
Sifa baru saja pulang dari kerja. Ia kembali menuju ke kediaman Aldo dikarenakan sang kekasih memang belum benar-benar sembuh.
Sifa tiba di rumah Aldo dengan menaiki taksi. Wanita tersebut masuk ke dalam rumah itu dengan leluasa karena memang sudah tahu kode akses pintu tersebut.
Saat masuk ke dalam rumah, Sifa melihat Aldo yang saat itu berada di ruang tengah. Pria tersebut tampak tengah menelepon seseorang, terlihat dari ekspresi wajahnya yang sangat serius.
Melihat kedatangan Sifa, Aldo langsung memutuskan panggilannya. Pria itu pun menarik kedua sudut bibirnya seraya menatap ke arah Sifa.
"Sudah pulang?" tanya Aldo.
Sifa mengangguk pelan. Wanita itu langsung menghampiri dan duduk di samping Aldo. "Hari ini lumayan banyak pengunjung yang datang. Aku benar-benar merasa lelah," keluh Sifa seraya menyandarkan kepalanya di bahu Aldo.
"Kamu sudah makan?" tanya Aldo. Sifa menimpalinya dengan sebuah gelengan pelan.
"Ya sudah, kalau gitu kita delivery saja," lanjut pria tersebut seraya memberikan usapan lembut pada puncak kepala Sifa.
Sifa mengangguk, lalu tak lama kemudian ia mengubah posisinya. Wanita itu mengambil undangan yang ada di dalam tasnya.
"Aku mendapatkan undangan dari salah satu pelanggan VIP. Dia sangat cantik dan juga baik. Dia meminta kita untuk datang ke pernikahannya nanti," ujar Sifa seraya memperlihatkan undangan tersebut.
Aldo memeriksa undangan itu. Wajahnya langsung berubah muram. Namun, ia sadar saat ini berada di depan Sifa akan membuat kecurigaan wanita itu terhadap dirinya.
"Sayang, aku bisa minta tolong tidak?" tanya Aldo.
"Apa?"
"Ambilkan aku air minum. Tenggorokanku terasa sangat kering," ujar Aldo mencari alasan.
"Baiklah. Tunggu di sini sebentar," ucap Sifa yang langsung beranjak dari tempat duduknya menuju ke dapur.
Aldo kembali memeriksa kartu undangan tersebut. Ia melihat nama Arumi dan Fahri yang tertera di sana. "Apa maunya wanita ini? Sepertinya dia memang sudah bosan hidup!" geram Aldo.
Aldo segera mengirimi pesan singkat pada Arumi. Pria itu memang sudah memiliki kontak gadis tersebut sejak ia menyetujui kesepakatan untuk menghancurkan rumah tangga Fahri dan Sifa.
Di waktu yang bersamaan, Arumi yang saat itu sedang berada di balkon rumahnya sembari menikmati coklat panas. Tak lama kemudian, notifikasi dari ponselnya berbunyi. Arumi pun langsung mengusap layar ponselnya, mengecek pesan yang baru saja masuk.
Apa maksudmu mengirimi Sifa undangan? Berhenti mengganggunya atau kamu akan mendapatkan akibatnya setelah ini!
Arumi tersenyum miring saat membaca rentetan pesan yang dikirimkan oleh Aldo. "Ternyata umpan ku langsung mengenai sasaran," gumam gadis itu.
Gadis itu langsung membalas pesan singkat yang dikirimkan oleh Aldo.
Sepertinya kita harus bertemu untuk membicarakan sesuatu. Aku akan menunggumu di cafe X jam dua siang.
Arumi mengirim pesan itu kepada Aldo setelah selesai mengetiknya. Ia menyesap coklat hangatnya sembari menarik segaris senyum di wajah cantiknya.
"Aku sengaja mengirimkan undangan pada Sifa, berharap agar wanita tersebut memperlihatkannya pada kekasihnya yang bodoh itu. Dan ternyata, umpanku sangat cepat mengenai sasarannya," ujar Arumi seraya terkekeh.
"Mereka sangat cocok. Sama-sama bodoh dan naif," lanjut Arumi.
Tringg...
Notifikasi pesan kembali terdengar. Ia pun langsung meraih ponselnya. Arumi mengembangkan senyum saat membaca balasan pesan Aldo sama seperti apa yang diharapkan oleh gadis itu.
Baik. Aku akan menemuimu besok.
Setelah membaca pesan tersebut, Arumi kembali meletakkan ponselnya. "Aku ingin memastikan, apakah pria yang hendak ku nikahi adalah pelakunya, atau pria yang memiliki tujuan sama denganku?" gumam Arumi.
