
Samuel tengah mengelap meja cafe. Pria tersebut sudah terbiasa menekuni pekerjaan barunya yang diberikan oleh Elena. Demi membayar hutangnya yang bersisa lima ratus juta lagi, ia pun rela memeras keringatnya hanya untuk bekerja di cafe, padahal mencuci piring di rumah pun ia enggan.
Suasana di Cafe sudah mulai sepi karena memang tempat itu sudah tutup. Pria itu menduduki salah satu kursi yang ada di sana. Ia menghembuskan napasnya dengan kasar karena merasa kelelahan.
"Aku seperti orang gila, membayar hutang yang sedikit pun tak aku makan uangnya," gerutu Samuel pelan.
Dari kejauhan, Elena menatap Samuel dengan tatapan sendu. Di satu sisi, ia merasa senang karena dengan begitu, Samuel akan tetap bersamanya. Namun, di sisi lainnya, ada rasa kasihan melihat Samuel yang harus bekerja keras demi memenuhi rasa ego dari Elena sendiri.
Tak lama kemudian, Elena merasakan ponselnya bergetar di dalam saku. Gadis itu pun langsung merogoh ponsel tersebut, ia menghela napasnya dengan kasar saat membaca rentetan pesan yang baru saja diterimanya.
"Kenapa semuanya terjadi begitu cepat, aku belum mau melepaskan masa lajangku jika tidak bersama dengan pria itu," gumam Elena.
Elena melangkahkan kakinya, menghampiri Samuel yang sedang beristirahat. Samuel langsung menoleh, saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.
"Ayo kita pulang," ucap Elena seraya mengulas senyumnya.
Perlahan Samuel pun berdiri. Pria itu menuju ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya seperti semula.
Elena memilih menduduki salah satu kursi sembari menunggu Samuel berganti pakaian. Ia sesekali melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu kemudian menatap ke sembarang arah.
Selang beberapa menit kemudian, Samuel pun sudah berganti pakaian dan siap untuk pulang. Elena langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian berjalan mendahului Samuel menuju ke pintu keluar.
Saat semuanya telah keluar, gadis itu pun mengunci pintu Cafe tersebut, lalu kemudian masuk ke dalam mobil, begitu pula dengan Samuel.
Saat di perjalanan, Elena dan Samuel lebih banyak diam. Elena memfokuskan pandangannya ke depan, sementara Samuel menatap ke arah jendela kaca.
Awalnya Samuel merasa biasa saja dengan diamnya Elena. Ia pikir, mungkin gadis itu memahami bahwa saat ini dirinya tengah kelelahan.
Namun, setelah cukup lama, Samuel merasa sedikit curiga pada Elena. Gadis itu benar-benar bungkam, tak mengatakan apapun sedangkan saat ini mobil sudah terhenti tepat di depan rumah Samuel.
"Apakah ada masalah yang serius?" tanya Samuel menatap Elena penuh selidik.
Elena mengulas senyumnya sembari menggelengkan kepala. "Tidak ada. Aku hanya merasa sedikit lelah untuk hari ini," ujar Elena.
Samuel mengangguk paham, pria itu pun mulai melepaskan sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya.
"Terima kasih atas tumpangannya," ucap Samuel yang langsung membuka pintu mobil tersebut.
Elena pun hanya menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan. Hari ini ia memang sengaja memberikan tumpangan untuk Samuel karena motor pria itu sedang ada di bengkel.
Elena melihat Samuel yang melambaikan tangannya, lalu kemudian dengan gerakan seperti menepis, memberi kode bahwa Elena harus segera pergi.
Elena pun tersenyum, lalu kemudian memilih untuk melajukan kendaraannya, namun sebelumnya ia menekan klakson pada Samuel terlebih dahulu.
Samuel melihat kepergian Elena, mobil yang dikendarai oleh gadis itu pun semakin lama menghilang dari pandangannya. Samuel memilih masuk ke dalam rumah, membersihkan dirinya lalu kemudian beristirahat.
.....
Fahri dan Arumi tengah berada di gazebo. Mereka menikmati malam itu dengan secangkir coklat hangat, kembali mengingat saat mereka masih belum mengungkapkan rasa waktu itu.
"Lusa, Mas akan pergi ke luar kota untuk memeriksa anak perusahaan yang ada di luar kota," ujar Fahri.
