
Fahri baru saja selesai mandi. Pria itu masih menggosokkan handuk kecil pada rambutnya yang basah. Tiba-tiba saja, Sifa datang ke kamar, memanggil Fahri.
"Mas, ayo makan dulu. Aku sudah buatkan mie instan untukmu," ujar Sifa.
Fahri tersenyum lalu kemudian mengangguk pelan. "Baiklah," ucapnya dengan antusias.
Fahri menanggalkan handuknya di jemuran. Pria itu pun langsung menyusul sang istri yang telah menyiapkan makan malam untuknya, walaupun hanya sekedar mie instan, akan tetapi Fahri sangat menghargai pemberian sang istri. Ia mengerti karena Sifa memang tidak pandai dalam memasak.
Fahri menarik salah satu kursi. Lalu kemudian menjatuhkan bokongnya di sana. Kursi yang berhadapan langsung dengan sang istri.
"Terima kasih, Istriku." Fahri mengulas senyumnya, menatap Sifa dengan penuh kelembutan.
"Ayo segeralah dimakan, Mas. Nanti makanannya dingin," tutur Sifa.
Fahri kembali mengangguk. Ia pun menyantap mie instan tersebut dengan begitu lahap. Malam ini ia sangat menikmati momen berdua dengan Sifa walaupun hanya sekedar menyantap mie instan.
"Kamu tidak makan juga?" tanya Fahri.
"Mas kan tahu, aku tidak makan malam. Nanti berat badanku naik," timpal Sifa dengan tersenyum.
"Kamu tenang saja. Bagaimana pun kondisimu, aku akan tetap mencintaimu, Istriku."
Sifa tersenyum simpul mendengar ucapan sang suami. Dalam hatinya, ia telah menyiapkan seribu macam kata untuk mengatakan masalah hutang tersebut agar segera dilunasi. Ia juga telah menyiapkan berbagai rayuan nantinya agar sang suami mau menuruti ucapannya.
Sifa memperhatikan Fahri yang tengah menyantap makan malamnya. Setelah mie tersebut habis di piringnya, Sifa pun mulai menarik napasnya panjang, untuk mempersiapkan dirinya.
"Mas, aku mau bicara sesuatu sama kamu," ujar Sifa.
"Bicara? Bicara apa?" tanya Fahri kembali meletakkan teh hangat yang baru saja ia minum.
"Itu ... masalah hutang dengan Elena," cicit Sifa.
"Hutang dengan Elena tidak usah kamu pikirkan. Aku akan mencicilnya," ujar Fahri dengan sangat bijaksana.
"Aku tadi bertemu dengan Elena, Mas. Dia minta untuk segera melunasinya dan memberikan aku waktu sampai bulan depan saja," ucap Sifa.
"Bulan depan?" Mata Fahri langsung membola saat mendengar ucapan dari istrinya itu. Sifa pun menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan.
"Duh, bagaimana ini. Kalau bulan depan, kemungkinan Mas belum punya uangnya. Lagi pula hutangmu lumayan banyak. 200 juta dalam waktu satu bulan itu sangat mustahil didapat. Gaji Mas pun tidak sampai segitu," tutur Fahri seraya mengerutkan dahinya.
Sifa terdiam. Ia tak mengucapkan apapun. Kali ini ia berharap agar Fahri menyanggupi semua itu agar Elena tak membongkar aibnya.
"Emmm ... begini ...." Fahri mulai membuka suara.
Air muka Sifa langsung berubah muram. Wajah yang tadinya ia perlihatkan manis, langsung berubah masam.
"Apa maksud Mas Fahri bertanya seperti itu?" ketus Sifa.
"Sayang, wajar jika Mas bertanya hal itu. Karena Mas merasa kamu selalu mengeluh kekurangan uang, sedangkan hutangmu itu dalam jumlah yang besar, dan Mas tidak tahu kamu pakai buat apa saja," tutur Fahri, mencoba sebijak mungkin agar sang istri tak merasa tersinggung. Namun, percuma saja. Karena Sifa memang sifatnya keras kepala dan tak ingin dikritik.
