Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 120. Sangat Manis


Setelah cukup lama berbincang dengan Kartika. Aldo pun berpamitan untuk pulang. Pria tersebut berjalan menuju ke parkiran sembari mengedarkan pandangannya.


Aldo merogoh ponsel di dalam sakunya, lalu mencoba untuk menghubungi salah seorang yang ada di dalam daftar kontaknya.


"Kamu dimana?" tanya Aldo berbincang pada seseorang diseberang telepon.


"Tolong carikan aku seorang wanita. Tangkap dia dan berikan padaku dalam keadaan hidup. Nanti akan ku kirimkan fotonya padamu," ujar Aldo.


"Kamu tenang saja, akan ku beri secara cuma-cuma barang itu asalkan kamu berhasil menemukannya," ujar Aldo.


Sesaat kemudian, Aldo pun memutuskan panggilan teleponnya. Pria itu langsung masuk ke dalam mobil, dan melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.


....


Fahri baru saja pulang dari kantor. Mengendarai jalanan sore yang cukup lenggang menuju ke rumahnya. Pria tersebut singgah lagi di tempat penjual buah. Mengingat istrinya yang akhir-akhir ini sangat mudah lapar, menambah nutrisi untuk sang ibu hamil itu dengan banyak-banyak mengkonsumsi buah.


"Seperti biasa ya, Bu." Fahri berbincang pada penjual buah tersebut.


Penjual buah itu pun mengangguk paham, karena tahu bahwa Fahri sering datang dan berbelanja di tempat tersebut.


Setelah penjual tersebut selesai mewadahi semua buah yang dipesan oleh Fahri, pria itu pun langsung membayar buahnya.


"Uangnya terlalu banyak, Nak." Penjual buah tersebut sempat tertegun karena Fahri yang melebihkan uangnya.


"Tidak apa-apa, Bu. Itu rejeki untuk ibu dari saya," ujar Fahri.


"Terima kasih banyak, Nak. Semoga selalu murah rejeki serta diberikan kesehatan dan keselamatan sekeluarga," ujar penjual tersebut.


"Aamiin. Terima kasih do'a baiknya, Bu."


Fahri kembali masuk ke dalam mobilnya. Ia kembali melajukan kendaraan tersebut menuju jalanan.


Setelah cukup lama menyusuri jalanan sore itu, mobil yang dikendarai Fahri pun tiba di pekarangan rumahnya. Pria tersebut langsung turun sembari membawa sekantong plastik besar yang berisi beberapa macam buah-buahan.


Fahri masuk ke dalam rumah. Ia melihat Arumi yang saat itu tampak kesal dan berbicara sendiri. Fahri pun mengernyitkan keningnya. Ia menghampiri sang istri yang tengah memainkan sebuah permainan di dalam ponselnya. Dengan sesekali menggerutu.


Senyum di wajah Fahri pun terbit. Entah mengapa ia menebak bahwa anak yang tengah dikandung oleh istrinya itu bergender laki-laki.


Arumi kembali menggerutu, membuat Fahri yang sedari tadi berada di belakang, memperhatikan istrinya itu pun hanya terkekeh mendengar racauan Arumi.


Arumi yang baru saja sadar ada seseorang di belakangnya, ia pun langsung menoleh.


"Mas Fahri, ..."


Fahri tersenyum, tangannya terulur mengusap puncak kepala istrinya itu. Arumi pun beranjak dari tempat duduknya, mengucilkan ponsel yang ada di tangannya lalu berhambur ke pelukan Fahri.


"Mas Fahri sedari tadi melihat aku berbicara pada ponsel?" tanya Arumi dengan manja. Sejak hamil, Arumi lebih sering bersikap manja dan manis terhadap suaminya itu.


"Iya, Sayang." Fahri menimpali seraya terkekeh geli.


"Lain kali jangan seperti itu, Mas. Mas Fahri membuatku malu saja," ujar Arumi menyembunyikan wajahnya di dada bidang Fahri.


Arumi tanpa sengaja menyenggol kantong plastik yang di bawa oleh Fahri. "Ini apa, Mas?" tanya wanita itu sembari mendongakkan kepalanya.


"Ini buah, Sayang."


Arumi langsung mencebikkan bibirnya, lalu kemudian menggelengkan kepalanya perlahan.


"Aku bosan makan buah terus, Mas." Wanita itu bersedekap sembari berwajah murung.


"Kenapa Sayang? Buah kan bagus untuk tubuh kamu. Apalagi saat mengandung, kamu harus banyak-banyak memakan makanan yang sehat," ucap Fahri.


