
Arumi menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Gadis itu memejamkan matanya, mencoba untuk mencari ketenangan dalam dirinya. Ia berusaha untuk terlihat sekuat mungkin meskipun di dalam dirinya menyimpan sejuta ketakutan.
"Hari yang melelahkan," gumam gadis tersebut seraya menghembuskan napasnya dengan kasar.
Di lain tempat, Sifa saat itu sedang mencuci piring setelah menyuapi Aldo makan. Ia pun mengeringkan piring yang sudah di cuci, lalu kemudian kembali menyusunnya di rak.
Sifa kembali ke kamar, melihat Aldo yang saat itu tengah memainkan ponselnya. Saat Aldo menyadari keberadaan Sifa, ia pun mengucilkan ponselnya, meletakkan benda pipih tersebut ke atas nakas.
Sifa menatap Aldo seraya menggeleng pelan. Ia pun mengambil kotak P3K yang ada di dalam laci. Lalu kemudian mengganti perban yang melilit di kaki Aldo. Saat melihat luka itu, Sifa sedikit bergidik ngeri.
"Bagaimana kamu bisa terjatuh dengan luka seperti ini?" tanya Sifa seraya mengobati luka Aldo.
"Bisa saja. Ada benda tajam yang langsung mengenai tulang kering ku," ujar Aldo menjelaskan.
Aldo meringis kesakitan saat Sifa mengobati lukanya yang masih terasa perih. Dengan telaten, Sifa membalut kembali luka tersebut dengan perban.
"Selesai," ucap Sifa yang kemudian memasukkan kembali semua peralatan yang ia keluarkan. Lalu kemudian menutup kembali kotak P3K tersebut.
Aldo mengulas senyumnya melihat Sifa yang juga tersenyum kepadanya. Pria tersebut meraih tangan Sifa, lalu menggenggamnya dengan erat.
"Terima kasih karena sudah berada di sisiku. Dan maaf karena telah merepotkanmu," tutur Aldo.
Sifa meletakkan jarinya di bibir Aldo. "Sssstt ... tidak usah berucap terima kasih atau pun maaf kepadaku. Sudah tugasku merawatmu yang sedang sakit seperti ini," ucap Sifa.
"Lain kali, kamu harus berhati-hati untuk melakukan apapun itu," lanjut wanita tersebut.
"Apakah dulu kamu memperlakukan mantan suamimu seperti ini juga?" tanya Aldo dengan tiba-tiba.
Seketika raut wajah Sifa mendadak berubah. Aldo memperhatikan Sifa dengan seksama. Ia tampak memikirkan sesuatu.
"Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba melamun?" tanya Aldo.
"Ah, tidak apa-apa. Oh iya, aku sepertinya harus pulang dulu. Lagi pula ini sudah malam," ujar Sifa.
Aldo hanya mengangguk pasrah. Ia melihat Sifa yang langsung mengambil tasnya yang tergeletak di sisi tempat tidur.
"Aku pulang dulu, besok aku akan kembali lagi," ucap wanita tersebut mencium pipi kiri dan kanan Aldo.
Aldo hanya diam tanpa berucap apapun. Ia menatap kepergian Sifa. Baru saja Sofa membuka pintu kamarnya, tiba-tiba Aldo memanggil wanita tersebut .
"Sayang, ..."
"Iya," timpal Sifa berbalik seraya menatap Aldo.
"Setelah habis masa Iddah mu, mari kita langsung menikah," ajak Aldo.
Sifa cukup lama terdiam. Lalu kemudian wanita itu mengembangkan senyumnya seraya mengangguk. Setelah melakukan hal tersebut, ia kembali menutup pintu kamar Aldo.
Sifa berjalan keluar dari rumah Aldo. Namun, dari kejauhan, ia kembali menatap ruangan yang pernah ia lihat sewaktu itu. Meskipun ruangan tersebut berada di belakang, akan tetapi terlihat sedikit tembok dari ruangan itu yang membelakangi halaman depan.
"Sebenarnya aku masih penasaran dengan ruangan itu. Tapi, nanti saja. Aku akan memeriksanya sendiri nanti, setelah aku benar-benar menjadi istri sahnya.
Fahri sedang menjaga toserba seperti hari biasanya, berganti shift dengan rekan kerjanya. Pria itu melakukan tugasnya, merapikan susunan yang ada di rak jika tak ada pelanggan. Namun, ketika ada yang masuk, ia harus siap siaga berada di meja kasir.
Saat tengah merapikan susunan, ia mendengar suara pintu terbuka. Fahri dengan cepat meletakkan sisa barang yang ada di dalam kardus tersebut, lalu kemudian berjalan menuju ke meja kasir.
