
Arumi sedang berada di dalam kamarnya. Wanita tersebut tengah merebahkan tubuhnya, sembari mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Dedek yang kuat ya, Nak. Mama suka nakal, selalu saja membuat dedek sedih, karena mama yang juga sering bersedih," ujar Arumi berbicara pada anak yang ada di dalam kandungannya.
Dari jauh, Fahri memperhatikan istrinya. Ada rasa bersalah karena ia tak berhasil membuat Arumi tersenyum. Semenjak mengetahui bahwa Dewi bukanlah ibu kandungnya, Arumi sering murung. Padahal ia terlihat tidak akur dengan Dewi. Namun, Arumi tidak seburuk yang kelihatannya.
"Jika kabar ini saja sudah membuatmu sangat terpukul, bagaimana kabar yang lainnya. Saat kamu mengetahui bahwa yang membunuh papamu adalah wanita yang telah kamu panggil mama selama ini," batin Fahri.
Fahri segera menghampiri sang istri. Mengambil posisi ikut merebahkan dirinya di samping wanita cantik itu.
"Mas, ...." Arumi memanggil Fahri.
"Iya, Sayang." Fahri menimpali istrinya itu dengan begitu lembut.
Namun, Arumi memilih tak melanjutkan ucapannya. Ia justru berbalik dan masuk ke dalam pelukan suaminya.
"Ada apa, Sayang? Apakah kamu menginginkan sesuatu?" tanya Fahri.
Arumi diam, ia memeluk Fahri lebih erat lagi. Pria itu pun membalas pelukan sang istri, mendaratkan kecupan tepat di puncak kepala Arumi.
"Mas, aku takut." kalimat ini lolos begitu saja dari bibir Arumi.
Fahri mengernyitkan keningnya, lalu kemudian mencoba mengusap kepala Arumi, menenangkan istrinya itu.
"Istriku, ada aku yang akan selalu menjagamu. Jadi kamu tidak perlu takut," ucap Fahri.
Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama. Fahri takut jika terjadi apa-apa dengan Arumi. Ingin rasanya ia memenjarakan Dewi dengan bukti video yang sudah ada.
Namun, mengingat kondisi Arumi yang tengah mengandung. Membuat Fahri dan Samuel memilih untuk menyembunyikannya sementara waktu. Lagi pula Dewi tidak tahu jika mereka telah mengetahui sifat busuknya.
Fahri memilih mengalihkan pembicaraan untuk membahas yang lainnya. Hal ini bertujuan agar Arumi melupakan masalahnya walaupun sejenak.
Cukup lama mereka berbincang, hingga akhirnya mata Arumi pun terasa mulai berat. Wanita itu langsung terlelap, sementara Fahri sibuk berbincang, mengira bahwa sang istri masih terjaga.
Fahri berhenti berbicara saat mendengar dengkuran halus Arumi. Pria itu pun sedikit menggeser tubuhnya, lalu kemudian tersenyum menatap wajah Arumi yang masih terlelap.
Pria tersebut tersenyum, sembari membenahi posisi tidur sang istri. Fahri menarikkan selimutnya, lalu menutupi tubuh Arumi. Tak lupa, ia memberikan kecupan singkat pada kening istrinya.
Fahri kembali mengatur posisi tidurnya. Pria itu pun memejamkan mata sembari memeluk tubuh mungil sang istri.
.....
Sudah satu bulan lamanya Sifa bersembunyi. Jika hendak bepergian, wanita tersebut mengenakan penutup wajah, agar tak dikenali. Ia takut, jika nanti Aldo akan menemukan keberadaannya.
Hari ini, Sifa berencana akan menemui ibunya. Wanita tersebut sudah lama tak berjumpa dengan Kartika, Ia merasa rindu pada ibunya karena tak bisa melihat wanita yang telah melahirkannya itu satu bulan terakhir ini.
Sifa datang kemari bukan hanya semata-mata rindu saja. Ia ingin Kartika menemaninya untuk pergi ke kantor polisi. Melaporkan suaminya itu seorang pengedar narkoba.
Sifa diam-diam mendatangi apartemen yang di huni oleh ibunya. Wanita tersebut mengedarkan pandangannya, memastikan jika tidak ada Aldo berkunjung ke tempat tersebut.
Beberapa saat kemudian, Sifa pun berada tepat di depan pintu. Wanita tersebut menekan bel beberapa kali, akan tetapi rumah tersebut tak kunjung di buka .
Sifa pun memilih memasukkan kode akses untuk masuk. Pintu pun terbuka, tak menunggu waktu yang lama, wanita itu melangkah masuk ke dalam hunian tersebut.
