Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 102. Tertangkap Basah


Malam itu, Dewi mulai beraksi. Ia menggunakan kepercayaan Arumi, untuk memutuskan cctv yang ada di ruang kerja. Wanita tersebut telah berhasil melakukan semuanya, kini tinggal lah Dewi bergerak untuk mencuri dokumen penting yang tersimpan di dalam ruang kerja tersebut.


Waktu telah menunjukkan pukul 1 dini hari, Dewi pun melihat keadaan sekitarnya, semua orang tampaknya sudah tertidur, hanya beberapa penjaga yang berjaga di depan rumah.


Dewi mengendap-endap, mulai masuk ke dalam ruang kerja mendiang suaminya itu. Wanita tersebut telah berhasil masuk ke dalam ruangan itu. Ia pun dengan segera, mencari di setiap rak dan juga meja kerja yang ada di sana.


"Malam ini harus membuahkan hasil. Aku tidak ingin mengulur waktu terlalu lama," gumam Dewi dengan tangan yang sibuk mengacak-acak dokumen lainnya untuk mencari dokumen yang ia tuju.


Dewi sibuk mencari ke sana dan kemari, akan tetapi ia tak menemukan apapun di dalam dokumen itu. Keningnya mulai berkeringat, sudah cukup lama ia berada di dalam ruangan tersebut akan tetapi belum juga membuahkan hasil.


"Sial! Di mana letak dokumen itu!" geram Dewi sembari menyeka keringatnya.


Wanita itu sudah mencari di setiap sudut rak, bahkan sudah mengacak-acak meja kerja, serta laci yang ada di meja kerja tersebut. Namun, hasilnya tetap nihil.


"Apakah dia sudah memindahkannya? Tapi sebelumnya aku melihat dokumen tersebut ada di sini!" tukas Dewi sembari menatap ke arah meja kerja.


Dewi merasa bahwa dirinya terlalu lama berada di dalam ruangan ini. Takut saja jika nanti ada yang menaruh curiga padanya karena masuk ke ruangan itu saat malam hari.


Dewi pun membereskan semua dokumen-dokumen yang sempat ia acak-acak, kembali seperti semula. Setelah semua dirasa cukup, Dewi pun melangkah menuju pintu keluar, membuka pintu tersebut secara perlahan. Namun, ia dikejutkan dengan sesuatu yang ada di hadapannya.


Baru saja Dewi membuka pintu, tiba-tiba Arumi sudah berdiri di balik pintu. Memperhatikan Dewi dengan seksama.


"Sedang apa?" tanya Arumi terkesan dingin. Ia tak pernah memperlakukan Dewi dengan hanga semenjak sang papa pergi meninggalkannya.


"Ah ini ... mama mencari anting mama yang sempat terjatuh tadi sore," kilah Dewi, mencoba memperdayai putrinya.


"Benarkah?" tanya Arumi memastikan.


"Iya, Nak. Lagi pula mana mungkin mama berbohong," ujar Dewi mencoba untuk mencari pembelaan.


Ujung jemari wanita tua itu terasa dingin, karena kedapatan langsung oleh Arumi sendiri.


"Kalau begitu, mama permisi dulu. Lagi pula mama sudah mengantuk," ucap Dewi yang mencoba berlalu dari hadapan Arumi. Akan tetapi, Arumi tak menyingkir dari depan pintu. Membuat Dewi tak bisa keluar.


"Nak, mama mau lewat dulu," ujar Dewi.


Arumi semakin menghalangi langkah Dewi. Gadis itu menatap Dewi dengan tajam. "Sampai kapan mama menjadi seorang penipu seperti ini?" tanya Arumi mendelik.


"Pe-penipu? Apa maksudmu, Sayang?" Dewi balik bertanya.


Selangkah demi selangkah Arumi semakin mendekat kepada ibunya. Ketika Arumi berjalan maju, Dewi pun berjalan mundur.


Dewi pun langsung membelalakan mata. Ia melihat dokumen tersebut dengan sedikit rasa keterkejutannya.


"A-apa maksudmu? Ka-kamu tidak bisa menuduh mama sembarangan, Arumi." Dewi masih mengelak. Ia tak ingin langsung terlihat panik, akan tetapi dari cara ia berbicara pun Arumi sudah bisa menebak, bahwa ibunya itu tengah ketakutan.


