
Fahri dan Arumi tengah berbaring di kasur sembari berdiskusi tentang kepergiannya besok. Arumi sebenarnya tidak ingin ikut, karena ia tahu jika nantinya hanya akan merepotkan sang suami saja.
Namun, karena Fahri yang bersikukuh untuk tetap mengajak sang istri, akhirnya Arumi pun mengalah. Ia menuruti ucapan pria tampan yang ada di sebelahnya itu.
"Nanti kita bawa salah satu supir saja. Takutnya kamu terlalu lelah jika membawa mobil sendiri," ujar Arumi yang mencoba memberikan usulan pada suaminya itu.
"Iya, nanti aku ajak Pak Rahmat untuk ikut bersama kita," ujar Fahri ynuang bergeser menghadap istrinya. Pria itu menyibak rambut Arumi yang menutupi wajah cantiknya. Fahri pun mengelus rambut Arumi dengan lembut.
"Mas, tadi aku lihat ada berita di televisi, masalah apa ya ... kalau tidak salah tentang pembakaran gudang," tutur Arumi.
Seketika, gerakan tangan Fahri pun terhenti. Pria itu mengernyitkan keningnya. Beberapa kali ia menatap wajah sang istri dengan perasaan kalut.
"Sebaiknya kamu tidak perlu berpikiran yang aneh-aneh dulu, Sayang. Pikirkan kandunganmu," ujar Fahri yang langsung melarang istrinya untuk membahas masalah tadi.
"Ya ampun Mas, aku cuma mau bilang kalau pria yang menjadi korbannya itu, aku sepertinya pernah melihat pria itu sebelumnya. Tapi aku lupa," jelas Arumi.
"Sssttt ... tetap saja," ucap Fahri yang langsung meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Arumi.
"Mas tidak mau kamu berpikiran yang macam-macam," sambung Fahri.
Arumi tersenyum penuh arti. Lalu kemudian tangannya menyelusup, masuk ke dalam kaos yang dikenakan oleh Fahri, meraba otot-otot yang tercetak sempurna di perut suaminya itu.
"Kalau yang macam-macam seperti ini, apakah tetap tidak boleh juga?" tanya Arumi dengan seringaian nakalnya.
Fahri terkekeh, lalu kemudian pria itu pun mengubah posisinya berada di atas Arumi, dengan tangan di yang menjadi penyangganya untuk menahan sebagian berat tubuhnya.
"Kalau yang seperti itu ...." Fahri menatap wajah sang istri dengan lekat.
"Aku sangat menyukainya," lanjutnya yang kemudian berbisik tepat didepan telinga Arumi.
Deru napas Fahri terdengar jelas, begitu berat seakan menahan diri dari gejolak yang ada di dalam dirinya yang tampak menggebu-gebu.
Fahri mengecup kening istrinya cukup lama, lalu kemudian ia pun beralih kembali berbaring di samping istrinya.
"Sebaiknya kita konsultasi lagi ke dokter sebelum melakukannya agar lebih aman," ujar Fahri yang langsung meletakkan kepala istrinya itu di lengannya.
Arumi mengangguk, yang diucapkan oleh suaminya benar. Apalagi kandungannya saat ini sangat lemah, melakukan hubungan hendaknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu supaya lebih aman.
Arumi merangkul tubuh suaminya. Keduanya pun mulai memejamkan mata, larut ke dalam alam mimpinya masing-masing, sembari meredakan gejolak yang sempat menghinggapi mereka.
....
Keesokan harinya, Arumi dan Fahri sudah bersiap-siap hendak berangkat keluar kota. Fahri membawa dua koper pakaian yang telah dikemas oleh istrinya itu, untuk dikenakan saat berada di luar kota nanti.
Sementara Arumi, wanita ini masih duduk di depan meja riasnya, menorehkan lipstik berwarna merah jambu di bibirnya, lalu kemudian merapikannya sedikit dengan saling menggesekkan bibir atas dan bibir bawahnya berkali-kali. Seelah penampilannya di rasa cukup, Arumi pun turun ke bawah, menyusul sang suami yang sidah lebih dulu keluar dari kamar tersebut.
Arumi menuruni anak tangga, ia melihat suaminya yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah meletakkan kedua koper tersebut di dalam bagasi mobil.
