Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 70. Restui Kami


Arumi dan Fahri saat ini tengah berada di pemakaman umum. Keduanya tengah duduk di depan pusara sang ayah. Arumi mengusap nisan yang terukir nama Fian Aryaduta yang ada di hadapannya. Rasa rindunya tak bisa dikatakan lagi. Sakit akan perpisahan masih terasa hingga sampai saat ini.


Fahri, pria itu menabur kelopak mawar di atas gundukan tanah tersebut. Ia juga menyirami tanah itu dengan air secara perlahan.


"Papa, ..." Arumi berucap sembari menatap nisan ayahnya.


"Aku datang lagi. Kali ini aku tidak sendirian. Aku datang bersama seorang pria yang kini telah menjadi suamiku," ucap Arumi.


Fahri hanya menyimak ucapan Arumi. Sesekali melemparkan pandangannya pada sang istri, lalu kemudian bergantian menatap nisan papa mertuanya.


Arumi memperkenalkan dirinya pada sang ayah, membuat hati Fahri menghangat. Gadis yang ada di hadapannya ini sangatlah baik. Meskipun pernikahan mereka hanya sekedar saling menguntungkan, akan tetapi Arumi seakan menunjukkan keseriusannya terhadap Fahri.


Namun, Fahri masih meragukan hatinya, masih meragukan apakah Arumi benar-benar tulus atau hanya sekedar formalitas saja. Tetapi, di dalam lubuk hati Fahri, ia tak ingin mengecewakan Arumi nantinya, karena gadis itu sudah terlalu baik pada dirinya.


Fahri menatap nisan papa mertuanya. Ia melihat mengusap nisan tersebut sembari mengulas senyum. "Pa, perkenalkan aku Fahri. Suaminya Arumi. Mungkin aku memiliki kekurangan dari segi apapun. Tapi akan ku pastikan, Arumi ku jaga dengan baik," ujar Fahri.


Mendengar penuturan Fahri, membuat Arumi terenyuh. Ia berharap Fahri akan selalu seperti ini dan melupakan semua tentang wanita yang sudah menjadi masa lalunya. Arumi membiarkan semua berjalan semestinya, dan ia akan menunggu Fahri hingga pria itu benar-benar mencintainya suatu saat nanti.


....


Setelah ziarah di makam ayahnya, kini Arumi dan Fahri menuju ke sebuah pedesaan, dimana mereka akan mengunjungi makam mertuanya, ibu dan ayah dari Fahri.


Kali ini Arumi membiarkan Fahri mengendarai mobilnya, karena memang pria tersebut bisa mengemudi. Fahri hanya menyembunyikan keahliannya saja.


Cukup lama mereka menempuh perjalanan, membuat Arumi merasa mulai lapar. "Kita singgah sebentar, cari makan. Kebetulan aku sudah merasa lapar," ucap gadis itu.


"Singgah makan? Tapi ini sudah memasuki area desa, kita tidak akan menemukan restoran yang mahal seperti di kota," ujar Fahri yang memberitahukan kondisi di tempat tersebut, karena memang mereka tidak akan menemukan restoran di lokasi ini.


Arumi melemparkan pandangannya pada Fahri. Gadis itu menatap tajam pria yang ada di sampingnya. "Memangnya harus makan di tempat mewah? Jangan berlebihan! Waktu sekolah saja, aku sering jajan gorengan yang dijual abang-abang di pinggir jalan," tukas Arumi seraya mencebikkan bibirnya.


"Benarkah?" tanya Fahri yang seolah tidak percaya pada sang istri.


"Asal kamu tahu. Aku tidak memandang tempat dari makanan yang ingin aku makan. Apakah karena aku memiliki cukup uang, maka kamu berpikir bahwa aku tidak mau makan jajanan di pinggir jalan? Kamu salah besar!" geram Arumi.


"Ya, aku takut saja kamu tidak akan menyukai apapun yang menjadi seleraku nanti," ucap Fahri menatap sekilas ke arah Arumi, lalu kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


Dari segi penampilan, mungkin bisa dikatakan jika Arumi memiliki selera yang sangat mahal. Namun, jika diselami lebih dalam lagi, justru gadis ini terlihat lebih sederhana dibandingkan dengan Sifa.


Fahri melihat ada kedai penjual bakso. Pria itu pun bertanya pada istrinya, apakah ia setuju jika makam di tempat ini. Tanpa berpikir panjang, Arumi langsung menyetujuinya.


Fahri pun memarkirkan mobilnya di depan kedai itu. Keduanya turun dari mobil, dan langsung masuk ke dalam kedai tersebut.


"Pesanlah! Apapun yang kamu pesan, pasti akan aku makan," ucap Arumi.


