Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 153. Jodoh Tak Terduga


"Saya yang akan menjadi pengganti pengantin prianya," ujar Samuel tanpa keraguan sedikit pun.


Elena hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bagaimana pun juga, pria itu pasti ingin menikahinya karena lantaran rasa iba. Elena berpikir jika Samuel hendak menolongnya supaya keluarga Elena tidak malu atas batalnya pernikahan tersebut.


"Jika kamu hanya ingin bermain-main saja, lupakanlah! Saya tidak akan memberikan restu saya pada pria yang hanya ingin mempermainkan hati anak saya," ucap Pak Beni seraya mendengus kesal.


Pak Beni hendak pergi dari ruangan tersebut, akan tetapi langkahnya tertahan saat ia mendengar kembali penuturan Samuel.


"Bapak bisa pegang ucapan saya. Saya tidak akan mempermainkan anak bapak. Saya mengenal putri bapak sudah cukup lama. Dulu ... saya mengira jika rasa nyaman bersama dengannya adalah sebatas pertemanan saja. Namun, setelah mengetahui tentang pernikahan ini, saya hampir gila. Setengah kewarasan saya seakan menghilang begitu saja."


"Saya tidak senang jika Elena bersama pria lain. Saya juga merasa sakit hati jika Elena dipersunting oleh pria lain. Ini adalah kesempatan saya, Elena akan saya jaga dengan baik, Pak Beni. Anda tidak perlu khawatir." Samuel berucap panjang lebar, berusaha meyakinkan Pak Beni bahwa ia pantas untuk menjadi suami Elena.


Pak Beni tampak berpikir sejenak, lalu kemudian memandang istrinya. Bu Ani menganggukkan kepalanya, tanda menyetujui permintaan dari Samuel.


"Lalu ... bagaimana denganmu, El? Papa tidak ingin kamu merasa tertekan batin setelah menikah dengan pria ini," ujar Pak Beni.


Elena tertegun, ia menatap ke arah Samuel yang kini tengah menunggu jawaban darinya.


"Pa, bisakah aku berbicara sebentar dengan Samuel?" tanya Elena.


Pak Beni tak menjawabnya, ia hanya melangkah pergi sembari membawa istrinya, membiarkan dua insan yang tengah mempertanyakan hatinya itu.


Sepeninggalnya kedua orang tua Elena, Samuel pun menghampiri gadis yang ada dihadapannya. Elena berkaca-kaca menatap Samuel yang semakin lama semakin mendekat padanya.


"Apakah ini bentuk dari rasa kasihan? Jika memang begitu, sebaiknya hentikan. Aku tak ingin jatuh kembali pada cinta yang tak kunjung terbalaskan. Aku sudah bangkit dan berusaha untuk mengubur semuanya," ujar Elena.


"Setiap kamu ingin menguburnya, aku akan kembali menggalinya. Tidak peduli seberapa kokoh tembok pertahanan yang telah kamu buat, aku akan menghancurkan tembok itu," tutur Samuel.


"Aku sadar, aku salah. Aku menilai bahwa aku hanya ingin kita selalu berteman, akan tetapi kenyataannya hatiku menolak. Ia memilih untuk memperjuangkan mu dan seolah membenarkan bahwa aku mencintaimu."


"Tolong ... beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa cintaku itu nyata. Tak peduli suatu saat nanti kamu akan memilih untuk tak membalasnya, sudah cukup Elena! Biarkan aku yang mengejarmu kali ini," ujar Samuel panjang lebar.


Elena menitikkan air matanya, gadis itu memukul-mukul pelan dada bidang Samuel. "Mengapa kamu selalu saja membuatku seperti ini. Mengapa kamu ... terus-menerus memporak-porandakan hatiku," lirih Elena.


Samuel langsung membawa Elena ke dalam pelukannya. Gadis itu menangis di pelukan Samuel. Hingga terasa baju Samuel basah karena air matanya yang mengalir deras.


Ini sangat jauh dari bayangan Elena. Ia mengira bahwa Samuel tak akan pernah membalas cintanya. Namun, kali ini pria itu tampak gigih untuk meminta kesempatan kedua dari Elena.


"Aku mencintaimu, El."


Seketika air matanya kembali tumpah. Elena terharu mendengar kalimat itu. Cukup lama ia menantikan Samuel berucap seperti tadi.


Tak lama kemudian, Samuel pun melonggarkan pelukannya. Pria itu membingkai wajah cantik Elena, menyeka jejak air mata yang ada di pipi mulus milik gadis yang ada di hadapannya.


"El, maukah kamu menikah denganku?" tanya Samuel.


Tak membutuhkan waktu lama, Elena pun menganggukkan kepalanya. Impiannya terkabul, kini Samuel membalas cintanya bahkan langsung disertai lamaran meskipun pernikahan ini disponsori oleh pria yang hampir saja menjadi suaminya, akan tetapi pria itu memilih pergi dan membiarkan Elena begitu saja.


Samuel dan Elena langsung menghadap kedua orang tua Elena. Mengatakan bahwa mereka berdua akan mengikrarkan janji suci mereka dihadapan penghulu dan semua tamu undangan yang hadir di tempat itu.


Terjadi huru hara saat beberapa orang mendapatkan informasi bahwa pengantin pria akan digantikan dengan sosok yang lainnya.


Beberapa tamu undangan kembali heboh dan saling berbisik mengenai pernikahan yang diadakan kali ini agak sedikit tidak masuk akal. Yang pertama, karena mempelai pria yang tak kunjung datang dan yang kedua, karena sosok pria tersebut akan digantikan oleh orang lain.


