Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 159. Hancur Seketika


Cukup lama Fahri memandangi pintu yang tak kunjung terbuka. Hatinya mulai resah, karena dokter di dalam sana sangat lama untuk keluar dan memberikan kabar tentang istrinya.


Tak lama kemudian, keluarlah dokter yang menangani Arumi. Fahri pun langsung menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Fahri.


"Kondisi istri anda sangat lemah dan untuk bayi yang ada di dalam rahimnya ...." Dokter tersebut langsung menggelengkan kepalanya.


Bak tersambar petir di siang hari, mendapatkan kabar yang begitu menyakitkan ini.


"Tolong selamatkan istri saya, Dok."


"Kami akan berusaha semampu kami untuk menyelamatkan istri bapak. Dan saat ini kami hendak melakukan kuretase untuk mengangkat jaringan yang tertinggal di dalam rahim. Maka dari itu, kami membutuhkan persetujuan dari bapak yang berlaku sebagai suami," ucap Dokter tersebut.


"Lakukanlah yang terbaik, Dok. Tolong selamatkan istriku," ujar Fahri.


Dokter tersebut langsung kembali masuk ke ruang UGD. Fahri yang saat itu tengah duduk di kursi tunggu hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Ia harus merelakan anak pertamanya demi keselamatan istri tercinta.


Fahri mengeluarkan flashdisk dari dalam sakunya. Pria itu menggenggam erat flashdisk tersebut. Ia berencana untuk melaporkan kejahatan Dewi pada polisi, karena video kejahatan Dewi, mereka harus mengikhlaskan anak yang ada di dalam rahim Arumi.


"Ku harap setelah ini kamu akan ditindak seadil-adilnya!" geram Fahri.


Bahkan, Dewi membunuh satu orang lagi, walaupun tanpa menyentuhnya secara langsung.


.....


Berita tentang masuknya Arumi ke rumah sakit sampai di telinga Samuel. Doni, sekretaris dari Fahri mengabarkan hal tersebut melalui pesan singkat, karena memang Samuel pernah berpesan padanya jika terjadi apa-apa yang tak ia ketahui, Doni lah yang harus memberitahukan hal tersebut kepadanya.


Samuel saat itu tengah di dalam ruangan mertuanya. Pria itu tampak gusar, hendak meminta izin tapi bingung ingin mengatakannya, karena memang Pak Beni yang berwajah sedikit seram serta perangainya yang memang lumayan menakutkan.


"Kenapa? Apakah ada yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Pak Beni yang bisa membaca kegusaran dari menantunya itu.


"Emm ... begini Pa, Bolehkah aku keluar sebentar. Ada hal penting yang harus ku urus," ujar Samuel.


"Sepenting apa hal itu hingga kamu rela meninggalkan pekerjaanmu," tukas Pak Beni.


Samuel hanya bisa menunduk. Memang benar apa yang dikatakan oleh Pak Beni. Akan tetapi, bagaimana pun juga. Ia tak bisa melupakan kebaikan dari Arumi. Bukan berarti Samuel masih menyimpan rasa untuk wanita tersebut. Hanya saja, memang Arumi yang sudah dianggap adik oleh Samuel, membuat Samuel tak bisa melepaskan Arumi begitu saja. Apalagi mendengar kabar bahwa wanita itu masuk rumah sakit, membuat Samuel semakin takut terjadi apa-apa pada bayi yang dikandung oleh Arumi.


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Pak Beni sembari menurunkan sedikit kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Kedua orang tersebut langsung menatap ke arah pintu. Ia melihat Elena yang tengah mengulas senyum sembari membawa sesuatu untuk makan siang ayah dan suami tercintanya itu.


"Baiklah, ini adalah kesempatan. Aku akan menggunakan istriku untuk bisa keluar dari sini," batin Samuel.


Pria tersebut langsung meneruskan pesan singkat yang dikirimkan oleh Doni tadi pada istrinya.


"Aku membawakan makan siang untuk papa dan Samuel," ujar Elena yang tampak sumringah.


Sesaat kemudian, notifikasi pesan dari ponselnya pun berbunyi. Elena menatap suaminya sejenak, lalu kemudian membuka pesan singkat dari Samuel.


Elena tampak terkejut saat membaca rentetan pesan dari suaminya. Ia kembali menatap Samuel, pria itu memberikan kode pada Elena untuk membantunya berbicara dengan mertuanya agar ayah mertuanya itu mengizinkannya menjenguk Arumi.


"Pa, aku dan Samuel harus pergi. Salah satu teman kami masuk ke rumah sakit. Bolehkan, Pa?" tanya Elena meminta izin mertuanya itu.


