
Arumi merebahkan dirinya di kasur kesayangannya setelah menempuh perjalanan yang cukup lama. Suami tampannya itu masih sibuk membantu Pak Rahmat mengeluarkan sisa-sisa bawaannya di dalam mobil. Serta sedikit oleh-oleh yang ia bawa untuk pegawai yang bekerja di rumahnya.
Arumi memilih untuk beranjak dari tempat tidurnya sejenak, lalu kemudian memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum melanjutkan waktu istirahatnya.
Fahri yang tengah membawa kardus oleh-oleh ke dapur, di bantu dengan beberapa penjaga pria yang ada di sana. Fahri meletakkan kardus tersebut beserta ke empat pria yang mengiringi langkahnya juga ikut meletakkan kardus yang mereka bawa di sana.
"Nanti kalian bagi-bagi saja. Saya membeli beberapa oleh-oleh, tidak banyak. Saya harap kalian semua dapat menikmatinya," ujar Fahri.
"Ini sudah lebih dari cukup, Tuan. Kami sangat berterima kasih banyak," ucap kepala pelayan mewakili ucapan terima kasih dari yang lainnya.
"Iya, sama-sama. Ya sudah, kalau begitu saya mau ke atas dulu untuk beristirahat," tutur Fahri yang kemudian melangkah pergi dari dapur.
"Sekali lagi terima kasih Tuan atas oleh-olehnya," ujar salah satu pelayan yang lainnya.
"Iya, sama-sama."
Fahri mengulas senyum sembari menatap mereka yang bekerja di rumah itu tampak senang dengan oleh-oleh darinya meskipun itu tidak banyak. Pria itu pun menaiki anak tangga, menyusul sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Fahri membuka pintu kamar, ia tak menemukan keberadaan sang istri di dalam kamar tersebut. Namun, ia mendengar suara merdu istrinya itu dari dalam kamar mandi. Ibu hamil itu bersenandung sembari membersihkan dirinya.
Fahri tersenyum, ia pun memilih untuk duduk di tepi ranjang sembari menunggu sang istri membersihkan dirinya. Namun, sesaat kemudian ia teringat tentang video yang dikirimkan oleh Samuel yang belum di salin di tempat lain.
Fahri pun langsung beranjak, menuju laptop yang ada di salah satu meja yang ada di kamar tersebut yang menjadi tempat meja kerjanya saat di rumah. Lalu kemudian menyalakan laptop, mengambil salah satu flashdisk kosong yang ada di dalam laci meja kerjanya.
Pria itu menghubungkan flashdisk tersebut ke laptopnya yang tentu saja juga sudah terhubung pada ponselnya. Ia pun menyalin video tersebut. Setelah melakukan proses penyalinan, Fahri langsung meletakkan kembali laptopnya di posisi semula. Flashdisk yang sudah berisi video tentang Dewi juga ia simpan di salah satu laci yang ada di sana.
Ceklekk ....
Terdengar suara pintu terbuka. Ia melihat Arumi baru saja keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuhnya.
"Mas sedang apa di sana?" tanya Arumi melihat Fahri yang baru saja sampai langsung menempati meja kerja tersebut.
"Mas cuma memeriksa beberapa email yang dikirimkan oleh Doni," timpal Fahri berbohong.
"Nanti saja, Mas. Istirahat dulu, kamu baru melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, urusan pekerjaannya itu nanti saja," ujar Arumi memberi saran. Suaminya itu memang terlalu sibuk bekerja hingga mengabaikan waktu istirahatnya. Hal itu tentu saja membuat Arumi selalu menegur Fahri. Ia takut jika sang suami akan jatuh sakit karena terlalu kelelahan memikirkan urusan pekerjaan.
Wanita tersebut berjalan menuju lemari pakaiannya sembari memakai satu persatu pakaian santainya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang di ketuk.
Fahri melirik Arumi yang masih mengenakan bajunya. Pria itu pun beranjak dari tempat duduk, lalu kemudian berjalan menuju pintu. Pria itu menyembulkan kepalanya saat melihat salah satu pelayan mengetuk pintu kamarnya.
"Ada apa, Bik?" tanya Fahri.