Sifa mengedarkan pandangannya, melihat tak ada siapapun di rumah itu. Wanita itu pun memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Ia menunggu kepulangan ibunya sembari menonton televisi.
Sudah satu jam Sifa menunggu Kartika. Namun, ibunya itu tak kunjung datang.
"Kemana perginya ibu?" gumam Sifa.
Wanita itu merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Memejamkan matanya sembari menunggu kepulangan ibunya nanti.
Setelah tidur dengan cukup lama, Sifa pun terbangun. Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Wanita itu perlahan membuka matanya. Ia tertegun saat menyadari dimana dirinya sekarang.
"Apa ini? Mengapa aku berada di sini?" gumam Sifa penuh tanda tanya.
Ia mengedarkan pandangannya, serta mendapati dirinya yang sedang berada di kamar, dulunya yang pernah ia tinggali sewaktu bersama dengan Aldo. Tangannya yang sudah di borgol dan dikaitkan di sisi ranjang.
"Apakah ini hanya mimpi?" gumam Sifa.
Sifa kembali memejamkan matanya, akan tetapi saat ia kembali membuka mata, wanita tersebut tetap berada di tempat itu.
Tak lama kemudian, pintu kamar tersebut terbuka. Sifa melihat suaminya masuk ke dalam kamar sembari memperlihatkan seringaian iblisnya.
"Selamat datang kembali di istana kita, Istriku," ujar Aldo.
Sifa mendengkus kesal.
"Apakah tidurmu nyenyak? Jika kamu mengira ini semua adalah mimpi, aku hanya ingin memberitahumu satu hal. Ini nyata, Sayang. Bukan mimpi!" ucap Aldo dengan tawa yang membahana.
"Bagaimana aku bisa ada di sini? Bukankah sebelumnya aku ada di tempat ibuku?" tanya Sifa yang memang merasa benar-benar penasaran.
Aldo tertawa kencang mendengarkan pertanyaan dari Sifa. "Selama ini, aku sudah tahu letak persembunyian mu, Sayang. Hanya saja, aku tidak ingin datang dan tiba-tiba langsung menangkapmu saja."
"Aku menunggu waktu, dimana kamu akan muncul dengan sendirinya, keluar dari persembunyianmu dan langsung memakan umpanku," ucap Aldo seraya terkekeh geli.
Sifa menggeram kesal, sembari sesekali mencoba melepaskan dirinya. Namun, percuma saja karena Aldo tak lagi mengikatnya dengan tali lagi, melainkan memakai borgol.
"Beristirahatlah, Sayangku. Aku tahu kamu sangat lelah karena sudah berkelana kesana dan kemari," ujar Aldo dengan nada yang sedikit mengejek.
Pria itu pun melangkah pergi dari kamarnya. Meninggalkan Sifa di dalam ruangan itu.
Flashback :
Beberapa hari yang lalu, Aldo datang menemui mertuanya. Pria itu memperlihatkan raut wajah sedihnya di hadapan Kartika.
"Ada apa, Nak?" tanya Kartika.
"Aku sedih, Bu. Aku sudah berusaha untuk mendapatkan hati Sifa. Aku memberikan semua yang diinginkannya, akan tetapi Sifa lebih memilih mantan suaminya. Ia bahkan berencana untuk meninggalkanku dan kembali dengan pria itu," ujar Aldo.
"Bukankah mantan suaminya itu sudah beristri?" tanya Kartika.
"Iya, Bu. Tapi tetap saja Sifa selalu menganggap mantan suaminya itu baik dari pada aku. Bahkan, dia rela mengatakan yang tidak-tidak tentang diriku," ucap Aldo.
"Anak itu ... memang benar-benar membangkang. Nanti biar ibu yang akan menasihatinya," ujar Kartika.
Hari itu, Aldo mengantarkan Kartika yang baru saja pulang dari arisan. Wanita tersebut mempersilakan menantunya itu masuk terlebih dahulu.
Namun, ia sempat terkejut karena melihat ada sendal wanita di sana. Kartika ingat, bahwa ia tidak memiliki sendal tersebut.
Kartika pun mengajak Aldo untuk memeriksa rumah tersebut. Saat membuka kamar, Kartika cukup terkejut mendapati Sifa yang tengah tertidur pulas di atas kasur.
"Menantuku, bawalah Sifa pulang ke rumah. Jika tertidur gadis ini sangatlah pulas. Ia tidak akan terbangun dengan mudah," ujar Kartika menyuruh Aldo membawa Sifa segera.
Aldo mengembangkan senyumnya. Kali ini pancingannya pun mengenai sasaran. Bukan Aldo yang menarik paksa Sifa untuk kembali, akan tetapi ibunyalah yang menyerahkan putrinya dengan suka rela.
Bersambung ...