"Bukanlah selera masing-masing seharusnya berbeda? Lagi pula ini kedai bakso, tidak ada menu lain selain bakso" ujar Fahri.


Arumi menggelengkan kepalanya. " Tetap saja. Dimana pun itu, aku lebih memilih kamu yang memesankan makanan untukku. Aku pemakan segala, jadi kamu tenang saja!" ucap gadis itu.


Mendengar penuturan dari sang istri, membuat Fahri terkekeh geli. Ia pun menghampiri penjual bakso yang saat ini tengah menyiapkan pesanan untuk yang lainnya.


Arumi menduduki salah satu bangku yang ada di sana. Ia menatap punggung suaminya itu tengah memesan dua mangkuk bakso untuk mereka santap di tempat tersebut.


"Sekarang dia lebih sering tersenyum padaku," gumam Arumi. Fahri memang sebelumnya terkesan sangat dingin pada Arumi. Entahlah, mungkin karena efek dari masalah rumah tangganya, atau mungkin juga karena pria sudah menemukan tempat ternyaman untuknya.


Setelah memesan makanan tersebut, Fahri pun menghampiri sang istri dan duduk di hadapannya. Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba. Keduanya langsung menikmati menu makan siangnya dengan tenang.


Keduanya telah menghabiskan makanan mereka. Arumi hendak beranjak dari tempat duduknya untuk membayar makanan mereka, akan tetapi Fahri pun langsung mencegahnya.


"Biar aku saja!" sergah Fahri.


"Tidak apa-apa. Lagi pula kamu baru saja berhenti bekerja. Biar aku yang membayarnya," ucap Arumi yang masih mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.


"Uangku masih cukup jika hanya untuk membayar dua mangkuk bakso saja," ujar Fahri.


"Baiklah." Arumi kembali memasukkan uangnya. Ia menghargai keputusan suaminya itu.


Setelah membayar makanannya, kedua pasangan suami istri pun melanjutkan perjalanannya kembali.


Hari sudah menjelang sore, Fahri dan Arumi baru saja tiba di tempat yang hendak mereka tuju, yaitu makam kedua orang tua Fahri.


Mereka berjalan masuk ke dalam area pemakaman tersebut. Arumi memilih untuk mengiringi langkah Fahri dari belakang, akan tetapi pria itu menolaknya. Ia menyuruh agar Arumi tetap berjalan di depannya.


Keduanya berjalan beriringan. Menyusuri jalanan untuk menuju ke makam orang tua Fahri. "Di ujung sana," ucap Fahri mengarahkan pandangannya.


Arumi mengikuti arah pandang suaminya, lalu kemudian mengangguk paham setelah diberikan instruksi oleh Fahri.


Keduanya sampai di depan makam orang tua Fahri. Makam ayah dan ibu Fahri tepat bersebelahan. Arumi langsung mengusap nisan kedua mertuanya secara bergantian.


Sama seperti yang dilakukan oleh Arumi, Fahri pun memperkenalkan Arumi sebagai istrinya di depan kedua pusara itu.


"Ayah, Ibu, perkenalkan ini adalah Arumi, istriku," ucap Fahri.


Arumi tersenyum. Ia menatap kedua nisan tersebut secara bergantian. Baru saja Arumi hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba fokusnya teralihkan saat Fahri menitikkan air mata.


Gadis itu langsung menatap suaminya, mencoba mengusap pundak sang suami untuk menenangkannya.


"Ayah, Ibu, maafkan aku." Fahri semakin terisak, sementara air matanya mengalir semakin deras.


"Maaf karena tidak bisa menepati janjiku kepada ayah dan ibu. Aku memilih untuk berpisah dengan Sifa, aku tidak bisa menjaganya lagi," lanjut pria tersebut.


Usapan pada pundak Fahri pun terhenti. Ada rasa sakit saat Fahri masih menyebut nama wanita itu.


"Kamu tidak salah. Ini sudah takdir," tegas Arumi.


Arumi mengarahkan pandangannya pada nisan kedua mertuanya. Lalu kemudian, ia pun memperkenalkan dirinya.


"Ayah, ibu, perkenalkan aku adalah Arumi, yang menjadi istri Fahri saat ini. Aku yakin ibu dan ayah tidak akan marah karena Fahri memilih bercerai dari istri pertamanya. Mungkin Fahri mengalami kegagalan dalam pernikahan yang pertama, akan tetapi kali ini, Fahri tidak akan gagal di pernikahannya yang kedua. Maka dari itu, tolong restui pernikahan kami," ucap Arumi dengan mantap.


Seketika Fahri pun tertegun mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Arumi. Pria itu menatap istrinya dengan lekat.


Bersambung ....