Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 118. Wanita Yang Berbahaya


Fahri kembali ke kantor. Pria itu langsung menuju ke ruangannya. Dilihatnya Doni datang menghampirinya. "Pak Fahri, ada seseorang datang menemui Pak Fahri. Dia bilang pemilik kilang minyak terbesar di Indonesia yang hendak menjalin kerja sama dengan Bapak," jelas sang sekretaris.


Dahi Fahri langsung berkerut. "Kilang minyak?" tanya pria itu memastikan.


"Iya, Pak."


"Siapa namanya?" tanya Fahri.


"Samuel, Pak."


Mendengar nama yang disebutkan oleh sang sekretaris, membuat Fahri langsung mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apakah kamu tahu yang menempati posisimu sebelumnya?" tanya Fahri.


"Tidak tahu, Pak." Doni menggelengkan kepalanya.


"Lain kali jangan terlalu percaya dengan ucapan orang lain. Apalagi dengan pria yang sedang berada di dalam ruangan saya."


"Sebaiknya kamu lanjutkan pekerjaanmu!" titah Fahri yang kemudian berlalu dari hadapan sekretarisnya itu, berjalan menuju ke ruangannya.


Doni sempat tertegun mencerna ucapan atasannya itu. Lalu kemudian, ia pun kembali ke meja kerjanya, melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


Ceklekk ...


Fahri memutar kenop pintu. Ia melihat Samuel yang tengah bersantai di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut.


"Oh, jadi ini pemilik kilang minyak terbesar di Indonesia," ujar Fahri dengan nada yang sedikit mengejek. Pria itu pun menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di sana.


"Apakah sekretaris barumu mempercayai ucapanku tadi?" tanya Samuel sedikit terkikik geli.


"Hmmm ...."


Seketika tawa Samuel pun pecah. "Aku tidak menyangka, ternyata sekretarismu benar-benar polos," ujar Samuel yang merasa geli sendiri.


Fahri hanya mencebikkan bibirnya, melihat Samuel yang begitu bahagia karena berhasil mengelabui sekretarisnya.


Tak lama kemudian, pria itu pun mengeluarkan sesuatu dalam sakunya, yaitu sikat gigi yang telah dibalut oleh plastik. Ia pun meletakkan sikat gigi tersebut di atas meja, lalu kemudian sedikit mendorongnya hingga benda itu sampai di hadapan Samuel.


"Ambilah, itu barang yang kamu minta," ujar Fahri.


"Terima kasih," ucap Samuel yang langsung mengambil sikat gigi tersebut. Lalu kemudian memasukkan benda itu ke dalam tas yang ia bawa.


"Bagaimana kamu merasa yakin jika mertuaku bukanlah ibu kandung Arumi?" tanya Fahri yang merasa penasaran.


"Aku mendapatkan informasi itu dari seseorang. Dan sekarang, aku ingin membuktikannya," timpal Samuel.


"Kabari aku jika hasilnya sudah keluar," ujar Fahri yang juga ikut merasa penasaran.


"Tentu saja. Asalkan, kamu tidak memberitahukannya sementara waktu pada Arumi. Dan satu hal lagi, kamu harus lebih berhati-hati dengan mertuamu itu," ujar Samuel memperingati.


Fahri mengangguk paham.


Sesaat kemudian, terdengar ketukan pintu. Doni pun masuk ke dalam ruangan Fahri sembari membawakan minuman untuk tamu dari atasannya itu.


"Wah kebetulan sekali. Saat ini aku sedang haus," ujar Samuel merasa senang karena telah disuguhkan minum.


"Oh iya. Kamu jangan terlalu serius, Kawan. Aku dulunya sepertimu juga, bukan pemilik kilang minyak seperti yang ku katakan tadi," jelas Samuel sembari meraih minumannya.


Dino hanya mengangguk sembari tersenyum simpul. Setelah menyuguhkan minumannya, ia pun langsung pamit undur diri.


Samuel mengeluarkan ponselnya, ia pun mengirimkan rekaman yang dikirimkan oleh Sugeng tadi kepada Fahri.


"Video apa ini?" tanya Fahri mengernyit.


"Sebaiknya lihatlah dulu. gambar yang dikirimkan kemarin merupakan tangkapan layar dari video itu," jelas Samuel.


"Bagaimana bisa sekejam itu ...," gumam Fahri tercekat.


"Lalu siapa pria yang ada di dalam mobil itu?" tanya Fahri yang memang tak melihat sosok yang penuh luka itu tak begitu jelas.


"Dia adalah Tuan Fian Aryaduta," ujar Samuel.


