Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 94. Supir Taksi


Hari demi hari sudah terlewati. Namun, hingga saat ini masih menjadi misteri bagi Sifa tentang suaminya. Banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Aldo.


Pria itu sering menerima tamu-tamu berjas, memiliki uang yang bisa mencukupi kebutuhan mereka, akan tetapi Sifa tidak tahu apa pekerjaan Aldo. Wanita itu acap kali mendapati suaminya yang hanya bersantai di rumah, sesekali keluar dan pulang dalam kondisi yang mabuk.


Beberapa kali Sifa mencoba menyelidiki melalui asisten rumah tangga yang bekerja di sana, akan tetapi ia tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya sama sekali.


Sifa mulai merasa bosan. Wanita itu hanya diperbolehkan berada di lingkungan rumah. Jika hendak keluar, Sifa harus membawa Aldo bersamanya.


Setelah kejadian Fahri kemarin, Aldo mengekang Sifa. Apapun yang dilakukan oleh wanita itu harus atas persetujuan sang suami.


Sifa berjalan, mengitari rumah sembari melihat-lihat. Lagi-lagi pandangannya tertuju pada sebuah gudang kosong yang letaknya di halaman belakang.


Sifa pun memberanikan dirinya untuk menghampiri gudang tersebut. Namun, sebelumnya ia mengedarkan pandangannya, melihat sekitarnya apakah aman jika ia melakukan hal ini?


Setelah memastikan tidak ada orang, Sifa pun sedikit mengendap-endap, bak seseroang yang hendak merampok. Perlahan tapi pasti, Sifa pun tiba di gudang tersebut.


Ia mencoba mengintip dari jendela kaca. Namun, sayangnya tertutup oleh hordeng yang menghalangi pandangannya untuk mencapai ke dalam sana.


"Sial! Ternyata Aldo telah menutupnya dengan hordeng. Aku sangat penasaran, apa sebenarnya yang ia sembunyikan dariku," gumamnya pelan.


Tak lama kemudian, Sifa mendengar mobil Aldo yang mulai memasuki pekarangan rumah. Wanita itu segera pergi dari gudang tersebut. Ia mencoba mengintip dari jauh. Akan tetapi Aldo tidak sendirian. Ada mobil lain yang mengikuti pria itu dari belakang.


Mereka memarkirkan mobilnya tidak jauh dari gudang. Lima orang dengan berpakaian serba hitam, turun dari mobil. Salah satu dari mereka sedikit berlari, menutup rapat pagar rumah tersebut.


Kening Sifa semakin berkerut. Ia menaruh curiga pada mereka yang sedang berdiri tepat di depan gedung.


Tak lama kemudian, Sifa melihat Aldo meraba sakunya, membuka kunci pintu gudang tersebut. Setelah pintu sedikit terbuka, beberapa orang pun langsung mengeluarkan kardus yang berukuran sedang yang ada di dalam mobil. Lalu kemudian membawa kardus-kardus itu masuk ke dalam rumah.


"Apa isi dari kardus itu?" gumam Sifa pelan.


Setelah selesai mereka meletakkan semua kardus-kardus yang ada di dalam mobil untuk di bawa ke gudang, Aldo pun kembali mengunci pintunya. Sifa memperhatikan kunci yang dipegang oleh Aldo. Kunci tersebut memiliki gantungan yang berbentuk kepingan puzzle berwarna hitam.


Setelah melihat Aldo mengunci pintunya, Sifa pun memilih untuk pergi dari tempat persembunyiannya, sebelum Aldo menemukannya saat itu juga.


....


Malam itu, Arumi dan Fahri tengah berbaring di kasur . Setelah melepaskan kegadisannya, Arumi pun meminta agar Fahri tidur di kamarnya saja. Arumi sengaja memberikan kamar yang berbeda selama ini hanya takut saja, jika nantinya Fahri merasa tidak nyaman dengan dirinya.


Fahri tengah melihat beberapa gambar anak kecil yang ia cari di internet. Pria itu melihatnya bersama dengan Arumi. Tangan sebelahnya memegang iPad tersebut, sementara tangan satunya lagi ia lingkarkan di pundak sang istri.


"Lihatlah! Yang ini terlihat sangat menggemaskan bukan? Pipinya berisi seperti ini ...," ujar Arumi sembari menggembungkan pipinya yang tirus.


