
Samuel sedang berada di cafe milik Elena. Pria itu menghela napasnya setelah panggilan telepon terputus. Pria itu pun beranjak dari tempat duduknya, bersiap hendak pergi menemui Arumi.
"Ada apa?" tanya Elena saat melihat Samuel yang tampak ingin pergi.
"Fahri sudah mengetahui semuanya. Aldo memberitahukan pada Fahri bahwa Arumi juga ikut andil dalam rusaknya pernikahan Fahri dan istrinya dulu," jelas Samuel.
"Lalu ... kamu mau kemana?" tanya Elena.
"Menemui Arumi. Dia pasti sangat sedih karena hal ini. Bertubi-tubi masalah yang menimpanya. Aku takut terjadi apa-apa padanya,"tutur Samuel.
Pria itu pun pergi meninggalkan Elena. Wajah Elena menyendu, entah mengapa ia merasa sedikit sakit karena sikap Samuel.
Elena bukan siapa-siapa Samuel. Namun, gadis itu berharap suatu hari nanti Samuel dapat melihat dirinya. Akan tetapi, semua itu mustahil. Cinta Samuel pada Arumi lebih besar. Meskipun wanita itu sudah dipersunting oleh pria lain, Samuel masih memendam rasa cintanya kepada Arumi.
"Haruskah aku menyerah saja?" gumam Elena menatap punggung Samuel yang semakin lama semakin mengecil.
Samuel mengenakan helmnya. Pria itu pun menaiki kendaraan roda dua tersebut, lalu kemudian memacu kendaraannya itu menuju ke jalanan.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, Samuel tiba di gedung perusahaan. Ia memarkirkan motornya, lalu kemudian bergegas masuk ke dalam gedung tersebut.
Samuel melihat semua pintu lift tertutup. Ia bergegas menuju ke tangga darurat, menyusuri anak tangga hanya untuk segera tiba dan menghampiri Arumi.
Kakinya tak terasa pegal menyusuri anak tangga tersebut. Demi Arumi, Samuel rela melakukan apapun asalkan wanita itu tetap aman.
Tak lama kemudian, ia pun sampai tepat di lantai enam, dimana ruangan Arumi berada. Pria tersebut mengambil saputangan di dalam sakunya, berjalan sembari mengelap peluh yang mengucur di keningnya.
Sesampainya di depan ruangan Arumi, Samuel melihat Doni yang tampak khawatir, melihat pintu ruangan tersebut yang tertutup rapat.
"Arumi ada di dalam?" tanya Samuel dengan napas yang sedikit tersengal.
"Iya. Bu Arumi dan Pak Fahri sepertinya sedang ribut," ujar Doni mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Lalu ... dimana Fahri?" tanya Samuel.
"Pak Fahri keluar, dan Bu Arumi ada di dalam sendirian," timpal Doni.
Tanpa aba-aba, Samuel pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Pria itu tak mengetuk pintu, melenggang masuk begitu saja.
Ia melihat Arumi yang tengah duduk di mejanya. Ia menyembunyikan wajahnya dengan tangan yang diletakkan di atas meja.
Wanita itu menangis sesegukan. Melihat ini semua, Samuel merasa sangat sakit. Ia tidak ingin Arumi menangis, ia tidak ingin Arumi bersedih di hadapannya.
"Arumi, ..." panggil Samuel dengan begitu lembut.
Arumi pun mengangkat kepalanya. Ia melihat Samuel yang saat ini ada dihadapannya. Wanita tersebut mencoba untuk menghentikan tangisnya meskipun bibirnya bergetar.
"Sam, bagaimana ini ... Fahri sangat marah padaku. Ia tak pernah semarah ini sebelumnya," ujar Arumi.
Samuel pun menghampiri Arumi. Pria itu mencoba menepuk punggung wanita malang itu untuk menenangkannya.
"Aku yakin Fahri hanya sebentar saja marahnya. Sekarang, kamu tidak boleh bersedih lagi. Biar aku yang akan berbicara pada Fahri nanti," tutur Samuel.
Arumi hanya mengangguk pelan sembari menahan agar air matanya tak jatuh lagi. Samuel pun mengambilkan kotak tissue, lalu menyerahkannya kepada Arumi untuk mengelap jejak air matanya.
Samuel berjalan ke luar sejenak. Lalu kemudian mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Doni sang sekretaris.
"Bapak mencari saya?" mendengar suara yang tiba-tiba saja muncul dari belakangnya, membuat Samuel terlonjak seketika.
"Astaga ... kamu mengejutkanku," ucap Samuel sembari mengusap dadanya.
"Ada apa, Pak?" tanya Doni.
