Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 83. Pengantin Baru


Fahri masih menikmati bibir istrinya. Tangannya mulai nakal, mendorong tubuh Arumi supaya lebih menempel pada tubuhnya.


Sementara Arumi, jantungnya semakin berdegup kencang. Ia meremas baju kemeja yang dikenakan oleh Fahri saat itu. Menikmati setiap pagutan suaminya. Namun, tak lama kemudian, Arumi menyadari sesuatu. Aroma yang sedikit menyengat seperti terbakar.


Dengan cepat, gadis itu pun langsung membelalakan matanya. Lalu kemudian mendorong tubuh Fahri agar sedikit menjauh darinya.


Pandangannya menatap ke arah wajan yang sudah mengepul asap. Dan ikan yang berubah warna menjadi estetik.


"Ikannya gosong!!" seru Arumi.


Kedua pasutri itu pun langsung panik dan mematikan kompor tersebut. Mereka saling menatap, lalu kembali melemparkan pandangannya ke arah lain.


Fahri mengusap tengkuknya, mencoba mengusir rasa canggung yang langsung menyergap dirinya. Sementara Arumi, gadis tersebut memainkan buku jemarinya sembari menekuk bibir bawahnya ke dalam.


"Se-sepertinya ikan kita tidak bisa terselamatkan lagi," ujar Fahri yang langsung bergerak mengambil piring, lalu meletakkan ikan yang sudah berwarna kehitaman itu di atas piring.


"Iya. Sepertinya juga begitu,"gumam Arumi yang berusaha menahan tawanya.


"Apa itu? Apa yang kami lakukan tadi? Aku serasa ingi terbang di buatnya, akan tetapi ikan sialan ini ... huh!! benar-benar menggangguku!" gerutu Arumi dalam hati.


"K-kalau begitu, kamu tunggu saja di sana," ucap Fahri sembari menunjuk ke arah meja makan.


"Ah, baiklah." Arumi pun berjalan menuju ke meja makan. Gadis itu menjatuhkan bokongnya di kursi. Arumi kembali menatap punggung Fahri. Pria tersebut membelakanginya dan sibuk melanjutkan masakannya tadi.


Arumi mengetukkan jemarinya di atas meja. Tanpa sepengetahuan Fahri, gadis itu diam-diam mengulum senyumnya, merutuki kebodohan yang mereka lakukan tadi.


Sementara di luar, tepatnya di dinding sebelum masuk menuju dapur. Ketiga pelayan tampak mengendap-endap menempel di belakang dinding tersebut.


"Aku tidak tahu jika ada adegan yang seperti ini. Mencium bau terbakar dari dapur membuatku panik," ujar pelayan 1.


"Aku juga. Ku kira memang ada kecelakaan di dapur. Tidak tahunya ....," ucapan dari pelayan 2 terputus langsung disahuti oleh pelayan 3.


"Sudahlah! Lagi pula mereka masih menikmati masa-masa pengantin baru mereka,"ucap pelayan 3.


"Tapi bukankah mereka sudah cukup lama menikah? 3 bulan apakah masih dikatakan pengantin baru?" celetuk pelayan 1.


"Sssttt ... sebaiknya kita tidak usah mengurusi masalah kehidupan mereka. Di sini kita hanya bekerja. Sudah! Ayo sekarang lanjutkan pekerjaan masing-masing. Kalau nyonya tahu kita disini, akan lebih bahaya lagi," ujar pelayan 3.


Kedua pelayan yang lainnya pun mengangguk pelan. Mereka mengendap-endap berjalan menjauh untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.


....


Makanan sudah siap di hidangkan. Ada sup ayam, tahu goreng, serta omelette yang tersaji di atas meja.


"Entah lidahmu cocok atau tidak dengan masakan sederhana ini," ujar Fahri seraya menyiapkan alat makan di atas meja. Pria itu pun menjatuhkan bokongnya di kursi yang ada di hadapan Arumi.


"Aku sudah bisa menebak, dari aromanya saja sudah jelas jika masakanmu itu rasanya pasti juara,"ucap Arumi seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.


Mendengar penuturan Arumi, membuat Fahri mengulas senyumnya. Ia benar-benar kagum akan sikap Arumi yang bisa dikatakan tidak gengsian. Berbanding terbalik dengan mantan istrinya terdahulu.


