
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari ini, merupakan hari dimana Arumi mengambil alih perusahaan. Ia sudah menyiapkan senjata yang cukup, bergelut dengan beberapa dokumen yang menjadi bukti dari penggelapan dana yang dilakukan oleh Indra.
Arumi mengumpulkan beberapa pemegang saham, mengadakan rapat dadakan untuk merebut kembali posisinya dari Indra. Sementara Indra, pria itu mendengus kesal, ia tak menyangka jika Arumi akan bergerak secara tiba-tiba. Pria itu tak memiliki persiapan apapun untuk membalas Arumi, sudah dipastikan bahwa dia akan kalah telak untuk kali ini.
Arumi memulai jalannya rapat, gadis itu menyerahkan beberapa dokumen yang merupakan hasil bukti penggelapan dana yang dilakukan oleh Indra.
"Di tangan saya, ada beberapa bukti dari hasil penggelapan dana yang dilakukan oleh Pak Indra," ujar Arumi memperlihatkan dokumen tersebut pada para pemegang saham.
Suasana menjadi ricuh seketika. Para pemegang saham pun tampak kecewa dengan sikap Indra yang tak bisa dipercaya. Indra menatap Arumi dengan tajam, ia tak bisa membalas apapun karena bukti yang dimiliki Arumi sangatlah kuat.
"Sepertinya kita harus mencari kandidat yang baru untuk menggantikan Pak Indra," ujar salah satu pemegang saham tersebut.
"Iya, saya setuju."
Arumi tersenyum tipis, lalu mengarahkan pandangannya pada Indra seakan meremehkan.
Tidak perlu ditanya lagi, siapa yang akan menggantikan posisi Indra. Karena di sini, Arumi lah pemegang saham terbesar di perusahaan. Selama masa pemulihan dari sakitnya, ia harus terpaksa mundur dikarenakan masalah kesehatannya. Kali ini, ia sudah dinyatakan sembuh total, gadis itu pun akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Apakah kalian yakin?" tanya Indra seraya tersenyum sinis.
"Bagaimana seorang wanita yang sakit bisa mengelola perusahaan? Tentu saja ia akan fokus pada kesehatannya terlebih dahulu dari pada mementingkan urusan perusahaan," lanjut Indra.
"Wah, sepertinya Pak Indra sangat tidak ingin posisinya digantikan," ujar Arumi.
Arumi kembali berdiri, memperlihatkan surat dari dokter yang menyatakan bahwa dirinya sudah benar-benar pulih.
"Ini adalah surat dari dokter yang menyatakan bahwa saya telah benar-benar pulih. Jadi, tidak ada kendala untuk hal ini," papar Arumi.
Arumi mendekat sedikit pada Indra, lalu kemudian membisikkan sesuatu pada pria tersebut. "Bagaimana jika aku membawa semua ini ke jalur hukum? Apakah kamu masih tetap kekeh untuk mempertahankannya?" bisik Arumi dengan menyunggingkan senyum liciknya.
Tak lama kemudian, terdengar notifikasi dari masing-masing ponsel yang ada di ruangan itu. Seseorang tampak mengirimkan link yang menunjukkan sebuah artikel tentang Arumi.
Artikel pernikahan Arumi yang diadakan besok pagi. Tentu saja kabar itu cukup mengejutkan. Beberapa orang yang ada di sana tampak berbisik-bisik mengenai pernikahan Arumi ini.
"Maaf, jika saya memberikan kabar mendadak, karena saya sengaja. Saya tidak ingin ada seseorang yang menganggap remeh saya," ujar Arumi seraya mengarahkan pandangannya pada Indra. Sementara pria itu langsung membuang muka.
"Jika ada yang meragukan tentang kondisi kesehatan saya. Saya bisa menyuruh suami saya untuk mengelolanya. Suami saya sudah paham visi dan misi perusahaan, dan untuk kekurangannya, saya akan mengarahkannya. Intinya saya akan bertanggung jawab untuk masalah ini," papar Arumi.
Beberapa orang yang ada di ruangan itu menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan dari Arumi. Rapat pun dibubarkan, karena keputusan akhir sudah ditentukan.
Saat hendak berlalu dari hadapan Indra, pria itu tampak mendengkus melihat Arumi. Dan Arumi pun menghentikan langkahnya, untuk menatap sejenak wajah kekalahan dari Indra.