"Teman yang mana?!" tanya Pak Beni yang terkesan sedikit ketus.


Pak Beni pun tercengang. Bagaimana pun juga ia saat ini tengah menjalin kerja sama pada perusahaan tersebut. Mustahil baginya jika tidak mengizinkan anak dan menantunya itu untuk menjenguk Arumi.


"Ya sudah, kalian pergilah! Kamu kenapa tidak bilang jika ingin menjenguk istri dari Fahri. Saya bisa memaklumi itu karena kamu dulunya bekerja dengan mereka. Lain kali, katakan dengan jelas jangan setengah-setengah. Sekarang pergilah! Sampaikan salamku pada Fahri!" titah Pak Beni yang langsung mengizinkan mereka untuk pergi.


"Kalau begitu, kami permisi dulu, Pa." Samuel menundukkan kepalanya, pamit dari hadapan sang mertua.


Samuel langsung menggenggam tangan Elena, berjalan keluar dari ruangan tersebut menuju ke parkiran. Elena melihat genggaman tangan Samuel yang begitu erat, serta kekhawatiran yang terlihat jelas di wajah suaminya itu, membuat Elena menatap Samuel dengan tatapan sendu.


"Benarkah kamu sudah melupakannya? Entah mengapa aku masih merasa khawatir jika kamu akan berpaling dariku," batin Elena.


Keduanya masuk ke dalam lift, menuju ke lantai bawah. Samuel menoleh, melihat istrinya yang hanya diam saja sembari memikirkan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Samuel heran.


"Tidak apa-apa," timpal Elena singkat.


Tinggg ...


Pintu lift pun terbuka. Samuel kembali menarik tangan Elena untuk bergegas keluar dari sana. Akan tetapi, tiba-tiba Elena langsung melepaskan tangannya dari genggaman suaminya.


"Ada apa, El?" tanya Samuel.


Elena menatap ke dalam manik mata suaminya, "Kamu pergilah! Aku akan kembali ke Cafe saja," ujar Elena.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu seperti ini, El?" tanya Samuel yang langsung mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak sanggup melihat kamu menatapnya dengan penuh cinta saat di sana. Lebih baik aku tidak mengikutimu sama sekali darinya pada aku harus menambah luka di hatiku nantinya," lirih Elena.


Samuel langsung mendekati istrinya. Pria itu memegang kedua bahu Elena, menatap sang istri dengan seksama.


"El, sudah ku katakan bahwa aku mencintaimu. Tidak ada lagi rasa tersisa untuk Arumi. Aku menganggap Arumi layaknya seorang adik, begitu juga Arumi yang menganggap aku seperti kakaknya sendiri. Ini bukan waktunya untuk cemburu, El." Samuel mencoba untuk menjelaskan semuanya pada sang istri.


"Tetap saja, Sam. Kamu dulunya pernah mencintai Arumi, aku masih takut jika nantinya kamu kembali menaruh rasa lagi padanya, sedangkan denganku kamu hanya merasa iba," tutur Elena mencoba meluapkan semua uneg-uneg yang selama ini mengganggunya.


"Maka dari itu, aku mengajakmu karena kamu adalah istriku!" bentak Samuel. Beruntung di sana sedang sepi jadi tak ada yang menyadari pertengkaran mereka.


"Supaya kamu dapat melihat, bagaimana aku dengan Arumi. Supaya kamu tidak selalu menaruh curiga padaku. Setelah itu, kamu bisa melihat sendiri, apakah aku masih menyimpan rasa pada Arumi atau tidak. Jangan langsung menyimpulkan sesuatu yang kamu sendiri belum melihatnya."


"Maka dari itu, ikutlah bersamaku!" lanjut Samuel.


Air mata Elena langsung jatuh setelah mendengar penuturan dari suaminya itu. Memang yang dikatakan oleh Samuel benar adanya. Jangan menyimpulkan sesuatu yang kita sendiri belum tahu pastinya.


Tangan Samuel ter-ulur, mengusap air mata Elena yang sempat terjatuh. "Ayo, ikutlah bersamaku, Istriku."


Elena menganggukkan kepalanya. Samuel langsung menautkan jemarinya pada jemari istrinya. Keduanya berjalan keluar dari tempat itu menuju ke parkiran.


Elena memberikan kunci mobil pada suaminya. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil. Samuel pun langsung melajukan kendaraannya menuju ke rumah sakit.


"Tetap tenang, kita juga harus menjaga keselamatan," ujar Elena.


Samuel mengangguk, ia pun menuruti ucapan istrinya untuk berhati-hati dalam berkendara.


Bersambung ....