"Tapi ... Mas sedikit ragu untuk meninggalkanmu sendirian di sini," lanjut pria tersebut.
Arumi yang baru saja menyesap coklat hangatnya pun tersenyum, lalu kemudian melemparkan pandangannya pada sosok pria yang ada di sampingnya itu.
"Di sini aku tidak sendirian. Ada beberapa penjaga serta para pelayan yang akan menemaniku di rumah. Jadi, Mas jangan terlalu merasa khawatir," jelas Arumi.
Fahri cukup lama menatap ke depan, lalu kemudian menyesap minuman manis tersebut dengan perlahan. "Baiklah. Kalau begitu, mas akan berangkat lusa. Kamu harus menjaga dirimu, tidak usah kemana-mana tanpa adanya orang yang akan mengawal mu. Dengan begitu Mas merasa sedikit aman," papar Fahri sembari menatap istri cantiknya dengan tersenyum.
"Siap, Suamiku. Aku akan menuruti perintahmu," ujar Arumi dengan gerakan hormat.
Fahri pun terkekeh, ia menyentuh hidung istrinya itu dengan gemas. "Jangan lupa juga untuk selalu mengabariku!" tegas Fahri.
"Iya," timpal Arumi.
Fahri pun lebih mendekatkan lagi posisinya, menempel dengan Arumi. Pria itu merangkul Arumi, menyalurkan kehangatan dikala dinginnya malam itu.
"Aku mencintaimu, Istriku." Fahri berbisik tepat di depan telinga Arumi. Napas hangatnya menerpa wajah Arumi.
Arumi mengarahkan pandangannya pada sang suami. Lalu kemudian ...
Cup!
Ia mengecup bibir suaminya dengan singkat. "Bukankah kamu membalas ucapan cintaku dulu seperti ini," ujar Arumi terkekeh geli.
Fahri tertegun, ia pun tampak mengingat kejadian sewaktu itu, lalu kemudian ia pun tersenyum menatap istrinya.
"Ku rasa bukan seperti itu caraku membalasnya," ucap Fahri.
Arumi mengernyitkan keningnya. "Lalu bagaimana?" tanya gadis itu.
Fahri langsung meraih tengkuk istrinya, lalu kemudian memagut bibir merah jambu itu, mengecupnya dengan lembut. Setelah dirasa stok oksigen keduanya sudah mulai habis, ditambah dengan suhu tubuh mereka yang mulai meningkat, Fahri pun langsung melepas pagutannya dari bibir Arumi nan sensual itu.
Tangan Fahri menyapu bibir Arumi, mencoba untuk menyeka sisa coklatnya yang masih menempel di sudut bibir sang istri.
"Yang tadi terlalu singkat, dan yang ku perlihatkan adalah cara yang benar," ujar Fahri sembari tersenyum simpul.
"Bibir mu semanis coklat," lanjut pria itu.
Arumi yang sadar akan ucapan suaminya itu pun langsung mengelap sudut bibirnya. "Apakah ada sisa coklat di bibirku?" tanya Arumi yang terlihat sedikit panik.
Fahri menggeleng pelan. "Tidak ada. Aku berkata seperti itu karena memang kamu habis minum coklat, maka dari itu bibirmu terasa seperti coklat," ucap Fahri berbohong. Ia tak ingin wanitanya itu merasa di permalukan.
Arumi tersenyum, lalu kemudian pria itu pun langsung memeluk tubuh suaminya. Terdengar helaan napas Fahri, yang seakan pria tersebut tengah mengalami sesuatu yang amat pelik.
"Ada apa, Mas? Apakah ada masalah?" tanya Arumi mendongakkan wajahnya, menatap sang suami. Ia sedikit memainkan jakun Fahri yang bergerak naik turun itu.
"Tidak ada masalah apapun. Hanya saja ... aku merasa sangat lama untuk berpuasa," ujar Fahri mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
Arumi terkekeh, ia pun langsung melepaskan pelukannya. Wanita itu mengerti, bahwa Fahri cukup lama memendam hasratnya, apalagi dengan dirinya yang terus menempel seperti tadi, tentu saja dapat membangkitkan sesuatu dari dalam dirinya.
"Sabar ya Mas," ucap Arumi terkekeh.
"Aku selalu bersabar, istriku." Fahri menimpalinya dibarengi dengan sebuah anggukan pelan.
Bersambung ....