"Ini Tuan ... ada kiriman surat undangan," ujar pelayan tersebut.
"Siapa yang antar?" tanya Fahri.
"Tadi ada seorang wanita yang datang kemari, tapi pas bibi suruh masuk, dia bilang harus mengantarkan banyak undangan dan tidak bisa berlama-lama," jelas pelayan tersebut.
"Oh ... ya sudah. Makasih ya Bik," ujar Fahri.
"Sama-sama, Tuan."
Pria itu kembali menutup pintu. Ia menatap surat undangan pernikahan tersebut. Melihat foto mempelai wanita yang ada di surat undangan itu membuat Fahri tertegun.
Arumi melihat raut wajah kebingungan dari suaminya itu. Ia pun segera menghampiri Fahri. "Ada apa, Mas?" tanya Elena.
"Ini ... wanita ini aku mengenalnya. Berarti dia adalah putri dari Pak Beni," ujar Fahri.
Arumi mengambil undangan yang ada di tangan suaminya itu. "Iya, Mas. Wanita ini memang anak Pak Beni," ucap Arumi yang kembali menyerahkan undangan tersebut pada Fahri.
"Kamu kenal dia?" tanya Fahri menatap istrinya dengan tatapan menyelidik.
"Iya, Mas. Hutang Mas Fahri ... kami yang mendesaknya agar Mas Fahri segera membayar, dengan begitu Mas Fahri bisa meminjam uang dariku," ucap Arumi menjelaskan kejadian dulu yang belum diketahui oleh Fahri.
Fahri hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Mau marah pun, ia tak bisa karena memang jika bukan Elena menagih hutang itu dengannya, bisa saja sampai saat ini Fahri masih berada di bawah tekanan Sifa.
"Ada apa, Mas? Apakah kamu marah?" tanya Arumi.
"Tidak apa-apa. Aku tidak marah tentang kemarin, tapi kalau bisa jangan berbuat seperti itu lagi," ucap Fahri menasihati istrinya.
"Tentu saja, Mas. Aku melakukannya karena aku menyukaimu. Jika aku mengulangi perbuatanku kemarin, berarti aku mau menambah suami baru," celetuk Arumi.
Fahri mengacak puncak kepala istrinya itu. "Tidak akan ku biarkan hal itu terjadi," ujar Fahri.
Arumi dan Fahri pun saling melempar senyum.
"Sudah, mandilah Mas. Setelah itu kita beristirahat," ucap Arumi.
Fahri menganggukkan kepalanya. Ia meletakkan undangan pernikahan itu di atas meja nakas. Lalu kemudian berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat sang suami tengah berada di dalam kamar mandi, Arumi langsung meraih ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Wanita itu pun mendial salah satu kontak yang ada di ponselnya, lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Halo, ..." terdengar suara seorang pria dari seberang telepon.
"Semenjak jadi seorang pengangguran sejati, kamu jarang sekali berkunjung kemari," ujar Arumi.
"Aku sibuk, pengangguran elit sepertiku ini memang sedikit bertingkah dan banyak gaya," tandas Samuel dari seberang telepon.
Mendengar ucapan Samuel, membuat Arumi langsung terkekeh.
"Aku mendapat surat undangan pernikahan dari Elena. Apakah kamu juga mendapatkannya?" tanya Arumi.
"Ya," timpal Samuel sedikit malas. Bagaimana pun juga rasa dongkol atas pernikahan Elena masih saja tertanam di dalam hatinya.
"Apakah kamu akan mendatanginya? Sepertinya dia benar-benar menyerah untuk mengejarmu," ujar Arumi dengan nada yang sedikit mengejek.
"Ya mungkin saja. Sudahlah! Aku mengantuk, tidak usah mengatakan sesuatu yang tidak penting seperti itu," tukas Samuel.
"Kenapa? Apakah kamu kesal karena dia menikah dengan orang lain?" pancing Arumi.
Arumi mengernyitkan keningnya saat panggilannya diputus secara sepihak. "Ada apa dengannya? Apakah dia juga menyukai Elena? Tapi mengapa selama ini dia mengacuhkan wanita itu?" gumam Arumi sembari mengendikkan bahunya.
Bersambung ...