Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 60. Berada Di Kapal Yang Sama


Keesokan harinya, Samuel tengah menikmati sarapan bersama Arumi. Sejak adanya seseorang yang menyerang Arumi malam itu, membuat Samuel memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Arumi.


Gadis itu tak mempermasalahkan hal tersebut. Lagi pula bukan hanya sekali atau dua kali Samuel bermalam di tempatnya, bahkan berkali-kali. Kamar tamu sudah seperti kamar pribadi bagi Samuel.


Samuel menatap Arumi yang saat ini tengah memotong makanan yang ada di atas piring. Suara gesekan pisau dan piring yang digunakan untuk memotong makanannya itu, terdengar sangat nyilu di gigi. Di tambah dengan ekspresi gadis tersebut yang terlihat sangat kesal dan seakan-akan ingin membelah piring itu dengan pisau yang ada di tangannya.


"Hei ... apakah kamu seorang psikopat? Gesekan pisau itu terdengar begitu nyilu di gigiku," tegur Samuel seraya mendengus kesal.


"Sam, sebaiknya kamu diam saja!" tukas Arumi.


"Bagaimana aku harus diam? Di sini tidak hanya telingaku saja yang menjadi korban, tetapi gigiku juga. Setiap goresan yang kamu buat di piringmu, membuat aku selalu menggertakkan gigi karena nyilu," protes Samuel.


Arumi meletakkan peralatan makannya. Lalu kemudian menatap Samuel dengan tajam. "Kalau begitu kamu pulang saja sana!!" seru Arumi.


Samuel berpura-pura tidak mendengar ucapan gadis yang ada di hadapannya. Ia sibuk menyantap makanannya tanpa harus memperhatikan Arumi lagi.


"Entahlah. Mungkin dia sedang kedatangan tamu bulanan, atau pria itu membuatnya merajuk lagi," batin Samuel.


Arumi kembali mengambil pisau dan garpunya, menyantap sarapannya itu setelah merasa tenang. Karena Fahri, gadis itu menjadi uring-uringan. Ia selalu saja marah tak jelas dan bahkan siapapun yang memprotesnya, akan kena imbasnya pula.


"Rencananya, kapan waktu untuk mengambil kembali perusahaan?" tanya Samuel.


"Apakah setelah kamu menikah dengan Fahri?" lanjut pria tersebut.


"Aku akan mengambil alih perusahaan sehari sebelum menjelang pernikahan. Aku juga akan mengumumkan pernikahan ku secara mendadak, takut saja jika yang lainnya akan merencanakan sesuatu yang diluar dugaan lagi," papar Arumi.


"Selama beberapa hari ini, kamu carilah kelemahan yang dimiliki oleh Indra. Dan buat pria itu tak berkutik lagi," tukas Arumi.


.....


Matahari siang itu begitu terik. Arumi berada di sebuah cafe X tempat ia membuat janji dengan Aldo. Gadis itu sudah tiba terlebih dahulu, ditemani dengan secangkir minuman yang telah tersaji di hadapannya.


Tak lama kemudian, mata Arumi menangkap Aldo yang saat itu membawa mobilnya. Pria tersebut turun dari mobil, dengan memakai tongkat untuk menuntun jalannya.


Kening Arumi langsung mengernyit. Gadis itu menatap langkah Aldo dengan seksama yang menuju ke arahnya.


"Kaki kirinya juga pincang? Apa ini? Kenapa hampir sama dengan Fahri?" batin Arumi.


Aldo menarik kursi yang ada di hadapannya. Lalu kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi tersebut. "Ada perlu apa kamu ingin menemuiku?" tanya Aldo menatap Arumi tampak tak suka.


Arumi menjengit, ia pun menopang dagu dengan kedua tangannya. "Ada apa? Mengapa kamu sepertinya sangat takut melihatku?" tanya Arumi penuh selidik.


"Takut? Cih, yang benar saja!" tukas Aldo seraya membuang wajahnya.


"Bukankah hal yang kamu inginkan sudah tercapai? Mereka bercerai dan kamu akan segera menikah dengan pria itu. Kenapa kamu masih mengusik Sifa?" tanya Aldo dengan geram. Ia benar-benar marah karena Arumi masih saja mendekati Sifa.