"Ayo kita sarapan dulu sebelum berangkat," ujar Fahri mengajak sang istri.
Fahri menarik salah satu kursi yang ada di sana untuk Arumi. Wanita itu pun tersenyum sembari berucap terima kasih. Pria itu menimpalinya dengan sebuah anggukan. Ia menempati kursi yang berseberangan dengan Arumi. Keduanya pun mulai menikmati sarapannya dengan tenang.
Setelah mengisi perutnya, Fahri dan Arumi mengumpulkan seluruh penjaga rumah serta pelayan yang bekerja di kediamannya.
"Sementara saya dan mas Fahri berada di luar kota, kalian tidak boleh menerima tamu dari luar, termasuk mama!" tegas Arumi.
"Baik, Nyonya." Mereka menimpali ucapan Arumi serentak.
"Jika ada yang memaksa masuk, jangan segan-segan beritahukan saya dan lapor ke polisi, saya akan memenjarakan orang itu," ujar Arumi lagi.
Fahri hanya diam mendengar semua ucapan dari istrinya itu. Sejak mengetahui bahwa Dewi dan dirinya tidak memiliki hubungan darah, Arumi membatasi akses keluar masuk untuk Dewi.
Semua ucapan istrinya, Fahri sangat setuju. Bagaimana pun juga, mulai dari sekarang mereka harus berhati-hati karena penjahat yang sesungguhnya saat ini masih berkeliaran. Namun, suatu saat nanti, Fahri akan membawa mertuanya itu untuk menebus semua kesalahannya dan mendapatkan hukuman yang setimpal.
Setelah menyampaikan beberapa pesan untuk seluruh orang yang bekerja di rumahnya, Fahri dan Arumi pun mulai masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Rahmat.
Perlahan mobil itu pun mulai melaju ke jalanan, meninggalkan kediamannya untuk pergi ke tempat tujuan yang baru.
.....
Pagi ini Sifa merasa kurang enak badan. Sedari tadi ia memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya, lalu kemudian terkulai lemas karena mual yang tak kunjung reda sedari tadi.
Kartika memapah anaknya kembali ke atas kasur. Wanita paruh baya itu pun mengusapkan minyak angin di leher bagian belakang, perut, serta kening putrinya itu.
"Tunggulah sebentar lagi, ibu sudah memanggilkan dokter yang ada di lantai dua untuk segera ke sini," ucap Kartika karena memang salah seorang yang tinggal di hunian itu adalah seorang dokter, jadi Kartika langsung saja meminta bantuan dari tetangganya itu.
Terdengar suara bel berbunyi. Kartika yang saat itu tengah membalurkan minyak angin pada tubuh Sifa pun langsung menghentikan aktivitasnya. Ia menutup baju Sifa yang sempat tersingkap, lalu kemudian berjalan keluar untuk membukakan pintu.
"Silahkan masuk, Dokter Joe." Kartika mempersilahkan dokter tersebut masuk. Ia pun mengajak Dokter Joe langsung menuju ke kamar tempat Sifa berada.
Dokter itu dengan sigap langsung memeriksa Sifa. Ia tersenyum seusai memeriksa kondisi Sifa.
"Ada apa, Dok?" tanya Kartika yang merasa penasaran.
"Ini namanya sakit yang baik, Bu." Dokter Joe menarik kedua sudut bibirnya.
"Maksud dokter apa? Saya kurang paham," ujar Sifa yang ikut menimpali ucapan dokter tersebut.
"Selamat ya, Bu Sifa. Anda sebentar lagi akan menjadi seorang ibu," ujar Dokter Joe.
Sifa tertegun, sementara raut wajah Kartika berubah menjadi tak suka. Ia tak suka mendengar kehamilan Sifa. Apalagi saat ini menantunya sedang ada di dalam penjara. Tentu saja hal itu menjadi aib bagi Kartika karena memiliki menantu seorang narapidana.
"Apakah kandungannya bisa di gugurkan saja, Dok. Saya kurang suka kalau Sifa hamil sekarang," celetuk Kartika begitu saja.
Dokter pun langsung terperangah, sementara Sifa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan laju air matanya.
Bersambung...