"Bisakah kamu membantuku membuatkan secangkir teh hangat untuk Arumi?" tanya Samuel.
"Baiklah, Pak."
Doni pun langsung bergegas ke pantry untuk membuatkan teh hangat. Sementara Samuel, pria itu kembali ke dalam. Hendak menanyai apa alasan Aldo datang ke tempat ini.
Sruttt ...
Arumi membuang ingusnya dengan begitu nyaring. Samuel sedikit tertegun mendengar suara estetik dari hidung Arumi.
"Ada apa kamu menatapku seperti itu?" tanya Arumi penuh curiga.
"Hahaha ... tidak apa-apa. Syukurlah jika kamu tidak menangis lagi," ucap Samuel.
Pria itu menjatuhkan bokongnya di sofa yang ada di ruangan tersebut. Arumi beranjak dari kursi kebesarannya, memilih untuk duduk di sofa bergabung bersama dengan Samuel.
"Kenapa pria itu bisa tiba-tiba datang kemari?" tanya Samuel yang mulai menginterogasi Arumi.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba dia marah besar pada Mas Fahri. Pria itu mengira bahwa Mas Fahri menggoda mantan istrinya. Padahal Mas Fahri tidak pernah menemui wanita itu," tutur Arumi dengan suara yang sedikit berubah akibat menangis tadi.
"Dasar gila. Dia sama istrinya itu sama-sama gila," cecar Samuel mengkritik Aldo dan Sifa.
"Mungkin karena merasa kesal, ia pun membeberkan semuanya di depan Mas Fahri. Mas Fahri marah denganku. Dia bilang dia benar-benar kecewa terhadap ku," papar Arumi.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti juga kemarahannya akan mereda dengan sendirinya," ujar Samuel.
"Rupanya Aldo tak mengindahkan peringatan ku kemarin. Baiklah, aku akan membuktikan padanya bahwa aku tidak main-main dengan ancamanku," gumam Samuel.
Srrrttt ...
Arumi kembali mengeluarkan ingusnya dengan tissue. Seketika khayalan serta angan-angan yang akan dirancang oleh Samuel pun menjadi buyar seketika karena tingkah Arumi.
"Aishhh ... bisakah kamu berhenti membersihkan kotoran hidungmu di depanku. Suaranya nyaring sekali," gerutu Samuel.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Pergi ke toilet sana! Kenapa kamu jorok sekali!" cecar Samuel.
Arumi pun beranjak dari kursinya. Wanita itu pergi menuju ke toilet seperti yang diucapkan oleh Samuel barusan.
Samuel mengotak-atik ponselnya. Ia pun mengirimkan pesan kepada seseorang. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Doni pun muncul dari balik pintu sembari membawa nampan yang berisikan dia cangkir teh hangat.
"Bu Arumi nya mana?" tanya Doni seraya meletakkan teh tersebut di atas meja.
"Pergi ke toilet. Apakah kamu tahu kemana perginya Fahri?" tanya Samuel.
"Saya kurang tahu, Pak."
Sesaat kemudian, Doni pun pergi dari tempat tersebut. Samuel kembali mengotak-atik ponselnya. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar, pria itu pun langsung mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Iya, Pak." Samuel tengah berbicara pada seseorang yang ada di seberang telepon.
"Saya sudah kirimkan alamatnya, Pak. Dia pemakai sekaligus pengedar."
"Baik, Pak. Nanti saya akan segera ke sana."
Panggilan telepon pun langsung terputus. Samuel tersenyum sembari mencebikkan bibirnya menatap layar ponsel yang ada di hadapannya.
"Mampus kamu Aldo! aku harap kamu akan membusuk di penjara," tutur Samuel.
Arumi yang baru saja masuk ke dalam ruangannya, mendengar ucapan Samuel. "Siapa yang kamu bilang akan membusuk di penjara?" tanya Arumi menatap Samuel penuh selidik.
"Ah itu ... seseorang yang sangat menyebalkan," sahut Samuel.
"Siapa yang menyebalkan?" tanya Arumi yang kembali melemparkan pertanyaan pada Samuel.
Samuel pun menghela napasnya. "Kamu yang menyebalkan," timpal Samuel.
"Aku tidak menyebalkan!" protes Arumi yang kemudian menjatuhkan bokongnya di tempat semula.
"Sudahlah tidak usah di bahas lagi. Itu teh hangat dibuatkan oleh Doni, minumlah teh itu!" titah Samuel.
"Aku tidak mau teh hangat. Aku ingin es teh saja," tukas Arumi.
"Ternyata kamu memang menyebalkan!" gerutu Samuel.
Bersambung ....