Namun, ia cukup tertegun saat melihat siapa yang datang saat itu. Biasanya, jika bukan pelanggan pasti Arumi yang mengganggunya. Akan tetapi kali ini berbeda, ia di datangi oleh wanita yang sudah menjadi bagian dari kenangannya.
"Hai ...." Sifa menyapa sembari melambaikan tangannya.
Fahri hanya melihat wanita itu sekilas, lalu kemudian sibuk melanjutkan pekerjaannya yang lain. Yaitu mengecek beberapa produk apakah masih aman atau sudah kadaluarsa.
Tak ada senyuman seperti dulu. Yang ada hanya tatapan dingin dari pria tersebut. Sifa sedikit kecewa akan sikap Fahri yang berubah begitu cepat. Ia pun menurunkan tangannya kembali seraya menekuk bibir bawahnya ke dalam.
"Ada perlu apa?" tanya Fahri yang langsung to the point tanpa berbasa-basi.
Sifa berjalan sedikit lebih mendekat kepada Fahri. Namun, Fahri seolah menjaga jarak dari wanita itu. Ia justru melangkah semakin menjauh sebanyak langkah Sifa mendekatinya.
"Apa kabar?" tanya Sifa berbasa-basi.
Setelah pulang dari tempat Aldo, ia menuju kemari untuk menemui Fahri. Entah mengapa, Sifa merasa ada sesuatu yang membuatnya kehilangan. Maka dari itu, untuk menghilangkan sedikit rasa sesal tersebut, Sifa menemui Fahri dengan tujuan untuk meminta maaf pada mantan suaminya.
"Seperti yang kamu lihat. Aku tampak baik-baik saja meskipun tanpamu," timpal Fahri dengan enteng.
"Ah iya." Sifa mengusap tengkuknya. Respon Fahri benar-benar sangat tidak mengenakkan. Pria itu terkesan dingin terhadapnya.
"Jika kamu selesai berbicara, sebaiknya pulanglah. Jika kamu ingin berbelanja, silakan ambilah apa yang kamu butuhkan," ujar Fahri.
Pria tersebut berbalik, hendak meninggalkan mantan istrinya. Namun, dengan cepat Sifa menarik tangan Fahri untuk menghentikan langkah pria tersebut.
"Tujuanku datang kemari untuk meminta maaf padamu. Selama ini, sikapku sebagai seorang istri banyak kekurangan. Aku merasa bersalah setiap waktunya saat mengingatmu. Dan aku berencana akan menikah dengan Aldo setelah masa Iddah ku habis. Maka dari itu, aku ingin meminta maaf kepadamu agar urusanku dilancarkan. Dan rasa bersalahku sedikit berkurang," papar Sifa.
Fahri tersenyum remeh menatap mantan istrinya. "Tidak! Aku tidak akan memaafkanmu. Bukankah sebelumnya sudah aku katakan. Aku memberimu banyak uang, lalu kemudian cintai diriku hingga penuh. Agar kamu merasakan apa yang aku rasakan. Nikmati saja karmamu tanpa harus mengeluhkannya kepadaku," ujar Fahri panjang lebar. Ia menepis tangan Sifa yang memegangnya dengan erat.
"Jika kamu ingin menikah dengan pria itu, lakukan saja sesukamu tanpa harus datang kemari dan menceritakan semuanya padaku. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi." Fahri berjalan meninggalkan Sifa begitu saja.
Tak lama kemudian, pria itu kembali berbalik melihat mantan istrinya yang saat ini tengah menatapnya dengan wajah sendu.
"Apa kamu tidak akan berbelanja? Jika memang tidak, sebaiknya untuk tidak mengganggu pekerjaanku," kecam Fahri.
Sifa menghentakkan kakinya. Ia benar-benar kesal karena Fahri terlalu bersikap kasar pada dirinya. Sikap Fahri terhadapnya sangat berubah seratus delapan puluh derajat dari sikap yang sebelumnya.
Sifa keluar dari toserba itu dengan perasaan dongkol. "Dasar pria brengsek!" umpatnya seraya melangkahkan kakinya menjauh dari toserba itu.
Sementara Fahri, ia masih menatap punggung istrinya yang semakin menjauh. Bohong jika ia sudah melupakan cintanya pada Sifa begitu saja. Fahri hanya mencoba untuk menahan rasa dan tidak ingin kembali membiarkan perasaannya dapat merusak logikanya.
"Biarkan seperti ini. Jangan tunjukkan apapun padanya. Ini adalah pilihanku, jalan yang tepat untuk ku tempuh," gumam Fahri yang mencoba untuk mensugesti dirinya sendiri.
Bersambung ....