"Kacau, pernikahannya cukup kacau."


"Ini sangat lucu. Apakah kita sedang berada di sebuah drama? Pengantin pria yang dapat digantikan dengan yang lainnya?"


Beberapa tamu undangan berbicara demikian. Tentu saja kabar tersebut sampai ke telinga Arumi dan Fahri. Setelah mereka mencari tahu siapa yang menjadi penggantinya, Arumi langsung senang karena Samuel yang akan menikah dengan Elena.


"Mas, ayo kita cari Samuel dan Elena. Kita harus mempersiapkan cincin pernikahan untuk mereka berdua. Aku yakin, Samuel belum memiliki persiapan sama sekali," ujar Arumi yang tampak antusias.


Kedua pasangan suami istri itu pun langsung mencari keberadaan Samuel dan Elena. Mereka menemukan keduanya di ruangan awal tempat mereka bertemu dengan Elena tadi.


"Sam, selamat ya. Akhirnya kamu bukan bujang lapuk lagi," ujar Arumi memberikan ucapan selamat kepada Samuel.


Samuel langsung mencebikkan bibirnya. "Entahlah aku harus berterima kasih atau justru mengumpatmu karena telah berucap demikian," gerutu Samuel.


Mereka pun terkekeh mendengar obrolan antara Arumi dan Samuel yang selalu saja berakhir dengan sebuah perdebatan.


"Kami akan menyiapkan cincin untukmu. Kamu pasti belum memilikinya kan?" tanya Arumi.


"Tidak perlu. Aku sudah memilikinya," ujar Samuel yang langsung mengambil kotak kecil berwarna merah dari dalam jas nya.


"Apakah itu cincin sponsor dari mempelai pria sebelumnya?" celetuk Arumi.


Fahri langsung menyenggol lengan Arumi, karena menurutnya ucapan Arumi sedikit tak pantas. "Jangan berbicara seperti itu," bisik Fahri.


"Iya Mas, maaf."


"Enak saja! Aku telah mempersiapkan cincin ini sebelumnya. Entah kenapa aku ingin sekali membawa cincin ini saat menghadiri pernikahan Elena. Mungkin saat itu Tuhan tengah memberikan sinyal yang juat untukku, bahwa aku lah jodoh Elena," ujar Samuel penuh percaya diri.


Tak lama kemudian, Bu Ani masuk ke dalam ruangan tersebut. Beliau memberitahukan kepada Samuel dan Elena untuk bersiap karena acara akad nikah akan dimulai.


Fahri pun mengajak istrinya untuk keluar dari ruangan tersebut. Sementara Elena dan Samuel, keduanya keluar secara bersamaan. Menuju ke hadapan sang ayah yang sudah duduk mantap di meja untuk memberi wali pada Elena.


Samuel duduk di hadapan calon ayah mertuanya. Dengan mantap, ia menjabat tangan Pak Beni. Samuel mengucapkan ijab kabul dengan begitu lantang, hingga para saksi pun mengesahkan pernikahan tersebut.


Elena tak kuasa menahan air matanya. Air mata bahagia karena akhirnya ia menikah dengan Samuel, pria yang didambakannya sejak dulu.


Samuel menyematkan cincin di jari manis Elena. Begitu pula dengan Elena yang menyematkan cincin di jari manis suaminya.


Samuel mengecup kening Elena, wanita yang telah menjadi istrinya saat ini. Sungguh, ini semua diluar dugaannya, dapat menikah dengan Elena setelah beberapa hari terakhir sibuk menikmati kegundahannya.


Setelah akad, acara pun dilanjutkan dengan resepsi. Hari itu pernikahan itu masib berjalan semestinya. Meskipun Elena ditinggalkan oleh Tomi, setidaknya Tuhan menggantikannya dengan yang lebih indah, yaitu Samuel.


Tak terasa, acara pun telah selesai. Elena dan Samuel saat ini tengah berada di dalam kamar. Keduanya masih tampak kikuk dan saling mencuri pandang.


"A-apakah aku akan tidur denganmu malam ini?" ujar Samuel yang melemparkan pertanyaan sedikit konyol.


Elena langsung terkekeh mendengar pertanyaan tersebut. "Apakah kamu ingin pulang? yang benar saja!" ujar Elena yang sedikit mengejek suaminya.


"A-aku ... haruskah aku melakukannya malam ini?" tanya Samuel lagi.


Glekk ...


Elena berusaha sekuat tenaga meneguk salivanya. Ia melihat Samuel yang beringsut mendekat ke arahnya.


"A-aku ...."


Tanpa aba-aba, Samuel langsung membungkam bibir istrinya, menidurkan wanita cantik itu di ranjang yang berukuran king size tersebut.


"Aku mencintaimu, El."


"Aku juga mencintaimu, Sam."


Bulu mata lentik itu tampak mengerjap beberapa kali. Samuel pun langsung memberikan kecupan singkat di kedua mata indah itu. Hingga akhirnya, malam itu pun menjadi malam yang panjang bagi mereka. Memadu kasih, menikmati pergumulan panas di atas ranjang pengantin itu.


Bersambung ....


Guys, untuk bagian panas-panasnya aku skip ya. Soalnya kemarin bab 90 bagian panas-panasnya Fahri sama Arumi langsung di unpblish sama pihak Noveltoon. Udah direvisi berkali-kali tetep ditolak juga.