Fahri langsung tertegun. Ia kembali menatap layar video yang masih menampilkan gambar depan, memperlihatkan jalanan yang tampak sepi.


"Jadi ... meninggal bukan karena kecelakaan, melainkan dibunuh?" tanya Fahri memastikan.


"Lebih tepatnya sudah direncanakan. Mobil yang dibawa oleh Tuan Fian sudah disabotase. Dan orang yang menyabotase mobil tersebut yang telah memberikan informasi serta rekaman ini kepadaku," beber Samuel.


Jantung Fahri semakin berdegup kencang. Ia menjadi bertambah takut jika Dewi akan melakukan hal yang serupa pada Arumi. Apalagi saat ini, Arumi tengah hamil muda. Kondisi kehamilan istrinya juga terbilang lemah.


"Kamu harus ekstra berhati-hati. Jaga Arumi dan jauhkan ia dari Bu Dewi. Karena wanita itu sangat berbahaya," ucap Samuel.


.....


Arumi baru saja bangun dari tidurnya. Ia menggeliat kecil, lalu kemudian menguap. Wanita tersebut mengarahkan pandangannya ke arah jam yang ada di atas nakas.


"Sudah jam tiga sore. Aku sepertinya tertidur sangat lama," gumam ibu hamil itu.


Arumi pun turun dari tempat tidurnya. Lalu kemudian keluar kamarnya. Arumi melangkahkan kakinya ke arah dapur. Tercium aroma makanan yang membuat Arumi meneguk liurnya.


Setibanya di dapur, pelayan yang bekerja di rumahnya tampak tengah berkumpul di dapur. Mereka yang melihat kedatangan majikannya pun langsung menundukkan kepala.


"Kalian masak apa? Wangi sekali," ujar Arumi.


"Tadi Tuan Fahri membelikan pempek untuk di makan bersama. Kami baru sempat memakannya sekarang," tutur kepala pelayan.


"Bolehkah aku minta satu saja? Aku sedari tadi ingin sekali makan itu," ujar Arumi menunjuk pempek yang sudah digoreng, di hidangkan di atas meja.


"Apakah Nyonya ingin menggoreng kan lagi? Tuan sudah menyisihkannya untuk Nyonya," ucap kepala pelayan.


"Boleh. Tolong nanti bawakan ke halaman belakang ya ... aku sekalian mau melihat-lihat sebentar bunga-bunga yang ada di rumah kaca," tutur Arumi.


"Baik, Nyonya."


Arumi melangkahkan kakinya menuju ke halaman belakang. Wanita itu berjalan menuju ke rumah kaca. Sesampainya di sana, Ia pun langsung memeriksa setiap pot yang ditanam bersama suami tercintanya.


Arumi mengembangkan senyumnya saat melihat semua bunga itu tumbuh dengan segar dan tak ada yang tampak layu satu pun.


"Ternyata tangan suamiku benar-benar ajaib. Hampir semua bunga yang ia tanam tak ada yang layu satu pun," gumam Arumi.


"Fahri mengingatkanku dengan papa. Entah mengapa aku tiba-tiba merindukan papa," lanjut Arumi.


Setelah puas melihat-lihat rumah kaca tersebut, Arumi pun memilih untuk pergi dari tempat itu. Perutnya sudah meronta-ronta ingin di isi. Wanita itu pun teringat akan makanannya tadi.


.....


Sifa mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Aldo tampaknya tidak ada di rumah. Mobil yang sering dikendarainya pun tidak terlihat di tempat biasanya.


Seorang pelayan yang bekerja di rumah itu tampak sibuk berkutat di dapur. Aldo mengganti pelayan lamanya karena kedapatan memberikan kelonggaran pada Sifa dan memperbolehkan Sifa untuk menggunakan ponselnya saat itu.


Setelah kejadian tersebut, pelayan itu pun langsung di pecat oleh Aldo. Dan sekarang, orang baru lah yang bekerja di rumah itu.


Sifa memanfaatkan keadaan. Ia tak ingin kehilangan kesempatan kali itu untuk melarikan diri dari rumah tersebut. Pria yang biasanya berjaga di depan pagar pun tak juga terlihat. Mungkin pria itu menemani Aldo untuk mengambil barang haram yang dijadikan bahan bisnis oleh suaminya itu.


Sifa mengendap-endap, keluar dari pagar rumahnya. Ia telah mempersiapkan semuanya dengan matang. Membawa salah satu ATM milik Aldo yang menjadi pegangannya saat di luar nanti.


Selang beberapa lama kemudian, Sifa pun berhasil kabur dari rumah itu. Ia segera menghadang taksi, dan pergi dari sangkar emas yang membuat hidupnya menderita.


Bersambung ....