
Arumi dan Samuel tengah memeriksa cctv yang ada di rumahnya. Pria bertopeng itu tampaknya masuk menaiki tembok tinggi yang ada di samping rumah. Lalu kemudian berjalan menuju ke halaman belakang dan masuk melalui pintu yang ada di dapur.
Tampak di layar video tersebut, memperlihatkan pria itu langsung memasuki ruang kerja. Samuel pun menekan pause pada keyboard tersebut.
"Lihatlah! Dia sepertinya memang sudah mengetahui tempat ruang kerja ayahmu. Pria bertopeng ini pasti pernah masuk ke rumah ini," ujar Samuel.
Arumi setuju dengan ucapan Samuel. Tidak mungkin seorang pencuri tahu betul tempat terpenting yang tidak boleh dimasuki. Seharusnya yang menjadi incaran para pencuri biasa bukanlah ruang kerja, melainkan kamar pemilik rumah. Karena biasanya, barang-barang berharga akan banyak di temukan di dalam kamar dibandingkan di tempat lain.
"Tampaknya dia memang sengaja menuju ke ruang kerja. Saat aku melihatnya pun, ia seperti tengah mencari sesuatu di meja," tutur Arumi.
"Dari sini, kita sudah dapat menebak pelakunya. Tampaknya dia hendak mencari dokumen penting tentang perusahaan," ujar Samuel.
Arumi mengangguk setuju akan pendapat Samuel. Ia pun kembali melanjutkan video cctv yang sempat dihentikan oleh Samuel.
"Lihatlah! Postur tubuhnya tinggi tegap. Apa kamu mencurigai seseorang dengan postur tubuh seperti ini?" tanya Samuel.
"Aku tidak bisa langsung menebaknya, Sam. Kecuali kalau aku sudah melihat wajahnya," ujar Arumi.
"Jika sudah melihat wajahnya, maka kamu tidak usah menebak siapa dia karena sudah tahu jawabannya terlebih dahulu," tukas Samuel seraya memutar bola matanya dengan malas.
Keduanya kembali memperhatikan beberapa adegan yang terekam oleh CCTV tersebut. "Apakah sebaiknya kita melaporkan hal ini pada polisi?" tanya Samuel.
"Tidak perlu! Dengan mendapatkan serangan seperti ini, aku sangat bertekad untuk merebut perusahaan itu. Kita lihat saja, siapa yang akan kalah nantinya," ujar Arumi seraya mengembangkan senyum licik.
....
Di lain tempat, Fahri masih membalut dirinya dengan selimut. Pria tersebut tampak terlelap dalam alam mimpinya. Namun, ia dibangunkan oleh sebuah ketukan pintu.
TOKKK ... TOKKK ...
Awalnya Fahri enggan membuka pintu tersebut. Pria itu berpikir bahwa tidak akan ada yang bertamu padanya di pagi hari.
"Mungkin hanya orang iseng saja," ujar Fahri seraya memejamkan matanya.
Namun, ketukan pintu itu semakin keras. Membuat Fahri harus bangun dari tidurnya yang lelap. Ia berdiri sembari menyeret kakinya yang terasa sakit. Sangat nyeri tepat di tulang keringnya.
Ia melangkahkan kaki dengan perlahan berjalan menuju ke arah pintu, mencoba untuk menahan rasa sakit itu. Pria tersebut membuka kunci pintunya, lalu memutar handle pintu.
"Maaf, Pak. Benarkah bapak yang bernama Fahri?" tanya pria dengan jaket hijau khas ojek online.
"Iya benar," timpal Fahri.
"Ini Pak. Saya mengantarkan nasi goreng, ayam geprek, serta kopi untuk Bapak," ujar tukang ojek tersebut.
Fahri mengernyitkan keningnya, sembari mengucek matanya. "Sebentar, saya tidak memesan makanan apapun," ujar Fahri.
"Pesanan atas nama Nona Arumi," ucap pria tersebut.
Fahri menghela napasnya dengan kasar. Akhir-akhir ini memang Arumi terlalu sering mengirimkan makanan padanya.
"Baiklah. Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Pak."
Tukang ojek tersebut pergi dari kontrakan Fahri. "Dia memanggilku dengan sebutan bapak, aku memanggilnya dengan sebutan bapak pula. Sedangkan dia memanggil Arumi dengan sebutan nona," gumam Fahri seraya menggelengkan kepalanya.
