
Hari ini, Arumi dan Fahri sedang di perjalanan menuju ke rumah, setelah lima hari dirawat di rumah sakit, wanita itu pun diperbolehkan untuk pulang oleh dokter.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, mobil yang dikendarai oleh Fahri pun tiba di rumah. Fahri langsung turun dari kendaraan tersebut, lalu kemudian berjalan menuju sisi pintu sebelahnya, membuka pintu mobil tersebut dan memapah Arumi keluar dari mobil.
Para pelayan dan penjaga rumah menyambut kedatangan Arumi. Tak terkecuali salah satu pelayan yang merupakan kaki tangan Dewi, wanita itu juga berada di sana dan ikut menyambut kedatangan Arumi.
Fahri membawa Arumi masuk ke dalam kamar. Mereka berpapasan dengan anak buah Dewi yang menyamar menjadi pelayan. Saat keduanya berlalu, wanita itu sempat menunduk, akan tetapi ia mengembangkan senyum iblisnya.
Setibanya di kamar, Fahri membantu Arumi untuk merebahkan dirinya. Pria itu pun membantu sang istri untuk melepaskan sandal yang dipakainya.
"Mas, kalau mau kerja, Mas Fahri bekerja saja. Aku bisa tinggal di sini dengan para pelayan yang menjagaku," ucap Arumi.
"Hari ini aku tidak akan ke kantor. Aku akan menjagamu di rumah," ujar Fahri.
"Aku sudah tidak apa-apa, Mas. Lagi pula kamu sudah cukup lama tidak berangkat ke kantor. Mungkin Doni sedikit kewalahan mengurus urusan kantor sendirian," tutur Arumi.
"Sayang, bisakah untuk tidak memikirkan hal yang lain? Kantor urusanku, jadi apapun keputusanku, ku harap kamu dapat menghargainya," balas Fahri.
Arumi tak lagi menjawab ucapan suaminya itu. Ia memilih diam sembari membiarkan Fahri berpegang teguh pada keputusannya.
TOKKK ... TOKKK ...
Terdengar suara pintu yang diketuk, Fahri dan Arumi langsung menoleh ke arah pintu, melihat seorang pelayan yang masuk sembari membawakan segelas air minum serta makan siang untuk Arumi.
Pelayan tersebut berjalan menghampiri kedua pasangan suami istri itu.
"Letakkan saja di atas meja," ujar Fahri yang masih sibuk mencari obat Arumi dari dalam tasnya.
Pelayan tersebut mengangguk, lalu meletakkan nampan yang berisi makan siang Arumi itu ke atas meja .
"Dimana kepala pelayan? Biasanya dia yang mengantarkan makanan untukku?" tanya Arumi.
"Bu Siti sedang sibuk, jadi beliau meminta saya untuk mengantarkan makanan ke sini," timpal pelayan tersebut.
"Ya sudah, kalau begitu kamu boleh pergi," ujar Arumi.
Pelayan itu pun menundukkan kepalanya, lalu kemudian pergi meninggalkan pasutri yang berada di dalam kamar tersebut.
Ia menutup pintu kamar, lalu kemudian terbitlah senyum iblis dari pelayan itu sembari melangkah pergi meninggalkan kamar tersebut.
Sepeninggal pelayan tadi, Fahri menatap istrinya. Pria itu pun menanyai sang istri kenapa bertindak seperti itu tadi.
"Kenapa kamu memperlakukannya seperti itu? Bukankah akan tetap sama jika bukan kepala pelayan yang mengantarkan makanan?" tanya Fahri.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku belum bisa mempercayai orang lain sepenuhnya," jawab Arumi.
Fahri tersenyum, lalu kemudian mengusap puncak kepala istrinya. "Bukankah pelayan itu yang membantumu? Bahkan saat ia melihat Bu Dewi yang ingin masuk ke ruang kerja papa, dia lah yang langsung menghadapi Bu Dewi untukmu," ujar Fahri.
"Jadi ... tidak ada alasan untuk kita mencurigainya, Istriku."
"Baiklah," ucap Arumi singkat.
Fahri meraih mangkuk yang ada di meja yang berada tak jauh dari tempatnya. Pria itu pun menyendokkan nasi beserta lauk, lalu menyuapkannya pada sang istri.
"Makanlah, setelah ini minum obat dan langsung beristirahat," ujar Fahri.
Arumi pun menerima suapan dari suaminya itu. Ia menyambut tiap suapan yang diberikan oleh Fahri dengan sangat lahap.
.....
Sifa tengah berada di ruang kunjungan lapas, untuk menemui suaminya, karena memang sudah hampir satu Minggu lamanya Sifa tak menjenguk Aldo.
Aldo tersenyum melihat istri yang begitu ia rindukan akhir-akhir ini. Sifa juga membalas senyuman yang dilemparkan oleh Aldo. Pria tersebut beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian memeluk suaminya dengan begitu erat.
Aldo menjauh sejenak, ia mengangkat kedua tangan yang diborgol tadi. Lalu kemudian menghampiri sang istri, menurunkan kembali tangannya, mengapit sang istri agar menempel di dada bidangnya.
