Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 167. Diculik


Dewi tiba di rumah utama. Wanita tersebut mengenakan penutup wajah, supaya orang-orang tidak mengenalinya walaupun keadaan rumah tersebut tampak sepi karena efek samping dari obat tidur yang diberikan oleh Vera. Namun, Dewi tetap berhati-hati agar tidak ada yang melihat langsung wajahnya.


Vera bergegas membukakan pintu gerbang saat mengetahui bahwa Dewi sudah menunggunya di bawah.Setelah membukakan gerbang untuk Dewi, mereka pun langsung kembali ke kamar. Dengan bersusah payah, Vera memapah Arumi yang saat itu masih memejamkan matanya.


Semua orang yang ada di rumah tersebut bergeletakan karena obat tidur yang diberikan oleh Vera tadi. Vera meniti tangga, sementara Dewi hanya diam di dalam mobil sembari menunggu datangnya Vera.


Tak lama kemudian, Vera pun muncul. Pelayan tersebut membawa Arumi masuk ke dalam mobil. Tanpa mereka ketahui, Vera saat itu tak sengaja memutuskan kalung Arumi. Kalung itu pun jatuh ke tanah, sebelum Arumi masuk ke dalam mobil. Dewi langsung menghidupkan mobilnya, ia menyuruh Vera untuk ikut serta bersamanya. Vera naik ke dalam mobil, dan mobil yang dikendarai Dewi pun menuju ke jalanan.


.....


Di lain tempat, Indra tengah mencukur bulu-bulu yang mengganggu di area wajahnya. Pria tersebut mengoleskan krim pencukur, lalu kemudian mulai mencukur janggutnya dengan perlahan.


Ia baru saja menyelesaikan setengah dari janggut yang hendak dicukur itu. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia melihat saat itu Dewi tengah menelepon. Tanpa berpikir lama, pria tersebut langsung mengangkat panggilan telepon itu.


"Ada apa, Tante?" tanya Indra.


"Aku mengirimkan alamat melalui pesan singkat. Datanglah segera karena aku telah membawa hadiah untukmu," ujar Dewi dari seberang telepon.


Tak lama kemudian, panggilan telepon pun terputus. Indra mengernyitkan keningnya. Entah apa yang dikatakan hadiah oleh Dewi tadi.


Pria tersebut segera memeriksa pesan singkat yang ada di ponselnya. Ia pun mendapatkan alamat melalui pesan singkat tersebut.


"Gudang kosong?" gumam Indra saat membaca seksama tulisan yang tertera di sana.


"Apakah dia sudah berhasil menangkap Arumi?" gumam Indra.


Indra meletakkan kembali ponselnya. Pria tersebut langsung menyelesaikan setengah cukuran yang belum terselesaikan tadi. Setelah itu, Indra langsung menghubungi nomor Arumi.


Pria itu cukup lama menunggu jawaban dari Arumi, akan tetapi wanita tersebut tidak mengangkat panggilannya. Indra beralih menelepon Fahri, dan ternyata ia juga menemukan hal yang sama.


Indra pun memilih untuk menelepon Samuel. Sama.juga dengan halnya Fahri dan Arumi. Samuel juga tidak mengangkat panggilannya.


"Ada apa dengan mereka? Kenapa tak ada satu pun yang mengangkat panggilan ku," gerutu Indra.


Tak lama kemudian, Indra melihat layar ponselnya menyala. Saat itu Samuel menghubunginya kembali. Indra pun langsung mengangkat panggilan tersebut .


"Kenapa kalian lama sekali mengangkat panggilan ku," tukas Indra.


"Aku sedang melakukan sesuatu tadi. Ada apa?" tanya Samuel dari seberang telepon.


"Aku mendapat telepon dari wanita itu. Dia menyuruhku untuk pergi ke suatu tempat. Sepertinya ia sudah berhasil mendapatkan Arumi," ujar Indra.


"Berarti terjadi sesuatu dengan keduanya?" tanya Samuel memastikan.


"Kalau Fahri aku tidak tahu. Sebaiknya kita periksa saja nanti. Aku akan mengirimkan alamatnya di grup obrolan," ujar Indra yang langsung mematikan sambungan teleponnya.


Pria tersebut bergegas membasuh wajahnya, lalu kemudian keluar dari kamar mandi untuk bergantin baju, bersiap pergi menemui Dewi.


Setelah semuanya selesai, Indra pun langsung keluar menggunakan kendaraan yang diberikan oleh Arumi sebelumnya. Ia masih bisa menikmati hal-hal yang mewah karena Arumi lah yang membantunya. Jika tidak, mungkin Indra sudah menjadi gelandangan saat itu juga.


Indra menaiki kendaraannya, langsung meluncur menuju ke kediaman Arumi terlebih dahulu. Memastikan apa yang sebenarnya terjadi di sana, dan bagaimana Arumi bisa dengan mudah diculik begitu saja.


Setibanya di kediaman Arumi, Indra langsung turun dari kendaraannya. Pandangannya sempat menyilau saat lampu mobil yang baru saja datang begitu menembak wajahnya.


Mobil itu pun berhenti. Samuel dan Elena yang berada di dalam mobil tersebut langsung turun.


