
Singkat cerita, hari ini Samuel datang ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA antara Arumi dan Dewi. Setelah mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit, Samuel pun langsung menuju ke tempat tersebut.
Ia menyusuri koridor rumah sakit, berpapasan dengan banyak perawat yang berlalu lalang. Serta beberapa pasien yang saat itu memang sedang berada di luar.
Tak lama kemudian, Samuel pun tiba di salah satu ruangan dokter yang memeriksa hasil tes DNA tersebut. Dokter itu tersenyum, mempersilahkan Samuel untuk duduk, lalu kemudian menyerahkan sebuah map berwarna coklat yang berisikan hasil dari tes tersebut.
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama," timpal dokter tersebut.
Samuel pun langsung pamit undur diri dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Sesampainya di depan ruangan tersebut, Samuel tak sabar membuka hasil tes tersebut.
Pria itu mengeluarkan kertas yang ada di dalam map berwarna coklat itu. Lalu kemudian membaca inti dari hasil tes DNA tersebut.
"Tidak cocok," gumam Samuel dengan mata yang membola.
"Berarti benar, Bu Dewi bukanlah ibu kandung dari Arumi. Dan Arumi adalah anak dari Tuan Fian dengan wanita lain," lanjut Samuel.
"Apakah Bu Dewi berencana ingin menyingkirkan Arumi dan mengambil semua yang ditinggalkan oleh Tuan Fian?"
Tanpa berlama-lama, Samuel pun segera pergi dari rumah sakit. Pria tersebut langsung menuju ke parkiran, mengendarai motornya menuju ke perusahaan.
Setelah cukup lama memacu kendaraannya, Samuel pun tiba di depan gedung yang menjulang tinggi. Pria tersebut langsung masuk ke dalam gedung itu, dan segera berjalan menuju ke ruangan Fahri.
Tingg ...
Pintu lift terbuka. Samuel pun melangkah keluar. Ia melihat Doni yang sedang berada di meja kerjanya. Samuel tersenyum, lalu kemudian melenggang masuk ke dalam ruangan Fahri.
Ceklekk ...
Samuel membuka pintunya, ia melihat Fahri yang tengah disibukkan dengan tumpukan dokumen di hadapannya. Pandangannya teralihkan saat mendengar suara seseorang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Samuel, ..." gumam Fahri.
"Kawan, hasil tes DNA nya sudah keluar," ujar Samuel.
Mata Fahri membulat sempurna. Ia mencoba memberikan kode pada Samuel agar tak melanjutkan ucapannya karena saat itu Arumi juga sedang berada di ruangan tersebut. Hanya saja, wanita itu memilih untuk merebahkan tubuhnya di kamar yang dibuatkan oleh suaminya itu. Terlalu lama duduk membuat pinggangnya terasa sakit.
Namun, Samuel saat itu tak menatap mata Fahri. Pria itu sibuk mengeluarkan hasil Tes DNA yang ia taruh di dalam tasnya.
"Dan kamu tahu, hasilnya apa? Arumi dan Bu Dewi tidak memiliki DNA yang sama. Berarti Bu Dewi bukanlah ibu kandung Arumi," ujar Samuel yang langsung berjalan menghampiri Fahri yang masih berada di meja kerjanya. Pria itu pun menyerahkan hasil tersebut pada Fahri.
Samuel baru saja menyadari tatapan tajam Fahri. Lalu kemudian, ia pun mengikuti arah pandang pria yang ada di hadapannya itu.
Dilihatnya Arumi yang baru saja keluar dari kamar itu. Mata wanita itu berkaca-kaca, bibirnya bergetar saat mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Samuel.
"A-apa maksud dari ucapanmu, Sam? Aku bukanlah anak kandung mama?" gumam Arumi dengan bulir mata yang mulai berjatuhan.
Samuel hanya tertunduk. Ia mematung dan tak bisa berkata apa-apa.
"Jawab Sam!! Apa fungsi mulutmu itu!!" tukas Arumi.
Fahri langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia pun berjalan menghampiri istrinya, mencoba untuk menenangkan Arumi agar tidak terlalu terbawa emosi.