Fahri berbaring kembali di atas tempat tidur alakadarnya. Pria tersebut beralaskan kasur yang sangat tipis. Namun, ia tak mempermasalahkan semua itu karena dahulunya ia juga hidup dengan sederhana.
Selang lima belas menit kemudian, terdengar suara pintu di ketuk lagi. Fahri yang baru saja hendak terlelap dari tidurnya pun mengumpat kesal. Ia mencoba untuk menutup telinganya dengan bantal agar tak mendengar suara ketukan itu Tetapi tetap saja, ketukan pintu tersebut mengganggu tidurnya.
Ia berjalan pincang karena kakinya yang sakit, belum lagi rasa kantuknya yang membuat pria tersebut benar-benar merasa kesal.
Fahri membuka pintunya. Ia melihat beberapa orang tengah membawa sebuah kotak kardus yang berukuran tinggi.
"Apa ini?" tanya Fahri.
"Ada paket, Pak. Dari Nona Arumi." pengantar tersebut menjelaskan.
"Iya, tapi apa itu?" tanya Fahri yang merasa kesal akibat diganggu tidurnya.
"Lemari pendingin, Pak. Mau diletakkan di mana?" tanya pengantar barang tersebut.
Fahri memijat keningnya. "Letakkan di sana," ujar Fahri seraya menunjuk ke arah dapur.
Setelah meletakkan lemari pendingin itu, ia pun meminta tanda tangan serah terima pada Fahri. Setelah itu pergi dari tempat tersebut.
Fahri mencoba menutup pintunya. Lalu kemudian kembali ke kasur untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda.
Akan tetapi, itu tak berlangsung lama. Lagi-lagi terdengar suara ketukan kembali. Fahri menggeram kesal. Ia pun beberapa kali meninju bantal, menumpahkan rasa kesalnya karena beberapa kali tidurnya terus diganggu. Belum lagi ia harus menyeret kakinya yang terasa sakit.
"Kali ini apa lagi?" tanya Fahri seraya membuka pintunya. Pria itu melihat ada sekitar lima orang tengah berdiri di depan kontrakannya. Di depan gerbang, ia pun melihat ada satu mobil penuh yang berisi perabotan termasuk kasur dan barang-barang lainnya.
"Pesanan dari Bu ...."
"Arumi?!" ujar Fahri menyela ucapan salah satu pengantar barang tersebut.
"Iya benar Pak."
Fahri mengusap wajahnya dengan kasar. "Tolong tunggu sebentar," titah Fahri. Pria tersebut masuk ke dalam, mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur.
Ia mencari kontak Arumi, lalu kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya. "Apa maksud dari semua barang-barang ini? Kenapa sedari tadi ada saja yang mengirimkan sesuatu kepadaku dengan bertubi-tubi dan itu atas namamu," geram Fahri berucap pada gadis yang ada di seberang telepon tanpa berbasa-basi lagi.
"Aku merasa bosan berada di rumah seharian. Dan aku teringat jika di dalam rumahmu tidak memiliki banyak barang. Maka dari itu aku membelikan semuanya untukmu."
"Ambil kembali! Aku tidak membutuhkannya. Sungguh, kamu hanya mengganggu waktu tidurku saja!" umpat Fahri kesal.
"Terima saja. Lagi pula kamu tidak perlu bekerja lagi. Seharusnya bersantai lah dan mempersiapkan diri untuk menjadi suamiku."
Fahri memutuskan panggilannya secara sepihak. Percuma saja berbicara dengan Arumi, karena gadis itu selalu saja tidak ingin adanya sebuah penolakan.
Di waktu yang bersamaan, Arumi mendengkus kesal karena Fahri tiba-tiba saja memutuskan panggilannya.
"Dia benar-benar membuatku gemas. Aku sungguh merasa bosan. Ingin menemuinya, tapi wajah ku sedang seperti ini. Akhir-akhir ini kenapa dia membuatku selalu rindu?" gumam Arumi.
Gadis itu kembali menghidupkan layar ponselnya. "Pesan apa lagi untuknya agar menghilangkan rasa bosanku," lanjutnya seraya menggulir layar ponsel tersebut.
Bersambung ....