Fahri terkekeh melihat tingkah sang istri. Ia meletakkan Ipad-nya sejenak, lalu kemudian menarik puncak hidung istrinya yang mancung itu.


"Kamu lebih menggemaskan," ucap Fahri.


Arumi mencebikkan bibirnya, mengusap puncak hidungnya yang memerah akibat ulah Fahri. Suaminya itu pun langsung kembali menggigit puncak hidung Arumi, membuat Arumi memukul lengan Fahri berulang kali.


"Berhenti menyiksa hidungku!" geram Arumi.


Fahri mengusap puncak hidung istrinya dengan lembut, lalu kembali memeluk wanita itu. "Istriku, ..."


"Hmmm ... iya," timpal Arumi.


"Istriku, ..."


"Iya sayang. Ada apa suamiku?" tanya Arumi.


Arumi mengangguk pelan. Fahri meletakkan iPad yang ada di pangkuannya ke atas nakas. Lalu kemudian serentak merebahkan diri bersama Arumi. Menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka.


Arumi pun tidur dengan berbantal lengan suaminya. Gadis itu melingkarkan tangannya di perut Fahri. Tangan Arumi sedikit nakal, meraba perut kotak-kotak milik suaminya itu.


"Apakah ini adalah otot-otot pria yang digandrungi oleh sejuta umat?" ucap Arumi sembari terkekeh.


Fahri pun ikut tertawa mendengar ucapan istrinya itu. "Kamu ada-ada saja. Sudah, tidurlah!"


Arumi pun mulai memejamkan matanya, begitu pula dengan Fahri yang juga ikut larut dalam tidurnya.


.....


Malam itu Dewi sedang berada di luar. Ia baru saja mendatangi sebuah acara makan malam yang digelar oleh salah satu temannya terdahulu.


"Apakah kamu tidak membawa supir?" tanya teman Dewi.


"Tidak, aku ke sini hanya menaiki taksi saja," timpal Dewi sembari tersenyum tipis.


"Kalau begitu, aku akan menyuruh salah satu supirku untuk mengantarmu pulang," ucap wanita itu.


"Tidak usah, aku pulang menggunakan taksi saja," tolak Dewi.


Tak lama kemudian, Dewi melihat taksi yang melintas di depannya. Dengan cepat, ia pun menghadang taksi tersebut.


"Terima kasih untuk jamuan makan malamnya," ujar Dewi sebelum masuk ke dalam taksi.


"Lain kali aku akan mengundangmu lagi. Ku harap kamu tidak bosan untuk mendatangiku," ucap teman Dewi.


"Aku tidak akan pernah bosan selagi kamu masih ingin mengajakku," ujar Dewi sembari terkekeh.


"Baiklah. Kalau begitu hati-hati di jalan," wanita tersebut melambaikan tangannya.


Dewi masuk ke dalam taksi, lalu kemudian menurunkan kaca mobil tersebut sejenak, membalas lambaian tangan dari temannya itu.


Taksi pun melaju, membuat Dewi kembali menutup jendela kacanya. Wanita itu pun menyebutkan tempat yang hendak ia tuju, yang tak lain adalah rumah utama.


Supir taksi itu hanya menimpalinya dengan sebuah anggukan. Lalu kemudian mempercepat laju mobilnya agar segera tiba di tempat tujuan.


Dewi merasa sedikit bosan. Ia pun kembali menurunkan jendela kaca, membiarkan angin menerpa wajahnya yang mulai timbul beberapa kerutan.


Dewi sempat terkejut, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat siapa yang meneleponnya, akan tetapi sesaat kemudian Dewi memutar kedua bola matanya.


"Perlu apa lagi dia meneleponku. Ku pikir nyalimu cukup besar karena telah mengancamku kemarin," gerutu Dewi.


Ia memilih untuk mematikan ponselnya, lalu kembali menyimpan benda pipih tersebut ke.dalam tas jinjingnya.


Cukup lama menempuh perjalan, taksi tersebut pun tiba di tempat tujuannya. Dewi mengambil dompetnya, membayar ongkos taksi itu.


"Ini ...," ucap Dewi sembari menyerahkan uangnya.


"Apakah Nyonya sudah melupakanku?" ujar supir taksi tersebut. Pria itu membuka topinya, lalu kemudian menoleh ke belakang. Seketika Dewi pun langsung terkejut menyadari siapa supir taksi tersebut.


Bersambung ....