"Apakah kamu sudah merasa menang? Merasa lebih pintar dariku? Jawabannya tidak!" tukas Indra.
"Kamu tahu, monster yang sesungguhnya siapa? Ku rasa kamu akan menangis darah jika menyadarinya," lanjut Indra. Pria itu beranjak dari tempat duduknya, lalu meninggalkan Arumi.
"Omong kosong apa itu!" cecar Arumi tersenyum remeh, ia pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
*Siapakah pria beruntung itu?
Pasti sangat tampan karena Bu Arumi juga sangat cantik.
Pria itu pasti dari kalangan pria kaya raya yang tajir melintir*.
Begitulah pembicaraan orang-orang tentang Arumi. Yang mengira bahwa pengantin pria dari kalangan atas. Tanpa mereka sadari, pengantin pria tersebut adalah Fahri, pria yang pernah bekerja di perusahaan itu.
Arumi menyembunyikan identitas pengantin prianya bukan tanpa alasan. Ia takut, jika ada orang lain yang kembali berbuat jahat dan menggagalkan pernikahannya.
....
Fahri saat ini tengah menyusuri jalanan sore. Pria itu hendak berangkat ke toko. Di perjalanan, ia membuka ponselnya melihat artikel yang saat ini tengah heboh diperbincangkan.
Di dalam artikel tersebut, Arumi tak menyebutkan dirinya sebagai pengantin prianya. Hal itu dapat dimaklumi oleh Fahri, pernikahan ini hanyalah sekedar pernikahan yang saling menguntungkan, dan Fahri tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Pria itu kembali menyimpan ponselnya di saku. Tak lama kemudian, sebuah mobil Xpander berwarna hitam berhenti di hadapannya.
Orang yang ada di dalam mobil tersebut langsung turun dan menghampiri Fahri. "Besok adalah hari pernikahanmu, dan sekarang kamu masih sibuk pergi bekerja?" cecar Samuel seraya melipat kedua tangannya di depan.
"Ayo ikut aku!" pria tersebut langsung menarik Fahri begitu saja. Fahri pun mau tak mau hanya pasrah, mengikuti kemana Samuel akan membawanya .
Diperjalanan, keduanya diam tak bersuara. Hingga pada akhirnya, Samuel pun membuka perbincangan. "Aku tahu kamu pasti belum sembuh dari masa lalumu. Tapi, bisakah kamu menjaga Arumi dengan baik? Perlakukan dia layaknya istrimu sungguhan," ujar Samuel.
Fahri terdiam sejenak, lalu kemudian mengangguk pelan.
"Arumi memang terlihat keras di luar, akan tetapi dia adalah gadis yang sangat rapuh dan dikelilingi oleh musuh di sekitarnya. Aku mempercayakan padamu untuk menjaga Arumi. Jika sampai setetes air mata Arumi jatuh, hanya karena menangisimu, aku tidak akan memaafkanmu," kecam Samuel.
Fahri mengarahkan pandangannya pada Samuel. Ia dapat menangkap bahwa pria yang ada di sampingnya bukan hanya sekedar asisten Arumi. Pria ini memiliki perasaan pada gadis itu.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, mobil yang dikendarai Samuel pun tiba di kediaman Arumi. Fahri cukup tercengang melihat hunian Arumi yang besar dan mewah.
Keduanya turun dari mobil, lalu kemudian masuk ke dalam rumah tersebut. Arumi sudah menunggu keduanya di ruang tengah, ia memperhatikan Fahri lalu mengulas senyum.
"Silakan duduk!" ujar Arumi yang mempersilahkan Fahri.
"Mulai sekarang, kamu akan tinggal di sini," ucap Arumi.
"Tapi ...."
"Apakah kamu lupa bahwa kita besok akan menikah. Dan setelah menikah pun kamu akan tinggal di sini. Jangan takut, kita tidak akan berada di satu kamar. Aku telah menyiapkan kamar untukmu beserta pakaian yang akan kamu kenakan nanti. Intinya, bersiaplah menjadi Tuan besar di rumah ini dan jangan merasa sungkan!" papar Arumi.
Fahri hanya menyimak ucapan Arumi. Mulai saat ini, ia hidup di hunian mewah ini, menjadi seorang suami untuk wanita kaya raya tersebut.
Bersambung ....