Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 184. Berdamai Dengan Masa Lalu


Kabar tentang kelahiran Sifa pun terdengar sampai ke telinga Arumi. Wanita itu hendak menjenguk Sifa, akan tetapi Fahri tak mengizinkannya keluar jika tak bersama dengan pria itu.


Arumi pun menghampiri suaminya yang tengah duduk bersantai di teras sembari menggulir layar iPad yang ada di tangannya. Hari ini adalah hari Minggu, yang tentunya pria tersebut tidak masuk bekerja.


Arumi menarik kursi yang ada di hadapannya. Lalu kemudian meletakkan kedua tangannya ke atas meja dan bertopang dagu.


"Mas, ..." Arumi memanggil suaminya dengan nada yanh sedikit manja.


"Hmmm ...."


"Mas, bolehkan aku menjenguk Sifa?" tanya Arumi.


"Sifa kenapa?" Fahri balik melemparkan pertanyaan pada istrinya itu.


"Dia melahirkan, Mas. Aku ingin menjenguknya, terus menggendong bayi mungilnya itu." Arumi berucap sembari berekspresi gemas, membayangkan bahwa ia tengah menggendong bayi kemerah-merahan itu.


Melihat Arumi yang begitu antusias, membuat Fahri tak tega untuk melarang istrinya itu. Meskipun Fahri agak merasa canggung bertemu dengan Aldo dan Sifa, pria itu berusaha untuk mewujudkan keinginan istrinya.


"Ya sudah, kalau begitu bersiaplah. Mas akan ikut," ucap Fahri.


"Tapi Mas Fahri tidak keberatan kan?"


"Tidak, Sayang."


Gurat bahagia di wajah Arumi pun terpampang jelas saat suaminya itu mengizinkannya untuk menjenguk Sifa. Wanita itu langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian melangkah menuju ke kamar untuk bersiap-siap.


Selang beberapa saat kemudian, Arumi dan Fahri pun masuk ke dalam mobil. Fahri memasang sabuk pengamannya, begitu pula dengan Arumi.


"Apakah kita akan menjenguk saja tanpa membawa apapun?" tanya Fahri.


"Nanti sebelum ke rumah Sifa, kita mampir dulu ke Baby Shop untuk membeli beberapa peralatan bayi," ucap Arumi. Fahri menganggukkan kepalanya, lalu kemudian melajukan mobil tersebut menuju ke jalanan.


Fahri dan Arumi baru saja tiba di toko yang menjual berbagai perlengkapan bayi. Wanita itu mengambil banyak perlengkapan bayi yang hendak ia hadiahkan untuk jagoan kecil Sifa.


Sementara Fahri, pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana tidak? Ini terlihat sedikit aneh tentunya, mengandung pernyataan bahwa 'istriku tengah membeli perlengkapan bayi untuk mantan istriku'


Namun, Fahri menghargai keputusan Arumi untuk berdamai dengan masa lalunya. Meskipun ujung-ujungnya Fahri yang merasa sedikit canggung dengan situasi itu.


Setelah membeli perlengkapan yang hendak dihadiahkan untuk anak Sifa, mereka pun kembali masuk ke dalam mobil, melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke kontrakan Sifa.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Fahri pun tiba di tempat tujuan.


"Ini ...." Fahri tercengang saat melihat hunian Sifa saat ini, karena sebelumnya Sifa sangat membesarkan gengsinya dan selalu ingin hidup mewah.


"Kenapa? Tidak usah terkejut, mantan istrimu sudah berubah. I a lebih memahami keadaanya yang sekarang," ujar Arumi yang turun dari mobil terlebih dahulu.


Sesampainya di depan rumah Sifa, Arumi mengetuk pintu. Tak lama kemudian, Aldo membukakan pintu untuk tamunya.


Aldo tercengang saat Arumi datang bersama fahri. Aldo mengusap tengkuknya, bertemu dengan Fahri seperti ini membuatnya sedikit merasa malu.


"Silakan masuk," ujar Aldo seraya mengusap tengkuknya.


Arumi pun masuk ke dalam rumah tersebut. Wanita itu menarik suaminya untuk masuk bersamanya. Saat di dalam, suasana kembali canggung saat Fahri bertemu dengan Bu Kartika dan juga Sifa.


Sebenarnya tujuan Arumi mengajak Fahri datang ke sini tal lain untuk mengajak suaminya berbaikan dengan keluarga Sifa. Bagaimana pun juga dulunya mereka pernah saling mencintai, jadi tidak ada salahnya jika kembali menjalin sebuah ikatan silaturahmi.


Arumi mencoba untuk mencairkan suasana, dengan membuka obrolan dengan memberikan hadiah yang dibawanya serta meminta izin untuk menggendong bayi mungil itu.


Sifa pun dengan senang hati mengizinkan Arumi menggendong putranya. Fahri hanya sesekali tersenyum kaku, ia bingung hendak melakukan apa di sana.


Fahri berbisik pada Arumi untuk memilih menunggu di luar. Pria itu juga meminta izin pada yang lainnya sebelum beranjak dari tempat duduknya.


"Bertemu denganmu seperti ini, sebenarnya membuatku malu. Tapi mau bagaimana lagi, pada akhirnya kita nantinya juga akan berhadapan seperti ini karena istri kita memilih untuk melupakan semua yang telah terjadi dan mulai menjalin pertemanan. Terlalu aneh jika kamu dan aku akan tetap bermusuhan," tutur Aldo panjang lebar.


