
Fahri tak berhenti mengembangkan senyumnya saat masuk ke gedung perusahaan. Setelah mengetahui bahwa anak yang dikandung oleh istrinya adalah kembar, membuat kebahagiaan Fahri semakin bertambah. Pria itu tak sabar menunggu kehadiran anaknya ditengah-tengah mereka.
Fahri masuk ke dalam ruangannya. Ia pun langsung menempelkan foto hasil USG tadi di sebuah bingkai kecil, yang letaknya tepat di tengah-tengah foto pernikahan mereka.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Indra pun muncul dari balik pintu tersebut sembari membawa catatan beberapa poin penting yang dibahas saat pertemuan tadi.
"Ini poin penting yang mereka bahas tadi," ujar Indra menyerahkan catatan tersebut pada Fahri.
Fahri langsung mengambil catatan tersebut dari tangan Indra, membaca secara seksama poin-poin penting yang tertulis di kertas tersebut.
Indra memperhatikan wajah Fahri. Pria itu tampaknya sangat bahagia karena sedari tadi tersenyum walaupun dalam keadaan hanya sekedar membaca catatan yang baru saja diberikan oleh Indra.
"Apakah ada sesuatu yang menggembirakan? Hingga kamu tak berhenti senyum seperti ini?" tanya Indra.
Fahri mengambil bingkai kecil yang ada di hadapannya, lalu kemudian memperlihatkan foto hasil USG tadi pada Indra.
"Lihatlah! Ini foto hasil USG Arumi tadi. Dokter bilang bahwa anak yang ada di dalam kandungan Arumi adalah anak kembar," ucap Fahri menjelaskan semuanya dengan mata yang berbinar.
"Wah benarkah? Selamat kawan! Akhirnya kalian mendapatkan anak kembar juga," ujar Indra yang ikut berbahagia mendengar kabar dari Fahri.
"Terima kasih, Ndra. Aku sangat tidak sabar menantikan kehadiran mereka. Sungguh aku sangat-sangat bahagia, Ndra."
Aldo mengambil alih profesi sang istri. Sekarang, dialah yang sibuk di dapur sementara Sifa mengurus buah hatinya.
Anak mereka sudah pandai berceloteh, terkadang mendengar hal tersebut menjadi hiburan mereka di saat rasa lelah melanda.
Sifa baru saja selesai memberikan asi untuk anaknya. Wanita tersebut membaringkan buah hatinya, lalu kemudian sedikit memainkan dagu jagoan kecilnya sembari memasang wajah lucu. Bayi tersebut tersenyum saat melihat wajah ibunya yang terlihat lucu itu.
Tak lama kemudian, pandangan pandangan Sifa teralihkan saat melihat ponsel yang tak jauh dari jangkauannya itu berbunyi. Sifa pun langsung meraih ponselnya, dan mengangkat panggilan dari Arumi.
"Halo Arumi, ...."
"Sifa, aku ingin memberitahukan sesuatu kepadamu," ujar Arumi dari seberang telepon.
"Sesuatu? Apa itu?" tanya Sifa.
"Tadi aku melakukan USG dan ternyata anak yang ada di dalam kandungan ku ini adalah anak kembar," ucap Arumi yang terdengar antusias.
"Wah benarkah? Aaaa ... berarti doaku akhirnya terwujud juga. Kamu memiliki anak kembar," ujar Sifa yang juga ikut merasa senang mendengar kabar baik dari Arumi.
"Terima kasih, Sifa. Karena kamu sudah mendoakan aku dan sekarang doamu dikabulkan oleh Tuhan," ucap Arumi.
"Iya, nih. Kamu harus jaga kesehatan ya, ingat jangan sampai terlalu kelelahan. Jaga bayimu dengan baik. Aku tidak sabar melihat mereka lahir nantinya, pasti bayi kembarmu akan sangat cantik ataupun tampan," tutur Sifa.
"Hehe baiklah. Oh iya, mana si Berlian?" tanya Arumi menanyai keberadaan anak Sifa.
"Ini ada, sedang bermain denganku," timpal Sifa.
"Ya sudah, kalau begitu aku tutup teleponnya ya. Berlian ... Tante rindu, kapan-kapan tante main lagi ke sana ya ...."
"Iya, Tante." jawab Sifa yang menirukan suara anak kecil.
Tak lama kemudian, panggilan telepon pun terputus. Aldo baru saja masuk ke dalam kamar menemui anak dan istrinya.