Aldo menangkap satu hal dari ekspresi wajah Sifa saat ia ajak untuk menikah. Sifa banyak melamun dan seolah bahwa ia menyesal karena telah bercerai dari Fahri. Hal itu lah yang membuat Aldo sangat marah.


"Bukankah wanita itu sangat mencintaimu sampai dia membuang suaminya sendiri. Jika memang benar, apa yang perlu kamu takutkan?" timpal Arumi dengan enteng.


"Kamu memang bodoh! Kita berada dalam kapal yang sama. Jika pria itu tahu, kalau kamu adalah dalang dari hancurnya rumah tangga mereka, ku rasa kamu juga akan berada di posisi tersulit," ujar Aldo sedikit memberikan peringatan pada Arumi.


Gadis itu terdiam. Apa yang dikatakan oleh Aldo memang benar adanya. Jika semuanya terbongkar, sudah pasti Fahri akan sangat membenci dirinya.


"Ada apa dengan kakimu?" tanya Arumi menaikkan alisnya sebelah.


Aldo terkekeh mendengar pertanyaan Arumi. "Aku tidak menyangka jika kamu terlalu perhatian padaku," ujar Aldo.


Arumi melipat kedua tangannya di depan. "Aku hanya sedikit peduli," ucap Arumi menyunggingkan senyumnya.


Aldo memajukan tubuhnya. Pria itu sedikit mendekat. "Apakah kamu benar-benar penasaran akan hal itu?" tanya Aldo seraya menyunggingkan senyum liciknya.


Raut wajah Arumi langsung berubah. Melihat seringaian iblis itu, membuat Arumi ingin mencekik leher Aldo saat itu juga.


Tak lama kemudian, ponsel Aldo berdering. Pria tersebut langsung mengangkat panggilan itu seraya menatap Arumi.


"Sepertinya tidak ada hal penting yang kamu bicarakan. Hanya menyuruhku kemari seraya mendengarkan omong kosongmu itu. Kalau begitu, aku permisi." Aldo langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian berjalan keluar seraya tersenyum licik.


Ia menempelkan ponsel pintarnya itu ke telinga. "Halo," ujar Aldo mengangkat panggilan tersebut.


"Apakah sudah siap?" tanya pria itu masih berbicara di telepon.


"Baiklah. Aku akan segera menuju ke rumah."


Aldo langsung masuk ke dalam mobil, meninggalkan Arumi yang masih tertegun di dalam cafe tersebut.


Di waktu yang bersamaan, Arumi mengepalkan tangannya. Meskipun belum mendapatkan bukti yang kuat, akan tetapi gadis tersebut lebih mencurigai Aldo dibandingkan Fahri.


"Jika memang benar itu adalah kamu, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja!" ucap Arumi dengan geram.


....


Setelah menempuh perjalanan, Aldo pun sampai di kediamannya. Pria tersebut langsung turun dari mobilnya, melihat mobil Xpander berwarna hitam sudah terparkir di depan rumahnya.


Aldo berjalan menghampiri dua orang pria yang berdiri tak jauh dari mobil tersebut.


"Apakah barangnya aman?" tanya Aldo.


"Aman, Pak." kedua pria itu menimpali.


"Baguslah. Kita harus tetap berhati-hati walaupun barang tersebut lolos. Kalau begitu, bawa semuanya dan letakkan di gudang!" titah Aldo yang berjalan lebih dulu.


Pria tersebut meminta anak buahnya untuk menutup pintu gerbang terlebih dahulu. Supaya, tidak ada orang lain yang langsung masuk leluasa, sekalipun itu wanita yang dicintai Aldo, yaitu Sifa.


Dua orang tersebut membawa dua tas besar ke dalam gudang. Kedua pria itu meletakkan tas besar tersebut di atas meja, lalu memperlihatkan isi dari tas tersebut.


Aldo tersenyum, karena barangnya mendarat sampai ke rumah dengan selamat. Selama ini, Aldo adalah pemakai sekaligus pengedar. Dan semua barang-barang terlarang itu, ia simpan di dalam gudang ini. Gudang yang pernah dilihat oleh Sifa saat berada di rumahnya.


Aldo langsung mengambil ponselnya, mencoba menghubungi seseorang yang menjadi pemesan barang haram itu.


"Halo Pak Indra, sesuatu yang anda pesan sudah sampai. Harap untuk mentransfer uangnya, maka aku akan segera mengantarkan barangnya," ujar Aldo.


Bersambung ....