Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 32. Sikap Yang Berubah-ubah


"Selamat da ...." suara Fahri tercekat saat melihat siapa yang datang kepadanya.


Gadis cantik dengan pakaian yang anggun itu, melangkah mendekati Fahri sembari melambaikan tangannya.


"Ada apa? Apakah kedatanganku membuatmu terkejut? Atau kamu merasa keberatan karena aku yang tiba-tiba saja muncul?" tanya Arumi seraya mengulas senyum penuh arti.


Fahri mencoba untuk tak menghiraukan keberadaan Arumi. Pria tersebut memilih masuk ke dalam gudang, membuka selotip yang membungkus antara sisi pembuka kardus, lalu kemudian melipat kardus tersebut dan menumpuknya menjadi satu kesatuan.


Fahri berjalan keluar dari gudang. Lalu kemudian menuju ke meja kasir. Arumi memperhatikan pria tersebut dengan seksama. Lalu kemudian, meletakkan plastik yang di dalamnya adalah kotak kardus yang berbentuk pipih dengan logo pizza yang ia bawa tepat di hadapan pria yang sedikit mengacuhkannya itu.


"Aku tidak tahu kamu mempunyai berapa kepribadian. Tapi, yang aku lihat, kamu berusaha untuk mengabaikanku sedangkan tadi pagi kamu sangat bersikap manis padaku," cecar Arumi.


"Maafkan aku. Namun, saat ini aku sedang bekerja," timpal Fahri.


"Apa kamu sudah memikirkan tawaranku tadi?" tanya Arumi seraya menaikkan alisnya sebelah.


"Aku butuh waktu untuk memikirkannya," sahut Fahri.


"Sampai kapan? Jika terlalu lama, mungkin kesepakatan kita tidak akan berlaku lagi," ujar Arumi tersenyum miring. Ia berusaha untuk memancing Fahri agar menyetujui kesepakatan tersebut.


Fahri menghela napasnya. Ini adalah pilihan tersulit dalam hidupnya. Di satu sisi, pria itu benar-benar membutuhkan uang untuk melunasi hutang Sifa. Dan di lain sisi, ia sangat tidak mungkin menyakiti hati istrinya, dengan menyetujui kesepakatan yang mengharuskan dirinya untuk menikahi Arumi.


"Aku akan mengabarimu sesegera mungkin. Tapi, tolong untuk tidak menggangguku setiap saat. Aku tidak ingin jika nanti istriku akan salah paham dengan semua ini," ujar Fahri mencoba untuk menjelaskannya pada Arumi.


"Kamu benar-benar bodoh, Fahri. Istrimu sudah berselingkuh di belakangmu. Apakah kamu masih belum sadar juga? Haruskah aku yang menyadarkan mu?" batin Arumi.


"Baiklah. Aku akan memberikanmu waktu sepuluh hari untuk berpikir. Setelah habis waktu yang telah di tentukan, aku akan muncul lagi di hadapanmu. Ingat!! Se-pu-luh ha-ri, berikan aku jawaban terbaikmu," tutur Arumi tersenyum simpul.


Arumi berjalan meninggalkan Fahri. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, tiba-tiba langkahnya kembali terhenti. Gadis itu berbalik dan kemudian menatap Fahri.


"Pizza yang ku belikan tadi, ku harap kamu tidak membuangnya, karena temanku rela bangun dari tidurnya hanya untuk membelikanmu makanan itu," ucap Arumi.


Ia pun kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Fahri menatap kepergian Arumi. Tak lama kemudian pandangannya beralih pada makanan yang diberikan oleh Arumi tadi.


Pria itu pun membuka kotak pizza tersebut. Lalu mengambil sepotong untuk ia santap saat itu juga. Kebetulan memang perutnya yang merasa benar-benar lapar.


Di waktu yang bersamaan, di dalam mobil Arumi memperhatikan Fahri yang menyantap pizza yang dibelinya tadi. Arumi berbohong pada Fahri, mengatakan pada pria itu bahwasannya pizza tersebut dibeli oleh temannya, padahal dia sendirilah membeli pizza itu.


....


Di lain tempat, Sifa dan Aldo saat ini saling mencumbu. Pria itu membawa kekasih gelapnya ke kediamannya. Seakan lupa diri, Sifa menikmati cumbuan Aldo berkali-kali.


Sentuhan yang diberikan oleh Aldo, membuatnya menginginkannya berkali-kali. Sifa telah lama tak menikmati hal ini. Fahri cukup lama tak menyentuhnya. Bukan karena pria tersebut tak mau memberikan nafkah batin pada dirinya, akan tetapi karena Sifa yang selalu menolak untuk melayani suaminya akhir-akhir ini.


