
Fahri saat ini sedang berada di toserba. Seperti hari-hari biasa, ia mencari nafkah tambahan untuk mencukupi kebutuhan sang istri.Pria itu termagu saat keadaan toko sedang sepi.
"Apa kamu yakin, jika wanita yang kau pertahankan itu benar-benar menjaga perasaannya, seperti yang kamu lakukan saat ini?!"
Tiba-tiba Fahri kembali mengingat kalimat yang diucapkan oleh Arumi tadi siang. Entah mengapa, ucapan Arumi membuat Fahri menjadi sedikit gelisah. Di tambah saat ini pria itu tengah berseteru dengan sang istri.
Fahri mengambil ponsel dalam sakunya. Ia mencoba menghubungi nomor Sifa, akan tetapi wanita itu tak merespon panggilan dari Fahri.
Terdengar suara pintu masuk yang di dorong, tanda bahwa ada seseorang yang masuk untuk berbelanja di toserba itu. Fahri menyimpan ponselnya sejenak, mencoba untuk fokus pada pekerjaannya selama ada pembeli.
Tak lama kemudian, suara langkah terdengar mendekati meja kasir. Fahri langsung spontan terkejut saat mengetahui siapa yang tengah berbelanja di toko.
"Elena, ..."
"Kamu, suaminya Sifa kan?" tanya wanita tersebut.
Fahri mengulas senyum seraya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Pria itu memindai satu persatu belanjaan yang dibeli oleh Elena.
"Mana istrimu? Aku telepon tidak pernah diangkat sama sekali," ujar Elena.
"Ada di rumah. Mungkin sudah ketiduran pas pulang kerja. Ada apa? Mau mengajaknya keluar lagi?" tanya Fahri dengan ramah.
"Keluar? Hah! Yang benar saja!" ucap wanita tersebut seraya memutar bola matanya dengan malas.
"Dia bahkan hampir empat bulan ini menghindari ku karena takut ditagih hutang," sambung Elena.
"Hutang?" tanya Fahri memastikan.
"Iya hutang."
"Berapa?"
"Totalnya dua ratus juta sama bunga. Kemarin katanya akan dibayar secepatnya, tapi sudah beberapa bulan ini dia menghindari ku, bahkan teleponku saja tidak di angkat," ketus wanita tersebut.
DEGGG ...
Fahri benar-benar terkejut. Kini kebohongan Sifa terbongkar sekaligus. Perihal ia yang selalu pergi bersama Elena dan juga perihal hutang yang tak diketahui oleh Fahri sama sekali.
"Tolong katakan padanya agar tidak menghindari panggilan ku. Kamu juga ... sebagai suaminya, tolong kamu lunasi hutang istrimu itu. Jumlahnya tidak sedikit," ujar Elena mengambil plastik belanjaannya setelah melalukan transaksi pembayaran. Wanita itu melangkah pergi menuju pintu keluar.
Fahri tertegun. Ia seakan kehilangan akal sesaat. Mencoba untuk mencerna kejadian sesungguhnya.
"Jika bukan dengan Elena, dengan siapa ia sering keluar malam?"
Banyak pertanyaan yang bermunculan di dalam benak Fahri. Ia melihat kondisi toko yang kembali sepi. Pria itu pun merogoh ponselnya dari dalam saku. Mencoba untuk menghubungi sang istri. Namun, tak ada jawaban atas panggilannya.
Fahri mulai gelisah. Ia melirik jam yang ada di ponselnya. Jam kerjanya habis sekitar dua jam lagi. Dan Fahri merasa benar-benar ingin pulang saat ini juga.
Ia menghembuskan napasnya. Mencoba untuk menenangkan pikirannya sejenak.
"Tidak mungkin. Aku harus percaya pada ucapan istriku saja. Jangan berpikiran yang macam-macam," gumam Fahri mencoba untuk menenangkan dirinya.
Sementara di lain tempat, Sifa saat ini tengah berduaan di bar bersama dengan Aldo. Pria itu menuangkan alkohol ke dalam gelas Sifa.
"Ada apa? Apakah kamu sedang bertengkar dengan suamimu itu?" tanya Aldo seraya menenggak alkohol yang ada di dalam gelasnya.
"Aku bosan dengan kehidupan pernikahanku. Aku benar-benar muak dengan pria itu," cecar Sifa dengan raut wajah yang sinis.
"Kenapa kamu tiba-tiba berpikiran seperti itu? Bukankah dulu ka.u lebih memilihnya dibandingkan aku?"
"Itu semua karena kamu yang lebih dulu meninggalkanku! Jika bukan karena kamu menghilang tiba-tiba, mungkin aku akan hidup bahagia bersamamu," ucap Sifa dengan mata yang mulai memerah. Ia mengangkat gelasnya, membasahi tenggorokannya dengan air pahit itu.
Aldo melihat Sifa dengan seksama. Pria itu langsung menarik pinggang Sifa untuk lebih dekat dengan dirinya. Lalu kemudian, mengecup bibir Sifa dengan begitu lembut.
Aldo melepaskan ciumannya saat melihat Sifa yang sudah kehabisan napas. "Ini semua mengingatkanku akan masa lalu kita," bisik Aldo dengan suara yang berat.
Tatapan Sifa menyendu, membuat Aldo kembali menyesap bibir manis itu. Kini keduanya bak kehilangan akal. Mereka sibuk dengan dunianya tanpa memikirkan akibat dari perbuatan yang mereka lakukan.
Aldo membawa Sifa keluar dari tempat tersebut. Ia menarik Sifa untuk masuk ke dalam mobil, lalu kemudian melajukan kendaraan itu dengan terburu-buru.
Mobil yang dikendarai oleh pria tersebut berhenti di sebuah penginapan. Aldo turun dari kendaraannya. Awalnya Sifa ragu, akan tetapi rayuan Aldo membuatnya lemah, mengikuti semua kemauan pria tersebut.
Setelah memesan kamar, Aldo membawa Sifa menuju ke kamar tersebut. Setibanya di sana, ia langsung menarik Sifa untuk masuk ke dalam. Lalu kemudian mengunci pintu.
Aldo melangkah mendekat ke arah Sifa. Ada gurat kekhawatiran di wajah cantik mantan kekasihnya yang kini kembali menjadi kekasih gelapnya.
"Aldo ... a-aku ...."
Aldo langsung membungkam bibir Sifa dengan bibirnya. Ia tidak ingin mendengar penolakan dari Sifa. Pria itu ingin jika Sifa menjadi miliknya untuk malam ini.
Sifa terbuai dalam cumbuan Aldo. Wanita itu mengalungkan tangannya ke leher pria tersebut. Ia melupakan semuanya, melupakan masalahnya dengan cara mengkhianati suaminya.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya jika ada ❤️