Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 178. Kardiomiopati


Elena baru saja tiba di rumah sakit. Ia mengabari ibunya bahwa dirinya telah sampai di sana. Elena pun di arahkan untuk menuju ke ruang unit gawat darurat, mendengar hal tersebut membuat dirinya bertanya-tanya.


Apa sebenarnya yang terjadi?


Siapa yang sekarat?


Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala Elena. Namun, wanita tersebut mencoba untuk menahannya, dan melihat sendiri dengan mata kepalanya nanti.


Sesampainya di sana, Elena melihat ibu dan suaminya tengah duduk di kursi tunggu. Ibunya terlihat gelisah, sementara suaminya mengusap wajahnya dengan kasar. Pandangan Samuel tiba-tiba saja mengarah pada Elena yang saat ini berjalan menujunya.


"Elena, ..." Samuel bergumam, lalu kemudian beranjak dari tempat duduknya.


Bu Ani pun langsung menghampiri putrinya yang memperlihatkan raut wajah kebingungan.


"Mama dan Samuel ada di sini. Berarti kemungkinan yang ada di dalam adalah ...."


Lutut Elena melemas, untung saja dengan cepat Samuel menangkapnya. Hingga tak terjadi apa-apa pada wanita itu. Elena tak sanggup melanjutkan kata-katanya, pikirannya tertuju pada satu anggota keluarga yang saat ini tak bersama dengan dirinya.


"Ma, papa ...."


Elena menitikkan air matanya, membuat Samuel dengan cepat menyeka bulir bening yang mulai berjatuhan membasahi pipi istri cantiknya itu.


"Papa kenapa, Ma? Bukankah selama ini papa sehat-sehat saja?" tanya Elena.


Bu Ani menggelengkan kepalanya, " Papa terkena kardiomiopati atau yang sering disebut dengan jantung lemah. Ia sudah cukup lama mengidap penyakit ini, akan tetapi ia memilih menyembunyikannya dari kamu. Takut jika nantinya kamu bersedih," jelas Bu Ani.


"Tapi ... papa masih bisa diselamatkan kan?"


"Kita berdoa untuk papa ya, Nak. Semoga Tuhan memberikan keajaiban dan membuat papamu masih bisa bertahan," ujar Bu Ani.


Elena memeluk tubuh suaminya dengan begitu erat. Samuel pun mengusap punggung Elena, mencoba untuk menenangkan sang istri yang sedari sesegukkan memanggil ayahnya.


Elena memang putri yang manja, selalu bergantung pada sang ayah. Tak heran jika Elena bersikap seperti itu karena memang dia adalah anak tunggal.


Cukup lama mereka memandangi ruangan yang masih tertutup itu, karena dokter serta perawat di dalam sana berjuang untuk menyelamatkan nyawa Pak Beni.


Samuel menuntun Elena untuk duduk di kursi. Mengingat saat ini Elena tengah mengandung dan ia tak ingin membuat istrinya itu kelelahan.


Tak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruangan tersebut. Elena kembali beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian menghampiri dokter untuk menanyakan kondisi ayahnya yang ada di dalam.


"Bagaimana kondisi papa saya, Dok?" tanya Elena.


"Pasien berhasil kami selamatkan. Untungnya cepat dibawa langsung ke sini sehingga langsung cepat ditangani," ucap dokter tersebut.


"Apakah penyakitnya bisa disembuhkan, Dok?" tanya Bu Ani.


"Karena penyakit yang di derita oleh pasien merupakan penyakit genetik atau kata lainnya adalah keturunan. Jadi sangat sulit untuk disembuhkan . Namun, bisa diatasi dengan dibantu obat-obatan serta pola hidup yang sehat," jelas dokter tersebut.


"Apakah sudah bisa dijenguk, Dok?" tanya Samuel.


"Sudah bisa," timpal dokter tersebut sembari menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter tersebut.


"Terima kasih banyak, Dok." ketiga orang itu serentak mengatakan kalimat yang sama.


Dokter pun berlalu dari hadapan mereka. Tanpa berlama-lama, Elena langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut.


Elena kembali menitikkan air matanya saat berjalan menghampiri ayahnya yang terbaring lemah di.atas brankar. Namun, dengan cepat ia menyeka air matanya yang sempat jatuh. Elena tak ingin ayahnya melihat dirinya bersedih.


"Papa, ... papa yang kuat ya. Kami disini selalu mendukung papa untuk sembuh," ucap Elena.


Selang oksigen terpasang di hidung Pak Beni. Bibir pria tua itu terlihat memucat. Elena berusaha menguatkan ayahnya untuk tidak menyerah.


Selang beberapa saat kemudian, Pak Beni pun membuka matanya. Pertama kali yang ia lihat adalah wajah cantik putrinya yang sedari tadi menunggunya untuk sadar.


