
Sudah hampir dua jam, Samuel dan Fahri menunggu Sugeng datang. Akan tetapi, pria tersebut tak menampakkan batang hidungnya.
"Dimana dia? Apakah kamu sudah memberitahukannya dengan jelas?" tanya Fahri pada Samuel.
"Kemarin aku sudah meneleponnya. Dia sendiri yang berkata akan datang tanpa di jemput," timpal Samuel.
Fahri melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. " Jam lima sore. Sudah dua jam kita menunggu di sini," ucap Fahri.
"Tunggu sebentar, aku akan mencoba untuk menghubunginya lagi." Samuel meraih ponsel yang ada di atas meja. Ia pun mencari kontak Sugeng, lalu kemudian menempelkan benda pipih itu di salah satu telinganya.
"Nomornya masih juga tidak aktif," gumam Samuel kembali meletakkan ponsel pintarnya di atas meja.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja. Lagi pula, dia sudah pasti tidak akan datang. Aku tidak mau meninggalkan Arumi terlalu lama," ujar Fahri.
"Mbak, minta bill-nya." Fahri memanggil salah satu pelayan yang tak jauh dari tempat tersebut.
Pelayan tersebut mengangguk. Ia berjalan untuk mengambil bill milik kedua pria tampan tersebut. Tak lama kemudian, pelayan itu datang menghampiri sembari memberikan secarik kertas yang merupakan nota pembayaran makanan tersebut.
Fahri pun mengeluarkan uang cash, lalu membayarnya langsung. "Kembaliannya ambil saja," ujar Fahri yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Terima kasih, Pak."
Fahri hanya menimpalinya dengan sebuah anggukan sembari tersenyum ramah. Samuel juga ikut beranjak dari tempat duduknya. Kedua pria tampan itu langsung melangkah keluar dari tempat tersebut.
"Kabari saja jika dia kembali menghubungimu. Pria tersebut adalah saksi kunci dari segalanya. Jadi, jangan sampai lepas," ucap Fahri.
"Sebenarnya, aku lebih setuju jika kita melaporkannya langsung. Perbuatan Bu Dewi sudah tidak bisa ditolerir lagi. Aku takut, jika nanti dia akan bertindak lebih jauh jika sampai dia tahu kita memiliki rekaman video itu. Setidaknya kita bisa mencegah Bu Dewi untuk berbuat kriminal lagi," jelas Samuel.
"Lagi pula ... rekaman video itu sudah menjadi bukti yang kuat. Hanya saja, kita perlu Sugeng agar pria tersebut membayar dosanya karena telah ikut andil dalam rencana pembunuhan itu," lanjut Samuel.
Fahri tampak berpikir sejenak. "Lalu bagaimana dengan Arumi? Bukankah kamu bisa melihatnya, betapa terpukulnya istriku saat mengetahui bahwa dia bukanlah anak kandung dari wanita yang sering ia panggil mama," ucap Fahri.
"Benar juga apa katamu. Aku hanya takut, suatu saat Bu Dewi berbuat hal diluar batas, dan jika dipikir-pikir, orang pertama yang menjadi sasarannya adalah Arumi, lalu kemudian kamu," jelas Samuel.
"Semoga saja tidak. Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu," ucap Fahri yang mulai membuka pintu mobilnya.
"Hmmm ... hati-hati di jalan," balas Samuel.
"Oh iya, jangan lupa untuk mengabariku nanti," ujar Fahri. Samuel pun menimpali ucapan Fahri dengan mengangguk.
Tak lama kemudian, kendaraan roda empat tersebut langsung melaju kencang. Setelah mendengar ucapan dari Samuel, tiba-tiba di dalam pikiran Fahri hanya Arumi.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, Fahri pun tiba di rumah. Ia bergegas turun, mencari keberadaan Arumi.
Fahri mengedarkan pandangan, tak menemukan Arumi di ruang tengah. Pria itu mengecek kamar, tak juga menemukan keberadaan istri tercintanya itu.
Fahri melihat salah seorang pelayan baru saja muncul dari dapur. Pria itu pun langsung bertanya pada pelayan yang bekerja di rumah itu.
"Bik, lihat Arumi?" tanya Fahri.
"Nyonya di halaman belakang, Tuan." pelayan tersebut menimpali.