"Apakah kamu baru sampai?" tanya Samuel pada Indra.


Indra mengangguk, "Ayo kita periksa ke dalam. Waktu kita tidak banyak."


Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah dengan gerbang yang sudah terbuka lebar. Suasana di tempat itu sangat sepi. Tak terlihat penjaga yang biasanya berjaga di depan.


Mereka saling melemparkan pandangan, karena merasa heran akan situasi di rumah tersebut. Ketiga orang itu masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya mereka saat mendapati pelayan dan penjaga yang tengah tertidur pulas di ruang tengah.


"Pak Samuel," ujar Siti sembari mengucek matanya. Saat ia mengedarkan pandangannya, betapa terkejutnya Siti melihat pelayan dan para penjaga tertidur di ruangan tersebut.


"Apa yang terjadi?" tanya Siti panik.


"Seharusnya kami yang bertanya, apa yang terjadi?" ujar Samuel yang mengembalikan pertanyaan dari kepala pelayan itu.


"Dimana kamar Fahri?" tanya Indra yang tak ingin berlama-lama.


"Di atas, Pak." Siti berucap sembari mengarahkan telunjuknya.


Indra langsung bergegas menaiki tangga. Di susul dengan Samuel. Sementara Elena, menemani kepala pelayan tersebut dan menanyakan apa yang terjadi sebelumnya.


Indra berlari menuju ke kamar Fahri. Ia melihat pintu kamar Fahri yang tak tertutup. Pria itu pun langsung masuk begitu saja di kamar Fahri dan Arumi. Indra hanya melihat Fahri yang tertidur pulas di atas kasur tanpa adanya Arumi.


Samuel yang baru saja tiba pun langsung membangunkan Fahri. Pria itu mengambil segelas air minum yang ada di atas nakas, lalu kemudian menyiramkannya pada Fahri agar tak terlalu lama membangunkannya.


"Apakah kalian gila?!" tanya Fahri yang langsung terkejut mendapatkan siraman dari Samuel disaat dirinya sedang tertidur pulas.


"Dimana Arumi?" tanya Samuel.


"Tentu saja Arumi ada di ...." Fahri tertegun saat tak melihat keberadaan Arumi di sampingnya.


"Tadi dia ada di sini," ujar Fahri.


"Berarti benar, Dewi telah membawa Arumi. Sekarang, ayo kita pergi ke lokasi yang kamu kirimkan tadi," ajak Samuel.


"Dan kamu ... segeralah untuk membasuh wajahmu. Kita pergi untuk mencari istrimu, karena saat ini kuat dugaan bahwa ia diculik," ujar Samuel.


Fahri langsung turun dari ranjangnya. Pria tersebut membasuh wajahnya, lalu kemudian menyusul Indra dan Samuel yang sudah lebih dulu keluar dari kamarnya.


Di bawah Elena, Samuel, dan Indra sedang berbincang. Seluruh pelayan serta penjaga rumah semuanya sudah terjaga dari tidur mereka.


"Kepala pelayan bilang bahwa setelah menyantap hidangan makan malam, mereka merasakan rasa kantuk yang luar biasa," tutur Elena memberitahukan pada suaminya dan juga Indra.


"Salah satu pelayan juga tiba-tiba menghilang begitu saja. Pelayan yang kita bahas belum lama ini, kuat dugaan bahwa dia adalah kaki tangan Dewi," lanjut Elena.


Perhatian ketiganya teralihkan saat melihat Fahri yang baru saja menuruni anak tangga. Pria itu pun langsung menghampiri teman-temannya.


"Jadi ... bagaimana? Apakah kalian sudah mengetahui letak istriku?" tanya Fahri.


"Kami mendapatkan alamatnya dari Indra," jawab Samuel.


"Iya, tadi Dewi mengirimkannya padaku. Kamu bisa melihatnya di grup obrolan," sambung Indra.


Fahri langsung membuka ponselnya. Ia membaca alamat yang dikirimkan oleh Samuel. Tiba-tiba Fahri teringat akan liontin Arumi, ia dapat mengetahui letak istrinya dengan liontin tersebut.


Saat Fahri mencoba memeriksanya, Fahri langsung mengernyitkan keningnya. Ia menemukan titik tempat liontin itu yang tetap berada di sekitar rumah.


Fahri langsung berlari keluar. Pria tersebut melihat titik jarak antara dirinya dengan liontin tersebut amat dekat. Mata Fahri menatap sebuah kalung yang sudah tergeletak di tanah.


Fahri memungut kalung tersebut. Benar saja, kalung itu merupakan kalung yang pernah ia berikan pada sang istri.


Samuel, Indra, dan Elena terengah-engah mengejar Fahri. Ketiga orang tersebut menatap ke arah Fahri yang saat itu hampir menitikkan air matanya.


"Ini adalah kalung Arumi. Kalung ini terlepas dari tubuhnya," gumam Fahri.


Pria tersebut menggenggam kalung itu dengan cukup kuat, lalu kemudian memasukkannya kembali ke dalam saku.


"Ayo kita segera menuju ke lokasi. Jangan lupa, untuk melaporkan ini semua lada polisi dan meminta polisi untuk mengikuti kita!" tukas Fahri dengan tatapan tajamnya.


Bersambung ....