahannya di sebuah hotel walaupun tak semewah hotel yang di sewa oleh Arumi waktu itu.
Sifa terlihat cantik dengan mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Ia menatap dirinya di depan cermin, lalu kemudian mengulas senyumnya.
Entah mengapa, tiba-tiba Sifa kembali mengingat pernikahan di mana saat itu Fahri mengucapkan janji suci pernikahan di depan penghulu.
Tak lama kemudian, ibunya datang melihat anaknya yang baru saja selesai di rias. Kartika pun tersenyum sembari memeluk tubuh Sifa
"Kamu sangat cantik hari ini, Nak." Kartika memuji Sifa.
Sifa hanya mengulas senyumnya, mendengar ucapan pujian dari ibunya itu.
"Ayo bersiap, Nak. Semua orang sudah menunggu. Aldo juga sudah menghadap penghulu. Sekarang giliran kamu menampakkan dirimu," ucap Kartika.
Kartika pun membawa anaknya keluar. Ada cukup banyak tamu undangan yang hadir. Perlahan, Sifa melangkah menghampiri calon suaminya, lalu kemudian duduk bersebelahan dengan Aldo.
Aldo juga tampak sangat gagah dengan balutan tuxedo yang berwarna senada dengan gaun pernikahan yang dikenakan oleh Sifa. Pria itu terpana melihat Sifa yang terlihat begitu cantik hari ini.
"Bisa kita mulai?" tanya penghulu.
Kedua pengantin itu pun mengangguk setuju. Aldo menjabat tangan penghulu, mengucapkan kalimat yang merupakan janji suci di hadapan penghulu.
Setelah saksi berucap kata 'sah' senyum Aldo pun mulai mengembang. Ia menatap wanita yang ada di sampingnya. Yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Pria itu mengambil cincin pernikahan mereka, lalu kemudian menyematkannya di jari manis Sifa. Sifa pun melakukan hal yang sama. Ia menyematkan cincin di jari Aldo.
Aldo mengecup kening Sifa cukup lama. Membuat gadis itu kembali menitikkan air matanya. Bukan karena ia merasa terharu akan perlakuan aldo padanya, melainkan Sifa tanpa sengaja melihat keberadaan Fahri yang ada di tempat itu.
Mata Fahri tertuju pada Sifa. Ia melihat semua proses akad nikah mantan istrinya itu. Arumi yang saat itu ada di sampingnya mencoba untuk tetap menggenggam erat tangan suaminya.
Arumi mencoba untuk mengerti semua ini. Mungkin Fahri belum benar-benar melupakan istrinya. Apalagi pria itu menyaksikan mulai dari awal hingga proses akad nikah itu berlangsung.
Aldo melihat istrinya masih menitikkan air mata. Ia pun mencoba untuk mengikuti arah pandangan Sifa saat ini. Dan pria itu menemukan jawabannya.
Ada Fahri yang juga menatap ke arah istrinya. Pria itu tak menitikkan air mata, akan tetapi Fahri hanya menatap ke arah Sifa dengan tatapan kosongnya.
"Mas ...." Arumi mencoba berbisik tepat di telinga Fahri.
"Aku tidak sedih, Istriku. Aku sudah merelakannya sejak saat dimana ia menghancurkan hatiku. Namun, masih ada serpihan yang masih terasa menusuk di dada ini. Maafkan aku," ucap Fahri yang juga berbisik kepada Arumi.
"Mas, Aku siap menunggu sampai kamu benar-benar sembuh dari luka masa lalu mu. Aku sengaja membawamu kemari bukan karena aku tega. Aku hanya ingin kelak kamu terbiasa," tutur Arumi dengan lembut.
Fahri semakin menggenggam erat tangan istrinya. Ia mengecup punggung tangan Arumi berkali-kali. Sembari merutuki dirinya sendiri. Mengapa ia selalu menyakiti hati Arumi? Mengapa bisa Arumi se-sabar itu menghadapinya? Gadis yang terlihat keras di luar namun memiliki hati selembut kapas.
Dari sini, Fahri bisa menilainya. Cinta yang Arumi berikan sama besarnya saat ia memberikan cintanya pada Sifa dulu. Dan Fahri pun mulai berpikir, untuk membalas cinta itu. Karena bagaimana pun juga rasa sakit yang ia derita dulu begitu perih. Mungkin itulah yang dirasakan oleh Arumi saat ini. Memberikan cinta yang tak terhingga untuk seseorang yang belum benar-benar sembuh dari masa lalunya.
Bersambung ....