"Sekarang aku tanya sama Mas Fahri. Mas menyanggupinya atau tidak?" ujar Sifa dengan nada tinggi.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, Sifa."
"Mas, tidak usah berbelit-belit. Jawab saja, sanggup atau tidak?" Sifa menatap suaminya dengan nyalang.
"Aku tidak sanggup jika harus membayarnya sekaligus. Aku tidak mempunyai uang sebanyak itu! Jika temanmu memberikan jangka waktu yang lebih panjang, mungkin aku bisa memikirkannya, Sifa." Fajri juga menimpali ucapan istrinya dengan nada tinggi.
"Tidak, Mas! Bagaimana pun juga Mas harus menyanggupinya. Bukankah sudah kewajiban seorang suami untuk menafkahi istrinya? Hutangku termasuk hutangmu juga, Mas." Sifa tetap kekeuh memaksa Fahri agar membayar semua hutangnya itu.
"Tapi Sifa, bagaimana aku harus mencari uang sebanyak itu. Gajiku tidak seberapa, dan lingkungan tempatku bekerja juga belum tentu mau meminjamkan uang sebanyak itu," ujar Fahri. Napasnya mulai tak teratur karena didesak oleh sang istri yang harus menyanggupi keinginan wanitanya itu.
"Aku tidak peduli, Mas. Kewajibanmu harus dipenuhi! Aku berhutang karena mencukupi kekurangan uang yang kamu berikan padaku. Intinya aku tidak mau tahu menahu. Kamu ... harus membayar semuanya sekalipun kamu harus menggadaikan harga dirimu itu," cecar Sifa. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian berjalan menuju kamar dengan derap langkah yang begitu cepat.
Ia membanting pintu kamar cukup keras, hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Fahri hanya bisa memejamkan matanya. Ia mencoba untuk terus bersabar menghadapi Sifa yang semakin menjadi-jadi.
"Aku kira, kamu benar-benar sudah berubah lebih baik lagi. Tapi ternyata, dugaanku salah besar. Sikapmu bahkan bertambah parah," gumam Fahri.
Hal yang manis tercipta, hanya berlaku beberapa menit saja. Setelahnya, kembali seperti semula. Dimana masalah yang selalu bermunculan dan sang istri yang keras kepala dan bertindak semaunya saja.
Fahri menghela napasnya dengan panjang. Ia membereskan piring dan gelas kotor bekas ia makan. Pria itu berjalan menuju wastafel, tangannya mencuci alat makan yang ia gunakan tadi, sementara pikirannya melalang buana. Fahri masih memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang 200 juta dalam satu bulan. Bahkan menyentuh uang sebanyak itu saja, Fahri tidak pernah.
"Kamu, ... harus membayar semuanya sekalipun kamu harus menggadaikan harga dirimu itu."
Masih terngiang di telinganya kalimat yang dilontarkan oleh sang istri. Begitu amat menusuk jantungnya. Seakan Fahri memang hanya dianggap sebelah mata oleh istrinya sendiri.
Fahri mengepalkan tangannya, lalu kemudian meninju sisi keramik di samping wastafel tersebut. Ia benar-benar kesal jika mengingat ucapan Sifa tadi. Otaknya seakan memerintahkan agar Fahri memberikan sedikit pelajaran untuk istrinya. Namun, hati kecil seakan menolaknya. Sifa adalah wanita yang ia cintai. Satu-satunya yang ia miliki dan harus ia jaga dengan baik seperti pesan mendiang ibunya sebelum meninggal dulu.
Bagaimana pun sikapnya, ia tetaplah istrimu. Jaga dia dengan baik seperti orang tuanya menjaga dia selama ini. Jangan buat dia menangis, berusahalah untuk membuatnya bahagia. Bagaimana pun juga itu adalah tugasmu sebagai suami. Orang tuanya mempercayakannya padamu karena mereka menilai bahwa kamu orang yang tepat, maka dari itu mereka menitipkan putrinya yang berharga kepadamu.
Fahri selalu mengingat pesan tersebut. Pesan dari mendiang ibunya. Maka dari itu, ia berusaha keras untuk membuat Sifa bahagia, walaupun usahanya seakan tak terlihat oleh sang istri.
Bersambung ...