"Siapa?" tanya Aldo
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu." Aldo tersenyum, ikut bahagia juga mendengar kabar yang dibawa oleh istrinya
Setelah menjalani masa tahanan selama beberapa bulan, Dewi dilarikan ke rumah sakit jiwa karena sering mengamuk tak jelas di sel tahanan, bahkan wanita tua itu nekat menyakiti dirinya sendiri demi dapat keluar dari sana.
Polisi pun melarikan Dewi ke rumah sakit jiwa. Hal tersebut tentu saja membuat Dewi senang, karena kegilaan yang ia buat itu hanya sandiwara belaka, hanya untuk mengelabui polisi agar membawanya ke tempat yang lebih aman lagi.
Dewi sering kali mendapatkan penyiksaan dari teman satu penjaranya, dan itu lah yang membuat wanita itu nekat melakukan hal apapun asalkan dapat keluar dari tempat yang menurutnya adalah neraka baginya .
Saat berada di dalam penjara, ada satu wanita baik yang selalu mengunjunginya Dewi. Wanita itu bernama Deva, ia memberikan beberapa tips gila kepada Dewi agar terbebas dari sana. Dan Dewi pun menuruti semua apa yang wanita itu ucapkan.
Kini, Dewi benar-benar keluar dari penjara dan dirinya saat ini tengah berada di rumah sakit jiwa dengan salah satu tangan yang diborgol sementara borgol satunya lagi dikaitkan pada sisi ranjang yang Dewi tempati.
Dewi tampak senang dan berterima kasih pada wanita itu. Ia berencana mengucapkannya secara langsung, menunggu kedatangan wanita tersebut kembali menjenguknya.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki menuju ke arah Dewi. Seorang wanita dengan baju perawat tampak mendorong medical trolley mendekat ke arah Dewi.
Dewi hanya bisa tersenyum sembari bertanya siapa yang datang, karena memang dirinya yang tak bisa melihat.
Wanita berpakaian perawat itu hanya diam, lalu kemudian menyuntikkan obat ke lengan Dewi.
Dewi hanya duduk tanpa protes, baginya tempat ini adalah tempat yang aman. Tak akan ada orang yang berani menyakitinya di tempat yang dijaga ketat oleh polisi itu.
Setelah menyuntikkan obat pada Dewi perawat tersebut mencondongkan wajahnya tepat di depan telinga Dewi. Ia menurunkan maskernya sembari membisikkan sesuatu pada Dewi.
"Apa kabar, Nyonya. Aku Deva," ucap Perawat tersebut.
Dewi mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan dari wanita itu . "Deva, ... kenapa kamu ada di sini, dan bagaimana kamu bisa menyuntikkan sesuatu padaku?" tanya Dewi.
"Karena aku memang seorang perawat, Nyonya." wanita itu terkekeh.
Dewi langsung menaruh curiga pada wanita itu, karena disaat pertama kali Dewi menanyakan siapa dirinya, wanita tersebut tak menjawabnya sama sekali.
"Obat apa yang kamu suntikan?" tanya Dewi yang mulai merasa panik.
Wanita itu kembali terkekeh. "Hanya obat penghilang rasa sakit, Nyonya. Sakitnya hanya sebentar saja, setelah itu anda akan merasakan damai selamanya," bisiknya.
"Oh iya, ada salam dari ayahku, Sugeng. Aku adalah anak yang dibiayai sekolahnya dari hasil memerasmu, Nyonya."
Mendengar hal tersebut Dewi langsung bergidik ngeri. Tangan wanita tersebut langsung gemetaran karena ucapan si perawat itu.
"Ah iya, obat yang ku suntikan tadi akan segera bekerja. Nyonya akan tiba-tiba merasakan sakit di bagian dada karena serangan jantung dan langsung menyusul ayahku," ucapnya.
"Kamu, ...." Dewi merasakan nyeri di bagian dadanya teramat sangat, tanda obat tersebut telah bereaksi .
"Nyawa harus dibayar dengan nyawa, Nyonya. Silahkan menikmati mautmu," ujar wanita tersebut kembali memasang maskernya.
Ia melangkah pergi dengan kembali mendorong medical trolley. Wanita tersebut melenggang tanpa merasa bersalah sedikit pun. Sebuah senyuman terbit dari balik maskernya.
"Ayah, dendammu sudah terbalaskan."
Bersambung ....