Arumi langsung meledak. Fahri tak menghiraukan setiap kata yang keluar mulut Arumi. Pria itu tetap menghampiri istrinya, merengkuh tubuh Arumi.
Beberapa kali Arumi memukul-mukul dada bidang Fahri. Mencoba menyalurkan kekesalan karena kenyataan yang begitu pahit baginya. Tangis Arumi semakin pecah, dada bidang Fahri mulai basah karena air mata istrinya itu.
Ini sangat menyakitkan bagi Arumi. Walaupun Arumi tak pernah akur dengan Dewi, akan tetapi dalam lubuk hati kecilnya, ia menyimpan sebuah rasa cinta untuk wanita yang diketahui bukanlah ibu kandungnya itu.
Arumi melepaskan Dewi begitu saja karena telah mencoba untuk mencuri dokumen penting perusahaan. Bahkan, Arumi di serang oleh pria suruhan Dewi. Namun, wanita tua itu menangis bak benar-benar peduli kepada Arumi. Yang membuat hati Arumi sedikit terenyuh.
Fahri menuntun sang istri untuk duduk di kursi. Fahri mengusap belakang Arumi, mencoba untuk menenangkan istrinya.
"Apalagi yang kalian sembunyikan setelah ini? Aku merasa manusia yang benar-benar bodoh," rutuk Arumi mengatai dirinya sendiri.
"Tidak ada, Istriku. Sebaiknya kamu jangan terlalu banyak pikiran. Kami menutupi semua ini karena takut sesuatu yang tak diinginkan akan terjadi," ujar Fahri dengan sangat lembut.
"Tetap saja, Mas. Bagaimana pun juga kalian mengunci rapat sebuah rahasia. Ketika nanti aku akan mendengarnya sendiri, itu semua masih sama menyakitkannya," ujar Arumi yang masih menangis sesegukan.
Melihat Arumi yang benar-benar terpukul akan kenyataan ini, membuat Samuel diselimuti rasa bersalah. Karena kecerobohannya, ia membuat wanita yang namanya masih tersimpan di dalam hatinya itu kembali bersedih.
"Sam, katakanlah! Apa lagi yang tidak ku ketahui setelah ini?" tanya Arumi masih dengan air mata yang berlinang.
Samuel hanya menggelengkan kepalanya. Ia mencoba menyembunyikan fakta yang lainnya, sampai Arumi benar-benar siap suatu saat nanti untuk mendengarnya.
"Maafkan aku," ujar Samuel tertunduk lesu.
"Sudahlah! Sekarang, kamu beristirahat ya," bujuk Fahri.
"Mana bukti hasil tes DNA nya? Aku ingin melihatnya," ucap Arumi yang mencoba mengabaikan bujukan dari sang suami.
Samuel menatap Fahri sejenak, seolah meminta izin pada pria itu. Dan Fahri pun mengangguk, membiarkan Samuel menyerahkan hasil tes DNA itu pada Arumi.
Arumi meraih map yang disodorkan oleh Samuel. Membuka isi dari map tersebut dan membacanya dengan seksama.
Benar saja, di sana dituliskan bahwa DNA Arumi berbeda dengan Dewi . Arumi mengepalkan tangannya dengan kuat, lalu kemudian meletakkan kertas yang ia pegang ke atas meja.
"Sudah cukup, Sayang. Kamu tidak boleh memikirkan macam-macam sekarang. Ayo istirahat dulu," ajak Fahri.
Kali ini, Arumi pun menuruti ucapan suaminya. Ia pasrah Fahri menggendongnya dan merebahkannya di atas tempat tidur yang di sediakan di ruangan itu.
Fahri mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut, lalu kemudian memberikan kecupan singkat di sana.
"Tidurlah. Buang semua pikiran yang membebanimu," tutur Fahri lembut.
Setelah berucap demikian, Fahri pun kembali keluar, menemui Samuel yang masih berada di ruangannya.
"Sebaiknya jika ada hal apapun, kamu kabari aku terlebih dahulu," bisik Fahri.
Samuel pun hanya menimpalinya dengan sebuah anggukan.
Bersambung ...