"Aku mau es krim, Mas. Semenjak aku hamil, mas selalu saja melarangku menyetok es krim lagi di kulkas," gerutu Arumi.


Fahri menggelengkan kepalanya, membuat Arumi kembali mencebikkan bibirnya.


"Sayang, kalau kata orang-orang, ibu hamil ingin makan sesuatu jangan dilarang, nanti pas besar air liur anaknya akan terus menetes," tutur Arumi yang mencoba membujuk suaminya itu. Sesekali wanita tersebut memainkan puppy eyes nya.


Fahri terkekeh. Ia menyerah menatap istrinya yang semakin menggemaskan. Pria itu pun mengecup bibir sang istri berulang kali, membuat Arumi beberapa kali memukul lengan Fahri karena sedikit merasa risih.


"Berhubung Mas sudah menciumiku beberapa kali, berarti tandanya Mas mengizinkan aku makan es krim. Jadi ... Mas harus membelikan es krim untukku!" ancam Arumi yang memanfaatkan kesempatan yang ada.


Fahri mencubit pelan hidung Arumi dengan gemas. "Kamu memang sangat pandai dalam bernegosiasi. Baiklah, nanti malam kita akan membeli es krim," ucap Fahri.


"Iyes!!" Arumi bersorak senang, bak anak kecil yang baru berusia lima tahun.


Malam harinya, Fahri pun menepati janjinya pada sang istri. Pria tersebut membawa istrinya ke salah satu toserba terdekat. Membiarkan istrinya itu membeli es krim seperti apa yang ia inginkan.


"Sayang, jangan banyak-banyak nanti makan es krim nya," tegur Fahri yang melihat Arumi mengambil begitu banyak es krim, lalu kemudian memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan.


"Iya, Mas. Buat stok di rumah. Aku makannya tidak banyak-banyak. Hanya sedikit saja," ujar Arumi sembari memperagakan jumlah yang sedikit menggunakan jemarinya.


Setelah dirasa cukup, Arumi pun membawa keranjang belanjaannya itu ke meja kasir. Seusai melakukan transaksi pembayaran, kedua pasangan suami istri itu langsung kembali masuk ke dalam mobil.


"Mau langsung pulang, atau jalan-jalan ke taman dulu?" tanya Fahri.


"Mau jalan-jalan ke taman. Tapi ... nanti es krimnya mencair kalau tidak langsung dimasukkan ke lemari pendingin," lirih Arumi.


"Berarti langsung pulang saja?" tanya Fahri.


Arumi menganggukkan kepalanya. "Ke tamannya kita tunda dulu saja, Mas. Malam ini kita ke rumah kaca saja. Sekalian duduk di sana sembari makan es krim," ujar Arumi memberikan usul.


"Baiklah," ucap Fahri setuju.


Pria itu pun menghidupkan mesin mobilnya. Melajukan kendaraan tersebut untuk kembali ke rumah.


Saat di perjalanan, Arumi sibuk memakan es krimnya. Wanita itu tampak sangat senang karena telah diperbolehkan oleh Fahri untuk memakan makanan yang satu ini.


"Mas mau mencobanya?" tanya Arumi.


Fahri tersenyum lalu kemudian menganggukkan kepalanya.


Arumi pun menyodorkan es krim ke mulut suaminya. Menyuapi es krim untuk sang suami dengan hati-hati karena saat itu Fahri tengah mengemudi.


"Enak, Mas?" tanya Arumi.


"Hmmm ...," timpal Fahri sembari menyeka es krim yang tertinggal di sudut bibirnya.


"Ini varian coklat, tapi aku lebih suka yang oreo," ujar wanita tersebut seraya kembali memakan ice cone yang ada di tangannya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai oleh Fahri pun tiba di rumah. Arumi langsung turun dari mobil tersebut sembari membawa kantong plastik belanjaannya.


Fahri yang melihat hal tersebut langsung mengambil alih kantong plastik yang ada di tangan sang istri. "Sini biar mas saja yang membawanya," ujar Fahri.


"Tapi ini tidak berat, Mas."


"Jangan menolak! Mas tidak mau kamu kelelahan karena ini," sergah Fahri.


"Lebih baik genggam tangan Mas saja," lanjut Fahri.


Arumi terkekeh. Ia pun langsung menautkan tangannya di sela jemari sang suami. "Ahh ... manisnya," gumam Arumi sembari berjalan dengan langkah yang sama.


Bersambung ...