Setelah mendapatkan pelepasan yang kesekian kali, keduanya pun terkulai lemas. Aldo langsung mengecup kening Sifa, untuk mengakhiri permainan panasnya itu. Pria itu pun beranjak dari atas tubuh Sifa, laku kemudian menggendong tubuh Sifa, membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri bersama-sama.


Sifa menatap Aldo dengan penuh damba. Kali ini ia tak bisa menampiknya, bahwa Sifa masih mencintai Aldo. Masa lalu mereka yang belum benar-benar usai, seakan membawa Sifa untuk kembali menikmati masa indah manisnya cinta seperti dulu kala.


"Sayang, apakah kamu ingin aku menikahimu? Aku akan langsung melaksanakannya jika kamu memintanya," ujar Aldo dengan serius.


Sifa bingung. Hatinya memang masih mencintai Aldo. Namun, ia juga tak bisa melepaskan Fahri begitu saja. Apalagi pria tersebut telah berjanji untuk berusaha melunasi semua hutang-hutangnya dengan Elena.


"Baiklah. Kalau begitu, aku lebih bersabar untuk bisa memilikimu seutuhnya," ujar Aldo.


Keduanya telah selesai membersihkan tubuh masing-masing. Ia pun keluar dari kamar mandi tersebut, lalu kemudian mengambil pakaian mereka yang berserakan.


Setelah berpakaian lengkap, Sifa memilih untuk berdiri di hadapan cermin yang berukuran besar. Ia membelalakan matanya saat melihat beberapa tanda kemerahan yang dibuat oleh Aldo.


"Kenapa kamu memberikan tanda kemerahan di leherku?" ujar Sifa panik.


"Ada apa? Apakah kaku tidak menyukainya?" tanya Aldo.


"Suamiku akan melihatnya dan tentunya dia akan marah besar jika tahu akan hubungan kita dan apa yang kita lakukan," jelas Sifa.


"Sampai kapan kamu akan membandingkan aku dengan suamimu itu?" tanya Aldo.


"Tolong mengertilah. Statusku masih menjadi istri orang. Walaupun yang kita lakukan sudah kelewat batas, tapi aku tidak ingin kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya," papar Sifa.


Aldo hanya terdiam. Jauh dari dalam lubuk hatinya, Aldo sangat keberatan dengan posisi ini. Namun, mau bagaimana lagi. Ia harus mengorbankan sesuatu demi sesuatu yang lainnya.


"Bersiaplah! Aku akan mengantarmu pulang. Sebelum suamimu tiba di rumah," ujar Aldo.


Sifa bisa melihat gurat kekecewaan di wajah tampan kekasih gelapnya itu. Sifa langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian merengkuh tubuh Aldo dari belakang. Memeluk pria tersebut dengan sangat erat.


"Tolong tunggu sebentar lagi. Kelak, kita pasti akan bahagia. Bersabarlah sedikit lagi," pinta Sifa


Aldo tak mengucapkan apapun pada Sifa. Pria itu melepaskan tangan Sifa dari pinggangnya. "Aku menunggumu di luar," ujar Aldo yang meninggalkan Sifa begitu saja.


"Ku harap kamu bisa mengertiku, Aldo." Sifa bergumam. Lalu kemudian keluar dari kamar tersebut.


Di luar, ia sudah melihat Aldo tengah menyandarkan tubuhnya depan mobil mahal yang diberikan oleh Arumi kepadanya.


Pria tersebut masuk ke dalam mobil saat melihat Sifa sudah datang menghampirinya. Sifa juga melakukan hal yang sama, masuk ke dalam kendaraan tersebut. Aldo pun melajukan mobilnya, menuju ke apartemen sang kekasih.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil tersebut tiba di tempat tujuan. Sifa langsung turun dari mobil tersebut. Wanita itu masih memperhatikan Aldo yang masih memasang wajah masamnya.


Sifa mengetuk jendela kaca mobil yang mengarah ke kursi kemudi. Aldo pun menurunkan jendela kaca mobil tersebut.


Sifa tampak melihat-melihat sekitaran sana yang sudah sepi. Lalu kemudian ...


Cuppp ...


Wanita tersebut tiba-tiba saja mendaratkan ciuman singkat di bibir Aldo. Sifa tersenyum melihat kekasihnya yang terlihat sangat terkejut atas tindakan Sifa.


"Jangan merajuk lagi," ucap Sifa terkekeh.


Aldo keluar dari mobilnya. Lalu kemudian pria tersebut berdiri tepat di hadapan kekasihnya. Dan menarik tengkuk Sifa, memagut bibir manis milik wanita tersebut dengan cukup lama.


Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang tengah memandang perbuatan tak senonoh itu.


Bersambung ....