"Bolehkah aku mencicipinya?" tanya Arumi yang sudah siap mengambil sendok di tangannya.


"Tentu saja, silakan!" Fahri mempersilakan sang istri untuk mencicipi masakannya. Pria itu menatap wajah Arumi dengan seksama, melihat penilaian akan masakannya dari raut wajah sang istri.


Mata Arumi terbuka lebar, lalu kemudian terpejam merasakan kenikmatan dari masakan Fahri. "Ini benar-benar luar biasa enak!" ujar Arumi dengan mata yang berbinar penuh antusias.


Fahri kembali mengulas senyumnya. "Kalau begitu, habiskanlah!" ucap Fahri.


Arumi langsung mengernyitkan keningnya. " Kamu juga ikut makan. Ini banyak sekali, tidak mungkin akan habis olehku sendirian," protes Arumi.


Fahri terkekeh. Ia pun meraih sendoknya dan ikut bergabung makan bersama istrinya. Keduanya menyantap makan siang mereka dengan gembira. Sesekali keduanya tampak saling menyuapi, berbagi makanan melalui sendok masing-masing.


.....


Aldo dan Sifa baru saja tiba di rumah Aldo. Kedua pengantin baru itu terkesan dingin. Mereka turun dari mobil. Aldo yang biasanya membukakan pintu untuk Sifa, memperlakukan gadis itu dengan sangat manis, kini seolah lupa atas sikap yang pernah ditunjukkan oleh istrinya itu.


"Apakah kamu masih marah, Mas? Sikapmu dingin sekali padaku," ujar Sifa yang memulai pembicaraan.


Aldo yang tengah menarik koper tersebut langsung berbalik. "Biasakan untuk tidak memanggilku dengan sebutan itu. Apa yang pernah ada di otakmu tentang mantan suamimu itu, aku harap kamu segera menghapusnya!" tukas Aldo yang marah dengan panggilan tersebut.


"Maafkan aku. Tapi bisakah kamu jangan mendiamiku seperti ini. Aku merasa tidak nyaman. Bukankah kita baru sehari menikah?" tanya Sifa.


"Iya. Kita baru sehari menikah. Tapi kamu menghancurkan semuanya karena masih sibuk terpikirkan oleh mantanmu itu! Lantas kenapa kamu bertanya lagi kepadaku jika aku bersikap seperti ini terhadapmu!"


Aldo melanjutkan langkahnya, menarik koper tersebut menuju ke kamar. Sementara Sifa, wanita tersebut tertunduk menatap lantai. Ia berusaha menahan air matanya agar tak tertumpah. Aldo memperlakukan dirinya dengan kasar.


Sifa melangkahkan kakinya, mengikuti langkah Aldo yang menarik koper berisi barang-barangnya tadi. Setibanya di sana, Aldo meletakkan koper tersebut ke samping lemari. Pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Sifa duduk di sisi tempat tidur. Sembari menatap punggung Aldo yang membelakanginya sedari semalam.


"Sayang, aku minta maaf jika sikapku kemarin-kemarin terlalu menyakitimu. Aku mohon jangan mendiamiku seperti ini. Aku merasa tersiksa," ujar Sifa yang memang tidak terbiasa. Dulu, Fahri sering mengalah. Pria itu lebih dulu menegur Sifa walaupun dirinya beberapa kali dikecewakan.


Namun, kali ini Aldo berbeda. Aldo sama seperti dirinya dulu saat bersama Fahri. Memperbesar masalah kecil, lebih memilih untuk memelihara rasa egoisme yang ada di dalam dirinya.


Aldo membalikkan badannya saat telinganya mendengar isakan tangis dari arah belakangnya. Ia melihat Sifa yang sudah menutup wajahnya sembari menitikkan air mata.


Pria itu langsung bangkit dari pembaringannya. Ia mendekat sang istri, lalu merengkuh tubuh Sifa. "Sudah ... sudah ... tidak usah menangis. Lagi pula aku tidak ingin kamu masih memikirkan pria itu. Saat ini aku adalah suamimu!" tegas Aldo sembari mengusap punggung sang istri, mencoba untuk menenangkan wanita itu.


"Maafkan aku. Tolong jangan mendiamiku seperti itu. Aku benar-benar tidak sanggup," rengek Sifa.


"Iya ... iya ... aku tidak akan mendiamkanmu lagi," timpal Aldo


Bersambung ....