Arumi kembali melangkah maju, membuat Dewi melangkah mundur. Hingga akhirnya, langkah Dewi pun terhenti karena bagian tubuhnya sudah mengenai meja kerja mendiang suaminya.


"Mama sengaja memutuskan cctv bukan? Akan tetapi aku memiliki cadangannya," ujar Arumi sembari menatap ke arah vas bunga yang ada di meja kerja tersebut.


Dewi mengikuti arah pandang Arumi. Matanya langsung membola, mendapati sebuah kamera kecil yang terpasang di vas bunga tersebut.


"Masih ingin mengelak?" sindir Arumi dengan nada yang penuh penekanan.


Kali ini Dewi hanya terdiam. Ia tak bisa lagi menjawab perkataan Arumi. Dirinya benar-benar tertangkap basah oleh Arumi.


"Sebaiknya segeralah keluar dari sini, atau mama akan aku jebloskan langsung ke penjara," ujar Arumi.


"Jebloskan ke penjara?" Dewi tiba-tiba terkekeh. Ia merasa geli akan ucapan yang dilontarkan oleh Arumi.


"Putriku, kamu tidak bisa menjembloskan ku hanya dengan bukti kamera saja. Aku adalah istri sah dari papamu. Jadi, aku masih berhak atas dirimu dan semua peninggalan papamu," elak Dewi.


Arumi terkekeh mendengar ucapan yang keluar dari wanita paruh baya yang ada di hadapannya. "Mama, apakah mama kita aku tidak merekam ucapan mama? Aku juga menaruh penyadap di area sini, dan terdengar jelas jika mama memiliki niat yang tidak baik. Ya ... mungkin sekelas pencuri. Bagaimana pun juga, mencuri itu sangat tidak diperbolehkan. Apakah mama masih merasa kurang dan ingin membanggakan pria jallang itu?" tanya Arumi.


Dewi mengepalkan tangannya. Ia masih beruntung karena Arumi hanya beranggapan bahwa dirinya hendak mengambil keuntungan demi menghidupi pria teman ranjangnya itu. Jika Arumi mengetahui semua kejahatan yang diperbuatnya, bisa-bisa Dewi habis saat itu juga.


"Baiklah. Aku akan pergi. Kamu tidak perlu memanggil polisi segala. Mama akan segera meninggalkan rumah ini," ketus wanita paruh baya tersebut.


Dewi pun langsung berlalu dari hadapan Arumi. Ia memilih aman, lebih baik keluar dari rumah ini dari pada harus mendekam di penjara. Setidaknya jika ia keluar dari sini, wanita tersebut masih bisa bertindak di luaran sana.


Sepeninggal Dewi, Arumi pun memegang kepalanya. Ia benar-benar tak menyangka jika selama ini Dewi lah yang serakah. Bahkan, wanita itu rela melunturkan kepercayaan Arumi terhadapnya.


"Sebegitu penting kah harta hingga mama membuatku seperti ini? Dan kali ini, aku sadar. Jika yang masuk ke sini adalah pria seranjangnya. Aku baru menyadari ciri-ciri serta aroma parfum yang pernah sempat tercium olehku. Dan bahkan mama lebih memilih Indra yang mengurus perusahaan dibandingkan aku? Mengapa ... mengapa mama memperlakukanku seperti anak tiri padahal aku adalah anak mama sendiri?" gumam Arumi.


Ia mencoba menyeka air matanya yang sempat menetes. Ibu hamil itu mencoba untuk mengatur pernapasannya. Menghirup udara dengan dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.


Setelah ia merasa mulai membaik, Arumi pun membawa dokumen penting itu. Lalu kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat tersebut.


Arumi turun tanpa sepengetahuan Fahri . Ia tidak ingin suaminya itu mencap keluarganya yang tidak baik. Arumi memilih untuk menutup semuanya dengan rapat. Tentang kebusukan yang di perbuat oleh ibunya hari ini. Biarlah Fahri yang menilai Arumi tidak baik. Dan melihat sang mertua tetap baik di matanya.


Bersambung ...