Fahri pun melangkahkan kakinya menuju halaman belakang. Benar saja, istri tercintanya itu sedang berada di sana.
Arumi sedang berbincang dengan beberapa pelayan. Sesekali mereka terkekeh saat sesuatu yang mereka bicarakan di rasa sedikit lucu.
"Mas, ..." Arumi bergumam saat melihat suaminya tengah memerhatikan dirinya. Pria itu bersedekap dengan tubuh yang menyender di pintu.
"Ya sudah, kalian lanjut saja. Aku ingin menghampiri Mas Fahri," ujar Arumi pada beberapa pelayan yang ada di sana.
"Baik, Nyonya."
Arumi sedikit berlari menghampiri Fahri. Melihat hal tersebut, membuat Fahri membelalakan mata. "Sayang, jangan lari!" seru Fahri mencoba untuk menegur istrinya.
Setelah mendapat peringatan dari sang suami, Arumi pun memilih untuk berjalan seperti biasa. "Mas kenapa lama sekali keluarnya," gerutu Arumi.
"Maaf, Sayang."
"Lain kali, kalau hendak bertemu siapapun, ajak aku Mas!" tukas Arumi.
Fahri langsung terkekeh geli, tangannya mengacak puncak kepala Arumi. "Mas hanya bertemu dengan Samuel, Sayang. Membicarakan masalah pekerjaan saja tidak lebih," ujar Fahri.
Arumi pun mengangguk paham. Fahri meraih tangan istrinya. Menautkan jemarinya di sela jemari sang istri.
"Ayo kita masuk!" ajak Fahri.
Arumi tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Wanita itu pun mengikuti langkah suaminya.
....
Roy yang saat ini sedang berada di rumah Indra. Mereka sedang duduk di teras sembari berbincang-bincang.
"Jadi ... maksudmu kebakaran yang disiarkan di saluran televisi tadi adalah ulah dari Tante Dewi?" tanya Indra penuh selidik.
"Benar, Tuan. Saya melihatnya sendiri. Saat mendengarkan berita tersebut, ia tampak santai dan bahagia. Bibirnya tak henti-hentinya membentuk seringaian iblis. Dewi ... wanita itu psikopat," ujar Roy.
Indra mengetukkan abu dari puntung rokoknya. Lalu kembali menghisap benda yang mengandung nikotin itu, dan menghembuskan asap yang membentuk sebuah kepulan.
"Tanteku memang seorang psikopat. Bukankah sudah ku katakan padamu sebelumnya. Dia lah yang membunuh suaminya sendiri," ujar Indra sembari menatap lurus ke depan.
"Lantas ... siapa kali ini yang ia coba singkirkan? Pria tanpa identitas ...," gumam Indra yang mencoba mencari jawabannya.
Tak lama kemudian, ia pun teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Dimana Dewi menghubunginya, meminta bantuan untuk membunuh seseorang. Namun, kala itu Indra menolaknya karena ia tak ingin berurusan dengan Dewi, apalagi itu menyangkut masalah seperti pembunuhan.
"Apakah dia benar-benar melenyapkan pria itu?" batin Indra.
"Jika boleh jujur, sebenarnya aku mulai merasa takut dengannya. Suatu saat Dewi kembali kesetanan, bisa saja aku yang dibunuh saat itu juga," ujar Roy.
Indra terkekeh, lalu menatap remeh pria yang ada di hadapannya itu. "Jika pakaianmu sudah basah, kenapa tidak mandi sekalian," tutur Indra, berkata kepada Roy menggunakan sebuah peribahasa.
"Tetap saja, aku ...."
"Kakimu pincang! Apakah melihat kakimu yang menjadi cacat itu tak membuatmu merasa ingin balas dendam? Dewi yang menyuruhmu dan anaknya yang menorehkan luka hingga membuatmu seperti ini!! tukas Indra yang mencoba menasihati Roy.
Pria tersebut menunduk, seraya menyimak ucapan Indra.
"Sebaiknya kamu pikirkan lagi. Bagaimana jika keberuntungan sedang mengunjungimu," ujar Indra yang masih berusaha untuk mengompori Roy agar menjadi umpan setelah ia mendapatkan semua kekuasaan tersebut.
Bersambung...