Fahri menjalani rutinitas seperti biasanya. Pria itu menjaga toserba untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Ia melayani pelanggan, menyusun barang-barang, dan melakukan hal yang lainnya.
Fahri menatap layar ponselnya. Sejak ia menghubungi Arumi tadi, gadis itu tak mengirimkan satu pesan pun padanya.
Biasanya Arumi datang seraya membawakan makanan untuk Fahri. Sekaligus melihat pria itu untuk sekedar memenuhi rasa rindunya.
Namun, kali ini Fahri tak melihat batang hidung Arumi muncul di hadapannya. Hal tersebut sedikit mengganggu dan membuat Fahri bertanya-tanya di dalam benaknya.
"Apakah dia masih marah padaku karena tidak bisa datang untuk fitting baju? Tapi aku kan memang tidak bisa datang pada jam itu karena mengambil cincin yang aku pesan hanya untuknya," batin Fahri.
"Maaf Mas, saya minta kembalian uang saya tadi," ujar seorang wanita muda yang merupakan salah satu pelanggannya.
Saking asyiknya memikirkan tentang Arumi yang tiba-tiba tak menghubunginya, Fahri bahkan sampai lupa bahwa saat ini ia sedang melayani salah satu pelanggan dan belum menyerahkan uang kembalian sisa belanja pelanggan wanita itu.
"Maaf ya, Mbak." Fahri menyerahkan uang kembalian tersebut sembari meminta maaf pada pelanggan itu.
"Iya, tidak apa-apa." wanita itu pun mengambil uangnya, lalu kemudian langsung berjalan menuju pintu keluar.
Fahri merasa bersalah pada Arumi. Gadis itu tampaknya benar-benar marah pada dirinya karena Fahri yang menolak ajakannya.
Fahri melihat-lihat sekitar, memastikan bahwa tidak ada pelanggan yang masih berada di dalam. Ia pun mengambil ponselnya, mencoba untuk mengirimkan pesan singkat pada Arumi.
Apakah kamu marah?
Fahri melihat pesan tersebut, lalu menghapusnya. Pria itu kembali mengetikan sesuatu di dalam kolom pesan itu.
Mengapa kamu tidak datang malam ini?
Fahri kembali membaca pesannya. Ia merasa pesannya itu terkesan terlalu mengharapkan kedatangan Arumi. Fahri pun mencoba untuk menghapus pesannya. Namun, saat melihat pelanggan yang masuk, Fahri mengucilkan ponselnya sejenak, tersenyum ramah menyambut orang yang baru saja masuk hendak berbelanja.
Setelah menyunggingkan senyum, melihat orang-orang tadi berjalan menuju rak susunan untuk mencari barang yang akan dibelinya, Fahri kembali mengecek ponselnya berniat untuk menghapus ketikannya tadi.
Seketika pria itu membelalakan mata saat pesan tersebut ternyata sudah terkirim. Dan parahnya lagi, si pemilik kontak tersebut tampaknya sudah membaca pesannya sedari tadi.
"Astaga, ini benar-benar gawat!" gumam Fahri yang mulai panik.
Di lain tempat, Arumi baru saja hendak berbaring di atas tempat tidurnya. Gadis itu memilih untuk tidak menemui Fahri karena memang masih sangat kesal dengan pria tersebut.
Namun, tiba-tiba ponselnya mendapatkan pesan. Dan pesan itu dari Fahri.
Mengapa kamu tidak datang malam ini?
Saat membacanya, Arumi langsung berbunga-bunga. Seketika gestur tubuh dan pikirannya tampak tidak sinkron. Otaknya memilih untuk tidak menemui Fahri, akan tetapi setelah mendapatkan pesan tersebut, tubuhnya langsung beranjak dari atas tempat tidur, lalu kemudian berjalan menuju ke lemari pakaian untuk menemui pria tersebut.
"Ternyata dia sangat mengharapkan kedatanganku," gumam Arumi seraya tersipu malu.
Wanita itu baru saja mencocokan pakaian yang hendak ia kenakan. Tiba-tiba notifikasi dari ponselnya kembali berbunyi.
"Ah, dia sangat tidak sabar sekali menyuruhku untuk datang ke sana," ujar Arumi.
Maaf, salah kirim.
Namun, seketika ekspresi wajah cerianya berubah menjadi masam. Arumi pun langsung membuang ponselnya ke sembarang tempat. Gadis itu memilih untuk kembali berbaring dan menutup dirinya dengan selimut.
"Dasar pria menyebalkan!!" seru Arumi dari balik selimutnya.