"Papa, ... papa harus kuat ya. Papa harus sembuh biar nanti bisa main sama cucu papa," ujar Elena berucap pada ayahnya.


"Tidak usah memikirkan apapun. Pikirkan kesembuhan papa saat ini. Urusan kantor, serahkan pada Samuel. Biar dia yang mengurusnya. Sudah waktunya untuk papa beristirahat dan menikmati waktu bersantai," ucap Bu Ani.


Pak Beni kembali menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ia pun mengarahkan pandangannya pada sang menantu yang menatapnya dengan kekhawatiran.


"Sam, urusan kantor, sekarang kamu yang menanganinya ya," lirih Pak Beni.


"Tenang saja, Pa. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengelolanya dan tak ingin mengecewakan papa. Aku janji," timpal Samuel dengan begitu mantap.


"Papa memiliki hadiah untukmu," ucap Pak Beni kepada menantunya itu.


Samuel maju selangkah lebih mendekat ke sisi ranjang. Tak lama kemudian, Pak Beni lun mengacungkan ibu jarinya, dan mempeihatkannya secara langsung pada Samuel.


Samuel tersenyum, ia merasa senang karena mertua bengisnya itu akhirnya mendukungnya juga.


....


Malam ini, Arumi dan juga Fahri berencana menjenguk Pak Beni. Saat mendapat kabar dari Samuel, mereka pun memutuskan untuk pergi menjenguk mertua Samuel seusai makan malam.


Sementara Indra, pria tersebut sudah berada di sana lebih dulu. Sementara Arumi dan Fahri, baru saja hendak memasuki mobilnya untuk menuju ke rumah sakit.


Arumi meletakkan parcel buah yang dibelinya tadi sore di kursi belakang. Lalu kemudian ia pun menutup kembali pintu mobil tersebut dan beralih ke kursi depan.


"Pasang sabuk pengamannya, Sayang. Setidaknya untuk menjaga keselamatan," ucap Fahri.


Arumi melilitkan sabuk pengaman tersebut ke tubuhnya. Setelah dirasa sudah siap, Fahri langsung melajukan mobilnya membelah jalanan yang lenggang malam itu.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, mobil yang dikendarai oleh Fahri pun tiba di rumah sakit. Keduanya turun dari kendaraan tersebut, tak lupa juga dengan parcel buah yang diletakkan di kursi belakang tadi.


Arumi dan Fahri menyusuri rumah sakit, berjalan menuju ke ruangan dimana tempat Pak Beni dirawat.


Kedatangan keduanya langsung disambut oleh Bu Ani. Arumi pun langsung memeluk Bu Ani, lalu kemudian beralih pada Elena, mencoba untuk menguatkan wanita itu karena saat ini kondisinya sedang hamil. Arumi pernah berada di posisi Elena, saat hamil muncul masalah bertubi-tubi yang membuat pikirannya kacau hingga kehilangan sang buah hati.


"Yang kuat ya, berusaha untuk tetap tenang dan pikirkan bayi yang ada di dalam kandunganmu," bisik Arumi pada Elena.


Elena mengangguk, lalu kemudian tersenyum. "Terima kasih," ucapnya.


"Sama-sama," balas Arumi.


"Oh iya, ini ada bingkisan kecil dari kami, mohon diterima ya Bu," ucap Arumi memberikan parcel buah tersebut pada Bu Ani.


"Terima kasih banyak, Nak."


Arumi hanya menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan. Ia pun duduk di sebelah Elena, sembari memandangi suaminya yang tengah berbincang dengan Indra, Samuel, dan juga Pak Beni.


Setelah cukup lama berada di sana, dirasa hari sudah mulai larut, mereka pun pamit pulang.


.....


Keesokan harinya, Arumi kembali mengunjungi Sifa. Tentu saja seperti biasanya, mengambil pesanan makan siangnya yang akan dibagikan kepada orang-orang yang ada di kantor.


Arumi merasa kasihan, melihat Sifa dengan perut yang membuncit seperti itu, berjuang keras bersama ibunya yang sudah tak kuat lagi. Sementara suaminya saat ini tengah mendekam di balik jeruji besi.


"Perkiraan dokter, kapan kamu akan melahirkan?" tanya Arumi.


"Akhir bulan depan," timpal Sifa sembari menyeka keringatnya, tetapi wanita itu masih berusaha untuk tetap tersenyum.


"Berarti sebentar lagi," gumam Arumi.


"Mau aku bantu?" tawar Arumi.


"Bantu? Bantu apa? Kamu sudah banyak membantu kami, Arumi." Sifa terkekeh.


"Aku akan membantu mengeluarkan Aldo dari penjara, agar dia bisa menemani persalinanmu nanti."


Bersambung ....