"Berpelukan seperti ini membuatku lebih nyaman," ujar Aldo sembari tertawa kecil.
Sifa terkekeh, lalu kemudian mencubit pelan lengan sang suami. "Jika perutku sudah membesar, kamu tidak akan bisa melakukannya seperti ini," ucap Sifa.
"Tapi kenapa sepertinya kamu terlihat lebih kurus kali ini." Aldo menatap istrinya dengan seksama, lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Benarkah? Padahal aku sudah makan cukup banyak," gumam Sifa.
"Ah iya. Sayang bisakah kita melakukan hal yang lainnya saja? Waktu kunjungan akan habis dengan berpelukan saja. Padahal aku masih ingin melakukan banyak hal untukmu," gerutu Sifa yang memajukan bibirnya dua centi.
Aldo tersenyum, ia pun kembali mengangkat tangannya. Membiarkan Sifa lepas dari kungkungannya.
"Aku akhir-akhir ini menjual makanan yang aku posting di media sosial. Itulah alasanku jarang mengunjungimu ke sini." Sifa membuka rantang yang ia bawa satu persatu.
"Aku menjual risol mayo, terus aku juga menjual chicken katsu, dan terakhir aku juga jual chicken wings dengan taburan wijen dan saus asam, pedas, manis," ujar Sifa sembari memperlihatkan semua menu yang ia sebutkan.
"Apakah aku harus membayar makanan ini nantinya?" tanya Aldo.
"Karena kamu tampan, jadi aku berikan secara cuma-cuma untukmu," goda Sifa seraya mengerlingkan matanya.
Sifa mengambil salah satu dari makanan tersebut, lalu menyuapkannya pada Aldo. Pria itu hanya tersenyum, akan tetapi dalam hatinya menangis karena melihat istrinya yang berusaha begitu keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Kamu harus menjaga pola makanmu. Istirahat yang cukup, serta sering-sering melakukan pemeriksaan kesehatan. Hanya ini yang bisa aku katakan padamu karena aku tidak bisa menjagamu saat ini," tutur Aldo tertunduk lesu.
"Sayang, aku bisa mengerti tentang kesedihanmu. Aku pasti akan selalu menjaga kesehatanku serta anak kita. Aku melakukan pemeriksaan rutin ditemani oleh ibu. Sekarang makanlah! Tidak usah memikirkan sesuatu yang akan membuatmu bersedih," ujar Sifa sembari menggenggam tangan suaminya.
Aldo hanya mengangguk sembari menerima suapan selanjutnya dari istrinya itu.
"Kenapa rasanya enak sekali, aku menjadi tidak sabar untuk mencicipi makananmu pagi, siang, dan malam," ucap Aldo.
"Sialnya, aku harus menunggu sekitar sebelas tahun lagi," lanjut Aldo sembari tertawa meratapi nasibnya.
Sifa hanya mengulas senyum, berusaha untuk tetap menguatkan suaminya selama menjalani proses hukum. "Tunggu sebentar lagi, Sayang. Jika dijalani nanti, pasti tidak akan terasa. Aku tidak akan mengkhianatimu. Aku akan menunggu kepulanganmu bersama anak kita nanti," papar Sifa.
"Mari saling menunggu. Ku harap setelah ini akan ada hal yang indah untuk kita nantinya," ujar Aldo.
"Pasti, Sayang. Asalkan kita mau bersabar."
"Tolong sampaikan juga permintaan maafku pada ibu. Aku sangat merasa bersalah pada ibu, karena terlalu sering membohonginya. Aku berjanji, setelah ini akan ada Aldo baru yang hadir. Yaitu Aldo yang tidak akan lagi jatuh ke dalam jurang yang sama," ucap Aldo dengan begitu mantap.
Sifa menganggukkan kepala, lalu kemudian mengulas senyum.
Waktu kunjungan Sifa pun sudah habis. Wanita tersebut keluar dari ruang kunjungan. Begitu pula dengan Aldo. Kedua petugas hendak membawa Aldo. Namun, Sifa masih menyempatkan diri untuk meraih punggung tangan suaminya, lalu mengecupnya.
"Jangan patah semangat untuk berubah menjadi lebih baik, Suamiku. Aku akan selalu mendukungmu asal itu adalah jalan yang benar," ujar Sifa sembari menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan indah.
Setelah berucap demikian, Sifa pun langsung pergi.
Sesampainya di luar, Sifa menghela napasnya. Wanita itu menitikkan air mata. Ia hanya berusaha untuk tetap kuat di depan sang suami.
Sifa meraba sakunya, ia tidak lagi memiliki banyak uang seperti dulu. Kali ini wanita itu dituntut untuk pandai-pandai berhemat.
"Sayang, kita naik angkutan umum saja ya, Nak. Tidak apa-apa sedikit panas dan berdesakkan karena mama ingin menghemat untuk kita nanti," ucap Sifa sembari mengusap perutnya yang masih rata.
Bersambung ...