Aldo mengulurkan tangannya pada fahri sembari tersenyum, membuat Fahri tertegun menatap pria yang ada di sampingnya.


"Maafkan aku karena dulu pernah menyakitimu dan sempat merebut sesuatu yang berharga bagimu," ujar Aldo.


Fahri juga ikut tersenyum. Benar apa yang dikatakan oleh Arumi sebelumnya. Tidak ada salahnya untuk kita melupakan sesuatu yang telah terjadi di masa lalu dengan membuka lembaran baru untuk saat ini.


Fahri tanpa ragu menjabat tangan Aldo. "Aku juga minta maaf padamu jika ada ucapanku yang pernah menyinggungmu," ujar Fahri.


Aldo menganggukkan kepalanya, " Aku juga minta maaf atas nama istri dan mertuaku."


Fahri menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyum. Mulai saat itu, Fahri pun tak lagi merasa canggung saat mengobrol dengan Aldo, Sifa, maupun Kartika. Karena kedua wanita itu sudah meminta maaf secara langsung dengan Fahri, dan Fahri pun menerima permintaan maaf dari mereka.


Setelah cukup lama berada di sana, Fari dan Arumi memutuskan untuk pulang. Keduanya berpamitan pada semua orang yang ada di sana. Bahkan Fahri mendapatkan tawaran dari Aldo untuk tidak usah sungkan-sungkan berkunjung ke rumahnya lagi.


Mobil yang dikendarai oleh Fahri pun mulai melaju ke jalanan. Arumi menatap ke arah suaminya sembari mengulas senyum.


"Bagaimana rasanya Mas, sudah berdamai dengan masa lalu sendiri?" tanya Arumi.


"Aku merasa sangat lega. Seakan beban yang ada di pundakku semuanya terangkat," ujar Fahri.


Sebelah tangan Fahri meraih tangan istrinya, dan yang sebelahnya lagi mengendalikan setir.


"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah membantuku berbaikan dengan mereka," ucap Fahri sembari menggenggam tangan Arumi.


"Sama-sama, Mas."


Keduanya mengulas senyum, sembari menyusuri jalanan sore itu.


.....


Elena mengurus ayahnya. Wanita itu tengah menyuapi ayahnya untuk menghabiskan makanannya. Awalnya Pak Beni menolak bantuan dari Elena, karena bagaimana pun juga ia masih bisa makan sendiri dan kondisinya juga tidak terlalu buruk.


Namun, Elena tetap kekeuh untuk menyuapi ayahnya. Wanita itu akhir-akhir ini lebih banyak menunjukkan rasa kepeduliannya pada sang ayah dari pada yang kemarin-kemarin.


"Pokoknya Elena akan terus menjaga papa, Elena tidak mau jika papa jatuh sakit lagi seperti kemarin," ucap Elena.


"Kamu juga harus jaga kesehatan, Nak. Harus urus Cafe, mengurus suamimu juga. Jika kamu menjaga papa terus menerus sementara kamu sendirinya juga sibuk, nanti kamu jatuh sakit dan tentunya akan membahayakan anak yang ada di dalam kandunganmu," ucap Pak Beni yang mencoba menasihati putrinya.


"Iya, Nak. Kamu fokus saja dengan urusanmu. Masalah menjaga papa kan sudah ada mama. Menjaga papamu merupakan kewajiban mama," sambung Bu Ani yang juga ikut menasihati Elena. Mereka berdua khawatir jika nantinya Elena yang akan jatuh sakit.


"Urusanku tetap akan aku urus, Ma. Apalagi menjaga kesehatan adalah hal yang paling penting saat ini. Elena hanya ingin memperlihatkan bentuk rasa kasih sayang Elena terhadap papa," jelas Elena.


"Baiklah, papa bisa mengerti. Terima kasih ya putriku," ucap Pak Beni mengelus surai panjang Elena.


Sesaat kemudian, terdengar suara Samuel yang baru saja pulang dari kantor. Pria tersebut melihat istri dan mertuanya yang tengah bercengkrama di depan televisi. Samuel pun ikut bergabung, bahkan pria tersebut tanpa malu-malu menunjukkan sifat manjanya kepada ayah mertuanya itu.


"Aku pulang."


Samuel langsung duduk di samping ayah mertuanya itu. Pria tersebut bahkan menjatuhkan kepalanya di pangkuan Pak Beni.


Pak Beni mencebikkan bibirnya, lalu kemudian menutup hidungnya. " Kamu bau, mandi dulu sana!" tukas Pak Beni yang memperlakukan menantunya itu seperti biasanya. Akan tetapi, Samuel sudah paham dengan watak mertuanya itu. Meskipun begitu, Pak Beni sangat perhatian kepada Samuel.


Mendengar ucapan dari Pak Beni tadi, membuat semua orang yang ada di sana menertawakan Samuel. Samuel pun beranjak dari tempat duduknya dengan wajah yang cemberut, lalu sesaat kemudian ia mencium pipi Pak Beni dan langsung kabur takut kena ocehan dari mertuanya itu.


"Hei Samuel, astaga menantu kurang ajar! Awas saja kamu!" tukas Pak Beni yang langsung mencecar Samuel. Semua orang yang ada di sana hanya tersenyum sembari memperhatikan kekonyolan yang diperbuat oleh kedua pria yang berbeda generasi itu.


Bersambung ....